Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
MASALAH LAGI



"****." Davin meremas ponsel di genggamannya.


Sejak tadi dia menghubungi El entah sudah berapa ratus kali namun sama sekali tidak terhubung. Dia juga menghubungi Will namun sama saja tak ada respon sama sekali. Perasaan Davin sudah mulai memanas, dia ingin sekali menemukan Will sekarang juga dan menonjok wajah anak itu.


"Will, kemana kau membawa El?" Gigi Davin tampak bergemeretak menandakan dia merasa sangat kesal.


Davin menghempaskan tubuhnya di sofa, perlahan dia berbaring mencoba menenangkan pikirannya sedikit demi sedikit. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar berwarna biru pastel, hidungnya perlahan mencium wangi lembut seperti wangi vanila di kamar tersebut. Wangi khas yang selalu dia rasakan saat berada di dekat El. Pikiran Davin mulai terasa tenang walaupun dia masih tak bisa berhenti memikirkan tentang keberadaan El saat ini.


Sejenak Davin terdiam, dia menikmati berada dalam kamar gadis yang di cintainya. Mata Davin menyusuri sekeliling kamar itu, dia berhenti saat menatap foto keluarga di atas meja rias, terlihat foto El bersama kakak, ibu dan ayahnya. Davin mengamati wajah orang-orang yang ada di foto itu bergantian hingga terhenti pada sosok Abram, ayah El.


"Abram, aku masih tak bisa berkata apapun kepadamu tentang semua hal yang terjadi. Tak apa jika suatu saat nanti kau akan memukuliku ataupun kau ingin membunuhku karena aku mencintai putri kesayanganmu."


Davin memejamkan matanya, rasa lelah karena dari kemarin dia sama sekali tidak istirahat membuatnya mengantuk. Ditambah dengan rasa khawatir pada El yang tak pulang dan tak ada mengabarinya sama sekali membuat hatinya juga ikut lelah. Dia akhirnya terlelap, mata dan tubuhnya menyerah pada rasa kantuk yang menyerangnya.


Davin terbangun saat hari sudah mulai petang, dia mengerjapkan kedua matanya perlahan dan menatap arloji di lengannya, Jam menunjukkan pukul 6 sore. Davin bangun dan duduk, sejenak dia terdiam mengumpulkan segala kesadarannya, dia beberapa kali mengusap wajahnya dengan telapak tangan.


Davin mengambil ponselnya, menatap kembali jam yang tertera di layar ponsel, dia menatap lama pada layar, namun tak melihat sedikitpun notifikasi bahwa El membalas pesannya ataupun menelepon kembali. Davin kembali menggertakkan gerahamnya, pertanda dia merasa sangat kesal.


Davin melangkah keluar dari kamar El, berjalan cepat menuju kamarnya ingin mandi dan mengganti pakaiannya. Berendam membuat kepalanya sedikit dingin dan mulai berpikir tenang. Dia mencari cara bagaimana bisa untuk menghubungi El ataupun Will.


Selesai dengan aktivitasnya, Davin keluar dari kamar dan turun ke ruang makan. Dia melihat Bi Hana yang hampir selesai menata makanan di meja. Davin duduk sendiri dan menikmati makanannya pun sendiri, pikirannya kembali melayang entah kemana hingga tak terasa makanan dipiring telah habis.


"Bi Hana, apa Jessi sudah makan?"


"Belum tuan, nyonya tak ada keluar sama sekali dari kamarnya, saya sudah mencoba mengetuk kamar untuk mengantarkan makanan namun nyonya menjawab nanti saja."


"Hmmm, baiklah, biar aku saja yang mengantarkan makanannya."


"Baik tuan."


Bi Hana menyiapkan makanan ke dalam nampan dan memberikannya pada Davin, Davin keluar dari ruang makan membawa nampan menuju kamar Jessi.


"Jess, apa aku boleh masuk?" Davin bersuara setelah mengetuk pintu.


"Ya." Suara sahutan terdengar dari dalam.


Davin masuk dan menaruh nampan makanan di meja sebelah tempat tidur, Jessi nampak berbaring menutup matanya dan selimut tebal menutup tubuhnya hingga ke leher. Davin menyentuh dahi Jessi yang terasa hangat.


"Kau mau ke dokter? Badanmu panas." Davin menyibak selimut dan menyentuh tangan Jessi yang juga terasa hangat.


"Tidak." Jessi menggeleng lemah.


"Kalau begitu kau makan dulu, aku akan menyuapimu."


"Tidak, aku tak ingin makan." Jessi sama sekali tak membuka matanya.


"Jess, ku mohon." Davin berucap lembut.


"Hmmm."


"Kau tahu aku sangat merasa bersalah jika kau sakit seperti ini."


"Vin, jangan berisik."


"Aku akan terus berisik sampai kau mau makan."


"Baiklah, sedikit saja." Jessi tahu jika Davin tidak akan main-main dengan ucapannya, jika dia sudah berucap seperti itu maka Davin akan benar-benar sangat berisik.


Davin menyuapi makan Jessi sedikit demi sedikit, pria itu tampak sangat takut jika terjadi sesuatu pada Jessi. Jessi wanita yang mandiri, dia tidak akan seperti ini jika tak punya masalah. Jika dia sudah seperti ini berarti ada masalah rumit yang sedang dihadapinya.


"Jess." Davin berucap sambil terus menyuapi Jessi.


"Mmm?"


"Masalah apa yang sedang kau hadapi?"


"Nanti saja aku cerita."


"Apa kau akan terus seperti ini sampai kau bercerita nanti?"


"Vin, nanti saja."


"Ya, ya, baiklah." Davin mencoba mengalah.


"Dimana Nevan?" Dia sedang bermain.


"Dengan El?"


"Tidak, dengan Lia."


"Dimana El?"


"Sedang keluar."


"Kemana? bukankah El jarang keluar rumah dimalam hari."


"Dia sedang jalan-jalan bersama teman-temannya." Davin berbohong, padahal dia tak tahu El sedang dimana sekarang, yang dia tahu El pastilah bersama Will.


"Hmmm, baiklah." Jessi menghabiskan makanannya dan kembali berbaring.


"Aku sedikit lapar." Jessi tersenyum kecil.


"Baiklah, istirahat saja, aku ingin menemui Nevan dulu." Davin beranjak dari duduknya.


"Vin." Jessi menahan lengan Davin


"Apa?"


"Disini saja, aku ingin bercerita."


"Baiklah." Davin kembali duduk.


"Vin."


"Ya?"


"Aku sedang patah hati sekarang."


"Hei yang benar saja, jangan bercanda."


"Apa kau kira aku masih bisa bercanda di saat seperti ini?"


"Hmmm, lalu?"


Jessi mengambil ponselnya, dia mengutak atik ponselnya sebentar kemudian memberikannya pada Davin.


"Apa ini?"


"Kau lihat saja sendiri."


Sejenak Davin terdiam menatap layar ponsel, terlihat rekaman seorang pria memeluk seorang wanita di depan pintu, mereka tampak mengobrol sebentar namun karena rekaman cukup jauh sehingga tak terdengar apa yang mereka bicarakan. Pria itu kemudian terlihat mengajak wanita itu masuk kedalam rumah dan menutup pintu. Rekaman terus berjalan namun tak ada tanda-tanda kedua orang itu keluar dari rumah. Rekaman pun berakhir di menit ke sepuluh dan hanya merekam pintu saja.


"Siapa wanita ini? Kau kenal?"


"Tidak, dia membelakangi kamera sehingga wajahnya sama sekali tak terlihat."


"Postur tubuhnya apa kau merasa kenal?"


"Sama sekali tidak." Jessi menggeleng.


"Apa kau tidak bertanya langsung padanya?"


"Setelah menerima rekaman itu, aku langsung menghubunginya beberapa kali namun tak ada jawaban, mungkin dia sedang bersenang-senang dengan wanita itu."


"Jangan berpikir buruk terlebih dahulu."


"Bagaimana mungkin aku tidak berpikir buruk?"


"Kau akan salah paham jika mengambil keputusan sepihak, mencurigainya tanpa bukti yang lebih jelas."


"Apa rekaman itu tak cukup jelas?"


"Kau kan tidak tahu bagaimana keadaannya saat itu, ini hanya rekaman singkat yang tak bisa membuktikan apapun."


"Tak usah membelanya."


"Aku tak membelanya, aku hanya memintamu untuk tenang terlebih dahulu."


"Aku tak bisa tenang sama sekali."


"Baiklah, aku akan membantumu nanti untuk keluar dari masalah ini."


"Ya."


"Hmmm, jadi apa kau memata-matai kekasihmu sendiri?"


"Aku tidak memata-matainya, aku sedang mengirim sesuatu padanya, temanku yang bekerja sebagai kurir ku minta untuk mengantar paketnya, saat sedang di depan pagar dia melihat hal itu dan meneleponku, aku meminta agar dia merekamnya diam-diam dan mengirim kepadaku."


"Apa temanmu tak jadi mengirimkan paketnya?"


"Aku memintanya untuk kembali, tak perlu mengirimkan paketnya."


"Apa isi paket itu?"


"Hadiah ulang tahun."


"Hmmm baiklah, aku akan menghubunginya nanti dan menanyakan secara langsung pada Ray."


"Terserahmu saja."


"Tapi kau jangan sakit seperti ini, kau merepotkanku tahu." Davin beranjak dari duduknya dan membawa nampan dan keluar dari kamar Jessi.


"Huh terserahku." Jessi menyahut kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...