Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
JANTUNG YANG SELALU BERDEBAR



Hari menjelang pagi namun masih sangat gelap. El masih tertidur nyenyak, namun lelapnya terganggu karena badannya terasa berat seperti tertahan. El perlahan membuka mata dan nengerjap-ngerjapkannya. Suasana lampu kamar yang temaram membuatnya harus menajamkan penglihatannya. El terlonjak karena disampingnya ada Davin yang sedang memeluknya.


"Om, kenapa kau disini?" Kantuknya menghilang seketika.


"Kenapa?"


"Mmm, kenapa om berada di kamarku lagi?"


"Aku tidak bisa tidur, jadi aku kesini."


"Dari kapan om berada disini?"


"Baru saja." Dia mengatakannya sambil menguap.


"Om, kembalilah tidur ke kamarmu."


"Tidak mau."


"Om."


"El, berhentilah untuk cerewet. Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin tidur disampingmu." Davin memeluk erat tubuh El.


"Tapi om.."


"Ssst." Davin menaruh telunjuknya di bibir El."


El kehabisan kata-katanya, dia tidak lagi bersuara. Davin memeluknya, membawa kepala El kedadanya. Dia seakan tidak ingin melepaskan gadis itu lagi. Jantung El berdegup kencang, dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia merasa sangat nyaman berada dipelukan Davin namun perasaan cemas juga dirasakannya secara bersamaan.


"Om." El akhirnya bersuara pelan


"Hmmm?" Davin hanya berdehem tanpa membuka matanya.


"Apa om benar-benar menyayangiku?" El menarik kepalanya dan menatap Davin.


"Tentu saja." Matanya masih terpejam.


"Om, bukalah matamu."


"Ada apa?" Davin membuka matanya dengan malas.


"Bagaimana jika ada yang melihatmu keluar masuk kamarku seperti ini?"


"Kenapa kau terus berpikir hal-hal seperti itu El? Mereka semua tahu bahwa kau sudah seperti adikku."


"Apakah tidak apa jika tidur bersama seperti ini?"


"Tidak apa-apa." Davin kembali mengeratkan pelukannya dan memejamkan mata.


El tidak lagi menyahut, dia berusaha memejamkan matanya namun sia-sia. El sama sekali tidak bisa tidur lagi, berbeda dengan Davin yang telah terlelap sangat tenang sambil memeluk El. El tidak lagi memaksakan untuk tidur, dia mendongakan kepalanya untuk memandangi wajah Davin.


El menatap wajah tampan di depannya, pria yang di panggilnya om ini sudah seperti kakaknya sendiri. Mereka memang tidak punya hubungan darah sama sekali, mereka juga tidak dibesarkan bersama-sama. Namun hubungan erat mereka dimulai sejak pertama mereka bertemu. Saat Abram membawa Davin kerumah mereka, mengenalkannya dengan El dan hingga akhirnya akrab sampai ke urat nadi.


El tidak pernah berpikir apapun, dia hanya sangat menyayangi pria ini. Pria yang selalu bersikap manis kepadanya dari dulu. El sangat merindukan orang ini, dia bahkan tidak menyangka jika akhirnya dia akan berada sedekat ini dengan Davin.


El menghentikan aktivitasnya, dia memandangi wajah Davin kembali yang berada sangat dekat di depan wajahnya. El kembali merasa bimbang, segala perasaan yang berbeda kembali menghantam dadanya. El berpikir keras tentang apa yang terjadi sekarang ini. Hatinya terus bertanya-tanya tanpa mendapatkan jawaban sama sekali.


Apakah ini benar atau ini sebuah kesalahan?


El tidak bisa tidur sama sekali sampai pagi benar-benar datang menjelang. Di berusaha menggerakan tubuhnya namun lengan Davin mengungkung tubuhnya dengan kuat. Tubuh El terlihat mungil jika dibandingkan dengan tubuh Davin. Sehingga El benar-benar kesulitan melepaskan pelukan Davin.


"Om." El berbisik lirih.


"Hmm."


"Sudah pagi om."


"Sebentar lagi."


"Aku takut Nevan sudah bangun, hari ini Naya sedang libur."


"Aku masih ingin bersamamu." Davin perlahan membuka matanya dengan malas.


El tiba-tiba menyunggingkan senyumnya, dia punya cara agar Davin segera bangun. El tahu kelemahan Davin, dia menjulurkan tangannya untuk mengambil sebuah bunga kecil dalam vas di meja samping tempat tidur. El menggoyang-goyangkan bunga kecil itu di hidung Davin. El hanya menahan tawanya melihat ekspresi Davin yang mulai terganggu.


Davin mulai bersin-bersin, dia mengusap-mengusap-usap hidungnya. El mempunyai kesempatan untuk melepaskan dirinya dari dekapan Davin. El melompat dari tempat tidur, dia menyambar handuk dan mengambil beberapa baju ganti. El masuk ke kamar mandi dan mulai merendam tubuhnya dengan air hangat. El memejamkan mata menikmati wangi aromaterapi yang terasa lembut menyentuh penciumannya. Hari ini tidak ada jadwal apapun, El bisa bersantai ria hari ini.


Pikiran El tiba-tiba melayang entah kemana, pikirannya pergi kemasalalu. Kilas kehidupan lampau melintas di kepalanya bagaikan klise foto yang siap tercetak diotaknya. Semua sosok yang ditemuinya dalam kehidupan muncul di ingatan, kedua orangtua, Anthony, Briana, Vilo, teman-temannya, Jessi, Nevan dan yang terakhir Davin. Otaknya berhenti bekerja setelah sosok terakhir muncul.


El membuka matanya, menatap ke langit-langit kamar mandi. Dia merasakan perasaan yang benar-benar berbeda hari ini. Pertemuannya kembali dengan Davin kemarin setelah sekian lama membuat setitik perasaan di hatinya berubah. Perasaan yang dahulu hanyalah seperti sebatas kekeluargaan sekarang jelas tak sama lagi. El merasakan ada yang berdebar saat berdekatan dengan Davin, debaran yang aneh dan tak pernah dirasakan sebelumnya. El juga sangat bingung dengan perasaannya sendiri.


Ini salah kan? ini bukan perasaan itu kan? tidak mungkin! Tidak mungkin aku jatuh cinta dengan Om Davin, pria yang sudah kuanggap keluarga dan parahnya dia sudah memiliki keluarga. El berdebat dengan pikirannya sendiri.


El menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak segala pikiran yang dianggapnya konyol. El menenggelamkan dirinya sebentar di dalam bak mandi, meredakan semua kekalutan di kepalanya. Sudah cukup baginya memikirkan tentang laporan penelitian yang harus segera dia rampungkan, tidak perlu di tambah lagi dengan perasaan rumit yang sekarang menghantam dadanya.


El menyelesaikan acara berendamnya, dia mengeringkan tubuhnya dan memakai baju ganti yang tadi dibawanya karena takut Davin masih berada di dalam kamarnya. El keluar dari kamar mandi, dia membuka pintu dan menyembulkan kepalanya ke luar. matanya menyapu seluruh sudut kamar. Tidak ada lagi sosok Davin di kamarnya, El mengusap-usap dadanya merasa lega.


El mematut dirinya sebentar di depan cermin, hampir sempurna bayangan yang muncul di depan cermin, tapi empunya tidak terlalu menyadari akan hal itu. El keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Nevan tapi Nevan tidak ada dikamarnya. El turun dari lantai dua, di melihat sosok Davin dan Nevan sudah duduk manis di meja makan.


"Selamat pagi, El." Senyum cerah Davin menyapanya.


"Selamat pagi unty." Nevan menuruti apa yang dilakukan ayahnya.


"Selamat pagi." El tersenyum duduk diseberang Nevan.


"Kenapa matamu terlihat berkantung, El? Apa kau kurang tidur?" Davin menatap El.


A..apa? Dia bertanya dengan polos seperti itu, padahal dia yang menyebabkan mataku seperti mata panda hari ini. El


"Mmm, memang sering begini, Om." El mencari kata yang tepat karena tidak mungkin dia mengatakan didepan Nevan bahwa tadi malam ayahnya menyelinap kekamarnya dan membuatnya tidak lagi bisa tidur.


"Oh ya?" Davin terlihat tersenyum menggoda El, El hanya tersenyum masam dibuatnya.


Mereka akhirnya memulai sarapan, Davin terlihat sangat senang hari itu, Nevan juga sangat senang karena kepulangan ayahnya. Nevan berbicara sangat banyak pada Davin dan El, anak itu seakan tidak kehabisan stok kata-kata untuk terus berbicara. Banyak hal yang di ucapkannya walau sebagian tidak di mengerti oleh Davin dan El. Merek hanya tertawa menyaksikan tingkah menggemaskan Nevan.


...****************...