Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
SEGALA TENTANGMU



Suara ketukan pintu menyadarkan Ben dari lamunannya, seorang wanita cantik masuk keruangannya. Wanita itu tersenyum dan mendekati Ben, dia merangkul dan mengusap bahu Ben dengan lembut. Melihat Ben yang tidak melakukan apapun, wanita itu semakin berani mendekatkan dirinya kepada Ben. Saat wanita itu mendekatkan wajahnya, Ben refleks memundurkan dan menjauhkan wajahnya dari wanita itu.


"Keluarlah, aku tak ingin di ganggu." Ben mengusir wanita itu.


"Ben, kenapa kau tidak pernah bisa menerimaku?" Raut wajah wanita itu terlihat kesal.


"Bukankah sudah ku katakan alasannya?"


"Wanita itu? Wanita ****** yang kabur dengan laki-laki lain? Itukah yang selalu kau tunggu?" Wanita itu tersenyum sinis.


"Berhenti bicara! Jangan pernah mengatakan wanitaku sebagai wanita ******!" Ben menggertakkan giginya.


"Kenapa? Apa kau masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia mengkhianatimu?"


"Diam! Dia tidak pernah mengkhianatiku!" Ben terlihat geram.


"Apa kau selalu menyangkal hal itu?"


"Berhenti!"


"Aku merasa kasihan padamu, Ben. Kau terus menunggu sesuatu yang tidak pasti."


"Diam, Megan. Keluar kau!" Ben mengusir Megan.


Dengan kesal Megan keluar dari ruangan itu, sudah beberapa tahun setelah kepergian Ann, Megan selalu berusaha merebut hati Ben namun sia-sia, Ben tidak pernah tertarik padanya. Megan sudah melakukan berbagai cara, dari cara halus hingga cara licik namun sama sekali tidak berhasil. Hati Ben yang sudah dingin menjadi sekeras batu setelah kepergian Ann.


Setelah kepergian Megan, Ben kembali menelepon Chris. Dia benar-benar merasa tidak tenang, Ben ingin segera menemukan Ann. Sudah sangat lama sejak kepergian wanita itu, Ben masih terus menunggu dan mencarinya. Ben bahkan tidak tahu alasan sebenarnya Ann meninggalkannya, yang dia tahu Ann pergi dengan seorang laki-laki. Itu informasi yang di berikan oleh ibunya dan Megan. Ben jelas tidak mempercayainya begitu saja karena dia tahu ibunya dan Megan tidak menyukai Ann. Karena itulah Ben terus berusaha mencari keberadaan Ann, setidaknya dia ingin tahu alasan sebenarnya Ann meninggalkannya.


"Halo, Chris?"


"Apalagi Ben?"


"Apa kau sudah menemukannya?"


"Ben, kau baru meneleponku beberapa waktu yang lalu, aku tidak bisa menemukannya secepat itu. Tunggulah, aku akan mengabarimu segera jika mendapatkan petunjuk." Chris terdengar menarik napasnya, heran dengan tingkah sahabatnya yang sangat tidak sabar.


"Baiklah, segeralah mengabariku, aku akan terus meneleponmu jika kau tidak mengabariku."


Ben menutup sambungan telepon, dia kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. Mengingat kembali memorinya bersama Ann, dia tidak pernah puas menyusuri kenangan masalalunya bersama Ann. Disetiap kesendiriannya dia selalu membayangkan Ann, setidaknya banyak memori indah yang terekam antara dia dengan Ann. Sekarang dia bahkan tidak tahu keberadaan wanita itu, wanita yang selalu mengisi hatinya hingga saat ini.


"Ann, ku mohon kembalilah." Ben bergumam pelan.


Ben tidak memungkiri bahwa sejak awal dialah yang lebih dahulu memiliki perasaan kepada Ann. Ben jatuh cinta sejak pertama kali bertemu dengan Ann yang telah mengiranya seorang sopir. Ben tidak pernah menambatkan hati kepada siapapun, namun dia tiba-tiba jatuh cinta dan ingin memiliki sosok wanita yang baru ditemuinya. Ben tidak ingin menunggu lama, dia akhirnya mengikat wanita itu dalam hubungan pernikahan dengan alasan yang sebenarnya sangat klise. Ben bahkan tahu bahwa Ann tidak menyukainya, dia hanya berharap untuk bisa mengetuk hati Ann secara perlahan.


Setelah pernikahan mereka hidup biasa saja, tak ada yang spesial hanya saja Ben terlihat lebih manusiawi saat berada di samping Ann. Ben yang selalu dingin berubah menjadi sering tertawa saat bersama Ann. Sikap itu bahkan ditunjukkannya saat bersama teman-temannya. Richard, Fabio dan teman-temannya yang lain hampir melongo melihatnya, dia tidak menyangka seseorang yang sepertinya tidak punya hati bisa berubah 360 derajat saat jatuh cinta.


Hingga suatu hari setelah berbulan berlalu, Ben akhirnya mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Ann, tak disangka Ann mengatakan bahwa dia juga mencintai Ben. Mereka akhirnya hidup sebagai sepasang suami istri sungguhan. Ben dan Ann bahkan selalu menghabiskan malam bersama, mereka membayar malam pertama pernikahan yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Ben tidak pernah melewatkan semalam pun tanpa Ann setelah mereka saling mengungkapkan perasaan. Ben merasa sangat bahagia, dia sama sekali tidak mengingkan hal lain saat itu selain Ann disisinya.


Namun apa yang dirasakan Ben ternyata hanya sesaat, Ann meninggalkannya setelah memberikannya pengakuan cinta, setelah mereka menjalani hidup dengan baik. Hal itulah yang membuatnya semakin menderita, Ann terlihat seakan mempermainkan hatinya. Tak ada ucapan selamat tinggal, tak ada kata pamit dia tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun. Tak ada tanda-tanda bahwa dia masih hidup dan tak ada tanda bahwa dia sudah meninggal.


Ann benar benar menghilang seperti di telan bumi. Ben sudah memerintahkan semua orangnya untuk mencari Ann ke setiap sudut dunia, namun hingga saat ini tak ada yang berhasil menemukannya padahal biasanya apapun yang dicarinya akan selalu berhasil dia temukan. Hal itu merubah Ben menjadi dirinya kembali seperti dulu. Aura dingin dan kejam kembali menyelimutinya, sedikit masalah saja mengusiknya dia akan langsung meledak. Hidupnya terlihat kembali suram semenjak kepergian Ann.


"Ann, dimana kau berada? Apa kau sadar apa yang kau lakukan akan membunuhku secara perlahan?" Ben mengacak-acak rambutnya.


Ben keluar dari ruangannya, dia melajukan mobil meninggalkan kantor. Hari ini adalah tanggal pernikahan mereka, karena itulah Ben terlihat sangat frustasi. Rasa rindu dan rasa kesal bercampur dalam dadanya, dia tak bisa menghadapinya sendirian. Ben pulang kerumahnya dan mulai menyusuri semua kenangan yang tersisa dirumah itu. Dia merindukan kehangatan yang ada dirumah itu saat Ann bersamanya.


Ben masuk ke kamarnya dan membuka lemari pakaian milik Ann, dia menatap pakaian Ann yang tersusun rapi yang dahulu selalu diperdebatkan oleh mereka. Ben selalu menyuruh Ann mengganti pakaiannya jika dia merasa pakaian itu terlalu terbuka untuk dipakai Ann di depan umum. Hingga saat ini bahkan semua milik Ann masih tersimpan rapi di kamarnya. Dia tidak pernah menyingkirkan hal kecil apapun yang berhubungan dengan Ann.


Ben duduk di sofa, dia menatap lurus ketempat tidur. Kasur itu adalah tempat mencurahkan seluruh perasaan cintanya pada Ann. Dia rindu membawa wanita itu kedalam pelukannya, dia rindu setiap membuka mata selalu ada wanita itu disampingnya. Hati Ben terasa semakin nyeri mengingatnya, hanya Ann lah yang bisa membuat hatinya selemah itu.


Ben merebahkan dirinya di sofa, menumpukan tangan sebagai bantal untuk kepalanya. Ben memejamkan sebentar matanya berusaha untuk menenangkan sedikit perasaannya. Namun sama sekali tak berhasil, dia tidak bisa menghilangkan bayangan Ann sedikitpun dari kepalanya.


Ben membuka perlahan matanya saat mendengar ponselnya berdering. Dia melihat nama Chris yang tertera dilayar. Dengan cepat Ben memencet tombol terima, dia berharap Chris memberikannya kabar menyenangkan.


"Bagaimana Chris?"


"Ben, sepertinya aku menemukan sesuatu."


"Bagus!" Ben menyeringai.


...****************...