Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
JESSI BERSAMA SIAPA?



El sedang berjalan-jalan di mall, dia mengelilingi pusat perbelanjaan besar itu sendirian. Hari sudah sangat sore, El terlihat belum ingin pulang. El membeli beberapa barang keperluannya, dia beberapa kali keluar masuk toko yang berbeda, entah apa saja yang ingin dibelinya. El berhenti di depan sebuah gerai es krim, dia masuk dan duduk di salah satu meja. El memesan dua cup besar es krim untuk dirinya sendiri.


"Terima kasih, kau sudah membelikan ku es krim." Seseorang tiba-tiba meraih satu cup es krim milik El dan duduk seenaknya di kursi seberang El, dia terlihat tersenyum ceria.


"Will, kenapa kau selalu muncul di depanku?" El terlihat cemberut, tapi sebenarnya dia senang melihat anak itu.


"Aku sedang berbelanja disini." Will menunjuk kantong belanjaannya yang di taruhnya di lantai.


"Tapi kenapa kita selalu bertemu?" El mengerucutkan bibirnya.


"Aku baru saja lewat dan melihat kau disini dengan dua cup es eskrim, kupikir ini untukku." Will menyuapkan es krim ke mulutnya.


"Kau sangat percaya diri huh, siapa bilang itu untukmu? Itu untukku semua."


"Hei, kau memesan dua cup besar es krim untuk dirimu sendiri?"


"Ya." El mengangguk.


"Dasar serakah, jika gigimu sakit baru kau tahu rasa." Will terkekeh.


"Tidak akan, gigiku sehat." El membuka mulutnya, menunjukkan gigi-gigi nya yang tersusun rapi.


"Ya, siapa tahu gigimu berlubang kecil tanpa kau ketahui." Will mengedikkan bahunya.


"Tidak akan." El mengerucutkan bibirnya kembali.


"El, apa kau tidak ingin pulang?"


"Nanti, setelah menghabiskan es krim." El terus menyuapkan es krim ke mulutnya.


"Sudah hampir malam."


"Ya sebentar lagi, dasar Will cerewet."


"Kau lebih cerewet."


Cukup lama mereka berada disana, menikmati es krim sambil memperdebatkan hal-hal yang tidak penting. Sesaat El tiba-tiba diam, dia tidak sengaja melihat Jessi lewat di depan gerai yang hanya di batasi dengan dinding kaca. El melihat Jessi menggandeng seorang pria yang jelas bukan Davin. Walaupun Jessi memakai topi dan kacamata berwarna gelap, El tetap mengenalinya. El sangat mengenali postur dan gerak tubuh Jessi.


"Will kau tunggu disini sebentar." El beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari gerai.


"Kenapa? Kau mau kemana?" Bukannya berdiam diri, Will malah mengikuti El.


"Will sudah ku bilang tunggu disana." El berbicara sambil berbisik.


"Apa yang kau lakukan?" Tanpa sadar Will juga berbicara dengan cara berbisik.


"Ssssttt." El menaruh telunjuknya di bibir Will.


"Apa yang kau intip?" Will kembali bertanya melihat El bersembunyi dibalik tembok sambil melongokkan kepalanya.


"Diam Will." El masih mengintip.


"Siapa mereka?" Will akhirnya ikut mengintip ke balik tembok. Dia melihat seorang wanita dengan seorang pria sedang memilih-milih pakaian.


"Tanteku."


"Bersama suaminya?" Will bertanya.


"Bukan." El menggeleng.


"Siapa?"


"Tidak tahu."


"Lalu siapa?"


"Sudah ku bilang aku tidak tahu." El mendengus, dia kesal karena Will mengulang-ngulang pertanyaannya.


"Memangnya kenapa dengan mereka?"


"Will berhenti bertanya! Nanti akan aku jelaskan."


"Hei, mereka pergi." Will berseru kecil.


"Ayo ikuti mereka." El beranjak dari persembunyiannya.


"Kenapa kau terlihat sangat penasaran dengan urusan orang lain?" Will bertanya.


"Dia bukan orang lain, dia tanteku."


"Baiklah." Will mengalah.


"Mereka menuju parkiran." El dan Will terus mengikuti mereka dengan gerak-gerik seperti detektif.


El dan Will besembunyi di tiang beton parkiran yang cukup besar. Mereka melongokkan kepalanya kembali dan mengamati pergerakan kedua orang yang mereka ikuti. El dan Will melihat Jessi dan pria itu masuk ke dalam mobil, mereka berdua terlihat sangat mesra.


"Oh, God." El menutup matanya saat melihat pria itu mencium Jessi.


"Mereka sangat mesra." Will bergumam.


"Will apa kau melihatnya?" El melotot ke arah Will.


"Aku kan tidak sengaja." Will berucap santai.


"Kenapa tidak menutup mata?"


"Huh, dasar." El memukul bahu Will.


"Mereka pergi, apa perlu kita ikuti lagi?" Will bertanya.


"Tidak perlu, ayo kita kembali." El menatap kepergian mobil itu dengan seribu tanda tanya di kepalanya.


Mereka kembali ke gerai eskrim, mengambil belanjaan mereka yang ketinggalan dan keluar dari sana. Wajah El terlihat suram, dia tidak terlihat sesemangat sebelum melihat Jessi dengan pria itu, El terus memikirkan hal itu.


"Will?"


"Ya?" Will yang sedari tadi berjalan disampingnya menoleh kepada El.


"Apa menurutmu jika dua orang berciuman itu saling cinta?"


"Antara iya dan tidak." Will menjawab.


"Maksudmu?"


"Tidak semua orang melakukannya karena cinta, El. Terkadang ada yang melakukannya hanya karena kebutuhan."


"Apa kau pernah melakukannya, Will?"


"Tidak." Will menggeleng.


"Lalu kenapa kau tahu? Dari mana kau belajar?"


"Tidak tahu." Will mengangkat kedua bahunya.


"Will, kau menyebalkan." El meninju pelan bahu Will.


"Apa kau mau mencobanya?" Will terkekeh.


"Mencoba apa?"


"Seperti yang dilakukan dua orang tadi."


"Tidak mau, dasar Will kurang ajar." El memukuli bahu dan punggung Will dengan keras.


"Hei, hei hentikan. Kau akan membuat tulang punggungku remuk." Will pura-pura meringis.


"Biar saja, aku tidak peduli." El mendengus kesal.


"Aku hanya bercanda wahai tuan putri." Will terkekeh.


"Tidak lucu."


"Ya, maafkan aku."


"Huh."


"Kau marah padaku?" Will mulai panik.


"Tidak!"


"Bukankah biasanya apa yang dirasakan oleh wanita adalah kebalikan dari kata yang diucapkannya? Berarti kau marah padaku."


"Ya, aku marah."


"Kau terlihat tua saat marah." Will tertawa.


"Will, kenapa kau malah meledekku?"


"Kau lucu, tunggu disini sebentar!" Will bergegas masuk ke sebuah gerai roti.


"Will mau apa kau?" El berteriak namun tidak lagi di dengar oleh Will.


Beberapa saat kemudian Will kembali dengan menenteng kantong belanja berisi sebuah kotak di tangannya. Will menyerahkan kotak itu kepada El. El hanya memasang wajah heran melihat tingkah Will, dia menerima kotak itu dan mulai membukanya.


"Matchaaaaa." El berseru girang melihat cupcake matcha kesukaannya.


"Apa kau sudah tidak marah lagi sekarang?" Will terkekeh.


"Ya." El mengangguk seperti anak-anak.


"Kau mudah sekali di sogok." Will tertawa.


"Biar saja." El mendengus dan mulai menyuapkan kue ke mulutnya.


"Ayo pulang, sudah malam, aku akan mengantarmu." Will menatap jam tangannya.


"Oh God, Aku melewatkan jam makan malam." El ikut menatap jam tangannya.


Mereka berjalan menuju parkiran dan masuk ke mobil masing-masing. Will mengikuti mobil El hingga tiba di rumah Davin. Will menunggu hingga El benar-benar masuk ke dalam rumah.


"Terima kasih, Will." El tiba-tiba menyembulkan kepalanya di pintu dan melambai ke arah Will.


"Ya, tutup pintu sekarang." Will menyuruh El untuk menutup pintu.


"Baiklah." El menurut saja dan segera menutup pintu.


Will melajukan mobilnya menjauh dari rumah itu, entah kenapa kepalanya terasa sedikit pusing. Ada beberapa hal yang dipikirkannya saat ini. Bukan tentang dirinya, tapi tentang orang lain. Will tidak langsung pulang kerumahnya, dia mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat.


...****************...