Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
PESTA ULANG TAHUN NEVAN



El baru pulang dari kampus, dia melihat Davin, Jessi, Nevan dan beberapa pelayan sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka terlihat membicarakan sesuatu yang penting. Saat El datang semuanya langsung menoleh pada El, El hanya tersenyum karena tiba-tiba di tatap oleh semua orang.


"El sayang, kemarilah." Jessi melambaikan tangannya.


"Ya, tante." El melangkah masuk.


"Duduklah." Jessi mempersilahkan El untuk duduk di samping Nevan yang sedang sibuk bermain.


"El, lusa adalah hari ulang tahun Nevan, kita akan merayakannya dirumah ini." Davin berucap.


"Benarkah?" El terlihat senang, dia suka dengan pesta.


"Ya, undanglah teman-temanmu juga El." Jessi menyerahkan beberapa lembar undangan pada El.


"Baiklah, aku akan mengundang beberapa temanku." El tersenyum ceria.


"El bukankah beberapa hari lagi kau akan melaksanakan sidang?"


"Ya, Om." El mengangguk.


"Sebaiknya kau fokus dengan itu, acara ini biar kami saja yang mengurusnya."


"Tidak apa-apa om, aku sudah menyelesaikan semuanya, aku hanya perlu menunggu waktu sidang saja. Aku akan membantu kalian menyiapkan acara ini." El tersenyum.


"Baiklah, jika itu tidak mengganggumu."


Mereka akhirnya saling bertukar pikiran tentang konsep acara yang akan dilaksanakan. Bagaimanapun acara itu harus berjalan lancar dan meriah karena acara itu akan di hadiri oleh banyak kolega Davin dan Jessi. El juga telah berencana untuk mengundang Will dan beberapa teman lainnya.


...----------------...


Hari ulang tahun Nevan telah tiba, acara dilaksanakan malam hari dengan konsep garden party. Tempat yang di gunakan adalah taman belakang rumah keluarga Davin. Taman itu sangat luas dan sudah di dekor sedemikian rupa sehingga terlihat sangat indah dan membuat siapa saja akan ternganga melihatnya. Pencahayaan lampu disesuaikan dengan keadaan taman sehingga menambah keindahan tempat itu.


Pakaian yang dikenakan sudah ditentukan, semua tamu harus memakai setelan berwarna hitam putih. Sedangkan Davin, Jessi, Nevan dan El memakai pakaian berwarna putih. Semua persiapan sudah selesai, tamu juga sudah mulai berdatangan.


El sedang menemani Nevan yang sedang bermain, anak itu terlihat sangat ceria. Davin sedang menyambut para koleganya yang sudah mulai berdatangan. Jessi juga begitu, dia sedang menyambut teman-temannya yang kebanyakan berprofesi sebagai model sama seperti Jessi.


"El." Seseorang menyapa El.


"Will? Kau sudah datang?" El tampak ceria, dia memanggil pengasuh Nevan untuk menjaga Nevan sementara dia berbicara dengan Will.


"Ya. Baru saja." Will mengangguk.


"Duduklah dulu." El mengajak Will duduk di salah satu kursi.


"Ya." Will mengangguk dan duduk di samping El


"Apa kau datang sendirian Will? Kau tidak mengajak gebetanmu?" El terkekeh.


"Tidak." Will menjawab datar.


"Kau sensitif sekali setiap aku membahas hal itu." El tertawa kecil.


"Diamlah, El. Kau cerewet." Will terkekeh.


"Ya, ya." El mengerucutkan bibirnya.


"Apakah yang lain belum datang?" Will menatap sekeliling, tidak terlihat teman-teman El yang lain.


"Belum, baru kau temanku yang datang pertama."


"Hai El, hai Will." Tiba-tiba Val, Eren, dan Dinda datang menyapa mereka.


"Akhirnya kalian datang juga." El tersenyum.


"Ya, kami sangat suka pesta." Eren menimpali.


"Will, kau terlihat sangat tampan hari ini." Dinda yang selalu blak-blakan memuji Will.


"Ya." Will hanya mengangguk.


Pria itu memang terlihat sangat mempesona malam ini, dia memakai Jas hitam dengan kemeja berwarna putih di dalamnya. Pesonanya bertambah beribu kali lipat di banding biasanya saat dia berada dikampus. Sudah pasti dia akan menjadi bulan-bulanan lirikan teman-teman El yang lain.


"Kenapa kau selalu dingin pada kami dan selalu hangat pada El?" Val menatap Will.


"Ya, hanya El yang spesial untuk Will." Eren terkekeh.


"Hei sudah sudah, jangan menggoda Will, dia milikku." El tertawa karena candaannya sendiri.


"Ya, Will hanya milikmu." Dinda menimpali, mereka semua hanya tertawa menanggapinya kecuali Will. Pria itu tidak menunjukkan ekspresi apapun.


Beberapa saat lagi acara akan segera dimulai, teman-teman El yang lain sudah datang semua. Mereka terlihat berkumpul berusaha mendekati Will yang malam itu terlihat bersinar mengalahkan cahaya lampu yang ada disana. Begitu juga dengan para kolega Davin dan Jessi, mereka sudah hadir semua.


Acara dimulai, Davin menggendong Nevan menuju kue ulang tahun besar yang sudah dihiasi dengan lilin. Jessi berdiri di samping Davin dengan senyum lembutnya, begitu juga dengan El yang berdiri di samping Jessi, dia juga terlihat terus tersenyum sejak tadi.


Setelah semua tamu menyanyikan lagu selamat ulang tahun, Nevan meniup lilin dibantu oleh Davin hingga lilin tersebut padam semua. Semua tamu bertepuk tangan ke arah Nevan, Nevan tersenyum sangat ceria melihatnya. Jessi memotongkan kue dan memberikannya pada Nevan agar Nevan memberikan potongan kue pertama kepada orang yang paling disayanginya. Tak disangka Nevan memberikannya pada El, semua orang bertepuk tangan dan dengan tersenyum senang El menerima kue dari Nevan.


Acara pemotongan kue ulang tahun sudah selesai, semua orang memberikan selamat kepada Nevan. El dan Nevan tampak duduk di sebuah meja bersama dengan pengasuhnya. El menemani Nevan yang sedang menikmati kue nya sambil sesekali bercanda dengannya. Sedangkan Davin dan Jessi kembali sibuk berbicara dengan para koleganya.


Entah kenapa El merasakan seperti ada yang memperhatikannya. El mengedarkan pandangannya ke kerumunan orang yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing namun El tidak melihat siapapun yang memperhatikannya. Akhirnya El tidak lagi mencari-mencari, dia kembali bermain dengan Nevan.


Beberapa saat kemudian El masih saja merasakan seperti ada yang memperhatikannya, dia kembali menatap ke sekitar. Tiba-tiba matanya tak sengaja bertemu dengan mata salah satu tamu undangan, seorang wanita memakai gaun berwarna hitam dengan sedikit corak warna putih di ujung gaun bagian bawah. Wanita itu berdiri di kerumunan dengan memegang gelas minuman. Dia tampak tersenyum kepada El, senyuman tulus yang tidak bisa diartikan oleh El, dengan sedikit canggung El membalas senyuman itu.


"Nona, apakah nona juga ingin kue lagi?" Ucapan pengasuh Nevan membuat El beralih menatapnya.


"Nanti saja." El tersenyum.


El kembali menatap ke arah wanita tadi, namun dia tak terlihat lagi diantara orang-orang itu. El mencari-carinya namun wanita itu benar-benar tak terlihat lagi. El tidak terlalu memikirkannya karena menurutnya wanita itu adalah salah seorang kolega dari Davin dan Jessi.


"El."


"Kak Jeff? Kau juga di undang?"


"Ya, pimpinan perusahaan memberikan undangan pada kami." Jeff mengangguk.


"Oh, baiklah." El mengangguk.


"Apa kau keponakan Tuan Davin, El?"


"Ya." El mengangguk.


"El." Will tiba-tiba datang bergabung dengan mereka.


"Will?" Jeff menatap kepada Will


"Hei, kak Jeff." Will menyalami Jeff


"Kau juga hadir?" Jeff bertanya.


"Ya, El mengundangku." Will tersenyum.


Jeff dan Will akhirnya berbincang bersama membahas banyak hal, dari masalah kampus hingga masalah pekerjaan. Topik yang mereka bicarakan terus berubah-ubah, bahkan mereka membahas tentang masalah perdamaian dunia hingga macam-macam konspirasi. Mereka juga membicarakan tentang alien dan segala macam hal yang berat. El hanya menggelengkan kepalanya mendengar apa yang di bicarakan kedua pria di depannya itu.


...****************...