Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
PERATURAN RUMAH



El masuk dengan ragu ke kamar Nevan, terasa canggung saat membuka pintu dan bertatapan dengan Lia. Lia tersenyum saat melihat El dan segera berdiri dari duduknya menyambut El. Lia mendekati El dan mempersilahkan majikannya itu duduk di sofa.


"Nona El silahkan duduk."


El duduk dan tersenyum kaku menatap Lia yang berdiri disamping sofa. El tidak melihat kecanggungan atau apapun dari tingkah Lia. El menyuruh Lia untuk duduk di sofa di depannnya dan Lia menurut saja.


"Lia."


"Iya Nona?"


"Apa Nevan sudah tidur?" El melihat kearah Nevan yang tertidur pulas di atas kasur.


"Ya, Nona."


"Lia, aku ingin bicara denganmu."


"Silahkan Nona."


"Lia, masalah kemarin di taman apa kau melihat sesuatu?" El menatap Lia.


"Melihat apa nona?"


"Melihat aku dengan Om Davin."


"Ya, saya melihat nona dan tuan Davin duduk di kursi taman."


"Apa lagi yang kau lihat?"


"Tidak ada."


"Lalu, kenapa kau terjatuh?"


"Saya memang sering terjatuh karena tersandung benda-benda disekitar, bahkan saya sering tersandung kaki saya sendiri." Lia tersenyum.


"Benarkah?"


"Ya nona, saya memang sering mengalaminya."


"Mmm Lia, apa kau melihat sesuatu yang aneh antara aku dan Om Davin." El kembali menatap Lia, mencoba membaca raut wajah dan ekspresinya.


"Aneh bagaimana nona?" Tak ada yang mencurigakan dari ekspresi Lia, dia terlihat sangat tenang.


"Apa saja yang menurutmu aneh?"


"Maaf nona, saya tidak terlalu memperhatikan sehingga saya tidak mengetahui dan tidak melihat hal aneh apapun diantara tuan dan nona."


"Benarkah?"


"Ya nona, saya hanya bekerja sesuai porsi saya nona, menjaga Nevan dan memastikannya baik-baik saja sehingga saya tidak terlalu memperhatikan sekitar." Lia mengangguk.


"Mmm baiklah, kembalilah bekerja, jaga Nevan baik-baik. Aku ingin kembali ke kamarku."


"Baik Nona, selamat malam."


"Ya." El tersenyum dan keluar dari kamar Nevan.


El berjalan cepat menuju kamarnya, dia membuka pintu dan masuk kedalam. El mengunci pintu, dia bersandar dipintu, memejamkan mata dan mengelus dadanya. Dia menarik napas pelan dan menghembuskannya seakan baru saja selamat dari maut. Dia merasa lega karena Lia mengatakan tak melihat apapun tentang kemarin.


"Hei, ekspresi apa itu?"


El terperanjat saat mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. El membuka mata dan melihat Davin sedang duduk di sofa sambil mengutak-atik ponsel. Pria itu menatap El sebentar, sesaat kemudian kembali fokus pada ponselnya, sibuk dengan pekerjaan.


"Hei, harusnya aku yang bertanya, kenapa om ada disini?"


"Tadi aku mencarimu, tapi kau tak ada jadi aku menunggu disini."


"Om." El duduk disamping Davin.


"Apa?"


"Apa kau sayang padaku?"


"Tentu saja." Davin terkekeh.


"Om." El kembali memanggil Davin.


"Apa lagi?"


"Letakkan ponselmu dulu, aku mau bicara."


"Ya, ya." Davin menaruh ponselnya di meja.


"Om, boleh aku memperjuangkan perasaanku?"


"Maksudmu?"


"Aku ingin terus bersamamu."


"Hei, ada angin apa hari ini? Kenapa kau tiba-tiba manja begini?"


"Sepertinya aku benar-benar tak bisa berpaling darimu."


"El, kau sangat menggemaskan jika bertingkah begini."


"Om, boleh aku terus bersamamu? Bolehkah aku memperjuangkan hubungan kita?"


"Tentu saja."


"Aku tak ingin menyembunyikan perasaanku lagi."


"Apa kepalamu terbentur?" Davin mengusap rambut El.


"Kenapa?"


"Entahlah, sepertinya aku sudah memutuskan untuk tak ingin bersedih lagi. Aku berharap waktu dan keadaan akan berpihak pada kita."


"Hei apa sekarang gadis kecilku sudah benar-benar beranjak dewasa?"


"Ya." El mengangguk.


"Apa sekarang pikiranmu sudah mulai waras?"


"Tentu saja aku waras."


"El, aku sangat menyayangimu."


"Aku juga."


Percakapan mereka terhenti saat ponsel Davin diatas meja berdering, seketika mereka berdua menatap layar ponsel yang tertera nama Jessi disana. Davin meraih ponselnya dan menempelkannya di telinga. El hanya memperhatikan Davin disampingnya.


"Halo?" Davin berucap, kemudian diam beberapa saat mendengarkan apa yang dikatakan Jessi.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang." Davin beranjak dari duduknya tergesa-gesa sambil menutup sambungan telepon.


"Om?" El tampak bingung.


"El, aku pergi sebentar, ada yang harus ku kerjakan."


"Kemana?


"Ke kantor."


"Kantor?"


"Ya."


"Apa tante Jessi ada dikantormu?"


"Ya."


"Sedang apa tante Jessi di kantor?"


"Nanti kujelaskan, aku pergi dulu." Davin memeluk El sebentar dan mencium pucuk kepalanya kemudian bergegas pergi meninggalkan El yang tampak kebingungan.


Ada setitik rasa kecewa di hati El, dia sedang bersemangat hari ini. Dia juga merindukan pria itu namun ternyata Davin meninggalkannya hanya karena Jessi memanggilnya. El kembali merasa sedih, tiba-tiba moodnya langsung menurun. Dia menghempaskan dirinya ke kasur dan memeluk guling hingga akhirnya tertidur pulas.


......................


Sebelumnya..


Bi Hana memanggil Lia ke ruangan khusus didepan kamar bi Hana, Lia sedikit takut karena tak biasanya Bi Hana memanggilnya dan hanya berdua. Lia duduk didepan Bi Hana yang hanya di pisahkan dengan meja kecil. Lia meremas jemarinya cemas, dia takut di pecat karena kemarin tak sengaja menyaksikan sesuatu yang tak seharusnya dilihat oleh matanya.


"Lia, apa kau tahu kenapa aku memanggilmu kesini?"


"Tidak Bu." Lia menggeleng pelan. Bi Hana memang meminta semua anak buahnya memanggilnya ibu karena dia menganggap mereka seperti anak-anaknya sendiri.


"Apa kau merasa melakukan kesalahan?"


"Tidak, Bu." Lia kembali menggeleng lemah.


"Jika kau tidak merasa melakukan kesalahan, jangan takut begitu." Bi Hana tersenyum.


"Apa saya tidak dimarahi?"


"Untuk apa aku memarahimu? Apa kau merasa melakukan hal yang salah?"


"Mmm Bu, apa melihat sesuatu yang tak harus kita lihat adalah kesalahan?" Lia bertanya dengan rasa takut.


"Lia, kau melihat apa?"


"Saya melihat tuan dan nona El ditaman sedang bersama sepertinya hubungan mereka lebih dari sekedar keluarga." Lia semakin takut, rasanya dia ingin memukul mulutnya sendiri yang entah kenapa berbicara dengan lancangnya.


"Lia, dirumah ini ada peraturan dan batasan-batasan yang harus kita patuhi."


"Ya Bu." Lia langsung menciut, tak berani berkata apapun lagi.


"Lia, abaikan semua yang kau lihat dan kau dengar selain masalah pekerjaanmu. Jangan berusaha mencampuri urusan apapun selain pekerjaanmu."


"Baik, Bu."


"Lia, kau akan mengetahui semuanya saat bekerja disini, jaga sikap dan perkataanmu jika kau ingin terus bekerja disini."


"Maaf Bu." Bi Hana tidak marah sama sekali, pembawaannya tenang dengan senyum yang tak dibuat-buat namun terasa menusuk sampai ke jantung Lia.


"Tak apa." Bi Hana tersenyum, mengerti akan ketakutan Lia.


"Jadi saya harus bagaimana, Bu?" Karena merasa takut, Lia tidak sadar menanyakan hal yang sudah dijelaskan oleh Bi Hana.


"Kau hanya perlu bekerja dengan baik, jangan pernah mencampuri urusan yang bukan urusanmu dan jangan pernah sekali-kali bergosip."


"Baik Bu." Hanya itu yang terucap dari mulut Lia sejak tadi.


"Kau gadis yang baik, aku yakin kau bisa bekerja dengan baik disini." Bi Hana tersenyum.


"Ya Bu."


"Sekarang kembalilah bekerja, kau hanya perlu melakukan apa yang ku katakan dan menaati peraturan yang ada dirumah ini. Lia, jangan merasa penasaran dan jangan mencari tahu tentang masalah apapun dirumah ini karena biasanya rasa ingin tahu bisa saja berdampak buruk."


"Baik Bu." Lia semakin menciut walaupun tak sedikitpun di temukannya raut wajah marah dan nada tinggi di dengarnya dari setiap perkataan sosok wanita yang sudah lumayan berumur didepannya itu.


"Sekarang kau boleh pergi."


"Baik." Lia pamit dan menghilang di balik pintu dengan cepat.


...****************...