Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
BERPIKIR KERAS



Malam ini seperti biasa El sedang berada di kamar Nevan, menemani anak itu bermain. Sesaat kemudian pintu kamar terbuka, menampakkan seorang wanita cantik yang berjalan anggun memasuki kamar. Jessi masuk dengan tersenyum menatap El dan Nevan.


"El, tante harus pergi sekarang, besok malam tante akan kembali."


"Baiklah, tante."


"El, kau bersedia kan untuk tinggal sedikit lebih lama disini? Davin sudah memberitahukan padaku bahwa Nevan tidak ingin jauh darimu."


"Mmm, iya tante." El mengangguk.


"Maafkan tante merepotkanmu, sayang. Bulan ini tante sangat sibuk sekali."


"Ya tante, aku mengerti."


"Baiklah, tante harus pergi sekarang." Jessi menghampiri Nevan dan menciuminya. Kemudian dia beranjak keluar dari kamar Nevan.


El sedikit merenung, bagaimana bisa dia bertahan dirumah ini dengan perasaan yang sudah berbeda. Perlakuan Davin akhir-akhir ini selalu membuat jantungnya berdebar tidak karuan. El berpikir bagaimana jika perasaannya terus berlanjut, sudah pasti akan menimbulkan masalah bagi seisi rumah ini.


El juga tidak bisa kembali kerumahnya untuk sementara waktu. Nevan tidak ingin di pergi, El juga sebenarnya ingin terus berada disisi anak itu. Nevan sangat menggemaskan, El sangat menyayanginya. Nevan juga membuat hari-harinya lebih menyenangkan, tidak sesepi biasanya. Tapi kembali lagi dengan perasaannya terhadap Davin, dia sangat sulit mengendalikannya.


El sangat berpikir bahwa perasaannya itu adalah kesalahan besar. Dia tidak lagi menampiknya karena dia benar-benar merasakannya saat ini. Perasaan itu jelas menguasai hatinya, membuat jantungnya selalu berdebar saat berdekatan dengan Davin.


El tidak tahu kenapa dia bisa merasakannya secepat ini, hanya dalam hitungan hari dia sudah jatuh dalam pesona pria yang di panggilnya dengan sebutan om. Pria yang sudah dianggap saudara oleh ayahnya sendiri. El merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa mengusir perasaan itu.


Baginya pantang untuk merusak kebahagiaan orang lain. Perasaan itu jelas akan membuat kekacauan dalam hidupnya. Mencintai pria beristri bukanlah keinginannya, mencintai pria jomblo saja sangat sulit apalagi harus mencintai pria beristri. El berpikir keras bagaimana cara agar semuanya tidak menjadi kacau.


Perlakuan Davin memang sangat manis terhadapnya, sangat wajar jika seseorang akan merasa senang berlebihan dan terbawa perasaan saat di perlakukan seperti itu. Kemungkinan perasaan itulah yang sedang dirasakan El saat ini. Dia terbawa perasaan setiap Davin memperlakukannya dengan lembut. Ditunjang dengan kedekatan mereka dimasalalu walaupun dia masih kanak-kanak waktu itu semakin membuat dramatis keadaan ini.


Pertemuan kembali mereka berdua seakan menjadi reuni, menyatukan kembali perasaan yang pernah ada. Seakan melanjutkan perjalanan hati yang sempat terhenti. Bertemu di waktu dan tempat yang berbeda namun dengan perasaan yang sama membuat ikatan mereka terasa semakin kuat. Jika dulu hanya ada perasaan senang saja, saat ini perasaan itu berkembang menjadi sesuatu yang biasa di sebut oleh orang-orang dengan cinta.


El tidak hanya memikirkan dirinya sendiri dan juga Davin, ada Jessi dan Nevan yang berada di lingkaran sama dengannya. Dia berpikir bagaimana cara untuk keluar dari lingkaran tanpa terluka dan tanpa meninggalkan luka. Jika dia tidak menemukan cara untuk keluar dari lingkaran itu, maka akan sangat jelas mereka semua terjebak di dalam sana. Bisa saja mereka akan saling terluka ataupun saling melukai satu sama lain.


El masih sibuk dengan pikirannya, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Davin masuk dengan senyum yang sangat cerah. Pria itu berjalan menghampiri El dan Nevan. El tersadar dari segala pikirannya, dia menatap Davin yang tersenyum berjalan ke arahnya. Tangan pria itu disembunyikan ke belakang, seperti menyembunyikan sesuatu.


"Selamat malam El, selamat malam Nevan."


"Selamat malam, om."


"Papa." Nevan menatap ayahnya.


"Papa punya kejutan untuk Nevan."


"Apa?" Nevan tersenyum girang.


"Tadaa." Davin memberikan sebuah mainan berbentuk dinosaurus kepada Nevan.


"Yeayy, terima kasih papa." Nevan berteriak senang, dia mulai memaikan mainan itu sedirian.


"Sama-sama." Davin mengusap-usap kepala anak itu.


"Hei, aku juga mau om." El terkekeh.


"Aku juga punya sesuatu untukmu." Davin tersenyum.


"Apa itu?"


"Ini." Davin memberikan dua cupcake matcha kepada El.


"Wah, om tau kesukaanku?"


"Tentu saja." Davin terkekeh, dia duduk di samping El.


"Terima kasih." El tersenyum.


"Ini adalah ucapan selamat karena laporan penelitianmu yang sudah disetujui."


"Om, darimana kau tahu?" El merasa senang.


"Sudah ku bilang aku tahu hampir semua tentangmu."


"Huh, kau memata-matai aku?"


"Terus darimana om tahu?"


"Rahasia."


"Om kenapa kau selalu main rahasia denganku?" El mendengus kesal.


"Hei, itu tidak penting, sekarang makanlah. Aku membelikannya spesial untukmu." Davin tersenyum lebar.


"Baiklah, karena aku baik, aku akan memberikan satu untuk mu." El memberikan satu cupcake pada Davin.


"Terima kasih tuan putri." Davin menerima dengan senang hati.


"Om, terima kasih."


"Untuk apa?"


"Kau sudah mengucapkan selamat untukku."


"Ya, sama-sama." Davin menatap lembut kepada El.


El merasa senang, dia mulai merasa hari-harinya tidak lagi seperti dulu. El merasa perlahan banyak orang-orang yang memperhatikannya saat ini. Rasa sepi semakin hari semakin menguap dari dalam dirinya.


"Papa."


"Ya sayang?" Davin seketika menengok kepada Nevan.


"Mobil-mobilanku ketinggalan di kamal papa."


"Benarkah?"


"Ya." Nevan mengangguk.


"Haruskah papa mengambilkannya untukmu sekarang?"


"Bial Nevan saja."


"Apa kau tidak takut sendirian?" Davin terkekeh.


"Belsama unty El." Nevan tersenyum.


"Bersama unty?" El menatap Nevan.


"Ya, ayo unty temani aku."


"Unty tidak tahu kamar papamu, sayang." El menatap lembut ke arah Nevan.


"Aku tahu." Nevan mengangguk


"Unty tidak berani." El berpura-pura, El tidak ingin masuk sembarangan ke kamar om nya.


"Belsama papa juga." Nevan menatap Davin.


"Baiklah, ayo kita ke kamar papa."


Nevan sangat bersemangat, dia berlari lari kecil sambil membawa mainan dinosaurus ditangannya. El dan Davin hanya tersenyum melihat tingkah Nevan. Mereka berjalan menuju kamar Davin, El baru pertama kali menuju kesana. Selama berada dirumah itu El tidak pernah sama sekali untuk melangkah ke arah kamar Davin dan Jessi. Dia tidak ingin mengganggu privasi orang lain.


Mereka berjalan melewati koridor rumah yang di desain sangat menarik, beberapa lukisan besar tetumbuhan menempel di dinding koridor. Terdapat meja dengan berbagai vas bunga dan pernak pernik indah tertata rapi disana. Sebuah rak buku terlihat sangat estetik berdiri dengan gagah di samping lukisan ranting-ranting bunga sakura.


"Ini pintu kamar papa." Nevan berhenti di depan sebuah pintu.


"Oh ya?" El menatap pintu itu, kemudian matanya beralih menatap pintu di seberangnya.


"Itu ruang kerjaku." Davin menjawab sebelum El bertanya, seakan mengerti apa yang di pikirkan oleh El.


"Oh, ya, ya." El tersenyum kaku.


Davin membuka pintu, El tidak melihat kamar di dalam sana. Di ruangan besar itu hanya terdapat beberapa sofa dan meja serta beberapa hiasan. Davin masuk keruangan itu dan membuka sebuah pintu lagi. Ternyata itulah kamar Davin sebenarnya, kamar besar dengan nuansa sangat maskulin. Kamar itu di dominasi warna cokelat tua dan krem dilengkapi dengan berbagai perabotan berwarna senada.


...****************...