
El terbangun dari tidurnya, dia mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar mencoba membiasakan dengan cahaya matahari yang masuk lewat celah gorden. Matanya menyapu ruangan kamar berwarna biru pastel itu, sejenak dia kebingungan karena terbangun dikamarnya sendiri.
El tersadar saat melihat seseorang tertidur dikursi samping tempat tidurnya. Seorang pria yang sangat dikenalnya tertidur dengan posisi duduk, kepala ditenggelamkan dan bertumpu pada kedua tangannya sendiri.
“Om Davin?” El berkata lirih. “Bagaimana bisa aku terbangun dikamarku sendiri? Bukankah aku semalam tertidur di tempat Will? Tidak mungkin kejadian semalam adalah mimpi kan?” El berbicara dengan dirinya sendiri.
El melihat pergerakan pada diri Davin, pria itu mulai membuka matanya dan tersenyum menatap El. Wajah tampannya terlihat lelah, namun senyum manis tak pudar dari bibirnya. Davin meraih tangan El dan menatap mata gadis itu dengan lembut.
“Kau sudah bangun, El?”
“Ya, Om.” El mengangguk.
“Apa kau baik-baik saja?” Davin terlihat khawatir.
“Ya. Mmm kenapa aku bisa ada disini?”
“Temanmu memberitahuku bahwa kau berada ditempatnya.”
“Will?”
“Ya.”
“Om yang membawaku kesini?”
“Tentu saja.”
“Mmm.”
“El, maafkan aku.”
“Maaf untuk apa?” El mengernyitkan dahinya.
“Kau mengalami hal tidak menyenangkan kemarin.” Davin menggenggam jemari El.
“Mmm.” El hanya menunduk.
“Kenapa kau pergi tanpa izin kepadaku semalam?” Davin bertanya walaupun dia sudah sedikit mengetahui jawabannya.
“Pe..pergi?” El tergagap, dia baru ingat kejadian sebelum dia dibawa oleh orang-orang yang tidak dikenal.
“Pergi kerumahmu.” Davin melanjutkan.
“Mmm, aku hanya merindukan rumah.” Wajah El memerah, jelas dia pergi saat itu karena cemburu tapi tak ingin mengakui.
“Jangan berbohong.”
“Apanya yang berbohong?” El mengerucutkan bibirnya.
“Masih tidak ingin jujur?” Davin berdiri dari duduknya dan berpindah duduk ke atas kasur, dia mendekatkan wajahnya ke wajah El yang refleks memundurkan wajahnya.
“O..om, kenapa?” El membulatkan kedua bola matanya.
“Apa?” Davin balas bertanya.
“Hei Om, jangan seenaknya padaku.” El sedikit meninggikan suaranya, tiba-tiba nyeri di hatinya karena cemburu dengan kejadian waktu itu kembali menghantam dadanya.
“Memangnya kenapa?” Davin semakin mendekatkan wajahnya.
“Om.” El mendorong pelan bahu Davin. “Berhenti mempermainkan perasaanku.” El terlihat muram.
“Aku tidak pernah mempermainkan perasaanmu.” Davin menatap kedua bola mata El.
“Om, kau membuatku terjebak dalam perasaan yang aku sendiri tidak menyangka akan menjadi sedalam ini.” Mata El berkaca-kaca.
“El.”
“Dengarkan aku dulu, Om.”
“Baiklah.” Davin mengangguk.
“Om, berhentilah sekarang. Aku mohon jangan menambah luka apapun lagi pada hatiku. Kau tahu aku sudah sangat mencintaimu, tapi semakin kesini aku sudah sangat sadar jika ini salah.”
“El, kenapa berpikir seperti itu lagi?”
“Om, jika kau bertanya kenapa aku pergi kemarin, aku akan menjawabnya bahwa aku terluka, aku cemburu, sungguh aku tak bisa mengendalikannya sama sekali. Aku cemburu pada hal yang sebenarnya sudah aku tahu akan terjadi.”
“El maafkan aku.”
“Semua yang om katakan padaku tentang hubunganmu dengan tante Jessi adalah omong kosong, kau membuatku berharap tentangmu dan seketika kau menjatuhkanku.”
“Om cukup, aku lelah dengan keadaan diantara kita. Tidak mudah menjadi seseorang seperti aku yang berada diantara kalian, seharusnya aku sadar dari awal.” Mata El semakin berkaca-kaca.
“El tenanglah, jangan berpikiran seperti ini lagi?”
“Om apa sangat tidak jelas bagimu?”
“El...”
“Kau meyakinkan padaku jika kau dan tante Jessi tak lagi berhubungan, tapi apa? Aku bahkan menemui tante Jessi berada dikamarmu kemarin.”
“El itu salah paham.”
“Sudahlah om, kau tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi.” El mulai meneteskan air matanya.
“El, kumohon jangan menangis.” Davin memeluk El mencoba menenangkan El yang menangis semakin keras seperti anak kecil.
Davin terus mengusap lembut punggung El yang berguncang karena terus menangis. Davin tak melepaskan pelukannya sedikitpun, dia terus mendekap El untuk menenangkan perasaan gadis itu. Cukup lama El menangis hingga akhirnya mereda, suara tangisnya sudah menghilang, hanya tersisa suara hidungnya menahan ingus yang selalu ingin keluar.
“El tenanglah, hatiku sakit jika kau menangis seperti ini.” Davin mengusap pelan punggung El.
“Om, aku terluka, sungguh. Berhentilah untuk peduli padaku sehingga aku bisa sedikit demi sedikit melupakan perasaanku padamu.” El berbicara dengan lirih dalam pelukan Davin.
“El, kau tahu? Aku tidak pernah berkata bohong kepadamu tentang perasaanku, kau tahu aku sangat menyayangimu. Kau jangan bersikap seperti ini ku mohon.”
“Jangan membuatku berharap terus menerus, aku bahkan tidak bisa membedakan apapun tentangmu karena perasaanku yang semakin buta.”
“El, bukan hanya kau yang berharap, aku bahkan mengharapkanmu lebih dari apapun.”
“Jangan bicara omong kosong, Om. Aku tak ingin mendengarnya.”
“Aku tidak pernah bicara omong kosong padamu jika menyangkut perasaan.”
“Om, kau membuatku semakin bingung.” El meringis.
“Apa yang membuatmu bingung?”
“Kau.”
“El bagaimana lagi aku harus menjelaskannya?"
“Kau tak perlu menjelaskan apapun lagi, aku lelah mendengar penjelasanmu yang akan membuatku semakin bingung.”
“Jadi aku harus bagaimana?”
“Om, cukup sampai disini saja, kembalilah ke kehidupanmu dan aku akan kembali ke kehidupanku.”
“Tidak.”
“Om, biarkan aku pergi, setelah ini aku akan kembali kerumahku.”
“El, aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
“Om, aku bukan gadis jahat, aku tidak akan memintamu untuk memilih diantara aku dan tante Jessi. Jadi ku mohon biarkan aku pergi, bagaimanapun kita tidak bisa hidup bersama-sama seperti ini.”
“El, meskipun kau memintaku untuk memilih diantara kalian, aku akan memilihmu.”
El terdiam tak menjawab apa yang dikatakan oleh Davin, dia terkejut dengan apa yang didengarnya. Entah benar atau salah pikirnya, dia mengusap telinganya memastikan telinga dan pendengarannya baik-baik saja.
“Apa yang kau dengar itu benar, El.” Davin berkata setelah melihat El menyentuh telinganya seakan mengerti dengan apa yang ada dipikiran El.
“Mmm.” El langsung menurunkan tangan dari telinganya merasa sedikit malu karena pikirannya terbaca oleh Davin.
“Aku ingin meyakinkanmu El, tapi sulit melakukannya untuk saat ini.”
“Jangan memberi penjelasan yang sulit untuk ku mengerti om, kau selalu meyakinkanku dengan kata-kata tapi berbeda dengan yang sesungguhnya terjadi.”
“Aku akan membuktikannya El, kau harus benar-benar tahu bahwa kau benar-benar berarti bagiku."
"Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi." El kehabisan kata-kata, sejenak mereka terdiam tak berkata apapun lagi.
“El, bukankah kau ingin mendengar cerita hidupku? Aku akan menceritakannya sekarang.” Davin berbicara lirih sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh El.
El melonggarkan pelukan Davin, mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Davin dengan sorot mata sayu. Dia menatap mata Davin yang juga balas menatapnya, Davin mengusap pipi El yang penuh dengan bekas linangan air mata. Davin tersenyum menatap wajah polos gadis yang sangat dicintainya.
“Jangan menangis lagi.” Davin tersenyum tipis kemudian mencium pucuk kepala El.
...****************...