Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
JALAN KELUAR



Ann terbangun di ruangan yang tidak dikenalinya, Ann mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa lelah. Mata Ann menyapu setiap sudut ruangan, penglihatannya berhenti tepat di wajah yang sudah tak asing lagi baginya. Wajah tampan dengan bola mata berbeda warna menatapnya dengan tatapan khawatir.


"Ben?"


"Ya, aku disini."


"Dimana aku?"


"Ditempat yang aman."


"Dimana?"


"Dirumahku." Ben tersenyum.


Ann bangun dan bersandar disandaran tempat tidur, dia baru merasakan sakit pada telapak tangannya. Ann menatap telapak tangannya yang sudah terbalut dengan perban. Dia juga melihat luka-lukanya yang lain sudah di obati dan di plester.


"Apa kau yang melakukan ini?"


"Tidak, dokter yang mengobatimu."


"Terima kasih, Ben. Kau telah menyelamatkan aku." Ann menatap sayu ke arah Ben.


"Tak apa."


"Aku tidak menyangka, ternyata hidupku benar-benar dalam bahaya." Ann tersenyum pahit.


"Ya, kau harus terus berhati-hati."


"Apa yang harus ku lakukan sekarang?"


"Tetaplah disini, aku akan melindungimu."


"Aku sudah banyak merepotkanmu."


"Tak apa, kau harus menyembuhkan luka-lukamu terlebih dahulu, tetaplah disini untuk sementara waktu."


"Mmm, terima kasih Ben. Tapi aku tidak bisa membayarmu setinggi kemarin." Ann terkekeh.


"Anggaplah kau berhutang." Ben tertawa.


"Ya, aku akan membayarnya nanti." Ann terkekeh.


"Kau makanlah dulu." Ben mengambil nampan di atas meja dan mulai menyuapi Ann.


"Ben, apa mereka benar-benar mafia? Istri pimpinan yang menyekapku, apa dia juga bagian dari kelompok mafia?"


"Hmmm, yang ku tahu pamannya seorang mafia."


"Benarkah, darimana kau tahu?"


"Dari teman."


"Siapa temanmu?"


"Ann jangan terlalu cerewet dan jangan terlalu ingin tahu, kau ingat kenapa kau berada disini sekarang?"


"Ya, karena aku mengorek rahasia orang lain."


"Sekarang diamlah, habiskan makananmu."


"Ben?"


"Apa?"


"Apa aku akan benar-benar aman disini?"


"Ya, aku yang akan menjaminnya."


......................


Berminggu-minggu Ann berada di kediaman Ben, walaupun hanya berada di sekitar rumah dia tetap merasa nyaman disana. Ben selalu menemaninya saat bosan dan mengajaknya keluar rumah walau sebatas ke taman belakang. Ann merasakan kehangatan disetiap perlakuan Ben kepadanya.


Waktu terus berlalu dengan cepat, Ann sudah sembuh dan luka jahitan ditangannya juga sudah mengering. Ann mengingat tentang kantor dan pekerjaannya. Ann sudah sangat lama meninggalkannya, dia merasa harus segera kembali bekerja sekarang.


"Ben, sepertinya aku harus kembali bekerja."


"Maafkan aku Ann, aku sudah mengirim surat cuti untukmu selama tiga bulan."


"Apa? Bagaimana bisa aku cuti selama itu? Aku pasti akan di pecat."


"Tidak akan."


"Kenapa?"


"Kantormu telah memberikan izin."


"Bagaimana bisa? Aku bahkan tak punya alasan apapun."


"Aku mengatakan kau sedang sakit keras dan hampir meregang nyawa."


"Oh Tuhan, bagaimana bisa mereka menerima alasan itu? Itu adalah alasan yang sangat konyol." Ann menepuk dahinya, dia sudah satu bulan berada disini, berarti dia harus menunggu dua bulan lagi untuk bisa kembali bekerja.


"Sudahlah, yang terpenting kau bisa beristirahat."


"Aku sudah terlalu lama beristirahat."


"Apa kau tahu bahwa istri pimpinan dan anak buahnya terus mencarimu?" Ben menyeringai.


"Benarkah? Kenapa mereka masih saja memburuku?"


"Mereka tidak akan berhenti sampai menemukanmu."


"Jangan menakutiku, Ben." Ann melotot ke arah Ben.


"Aku mengatakan hal yang sebenarnya."


"Jadi aku harus bagaimana? Kau terus menakutiku tanpa memberikan jalan keluar." Ann mendengus kesal.


"Jika aku memberimu jalan keluar, apakah kau akan melakukannya?"


"Tergantung jalan keluar apa yang akan kau berikan."


"Apa kau mau tahu jalan keluar seperti apa?" Ben terkekeh


"Ya, katakanlah."


"Menikahlah denganku."


"Ide sangat konyol, Ben. Apa yang akan kudapat jika menikah dengan dirimu?" Ann tertawa.


"Perlindungan."


"Maksudmu?"


"Aku akan melindungimu."


"Bagaimana bisa?"


"Kau akan tahu nanti." Ben tersenyum misterius.


"Kau jangan bercanda, Ben."


"Bagaimana bisa aku mempercayaimu dan ide konyolmu itu?"


"Aku akan membuktikannya padamu, percayalah padaku Ann." Ben meraih jemari Ann, Ann hanya terperangah dengan apa yang dilakukan oleh Ben.


"Ben?" Ann tidak tahu harus menjawab apa lagi.


"Aku akan memberitahumu sesuatu."


"Apa itu?"


"I'm a mafia." Ben berbisik di telinga Ann.


"Kau bercanda?" Ann terbahak.


"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Ben menyeringai.


"Ben, kau menakutiku kembali." Ann terus menatap Ben.


"Ann, menikahlah denganku maka kau akan melihat semuanya nanti."


"Ben, apakah ada jalan keluar selain itu?"


"Tak ada."


"Huh, aku salah meminta jalan keluar darimu."


"Jadi, bagaimana?"


"Tapi pernikahan ini tidak sungguhan kan?" Ann menatap bola mata Ben.


"Tentu saja sungguhan." Ben terkekeh.


"Maksudku kita tidak benar-benar bersikap seperti suami istri setelah menikah bukan?"


"Lihat saja nanti." Ben menyeringai.


"Baiklah, Ben. Aku memilih untuk mempercayaimu, kuharap kau tidak mengecewakanku." Ann akhirnya pasrah.


"Jadi kau setuju?"


"Ya, aku setuju." Ann mengangguk


"Baiklah, mari kita bersiap-siap."


"Ya, aku berharap hidupku benar-benar kembali seperti semula setelah ini."


Ann hanya berharap untuk mendapatkan kehidupan tenangnya kembali. Ann tidak menyadari bahwa sebenarnya dia baru saja keluar dari mulut buaya dan masuk ke sarang harimau. Dia tidak menyadari bahwa hidupnya akan penuh dengan tantangan setelah ini.


"Aku akan menyiapkan semuanya." Ben terlihat tersenyum penuh kemenangan.


"Aku akan menghubungi kerabatku dahulu sekedar meminta izin." Ann mengambil ponselnya.


"Kau masih punya kerabat?"


"Hanya kerabat jauh."


"Baiklah, aku akan pergi sebentar." Ben pergi meninggalkan Ann.


Setelah kepergian Ben, Ann membuka ponselnya dan mengetikkan nomor ponsel yang selalu tercatat di otaknya. Dia memastikan terlebih dahulu bahwa itu benar-benar nomor yang akan dia hubungi. Ann memang hampir tidak memiliki nomor siapapun lagi di ponsel barunya selain nomor Ben dan sedikit nomor teman dikantor barunya.


"Halo?" Terdengar suara diseberang.


"Hai, Dear." Ann terkekeh.


"Ann? Kau kah itu?"


"Ya."


"Kau mengganti nomormu?"


"Ya, ponselku rusak beberapa waktu lalu."


"Dimana kau sekarang? Kapan kau kembali?"


"Aku belum bisa kembali."


"Kenapa?"


"Banyak yang harus ku kerjakan." Ann terkekeh.


"Sudah ku katakan berhentilah dari pekerjaanmu dan kembali ke perusahaan."


"Aku senang dengan pekerjaanku." Ann tertawa.


"Kau selalu saja mencari alasan."


"Mmm, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Nada bicara Ann berubah serius.


"Apa itu?"


"Aku akan menikah."


"Apa? Benarkah? Kapan?"


"Dalam waktu dekat."


"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?"


"Tenanglah." Ann terkekeh.


"Apa kau berada dalam masalah Ann?"


"Tidak, aku baik-baik saja." Ann berbohong.


"Sungguh?"


"Ya, jika aku berada dalam masalah aku pasti meminta bantuan padamu." Ann terkekeh.


"Baiklah, dengan siapa kau akan menikah?"


"Dengan seseorang yang kucintai." Ann tertawa.


"Aku akan datang."


"Kau tak perlu datang, aku hanya akan menggelar pesta sederhana. Aku akan mengunjungimu nanti setelah menikah."


"Hei, kau tidak mengharapkan kehadiranku di hari pentingmu?"


"Jarak kita sangat jauh, jangan merepotkan dirimu sendiri, yang penting kau sudah tahu aku akan menikah." Ann terkekeh.


"Hmmm, baiklah aku berharap kebahagiaan selalu untukmu Ann."


"Ya, aku berharap hal yang sama untukmu. Baiklah aku akan kembali bekerja, see you dear."


"See you Ann."


Ann menutup sambungan teleponnya, dia menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ann berpikir apakah ini adalah hal yang tepat untuk dilakukannya. Rasa bimbang merasuki pikirannya namun Ann sudah memutuskan untuk melakukannya. Entah kenapa dia memilih untuk mempercayai Ben, pria yang baru dikenalnya sebulanan ini.


...****************...