
Malam ini malam minggu, aku menyiapkan beberapa hal untuk pergi besok. Besok kami akan liburan ke sebuah kebun binatang. Om Davin ingin mengajak Nevan berlibur setelah lama meninggalkan anak itu keluar kota. Aku sudah selesai merapikan sedikit barang yang akan ku bawa besok, tak terasa malam semakin larut, aku akhirnya naik ke tempat tidur dan terlelap begitu saja.
Pagi menjelang, aku bangun dan turun dari tempat tidur. Aku segera mandi dan berpakaian, siap untuk sarapan pagi. Aku berjalan menuruni tangga dan masuk ke ruang makan. Aku melihat ada Om Davin, Nevan dan tante Jessi yang ternyata sudah kembali. Mereka duduk berjejer, aku mengambil tempat duduk di depan mereka.
"Selamat pagi, El." Tante Jessi menyapaku dengan ramah.
"Selamat pagi, tante. Kapan tante tiba?" Aku tidak tahu menahu tentang kepulangan tante Jessi
"Tadi malam, El. Maaf tante tidak memberitahumu karena sudah terlalu malam, tante takut mengganggu tidurmu."
"Oh, tidak apa-apa tante." Aku mengangguk.
Kami memulai sarapan pagi dengan tenang tanpa ada pembicaraan apapun. Om Davin terlihat lebih diam saat ada tante Jessi. Memang sudah seharusnya begitu, jika dia cerewet kepadaku mungkin aku akan merasa tidak nyaman kepada tante Jessi.
"El, apa kau sudah selesai?" Tante Jessi menatap kearahku.
"Sudah tante." Aku mengangguk.
"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang." Tante Jessi tersenyum.
"El, apa kau sudah menyiapkan barang-barangmu yang akan dibawa?" Om Davin bertanya padaku.
"Ya, Om."
Aku bersama keluarga kecil Om Davin dan seorang pelayan meluncur menuju sebuah kebun binatang yang lumayan jauh dari kota. Kami sampai disana setelah menempuh waktu kurang lebih satu setengah jam. Kebun binatang dengan suasana yang sangat asri ini mampu membuat hati siapa saja menjadi tenang. Letaknya jauh dari perkotaan, walaupun didalam kandang, namun kebun binatang ini dibuat senatural mungkin sehingga suasananya seakan seperti di habitat binatang-binatang itu sendiri.
Kami mulai berjalan menyusuri tempat itu, Nevan terlihat sangat senang saat melihat binatang-binatang menatap ke arahnya. Nevan di gendong oleh Om Davin, sedangkan tante Jessi berjalan di sampingnya. Aku mengikuti mereka dari belakang, aku tersenyum melihat keharmonisan keluarga kecil itu. Mereka terlihat sangat bahagia, aku senang melihatnya walaupun ada setitik rasa nyeri di dadaku yang akupun tidak mengerti kenapa.
Cukup lama kami mengitari tempat itu, kakiku terasa sedikit pegal. Tante Jessi juga terus mengeluh lelah, namun Nevan sama sekali tidak ingin berhenti. Akhirnya aku dan tante Jessi memutuskan untuk duduk di sebuah gazebo yang lumayan besar. Kami mengistirahatkan kaki sejenak sedangkan Om Davin terus mengikuti Nevan yang terus berjalan kesana kemari.
"Nevan memang tidak mengenal lelah." Aku tersenyum memandangi Nevan yang terkadang berlari-lari kecil membuat ayahnya harus waspada, takut Nevan tergelincir atau terjatuh.
"Anak itu memang sangat aktif." Tante Jessi menimpali.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum, aku senang berjalan-jalan disini. Entah sudah berapa tahun lamanya aku tidak berlibur bersama keluargaku, kadang kami hanya saling mengunjungi itupun beberapa tahun sekali. Kesibukan membuat kami tidak punya waktu untuk berlibur seperti ini, bisa bertemu saja sudah menjadi hal yang sangat menyenangkan bagiku.
Dari kejauhan aku melihat kandang singa, aku sangat tertarik untuk kesana. Aku minta izin pada tante Jessi untuk ketempat itu sebentar. Tante Jessi mengangguk memperbolehkan aku untuk kesana. Dengan senang hati aku berjalan sendirian menuju kandang singa. Aku melewati beberapa kandang binatang lain hingga akhirnya sampai ke tempat tujuan. Aku menatap singa dari luar kandang, hewan itu terlihat tenang disana.
"Hei, apa kau sedang mengencani seekor singa?" Aku mendengar suara seseorang dibelakangku.
"Will, sedang apa kau disini?" Aku menatap Will yang sudah berada di belakangku.
"Aku sedang jalan-jalan."
"Ck ck ck, memang benar kata teman-temanku." Aku berdecak.
"Apa?" Will menatapku.
"Dimana ada aku, selalu ada kau." Aku terkekeh.
"Dunia memang sempit." Dia tertawa.
"Di waktu libur pun, aku dan kau bisa bertemu." Aku tertawa kecil sambil memandang ke dalam kandang singa.
Will tidak menjawab, dia hanya tertawa mendengar apa yang ku ucapkan. Will juga ikut memandangi singa yang sekarang balas memandangi kami. Sejenak kami terdiam karena sibuk memandangi beberapa singa lain yang terlihat sedang bercanda.
"Bersama siapa kau kesini Will?" Aku menatap Will sekilas.
"Sendiri."
"Kau liburan sendirian?"
"Ya." Dia mengangguk.
"Apa kau kesepian, Will?"
"Terkadang." Dia kembali mengangguk.
"Ternyata kau tidak berbeda jauh denganku." Aku tertawa kecil.
"Apa kau juga sering merasa kesepian?" Will menatapku.
"Ya, hampir setiap saat." Aku berbalik menghadap ke arah Will.
"Kenapa kau tidak ingin ikut kedua orang tuamu?"
"Aku ingin mandiri." Aku terkekeh.
"Begitukah?"
"Mmm." Aku mengangguk.
"El."
"Ya?"
"Bersama siapa kau kesini?"
"Bersama Om ku dan keluarganya."
"Dimana mereka sekarang?"
"Disana." Aku menunjuk ke suatu arah, Om Davin masih terlihat dari sini walaupun sangat kecil karena berada di kejauhan.
"Kenapa tidak berkumpul bersama mereka?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat singa sebentar disini."
"Kau suka singa?"
"Ya." Aku mengangguk.
"Kenapa?"
"Mmm, apa kau pernah menonton film The Lion King?"
"Ya."
"Ternyata kau juga masih kekanakan." Will tertawa.
"Hei, kau tahu bagaimana simba berjuang untuk merebut kembali tahta dari pamannya yang jahat?"
"Ya, dia terus berjuang." Will mengangguk.
"Aku suka perjuangannya, karena itulah aku juga terus berjuang untuk hidupku." Aku terkekeh.
"El, sebenarnya tanpa berjuangpun kau akan tetap hidup." Dia terkekeh.
"Maksudmu?"
"Kau tinggal hidup bersama orang tuamu, orang tuamu sangat kaya." Dia terkekeh.
"Hei, kau juga anak orang kaya, kenapa kau juga hidup sendirian seperti ini?"
"Aku juga berjuang untuk hidupku."
"Cih, kau ikut-ikutan saja."
"Jadi, kenapa kau ingin berjuang untuk hidupmu?" Will menatapku.
"Aku ingin berjalan di jalanku sendiri, jalan yang ku mau untuk hidupku."
"Apa yang kau harapkan dari jalanmu sendiri?"
"Kepuasan terhadap diriku sendiri, pencapaian yang kuraih sendiri."
"Begitukah?"
"Ya, bagaimana denganmu? Kenapa kau juga memilih untuk berjuang sendiri?"
"Aku ingin menjadi seseorang yang bertanggung jawab, terutama untuk diriku sendiri."
"Lalu?"
"Setelah itu aku bisa bertanggung jawab untuk orang lain."
"Siapa?"
"Siapa saja yang nantinya masuk dalam kehidupanku."
"Hei Will, apa kau baru saja menyebutkan teman hidup." Aku terkekeh menggodanya.
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi itu mengarah kesana." Aku tertawa kecil.
"Hmm, bisa saja." Dia mengangguk.
"Wah, wah kau ternyata sudah berpikir sampai kesana." Aku menatap wajah Will sambil tertawa.
"Kau juga bukan?"
"Tentu saja, aku bahkan berpikir untuk menikah beberapa tahun lagi." Aku tertawa.
"Sudah kuduga."
"Apa?"
"Kau terlihat kekanakan, tapi pikiranmu memang sudah dewasa." Will tertawa meledekku.
"Hei, wajarkan, umurku sudah dewasa sekarang." Aku meninju pelan bahu Will.
"El, apa kau tidak ingin menghampiri keluarga Om mu, sekarang sudah sore. Aku juga akan segera pergi."
"Ya, aku akan pergi sebentar lagi. Kau pergilah lebih dulu."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku takut kau dimakan singa." Will menertawakanku.
"Singa takkan berani memakanku."
"Apa kau yakin?"
"Ya, tulangku lebih banyak, mereka takut tulangku tersangkut di tenggorokan."
"Kau ada-ada saja." Will menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya sudah, aku akan kembali. Apa kau langsung pulang Will?" Aku bertanya pada Will.
"Tidak, banyak hal yang harus ku lakukan."
"Apa itu?"
"Kau tidak perlu tahu." Dia tertawa.
"Huh, dasar."
Aku berbalik dan pergi meninggalkan Will, aku tidak menyangka akan bertemu dengan dia disini. Anak itu ternyata juga sama kesepiannya dengan diriku, dia bahkan berjalan-jalan sendirian ke tempat ini. Aku tahu Will adalah seorang anak konglomerat, aku mengetahuinya karena mendengarkan bisik-bisik teman-temanku yang sebagian mengidolakan Will.
Bagaimanapun, Will adalah mahasiswa populer di kampus. Tidak ada yang tidak mengenalnya dan asal usulnya. Anak itu mendekati sempurna, wajah tampan, fisik sempurna dan kecerdasan diatas rata-rata. Sepertinya tak ada yang bisa menolak pesonanya kecuali diriku. Banyak gadis yang terang-terangan mengejarnya namun tak pernah kulihat sekalipun dia menggandeng seorang gadis. Anak itu terkadang membingungkan.
Aku kembali menemui Om Davin, tante Jessi dan Nevan. Mereka sedang beristirahat di gazebo yang tadi ku tempati. Hari sudah semakin sore, tante Jessi harus segera kembali karena tiba-tiba ada urusan mendesak. Dengan terpaksa kami semua juga harus pulang. Kami segera berkemas dan melaju kembali ke kota. Aku menghembuskan nafas pelan, liburan yang seharusnya ku nikmati bersama mereka malah kunikmati bersama Will.
...****************...