Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
TEMPAT KENANGAN (3)



El kembali menatap jendela setelah Will pergi, matahari sudah tak ada lagi membuatnya menutup tirai dan beranjak dari sana. El berjalan pelan sambil melihat hiasan dinding di kamar Will, ada beberapa lukisan bertema alam dan beberapa lainnya terlihat menampilkan gambar-gambar hewan. Selain lukisan, ada beberapa hiasan bertema etnik seperti dream catcher berbahan bulu-bulu burung dan rajutan entah khas mana yang menimbulkan kesan nyaman dan damai saat memandanginya.


"Bocah ini sepertinya sangat suka dengan alam." El tersenyum berbicara dengan dirinya sendiri.


El menatap kembali beberapa foto Will di dinding, foto-foto yang sore tadi dilihatnya. Foto-foto masa kecil Will dengan Josh dan Kakeknya. Di dinding itu hanya terdapat foto-foto mereka bertiga, tidak ada yang lain. Foto-foto mereka tersenyum gembira membuat El ikut tersenyum menatapnya.


"Will, sepertinya hidup yang kau lalui telah merubahmu dari bocah ingusan yang periang menjadi laki-laki populer yang bersikap dingin pada dunia. Aku tahu kau terlihat menyenangkan bersamaku, tapi aku juga tahu kau mengabaikan orang lain yang ingin berteman denganmu, bahkan orang-orang yang menyukaimu. Aku tahu jika aku tak ada, kau hanya akan menyendiri seakan tak ada yang mau berteman denganmu, padahal sesungguhnya kau lah yang menghindari mereka." El menyentuh wajah Will di foto sambil berucap lirih.


Mata El tiba-tiba tertuju pada kotak besar di atas meja yang menempel di dinding samping El berdiri. Kotak yang tertutup rapi itu membuat El penasaran akan isinya, dia mendekat dan membuka perlahan kotak itu. El mengernyit saat melihat isi kotak, tampak bingkai-bingkai foto yang disusun terbalik membuat El semakin penasaran.


El mengambil bingkai itu dan membaliknya, tampak foto Will, Josh, Kakek, Seorang Wanita paruh baya yang cantik juga seorang pria paruh baya yang sedang tersenyum. El bingung kenapa foto itu tidak di pajang di dinding seperti foto yg lain. El mengambil kembali bingkai foto lainnya dan membaliknya, terlihat foto Josh dan Will kecil duduk di pangkuan pria dan wanita paruh baya yang tadi.


"Mereka orang tua ku, El." Suara Will mengejutkan El.


"Oh God, sejak kapan kau berada di belakangku Will, kau sungguh mengejutkanku." El mengelus dadanya.


"Kau terlihat sangat serius memandangi foto-foto itu sampai tak sadar aku sudah disini." Will terkekeh.


"Huh." El mendengus.


"Pasti kau bertanya-tanya kenapa foto-foto itu tidak di pajang di dinding."


"Hmmm apa sekarang kau bisa membaca pikiran seseorang?" El terkekeh.


"Foto-foto itu hanya mengingatkanku pada luka."


"Apa maksudmu?"


"Entahlah, aku hanya terluka melihatnya." Will terkekeh


"Hei, jangan bercanda." El menepuk bahu Will.


"Aku tak bercanda." Will kembali terkekeh.


"Hmmm, apa kau bertengkar dengan kedua orang tuamu?" El mengernyit.


"Tidak." Will menggeleng


"Lalu?"


"Kami hanya tak lagi saling peduli." Will tersenyum masam.


"Sungguh?"


"Ya, aku terlalu mandiri sehingga tak perlu perhatian kedua orang tuaku. Begitupun mereka yang terlalu sibuk dengan urusan mereka sehingga tak perlu ada aku." Will terkekeh.


"Will, apa selama ini kau melalui hari yang berat?"


"Tidak juga, hari-hari ku semakin membaik setiap harinya." Will tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang tersusun rapi."


"Hmmm, kau tak terlihat sebaik itu." El terkekeh.


"Setidaknya semenjak ada kau semuanya terasa lebih baik." Will berucap dalam hati.


"Hei kenapa diam saja?" El menepuk bahu Will.


"Emmm El ayo ke ruang tengah, makan malam sudah hampir siap." Will mengalihkan pembicaraan.


Belum sempat El menjawab, suara ketukan pintu terdengar. Suara lembut seorang wanita memanggil tuan mudanya.


"Ya, masuk saja." Will berucap.


"Tuan muda dan nona, sarapan sudah siap." Pelayan berucap setelah membuka pintu, dia tersenyum ke arah Will dan El.


"Baiklah, kami akan segera kesana." Will menjawab


Pelayan itu keluar dari kamar Will dengan sopan, dia juga menutup pintu dengan pelan. Will mengajak El agar segera menuju ruang makan, El menurut saja karena perutnya memang sudah terasa lapar.


Will dan El sudah berada di meja makan besar yang hanya di isi oleh mereka berdua, Arthur dan istrinya. Arthur dan istrinya tampak tersenyum kepada El yang dibalas senyuman sedikit canggung dari El.


"Liana, kau lihat gadis ini sangat cantik." Arthur berbicara dengan istrinya.


"Ya, dia cantik sekali." Liana kembali tersenyum ke arah El.


"Terima kasih, emmm...." El tampak ragu karena tidak tahu harus menyebut kedua orang itu dengan panggilan apa.


"Panggil saja aku nenek Lian, dan ini kakek Arthur. Tak perlu sungkan memanggil kami seperti itu karena memang kami sudah tua." Liana terkekeh.


"Baik Nek." El masih tampak ragu.


"Hei, sebenarnya walaupun umur mereka sudah lebih dari setengah abad tapi jiwa mereka masih sangat muda." Will terkekeh.


"Kau memang selalu begitu Will." Liana tertawa kecil.


"Siapa tadi namamu, sayang?" Liana menatap El.


"El, nek." El tersenyum.


"Nama lengkapmu?"


"Letizia elefata." El kembali tersenyum.


"Nama yang sangat cantik, secantik orangnya." Liana terkekeh.


"Nenek bisa saja." El sedikit malu-malu karena terus di puji sejak tadi.


"Sudah dulu ngobrolnya, ayo kita makan dulu sebelum makanannya dingin." Arthur menyela pembicaraan mereka.


"Ya, ya, aku hampir lupa." Liana terkekeh.


Mereka akhirnya makan malam dengan tenang, suasana menyenangkan tercipta begitu saja diantara mereka. Kecanggunggan perlahan-lahan menguap dalam diri El, dia sangat menikmati makan malam yang hangat di tempat itu hingga selesai.


"Will, setelah ini aku ingin melanjutkan percakapan kita lagi."


"Baik." Will mengangguk.


"El, nanti nenek akan mengajakmu ke suatu tempat setelah ini." Liana terus tersenyum kepada El.


"Baik, Nek." El mengangguk.


Setelah bercengkrama sebentar, akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan meja makan. Will mengikuti Arthur sedangkan El mengikuti Liana. Mereka berpisah setelah keluar dari ruang makan. Will pergi menuju ruang yang biasanya di gunakan sebagai tempat berkumpul keluarga. Sedangkan El di ajak Liana pergi ke arah teras samping bangunan.


Seluruh tempat sudah mulai terasa sepi, para pelayan sepertinya sudah bersiap untuk beristirahat. Beberapa orang pengunjung yang menginap di tempat itu juga sudah tak terlihat lagi. Suasana sangat dingin di tempat itu sehingga membuat siapa saja ingin segera meringkuk di tempat tidur dengan selimut tebal. Suara gemericik aliran air sungai semakin jelas terdengar seiring malam yang mulai larut. Suara sahut menyahut binatang malam juga semakin menambah alaminya suara alam. Suasana yang sama sekali tak bisa di dapatkan di daerah perkotaan padat yang hanya terdengar suara deru alat transportasi juga gemuruh pabrik-pabrik.


Tempat itu sungguh menjadi surga bagi siapapun yang ingin menenangkan diri dari ributnya suasana perkotaan. Di tempat ini, pengunjung yang datang dan menginap hanya di perbolehkan sepuluh orang per hari, itu pun harus reservasi terlebih dahulu. Arthur tidak ingin jika tempat itu terlalu ramai, karena sesungguhnya tempat ini bukan untuk wisata, tapi tempat ini adalah sarana untuk menenangkan pikiran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...