Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
PERUBAHAN SIKAP



Sepanjang perjalanan pulang El dan Davin hanya berdiam diri. Davin pulang memakai mobil El sedangkan mobilnya di titip pada asistennya. Tak ada yang bersuara sedikitpun, Davin fokus menyetir dan El fokus melihat ke arah jalanan. Hening, tak ada percakapan sama sekali diantara mereka.


Hingga akhirnya mereka tiba dirumah, El dan Davin keluar dari mobil dan memasuki rumah. El berjalan canggung di depan sedangkan Davin mengikutinya dibelakang. Setelah menaiki tangga, El berjalan menuju kamarnya dan Davin juga berjalan menuju kamarnya sendiri.


El merasa sangat bingung karena Davin tak biasanya bersikap seperti itu. Biasanya Davin sangat cerewet namun saat itu dia benar-benar diam. El merasa serba salah namun tak bisa melakukan apapun. El masuk kedalam kamar, menaruh tas di atas meja dan menghempaskan dirinya di sofa. Dia terus memikirkan sifat Davin padanya.


"Apa yang harus kulakukan? Apa Om Davin benar-benar marah? Kenapa harus marah? Bukankah aku tak melakukan kesalahan? Aku hanya bertemu dengan temannya agar mereka bisa berdamai." El berbisik pada dirinya sendiri.


El tidak bisa berpikir sama sekali tentang sikap Davin padanya hari ini karena dia tidak merasa melakukan kesalahan. Dia tidak tahu harus melakukan apa hingga akhirnya tertidur di sofa. El tertidur cukup lama hingga menjelang waktu makan malam. El bergegas mandi dan turun ke lantai bawah untuk makan malam.


"Nona El, silahkan makan." Bi Hana tersenyum saat El memasuki ruang makan.


"Mmm ya, Om Davin dan tante Jessi kemana? Apa mereka sudah makan?" El menatap meja makan yang terlihat rapi dan tak ada tanda-tanda siapapun habis makan disitu.


"Seperti biasa nyonya masih diluar kota, Non."


"Om Davin apa sudah makan?"


"Tuan belum turun dari tadi, Non." Bi Hana menjawab.


"Benarkah?" El


"Ya tidak biasanya tuan terlambat, saya akan ke atas untuk memanggil tuan."


"Tidak perlu bi, biar saya saja."


"Baik Non."


El keluar dari ruang makan dan naik kembali kelantai atas, dia berjalan menuju kamar Davin. El masuk keruangan tunggu dan mengetuk pintu kamar utama Davin. Lama El menunggu tak ada tanda-tanda Davin keluar menemuinya.


"Om, apa kau tidur?" El bertanya lirih yang mungkin tidak di dengar oleh Davin.


El terus berdiri di depan kamar Davin, dia tidak ingin beranjak sebelum Davin membuka pintu. Entah kenapa dia tidak ingin pergi sebelum menemui pria itu.


Ceklek, pintu terbuka.


"Sudah ku katakan jangan mengetuk pintu, kau bisa langsung masuk kapan saja ke kamarku." Davin menarik lengan El masuk kekamarnya dan memeluk erat tubuh gadis yang masih mematung itu.


"Om." El ternganga melihat tingkah laku Davin.


Bagaimana bisa dia memelukku erat setelah tadi mendiamkanku? El bertanya dalam hati


"El, ku mohon jangan melakukan hal yang membuatku khawatir." Davin berbisik lirih di kepala El, dia menciumi pucuk kepala gadis itu.


"Maaf." El balas berbisik


Walau El ingin bertanya dan mendebat banyak hal tentang hari ini namun dia berhasil menahan diri sehingga hanya kata maaf yang terucap dari mulutnya. El tidak ingin membuat semakin rumit keadaan, Davin mendiamkannya saja sudah sukses membuat El pusing. El tidak bisa membayangkan jika Davin benar-benar marah padanya walaupun sebenarnya El merasa tidak melakukan kesalahan hari ini.


"Berjanjilah."


"Ya." El mengangguk pelan.


Davin melepaskan pelukannya, menatap El dengan penuh kasih sayang. Davin menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya pada wajah El. Davin menempelkan bibirnya pada bibir El tanpa aba-aba membuat El gelagapan dan tak bernapas sama sekali.


"Bernapaslah." Davin melepaskan ciumannya, dia tersenyum melihat tingkah El.


"A..aku tidak tahu caranya bernapas." El menunduk tak berani menatap Davin.


"Aku akan mengajarimu." Davin menangkup wajah El dengan kedua tangannya dan mendongakkannya sehingga El terpaksa menatap Davin. Davin tersenyum licik menggoda El.


"Ti..tidak." El menggelengkan kepalanya panik.


"Kau menggemaskan sekali." Davin mencubit kedua pipi El.


Davin tiba-tiba meraih tubuh mungil El dan menggendongnya ke kasur. Dia merebahkan tubuh El di kasur besar miliknya kemudian dia menjatuhkan tubuhnya disamping El. El tentu saja panik, tidak mengerti apa yang akan di lakukan oleh Davin.


"Kenapa?" Davin mengunci tubuh El yang bergerak ingin bangun.


"Om, kau mau apa?"


"Aku ingin menghukummu."


"Hei apa salahku?"


"Hari ini kau melanggar banyak peraturanku?"


"Peraturan apa?"


"Jika aku izin padamu pasti kau tidak akan mengizinkan. Masalah nomor telepon itu temanmu sendiri yang menyuruhku untuk menyalin nomornya dan menghubunginya. Dan apa itu? Tidak jujur? Tidak jujur apa aku?"


"Kau berbicara dengan orang asing memakai ponselku tapi tidak bilang padaku. Bukankah itu tidak jujur? Bukankah kau menyembunyikannya dariku?"


"Om aku tidak sengaja karena saat itu ponselmu terus berdering, kukira ada sesuatu yang penting jadi aku mengangkatnya."


"Lalu kenapa tidak bilang padaku?"


"Karena temanmu meminta bantuanku, dia mengatakan kalian sedang bertengkar."


Dasar Chris licik. Davin mengumpat Chris dalam hati.


"Jadi, apa kau berniat mendamaikan kami?"


"Tentu saja, tidak baik terus bermusuhan om." El dengan polosnya berkata tanpa tahu apa yang terjadi.


"Baiklah, terima kasih sudah jujur." Davin menepuk-nepuk kepala El.


"Apa kalian sudah baikan sekarang?"


"Tentu saja." Davin hanya mengangguk.


"Berarti aku berhasil bukan? Mendamaikan seseorang itu bukan perkara mudah, berarti sekarang aku bebas kan? Tidak di hukum?" El tersenyum bangga.


"Tetap saja kau harus dihukum."


"Hei, kenapa?"


"Karena ada satu lagi kesalahanmu."


"Apa itu?"


"Membuatku terus jatuh cinta padamu." Davin kembali memeluk erat El


"Itu bukan kesalahanku, tahu? Om sendiri kenapa jatuh cinta." El membela diri.


"Tetap saja itu salahmu."


"Tidak!" El menggeleng, bergerak memberontak ingin melepaskan pelukan Davin namun pria itu semakin mengeratkan pelukannya.


"El dengarkan aku." Davin berbicara lirih membuat El terdiam.


"Mmm."


"Jangan membuatku khawatir, jangan bertemu orang asing tanpa seizinku walaupun orang-orang yang mengaku temanku sekalipun. El aku hanya tidak ingin kejadian waktu itu terulang kembali. Kau tahu betapa aku khawatir dan merasa sangat bersalah saat kau berada dalam bahaya?"


"Maaf, kukira apa yang kulakukan adalah benar sehingga aku tidak mengerti apa yang kau rasakan." El merasakan betapa tulus ucapan Davin.


"El, aku tak bermaksud membatasi kehidupanmu. Hanya saja saat ini aku merasa takut jika sesuatu hal akan menyakitimu."


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


"Mulai sekarang jika kau ingin melakukan sesuatu katakanlah padaku, jangan menyembunyikan apapun dariku."


"Baiklah."


"Kau tidur disini saja ya?"


"Ta..tapi."


"Jangan membantah." Davin terus memeluk El.


"Tapi..."


"Sssttt."


"Tapi aku lapar." El berkata cepat dan sedikit berteriak.


"Benarkah?" Davin terkekeh.


"Ya, aku kesini ingin mengajakmu makan malam, bukan untuk menginap dikamarmu tahu?" El mengerucutkan


"Baiklah, ayo makan." Davin tertawa kecil melihat El yang cemberut. Begitu berartinya El, bahkan Davin tidak bisa berlama-lama mendiamkan gadis itu


...****************...