Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
WILL-ITU TUGASKU



Aku menatap lembar undangan pesta ulang tahun di tanganku yang diberikan oleh El. Aku sudah bersiap untuk berangkat kesana, setengah jam lagi pesta akan di mulai. Aku segera keluar dari rumah dan melajukan mobilku ketempat pesta itu dilaksanakan.


Tidak lama, aku sudah berada di tempat pesta. Aku menunjukkan kartu undangan dan segera masuk kedalam. Tempat ini terlihat sangat indah, konsep garden party memang selalu menarik hati. Beberapa tamu undangan kulihat sudah mulai berdatangan. Aku menatap ke sekitar mencari-cari sosok gadis cantik yang hampir setiap hari bersamaku. Itu dia, gadis itu sedang bermain dengan anak yang punya pesta ini.


El tampak sangat cantik dengan balutan gaun putih yang panjangnya melebihi lutut, gaun itu berhias sedikit mutiara-mutiara kecil dibagian pinggang. Ya, dia memang selalu tampak cantik disetiap keadaan. Gadis itu sepertinya terlahir di saat dewi kesempurnaan sedang tersenyum. Dia selalu terlihat bersinar dan berkilauan di antara semua orang.


Aku berjalan pelan menghampiri gadis itu, aku menyapanya dan kami mulai berbincang. Tak lama datang teman-teman El, mereka juga menyapaku. Aku sebenarnya tidak terlalu suka beramah tamah dengan seorang wanita. Namun entah mengapa aku senang berbicara banyak bersama El, bahkan El mengatakan bahwa aku cerewet saat bersamanya.


Beberapa saat kemudian acara dimulai, sedari tadi aku hanya memperhatikan sosok El yang berdiri di samping tantenya. Rasanya hanya El yang menarik perhatianku hari ini. Oh God, apa yang sedang terjadi pada diriku? Kenapa aku sedikit berpikir bodoh hari ini.


Acara pemotongan kue sudah selesai, aku duduk di sebuah meja dan masih terus memperhatikan El. Gadis itu selalu tersenyum sejak tadi, sekali lagi dia sangat cantik. Sejenak aku melihat El terlihat kebingungan, dia terlihat mengedarkan pandangannya seperti mencari-cari sesuatu. Aku mengikuti arah pandangan El yang tiba-tiba berhenti. Aku melihat seorang tamu wanita yang sedang tersenyum kepadanya.


El nampak membalas senyuman wanita itu, saat El mengalihkan pandangannya, wanita itu juga tiba-tiba menghilang dengan sendirinya di antara kerumunan orang-orang. Aku segera mengejar wanita itu sebelum meninggalkan pesta. Aku menarik tangannya dan dengan segera dia berbalik.


"Will." Wanita itu bergumam kecil.


"Bagaimana bisa kau datang kesini?"


"Tentu saja dengan undangan." Dia tersenyum.


"Apa sekarang kau mau pergi?"


"Ya, cinderella harus pergi sebelum jam 12 malam, sebelum pakaianku berubah kumuh dan keretaku menjadi labu." Dia terkekeh.


"Baiklah, berhati-hatilah."


Wanita itu beranjak pergi meninggalkan pesta, dengan sekejap aku sudah tidak melihatnya lagi. Aku kembali kepesta, duduk di kursi yang tadi ku tempati dan kembali menatap El. Ah, gadis itu memang tidak pernah bosan untuk di pandangi.


Sejenak aku melihat Jeff, seniorku yang juga wakil pimpinan di tempat aku dan El magang dulu sedang berjalan mendekati El. Dia menyapa El dan mereka terlihat berbincang. Tiba-tiba aku mendengar ponselku berdering, aku segera menekan tombol terima.


"Ya?"


"Will, lakukan!" Suara di seberang terdengar kesal.


"Baiklah." Aku terkekeh dan segera menutup sambungan telepon.


Aku berjalan pelan menghampiri El, menyapanya dan juga Jeff. Kami berbincang lama, banyak topik yang kami bahas hingga tak terasa akhirnya acara akan segera berakhir. Pembawa acara mengumumkan bahwa acara berakhir dalam lima belas menit. Semua tamu mulai membenahi diri dan bersiap-siap untuk segera meninggalkan pesta.


"Hmmm, baiklah aku harus segera pergi sekarang." Jeff berucap.


"Baiklah." Will menjawab.


"El, selamat malam." Jeff tersenyum ke arah El.


"Ya kak, selamat malam." El mengangguk dan balas tersenyum.


Jeff melangkah pergi meninggalkan kami, aku tahu bahwa Jeff sangat menyukai El. Sejak awal kami magang di kantor, dia selalu berusaha untuk mendekati El walaupun El tidak terlalu menanggapinya. Entah El tidak tahu atau tidak merasa, yang jelas El sepertinya tidak peka. Gadis polos itu seakan tidak tahu menahu tentang perasaan cinta yang sangat jelas ditunjukkan oleh Jeff.


Aku duduk disamping El yang sedang membereskan barang-barang Nevan. Bocah itu terlihat mengantuk, pengasuhnya bersiap untuk membawanya masuk ke dalam rumah. Wajar saja malam sudah mulai larut, aku melihat beberapa orang juga sudah terlihat menguap.


"El, apa kau sudah mengantuk?"


"Sedikit." El tersenyum.


"Sebaiknya kau segera masuk dan istirahat."


"Ya, sebentar lagi, Will." El mengangguk.


"Hei, dua sejoli." Val tiba-tiba menghampiri mereka di ikuti oleh Eren dan Dinda dibelakang.


"Hei, kalian." El tersenyum.


"Kami harus pulang sekarang." Val berucap.


"Ya, orang tua Eren sudah menunggu anaknya untuk pulang, dia kan anak mami." Dinda terkekeh.


"Hei, kau juga anak papi." Eren membalas Dinda.


"Will, apa kau juga akan pulang?" Val menatap Will.


"Sebentar lagi, kalian duluan saja." Aku berkata tenang


"Will, sebaiknya kau pulang bersama kami." Dinda terkekeh.


"Tidak." Aku menjawab sekenanya.


Aku sangat mengenal tiga gadis ini, mereka adalah sahabat El yang memang sangat sering mengusili dan menggodaku. Val adalah gadis cantik yang memang terlihat bersikap biasa saja terhadapku, tapi percayalah dia pernah mengungkapkan perasaannya padaku waktu semester awal berkuliah. Aku menolaknya hanya dengan satu kata, aku teringat kata-katanya dulu.


"Will, aku menyukaimu, bisakah kau membalas perasaanku juga?"


"Tidak." Aku berkata singkat padat dan jelas, yang pastinya menohok sampai ke dadanya.


Sejak saat itu dia mengabaikanku, dia juga menghindariku beberapa tahun lamanya. Tapi entah kenapa beberapa waktu terakhir ini dia kembali menyapaku. Aku memang tidak pernah memberitahukan pada siapapun tentang hubungan kami di masalalu. Tak ada yang tahu peristiwa pengakuan cintanya padaku.


Sedangkan Eren adalah gadis humoris dan senang bergaul, semua orang tahu bahwa dia anak kesayangan ayah ibunya. Kedua orang tuanya sangat protektif kepadanya, namun dia bukan tipe anak penurut. Eren terus saja memberontak pada orang tuanya, seperti malam ini kuyakin dia melanggar jam pulang malamnya. Dia seakan tidak peduli dengan wanti-wanti yang selalu diucapkan kedua orang tuanya agar dia tidak keluyuran sembarangan. Nyatanya dia memang sangat senang keluyuran sembarangan.


Beda lagi dengan Dinda, dia adalah anak yang dibesarkan oleh ayahnya, kedua orang tuanya bercerai sejak dia kecil. Gadis ini adalah tipe manusia yang jika berbicara selalu saja blak-blakan. Dia akan mengatakan sejujurnya apa saja yang ada dalam pikirannya. Karena hal itulah, dia sangat sering terkena tabokan Eren dan Val.


Tapi dibalik semua sifat dan pembawaan mereka, aku senang-senang saja karena mereka sangat baik pada El. Jadi aku tidak khawatir El bergaul dengan mereka, ya aku memang selalu memprioritaskan keadaan El. Bukan karena sebab apapun, tapi itu memanglah tugasku.


...****************...