
Malam semakin larut, Nevan telah tertidur pulas saat ini. Aku mulai mengantuk, entah sudah berapa kali aku menguap. Aku melirik ke arah Om Davin yang sedang duduk di sofa sudut kamar Nevan sambil memainkan ponselnya. Wajahnya terlihat serius, sepertinya dia sedang mengurus sesuatu yang penting, mungkin masalah pekerjaan.
Aku beranjak pelan dari kasur Nevan, turun dan duduk disamping Om Davin. Dia mengalihkan pandangannya kepadaku dan menutup ponselnya. Om Davin duduk menyamping menghadap kearahku, matanya tak berhenti menatapku.
"Apa kau sudah mengantuk?" Dia menyentuh pipiku.
"Mmm." Aku mengangguk.
"Tidurlah."
"Ya, aku akan kembali ke kamar."
Aku beranjak dari sofa dan keluar dari ruangan Nevan, tapi Om Davin mengikuti hingga aku masuk ke dalam kamar. Om Davin menutup pintu kamarku dan duduk di sofa. Dia terlihat memandangi seluruh isi kamarku, aku merasa bingung dengan apa yang dilakukannya.
"Om, kenapa kau ikut masuk ke kamarku?"
"Aku ingin menemanimu tidur seperti dulu."
"Om, ada apa denganmu? Aku jelas bukan El kecil lagi." Aku duduk di sampingnya dengan kesal.
"Terus sekarang kau apa? El besar? atau El tua?" Dia terkekeh.
"Om, aku bingung harus menjelaskannya bagaimana." Aku mengacak-acak pelan rambutku.
"Tentang apa?" Dia mengernyitkan alisnya.
"Tentang hubungan kita sekarang."
"Ada apa dengan hubungan kita sekarang?"
"Mmm." Aku berpikir keras mencari kata yang tepat."
"Katakanlah apa yang ingin kau katakan, El."
"Berjanjilah untuk tidak marah atau tersinggung."
"Baiklah, aku berjanji." Om Davin mengangguk.
"Om, kau tahukan berapa umurku sekarang?"
"Tentu saja." Dia mengangguk.
"Berapa?"
"Mungkin sekitar 21 tahun." Dia tampak berpikir.
"Ya, tepat sekali."
"Terus?"
"Menurutmu apakah anak gadis berumur 21 tahun itu sudah dewasa?"
"Hmmm, beberapa gadis memang sudah dewasa saat berumur di atas 20 an, tapi aku tidak yakin denganmu. Lihat ini, wajahmu bahkan masih kekanakan." Dia mencubit pipiku.
"Om, aku tidak sedang bercanda." Aku mengerucutkan bibirku.
"Lihat, lihat ekspresimu sekarang tidak berbeda sama sekali dengan yang dulu." Dia tertawa.
"Om, diamlah, berhenti bercanda, aku serius."
"Baiklah, aku akan kembali mendengarkan omongan seriusmu." Dia terkekeh.
"Om, berapa umurmu sekarang?"
"28 tahun."
"Kau pria dewasa kan?"
"Tentu saja."
"Kemungkinan sudah menjelang tua." Aku terkekeh meledeknya.
"Sudah ku bilang aku tidak tua."
"Iya, iya." Aku tertawa
"Jadi, kenapa jika aku dan kau sudah dewasa?" Dia bertanya.
"Mmm, bukankah kita tidak bisa sedekat dulu lagi?"
"Kenapa?"
"Om, apa kau masih tidak mengerti?"
"Coba kau jelaskan dengan sejelas-jelasnya."
"Om dari tadi aku sudah menjelaskan, tapi om terus menyela penjelasanku."
"Baiklah aku akan mendengarkan dengan baik kali ini."
"Om kata teman-temanku, seorang pira dewasa tidak bisa terlalu dekat dengan seorang wanita dewasa?"
"Kenapa?"
"Om, apa kau benar-benar tidak mengerti?"
"Ya." Dia mengangguk.
"Katanya bisa terjadi sesuatu hal yang berbahaya."
"Apa itu yang dikatakan teman-temanmu?"
"Ya." Aku mengangguk.
"Baiklah, aku akan mencontohkannya padamu."
"Apa?" Aku bingung.
"Begini." Om Davin mendekatkan wajahnya.
"Kenapa?" Aku refleks memundurkan wajahku.
"Terus begini." Oh no, om Davin mencium pipiku.
"Om, aku bukan anak-anak." Aku memegang kedua belah pipiku. Dia hanya tertawa.
"Sekarang apa yang kau rasakan?"
"Apanya?"
"Perasaanmu bagaimana?" Dia menatap wajahku.
"Bagaimana apanya?"
"Setelah aku mencium pipimu?"
"Tak ada, aku tak merasakan apapun."
"Jika begitu berarti tak akan terjadi hal berbahaya apapun di antara kita bukan?" Dia terkekeh.
Om aku berbohong, aku merasakannya. Aku merasakan jantungku berdetak kencang, aku merasakan hangat diseluruh wajahku. Oh tidak, ini tidak benar kan? Jantungku tidak pernah berdebar seperti ini walaupun berdekatan dengan pria tertampan di dunia sekalipun. Kenapa berada di dekat pria tua ini segalanya berbeda.
"Om."
"Ya?"
"Jangan melakukannya lagi."
"Kenapa?"
"Jika ada yang melihatnya mungkin akan terjadi kesalahpahaman."
"Siapa yang akan salah paham?"
"Siapa saja." Aku mendengus.
"Hei, gadis cilikku, kau tahu semua orang dirumah ini tahu bagaimana dekatnya hubunganku denganmu."
"Tentu saja."
"Tapi, itu kan dulu saat aku masih anak-anak."
"Kau dulu dan sekarang sama saja bagiku." Om Davin terkekeh.
"Mmm, sudahlah. Sekarang aku mau tidur, om pergilah ke kamarmu sendiri." Aku mendorong-dorong bahunya pelan.
"Tidak mau."
"Om." Aku mendengus.
"Hei, apa kau ingat dulu kau selalu melarangku keluar dari kamarmu? Kau bahkan selalu memelukku saat tidur."
"Om, sudah kubilang itu dulu."
"Apa kau sudah berani tidur sendiri sekarang?"
"Tentu saja."
"Hmmm, baiklah aku akan keluar dari kamarmu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Peluk aku sekarang." Om Davin merentangkan kedua tangannya.
"Tidak mau."
"Apa kau mau aku menginap dikamar ini malam ini?"
"Tidak!"
"Ya sudah, peluk aku sekarang."
"Kenapa om sangat suka dipeluk hah? dan kenapa harus aku?" Aku mengerucutkan bibirku.
"Karena cuma kamu yang ingin aku peluk."
"Hei, om jangan bercanda."
"Sudahlah, sekarang kau pilih yang mana, memelukku atau aku menginap dikamar ini?"
"Huh, pemaksa."
Aku terpaksa memeluknya dengan cemberut, aku menyandarkan kepalaku didadanya. Om Davin membalas pelukanku dengan erat. Entah kenapa saat dia memelukku, aku merasakan kerinduanku padanya terbayar seketika. Aku merasa sangat nyaman di dalam pelukannya, terasa seperti sangat disayangi dan dilindungi. Begitu besarkah rasa rinduku yang sebenarnya pada pria ini?
"El, kau tahu aku sangat merindukanmu?" Om Davin berbisik di telingaku tanpa melepas pelukannya, aku bahkan dapat merasakan hembusan nafasnya.
"Mmm." Aku hanya mengangguk.
"El, maafkan aku dulu meninggalkanmu."
"Tak apa."
"El, apa kau kesepian saat itu?"
"Ya." Entah kenapa aku ingin jujur tentang perasaanku dulu saat ditinggalkannya.
"Apa kau sedih saat aku tidak bisa lagi bersamamu saat itu?"
"Tentu saja."
"Apa kau marah?"
"Ya."
"Maafkan aku."
"Mmm." Aku kembali mengangguk.
"El, aku berjanji mulai saat ini aku tidak akan meninggalkanmu lagi seperti dulu."
"Om, itu tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Bagaimanapun om sudah punya keluarga, kita tidak akan bisa sedekat ini lagi."
"Tidak akan ada yang berubah El, aku akan tetap seperti ini padamu.
"Om." Aku kehabisan kata-kata untuk menjelaskan apa yang ada dipikiranku.
"Jangan memikirkan apapun." Dia memelukku semakin erat.
"Om, aku takut."
"Takut kenapa?"
"Bagaimana jika tante Jessi marah karena kita sedekat ini."
"Sudah kubilang jangan memikirkan apapun."
"Tapi om.." aku mendongak menatap wajahnya.
"Diamlah, kau sangat cerewet." Dia menyela kata-kataku sambil terkekeh.
"Kau juga." Aku mengerucutkan bibirku.
"Apa itu? Kenapa bibirmu? Apa kau mau aku menciummu?"
"Tidak!" Aku menutup mulutku dengan tangan.
"Kau benar-benar menggemaskan, El." Dia tertawa menatap wajahku.
"Om."
"Ya?"
"Aku kesal, aku marah saat om pergi meninggalkanku saat itu." Aku bergumam
"Ya, aku tahu. Aku bisa merasakan perubahan sikapmu kepadaku setelah itu."
"Huh, kau tahu tapi tidak melakukan apa-apa."
"Maafkan aku, El. Bukannya aku tidak mau terus mengunjungimu, tapi banyak hal yang harus kuurus saat itu."
"Apa aku tidak penting bagi om saat itu?"
"Kau sangat penting, kau adalah salah satu yang sangat ku sayangi, El."
"Tapi kau tetap meninggalkanku." Aku cemberut.
"Maafkan aku." Om Davin memelukku semakin erat.
Aku tak lagi membalas kata-katanya, rasanya aku hanya ingin seperti ini saja. Memeluknya saja sudah membuat segala hal rumit menghilang dari otakku. Rasanya sangat tenang, aku benar-benar merasakan pelukan hangatnya kembali. Aku bahkan tidak menyangka dia akan bersifat selembut ini lagi padaku. Oh jantung berhenti berdetak hanya karena di peluk pria tua ini. Aku menghembuskan nafasku dan berusaha melepaskan pelukanku, tapi om Davin menahan tubuhku.
"Om aku sudah sangat mengantuk."
"Sebentar lagi."
"Kenapa?" Aku mendongak menatap wajahnya.
"Tak apa." Dia tiba-tiba mencium keningku.
"Om." Aku hampir ternganga dengan perlakuannya padaku.
"Baiklah, tidurlah." Om Davin melepaskan pelukannya dan membelai lembut ujung kepalaku.
"Mmm." Aku mengangguk.
Om Davin beranjak dari duduknya dan keluar dari kamarku. Aku segera naik ke tempat tidur dan masuk kedalam selimut, hanya kepalaku yang menyembul keluar. Aku memejamkan mataku berusaha menenangkan segala perasaan yang tiba-tiba berkecamuk dalam dadaku. Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi, aku berusaha mendamaikan segala perasaanku. Aku merasa ada kupu-kupu beterbangan didadaku setiap aku mengingat perlakuan lembut Om Davin terhadapku tadi. Namun aku juga merasakan takut, aku takut ini adalah suatu kesalahan.
Perasaanku sekarang tentulah berbeda dengan dulu, sekarang rasanya ada yang aneh. Inikah perasaan orang dewasa yang disebutkan oleh teman-temanku? Aku berharap ini bukan suatu rasa yang berlebihan. Oh, God apa ini? Kenapa jantungku terus berdetak, rasa kantukku bahkan hampir menghilang karenanya. Aku terus memejamkan mataku berusaha untuk bisa tidur. Aku berusaha keras, aku bahkan menghitung domba dikepalaku, hal yang kulakukan waktu kecil jika tidak bisa tidur hingga akhirnya tak terasa aku telah terlelap.
...****************...