
Aku sedang mengepel lantai sambil mengamati ketiga wanita yang terlihat sangat ceria hari ini. Mereka berbelanja banyak barang-barang mewah sambil terus tertawa. Sepertinya belanja adalah hal yang sangat menyenangkan bagi mereka.
Entah kenapa wanita-wanita itu sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang mereka lakukan dimasalalu. Menghabisi nyawa orang lain bukanlah hal yang biasa, tapi entah mengapa mereka sangat terlihat biasa. Walaupun sesungguhnya aku selamat dan tidak mati, namun tetap saja mereka melakukan pembunuhan karena menganggap aku telah mati bukan?
Aku baru saja mengirim hadiah untuk mereka hari ini, namun sepertinya tidak mempengaruhi perasaan mereka karena saat ini mereka sedang berbelanja sambil ber haha-hihi ria seakan tidak terjadi apapun. Ah mereka benar-benar berjiwa psikopat ternyata, mereka bahkan tidak menganggap apa-apa tentang hadiah yang ku kirimkan.
Setelah muak melihat tingkah mereka aku membawa kembali pel dan alat pembersih lainnya. Memperbaiki topi dan masker yang kupakai dan berjalan ke belakang untuk menaruh alat-alat yang kupakai bekerja. Aku berjalan santai menuju gudang penyimpanan barang. Ya, aku memang bekerja part time sebagai cleaning service dipusat perbelanjaan ini sekedar untuk melihat dunia luar dan mencari hal-hal atau informasi yang ku perlukan
Aku melewati lorong sepi, pusat perbelanjaan memang sangat ramai diluar. Namun sangat berbeda dengan keadaan belakang, anggaplah tempat ini dibalik layar. Tempat ini akan ramai jika waktu istirahat karyawan telah tiba namun di jam kerja akan terlihat sangat sepi. Hanya beberapa karyawan sepertiku yang melewati lorong-lorong ini sekedar untuk mengambil atau menaruh barang-barang keperluan kerja.
Aku merasa sedikit aneh, seperti ada yang mengamatiku. Beberapa kali aku menengok kebelakang namun tak ada siapapun, lorong panjang ini cukup terang dan tak ada tanda-tanda siapapun. Di lorong lurus ini juga tak ada tempat sembunyi sehingga jika ada yang mengikutiku tidak akan bisa bersembunyi dimanapun. Ah, sepertinya hanya perasaanku saja karena sejak tadi merasa kesal dengan ketiga wanita itu hingga membuatku merasa sedikit aneh.
Aku tiba di depan gudang di ujung lorong, aku membuka pintu dan menaruh alat-alat kerjaku kedalam gudang kemudian menutup pintunya kembali. Sejenak aku beristirahat duduk dikursi panjang didekat gudang. Aku mengambil dompet kecil di saku baju, sangat kecil sehingga terlihat tidak seperti dompet. Isinya bukan uang atau apapun, hanya selembar kertas tebal dengan foto seseorang di dalamnya.
Aku mengambil kertas itu dan menatapnya, foto seorang pria tampan tersenyum kepadaku. Ah aku rindu sekali padanya, selama ini aku hanya mengamatinya dari kejauhan. Aku dan dia dekat namun terasa sangat jauh. Ben, pria tercintaku yang sebenarnya tidak pernah bisa ku abaikan.
Aku memasukan kembali foto itu kedalam dompet dan menaruhnya kembali kedalam saku. Aku berjalan meninggalkan gudang dan menghampiri loker karyawan, memasang jaket, mengambil barang-barangku dan keluar dari pusat perbelanjaan lewat pintu belakang. Pintu belakang adalah pintu keluar masuk untuk karyawan, ya hanya karyawan yang boleh melewati pintu itu.
Aku berjalan ke sebuah halte dan menunggu angkot lewat. Aku benar-benar menjelma menjadi masyarakat biasa pada umumnya. Berbaur tanpa ada yang mengenaliku, memakai pakaian biasa dan sangat umum. Pulang pergi bekerja part time seperti karyawan lainnya, tak ada yang spesial namun aku hidup dengan cukup baik selama ini.
Aku tidak bekerja setiap hari disana, terkadang hanya di akhir pekan dan saat-saat tertentu saja. Aku memang memiliki hubungan dengan seseorang yang berpengaruh disana sehingga aku memiliki akses untuk keluar masuk sesuka hatiku, termasuk bekerja pada waktu yang ku inginkan.
Aku melihat angkot berhenti di depanku, seperti angkot biasa namun tak ada siapapun disana selain aku dan sopir. Sedikit rahasia, angkot ini bukanlah angkot biasa namun sopir pribadiku. Aku hidup bersembunyi selama ini namun aku memiliki orang-orang kepercayaan yang selalu setia dan berada di sampingku.
"Nona, sepertinya ada yang mengikuti kita." Sopir berkata setelah beberapa menit angkot melaju.
"Kau yakin?"
"Ya, sejak tadi pandangan orang itu terus tertuju pada angkot kita."
Aku menatap kebelakang, sebuah motor bebek dikendarai oleh seorang pria paruh baya dan seseorang dibonceng di belakang terlihat melaju biasa saja berada dibelakang angkot kami. Jika orang lain melihat mungkin tidak akan menyangka jika mereka sebenarnya memang mengikuti kami. Aku dan sopirku memang terbiasa membaca gerak gerik seseorang.
"Ke pasar." Aku berkata sambil menatap punggung orang kepercayaanku yang benar-benar menyamar menjadi seorang sopir angkot. Memakai baju lusuh dengan keringat yang membasahi karena tidak ada ac di angkot ini. Topi kebangsaan ala sopir angkot bertengger dikepala dan tidak lupa handuk kecil tergantung di leher untuk sekedar menyeka keringat yang membasahi pelipis dan wajahnya.
"Baik."
Aku menelepon seseorang dan berbicara pelan, tak lama dan aku mematikan sambungan telepon sebelum angkot tiba di pasar. Aku turun dengan tenang dari angkot memasuki pasar yang sangat ramai dengan manusia. Aku melihat dari sudut mataku dua orang tadi ikut berhenti dan mulai mengikutiku.
Aku berbaur dengan orang-orang di pasar, dan tentunya dua orang yang mengikutiku juga ikut berbaur. Entah siapa mereka yang jelas aku yakin mereka benar-benar menjadikan aku sebagai target entah untuk tujuan apa aku juga tak tahu. Aku membeli beberapa barang keperluan dengan santai agar mereka tak menyadari bahwa aku mengetahui gerak gerik mereka.
Aku kembali berjalan masuk ke kerumunan, saat dipersimpangan koridor pasar yang penuh dengan sesaknya manusia aku berbelok dan bersembunyi disalah satu toko yang tutup. Seketika seseorang menggantikanku, pakaian dan bentuk tubuh yang sama persis berjalan dikerumunan. Saat dua pria yang mengikutiku berbelok, mereka melihat diriku yang satunya berjalan santai membuat mereka akhirnya mengikuti kloning diriku.
Aku mengelus dadaku dan menghembuskan napas pelan, walaupun kedua orang itu berhasil ku kelabui namun aku tak langsung keluar dari persembunyian. Aku terlebih dahulu menghubungi sopirku, memastikan semuanya aman agar aku bisa pulang dengan selamat.
Andini, wanita yang memiliki postur tubuh yang sangat mirip denganku. Rambut kami pun terlihat hampir sama walaupun rambutnya lebih panjang dari rambutku, tapi sekarang rambutnya sudah dipotong sama seperti rambutku. Alis dan bentuk mata juga terlihat mirip sehingga jika kami memakai masker maka akan sulit dibedakan.
Aku bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu saat bekerja part time di sebuah gerai makanan cepat saji. Sama seperti saat ini, waktu itu aku juga diikuti oleh orang tak dikenal, Andini membantuku dan sukses mengerjai orang-orang yang mengikutiku. Dia membawa berkeliling pria yang mengikutinya kemudian membawanya ke tempat kumpulan para waria sehingga membuat pria itu diserbu para waria karena memiliki wajah yang lumayan dan postur tubuh bagus. Aku selalu tertawa setiap mengingat tentang hal itu.
Sejak saat itu, Andini menjadi salah satu orang kepercayaanku. Wanita itu selalu sigap dan sangat bisa diandalkan. Seperti sekarang ini, dia selalu memprioritaskan keadaanku. Ah, terima kasih Andini, entah dimana lagi aku bisa menemukan orang sepertimu. Takdir mempertemukan kita, Tuhan berbaik hati padaku dan mengirim dirimu untuk membantuku.
Akhirnya aku bisa pulang dengan tenang, kembali ketempat persembunyianku yang sangat aman. Beristirahat dan berpikir tentang apa yang akan kulakukan di hari-hari berikutnya. Hidupku aman disini namun aku selalu dirundung rindu, aku sangat merindukan Ben dan orang-orang yang begitu ku sayangi.
...****************...
Sementara itu..
Dua orang pria terus mengikuti Andini hingga dia sampai di sebuah rumah sederhana. Andini mengambil kunci dan membuka pintu. Belum sempat dia masuk, lengannya sudah di tahan oleh seseorang membuat Andini refleks berbalik.
"Ada apa?" Andini menatap kedua orang itu.
"Nona Ann, ayo ikut kami." Salah satu pria berucap.
"Nona Ann?"
"Ya."
"Saya memang memiliki nama panggilan Ann, tapi tidak ada seorangpun yang memanggil saya dengan sebutan nona."
"Jangan pura-pura nona."
"Memangnya ada apa?" Andini kembali bertanya.
"Nona tidak bisa menghindar lagi dari kami." Pria yang memakai topi tak melepaskan tangan Andini.
"Ya nona Ann, sebaiknya ikut kami, kami tidak akan menyakiti nona." Pria yang memakai kacamata hitam ikut menimpali.
"Sepertinya aku bukan Ann yang kalian cari."
"Ayo nona, ikut kami." Kedua pria itu tidak memperdulikan protes dari Andini.
"Hei hentikan, aku tak mau karena aku tidak mengenal kalian." Andini membuka maskernya yang seketika membuat kedua orang itu terkesiap.
Wanita di depan mereka benar benar bukan Ann, bahkan salah seorang dari mereka mengerjap-ngerjapkan mata seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan berat hati akhirnya kedua pria itu meninggalkan Andini, masih dengan terheran-heran. Andini tersenyum puas sambil menatap punggung kedua pria yang semakin menjauh.
...****************...