Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
RAHASIA WILL



Setelah kepergian El dan Davin, Will melajukan mobilnya ke suatu tempat. Setelah mengendarai mobil sekitar satu jam dia berhenti di depan sebuah minimarket dan memarkirkan mobilnya disana. Sebelum keluar dari mobil, Will memastikan terlebih dahulu bahwa tidak ada seseorang mencurigakan yang mengikutinya. Setelah yakin tidak ada yang mengikutinya dia keluar dan berjalan santai memasuki minimarket berlantai dua itu.


Will menyapa beberapa orang kasir yang berada didalam toko, mereka menundukkan kepalanya sopan kepada Will. Will berjalan melewati rak-rak yang berjejer. Dia dengan hati-hati membuka sebuah pintu dibalik rak-rak tersebut dan masuk kedalam. Dia berjalan menyusuri lorong sempit dan menaiki tangga yang ada didalam sana. Dia membuka pintu diujung tangga dan berjalan kembali di sebuah ruangan lantai dua.


Will masuk ke sebuah ruangan dan duduk di sebuah sofa, dia menyapa seorang wanita yang sedang duduk sambil memainkan tabletnya. Wanita yang sama dengan wanita yang ditemuinya di pesta saat itu. Wanita itu seketika menghentikan aktivitasnya saat Will menatapnya.


"Will."


"Ya?"


"Kau datang dengan cepat." Wanita itu terkekeh.


"Ya, kau selalu saja memanggilku dengan cara mendadak." Will tersenyum masam.


"Maafkan aku, tapi ini memang mendesak."


"Ada apa?"


"Akhir-akhir ini aku mendapatkan informasi bahwa ada yang mengikuti gadis itu?"


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Ya, lihatlah ini." Wanita itu menghampiri dan duduk di samping Will, dia menunjukkan beberapa foto seorang pria yang beberapa kali tertangkap kamera berada di tempat yang sama dengan El.


"Sangat jelas saat ini El sedang di awasi, tapi siapa yang melakukannya?"


"Kau bisa menebaknya? Masalah yang berhubungan dengan keluargaku."


"Ya, sepertinya dia." Will mengangguk.


"Aku tidak terlalu khawatir jika dia yang melakukannya, dia tidak akan menyakiti seseorang yang berhubungan dengan anggota keluargaku seperti halnya yang telah berlalu." Wanita itu terlihat berpikir.


"Lalu apa tujuannya?"


"Mungkin mencari informasi."


"Begitukah?"


"Sepertinya, tapi kau teruslah berada disamping gadis itu seperti apa yang diminta oleh adikku. Aku takut ini ulah orang lain."


"Baiklah, Ann." Will mengangguk.


"Aku tidak memberitahukan pada adikku tentang hal ini, seandainya dia tahu kuyakin dia akan bertindak gegabah jika menyangkut gadis itu."


"Ya, aku tahu."


"Pergilah sekarang."


"Kau mengusirku setelah aku berkendara sejauh ini?"


"Tentu saja." Ann terkekeh.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang." Will beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.


Will kembali melajukan mobilnya menuju kampus kembali, dia berencana akan menunggu El kembali untuk mengambil mobilnya. Will melihat mobil itu masih berada disana menandakan bahwa si empunya mobil belum kembali walau sudah lewat dua jam. Will memarkirkan mobilnya di seberang mobil El, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil.


Will memejamkan matanya sebntar, dia tidak menyangka akan terlibat jauh dalam permasalahan yang terjadi. Will mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang menimpanya. Waktu dia masih berstatus bocah ingusan yang bersekolah di sebuah SMA di kota yang sama dengan Ann. Mereka tidak mengenal sama sekali, tapi garis takdir mempertemukan mereka.


Saat itu Will dan teman-temannya memang sangat berandal, kumpulan anak-anak orang kaya yang kekurangan perhatian orang tua. Will dan empat orang temannya bertaruh untuk masuk ke sarang mafia, mereka mengendap-endap masuk kedalam bangunan di dalam hutan. Tempat itu adalah markas sementara para mafia, lebih tepatnya seperti tempat persinggahan.


Malang bagi mereka, para mafia mengetahui ada beberapa bocah ingusan yang menyusup dimarkas mereka. Will dan teman-temannya tunggang langgang melarikan diri melihat beberapa pria berbadan kekar mengejar mereka. Sebagian dari mereka telah terkena bogem mentah dari pria kekar tersebut. Will beberapa kali tertangkap dan terkena pukulan namun dia terus berusaha untuk kabur.


Para pria kekar itu sebenarnya tidak benar-benar memburu mereka. Mereka hanya ingin menakut-nakuti Will dan teman-temannya agar mereka tidak lagi berani menginjakkan kaki disana. Pria-pria kekar itu hanya terbahak melihat tingkah anak-anak itu yang benar-benar ketakutan. Will dan teman-temannya terus berlari puluhan kilometer, berlari sejauh mungkin menjauhi tempat menakutkan itu. Mereka akhirnya percaya bahwa para mafia benar-benar berbahaya.


Setelah berlari sangat jauh, Will dan teman-temannya menemukan kembali bangunan yang mirip dengan bangunan sebelumnya. Mereka ketakutan, tapi mereka tidak melihat seorangpun disana. Will dan teman-temannya memberanikan diri untuk masuk kedalam. Benar saja, tak ada siapapun didalam sana. Mereka mengusap dada merasa lega, namun tiba-tiba suara langkah kaki mengejutkan mereka.


Dengan segera mereka pelan-pelan keluar dari bangunan tersebut, mereka kembali berlari dengan sisa tenaga yang ada. Kaki mereka bahkan sudah penuh dengan luka-luka yang tak mereka sadari. Rasa takut benar-benar merasuki diri mereka hingga mereka tidak lagi memperhatikan keadaan sekitar. Mereka hanya ingin keluar dari hutan itu dengan selamat.


"Raka?" Will memanggil temannya.


"Will, tolong."


"Aku akan menolongmu." Will berteriak.


"Will, Raka. Kalian baik-baik saja?" Suara Jay menggema dari atas sana.


"Jay, cari sesuatu untuk menarik kami dari bawah sini." Will berteriak.


"Ya, aku akan mencarinya." Jay menyahut.


"Will, tolong aku." Suara Raka terdengar ketakutan dibawa sana.


"Tunggulah sebentar."


"Will, tolong." Suara Raka terdengar bergetar.


"Kenapa? Apa kau sangat ketakutan di bawah sana." Will terkekeh.


"Will, ada setan."


"Kau bercanda? Tak ada setan di siang bolong." Will tertawa.


"Aku tidak bercanda." Suara Raka semakin terdengar bergetar.


"Tunggu disana." Will merasa bahwa Raka sungguh ketakutan, perlahan Will meraih tanaman-tanaman kecil perambat yang memiliki akar kuat. Dia perlahan membiarkan dirinya jatuh kebawah secara perlahan sambil terus memegang tanaman-tanaman tersebut.


"Will!" Raka terdengar berteriak histeris dibawah sana.


"Tunggu, sedikit lagi aku sampai, apa ada binatang buas dibawah sana?" Will merosot terus hingga sampai pada pohon tempat Raka menyanggakan tubuhnya agar tidak jatuh.


"Lebih dari itu." Raka menunjuk sesuatu dibawah sana saat Will sudah berada di dekatnya.


"Oh God, apa itu?" Will ternganga.


"Setan." Raka berbisik lirih.


Sosok mengerikan terlihat sedang merayap pelan berusaha naik ke atas menghampiri mereka. Sosok kotor dan terlihat penuh bercak darah di wajah, tangan dan bajunya. Dia menggunakan jari-jarinya yang di tancapkan dengan paksa untuk merayap naik keatas. Rambutnya berantakan menutupi hampir setengah wajahnya.


"Tolong." Terdengar suara lirih seorang wanita.


"Dia bukan setan, Ka. Dia juga manusia." Will menepuk bahu Raka untuk menyadarkan Raka yang terkesiap mendengar lirihan mengerikan itu.


"Aku takut." Raka tak bergeming sama sekali.


"Ayo kita tolong dia, dia seorang wanita dan masih hidup." Will kembali menarik tanaman-tanaman liar yang merambat disekitarnya, dia mengikatkannya di pinggang dan kembali membiarkan tubuhnya merosot kebawah menghampiri sosok mengerikan itu.


"Hati-hati Will." Raka masih mematung, dia merasa takut jika sosok itu sebenarnya memang setan atau zombi.


"Bantu aku, Ka." Will terlihat sudah memegang tubuh sosok mengerikan itu.


"Apa yang harus kulakukan?"


"Tarik tanaman itu." Will menunjuk ujung tanaman merambat yang tadi diikatkan pada tubuhnya.


"Baiklah." Raka ingin menarik namun dia melihat sosok yang disamping Will menyeringai lebar ke arahnya, dengan darah diwajah dan sudut bibirnya. Dia tersentak dan merasa takut luar biasa.


"Kenapa?" Will menatap Raka yang membeku.


"Kau yakin dia benar-benar manusia?" Raka ketakutan.


"Ya, tubuhnya masih hangat. Cepat tarik, Ka." Will sudah tidak sabar.


...****************...