
Perasaan ingin menyelamatkan El membuatku semakin tak terkontrol. Tak disangka aku bisa mengalahkan mereka semua, aku bahkan tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Semua pria berbadan kekar tampak terkapar kesakitan dilantai. Aku dengan cepat menggendong El keluar dari ruangan itu, membawanya keluar dari rumah besar ini. Benar saja tebakanku, yang menyerangku tadi ternyata semua penjaga gerbang. Saat ini gerbang benar-benar sepi sehingga aku bisa dengan leluasa keluar dan segera masuk kemobil.
Aku segera melajukan mobil, tidak ingin membuang waktu lagi sebelum tenagaku benar-benar habis. Aku meluncur kembali menuju kota kami, perjalanan jauh kembali harus kutempuh. Aku baru saja merasakan nyeri diseluruh tubuhku saat ini, tapi aku harus tetap bertahan setidaknya sampai ditempat yang aman.
Setelah hampir dua jam, akhirnya kami tiba dirumahku. Aku menggendong El masuk kedalam rumah, aku membawanya kedalam kamar dan membaringkannya disana. Aku menggenggam tangannya yang belum juga bergerak sedikitpun. Aku mengambil ponselku dan menghubungi Davin.
“Ya?” Suara diseberang.
“El sudah berada ditempat yang aman.”
“Baiklah, pastikan dia baik-baik saja.”
“Ya.” Aku memutuskan sambungan telepon.
Aku kembali menatap wajah El, wajah polos dan selalu terasa teduh jika dipandangi. Aku benar-benar merasakan hal yang berbeda, tak kusangka ternyata aku jatuh cinta padanya. Dia seorang gadis yang harus aku jaga dengan nyawaku sendiri. Aku bahkan rela menukar nyawaku untuknya, gadis polos ini benar-benar berarti. El, gadis yang tidak tahu apapun harus terlibat dengan urusan kami hanya karena ikatan cinta dengan Davin.
Oh Tuhan, bagaimana caranya aku menekan perasaanku yang semakin waktu semakin membesar. Jika Davin tahu maka habislah aku, bagaimana bisa aku yang ditugaskan menjadi pengawal bisa jatuh cinta pada tuan putrinya sendiri. El, kau benar-benar bertahta di dalam hatiku saat ini.
Aku merasakan pergerakan jemari El yang berada dalam genggamanku. Aku menatap jemari mungil itu, benar saja sepertinya dia mulai tersadar dari tidur panjangnya. Matanya perlahan mulai terbuka, dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sepertinya dia kebingungan karena terbangun ditempat yang berbeda-beda sejak tadi.
El menatapku cukup lama, dia tidak berucap apapun selama beberapa saat. Aku juga diam, tak melakukan apapun, hanya tanganku yang terus menggenggam jemarinya dan bibirku yang terus berusaha tersenyum walaupun rasanya wajahku terasa kaku dan nyeri.
"Will?" Akhirnya El membuka mulutnya, dia bangun dan beringsut duduk bersandar disandaran tempat tidur.
"Ya?" Aku menjawab pelan.
"Dimana aku?"
"Dirumahku?"
"Sungguh?"
"Ya." Aku mengangguk.
"Will, apa aku bermimpi?"
"Ya, kau bermimpi." Will terkekeh.
"Tidak, itu jelas bukan mimpi, aku melihatmu berkelahi tadi. Lihat wajahmu bahkan babak belur begitu." El menatapku.
"Ini adalah tanda perjuanganku."
"Perjuangan apa?"
Perjuangan perasaanku terhadapmu.
"Hmmm, perjuangan menyelamatkanmu." Aku terkekeh.
"Sebenarnya apa yang terjadi Will? Aku tidak mengerti sama sekali."
"Nanti kau akan mendapatkan penjelasannya jika kau pulang kerumahmu."
"Maksudmu kerumah om ku?"
"Ya."
"Mmm baiklah." El mengangguk, dia tidak membahasnya lagi walaupun dia terlihat sangat penasaran. "Will, apa ini sakit?" El menyentuh pipiku yang lebam menggunakan ujung jari telunjuknya.
"Awww, tentu saja ini sakit." Aku merasa nyeri diseluruh wajahku.
"Maafkan aku, ternyata kau juga bisa kesakitan." El terkekeh.
"Apa kau pikir aku robot yang tidak merasakan sakit?" Aku menyentuh pelan pipiku dan mengusap-usapnya pelan.
"Will, dimana kotak obat-obatan?"
"Di laci meja itu." Aku menunjuk meja disamping tempat tidur.
"Ini?" El membuka laci, mengambil sebuah kotak dan menunjukkannya padaku.
"Ya." Aku mengangguk.
"Aku akan mengobatimu." El menarik sebuah kursi dan duduk di depanku.
"Apa kau sungguh bisa mengobati?" Aku mengernyitkan kedua alisku, menyangsikan kemampuannya.
"Tentu saja."
"Aku tak yakin."
"Hei jangan cerewet, kemarikan saja wajahmu atau aku akan menarik paksa wajahmu mendekat."
"Kedua-duanya." El terkekeh.
"Huh."
"Kau diam saja." El mulai mengobati luka-luka di tubuh Will, dia tidak menyangka jika Will terluka sebanyak itu.
"Baiklah." Aku menurut saja padanya.
"Will, terima kasih sudah menolongku."
"Kau tidak perlu berterima kasih."
"Will, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga kau mengorbankan dirimu seperti ini."
"Tak apa, aku baik-baik saja."
"Apa ini baik-baik saja?" El sengaja menekankan kapas sedikit kuat ke luka lebam di wajahku.
"Awww El, sakit sekali." Aku mengaduh-aduh kesakitan.
"Katamu kau baik-baik saja." El terkekeh.
"Tapi kau tidak perlu menekan lukaku seperti itu."
"Will, apa kau tahu siapa mereka?"
"Tidak." Aku menggeleng.
"Mereka benar-benar menculikku, tapi aku sama sekali tidak disakiti. Lihat, aku tidak terluka sedikitpun."
"Baguslah jika kau tidak kenapa-kenapa." Aku mengangguk.
"Will, apa tubuhmu sakit semua?"
"Tidak." Aku berbohong.
"Baguslah."
"Ya."
"Will, apakah aku boleh pulang sekarang?"
"Jangan, kau tidur disini saja dulu, aku akan menjagamu."
"Kenapa?"
"Siapa tahu orang-orang itu kembali ingin menculikmu." Aku memasang wajah seram.
"Hei, jangan menakutiku seperti itu." El pura-pura ingin memukul wajahku.
"Baiklah, aku akan menginap disini malam ini."
"Ya."
"Hmmm."
"El, berjanjilah nanti kau harus selalu berhati-hati terhadap seseorang yang tidak kau kenal." Aku menatap gadis itu.
"Ya Will, aku akan berhati-hati nanti." El mengangguk.
"Sekarang istirahatlah."
"Bagaimana denganmu?" El menatapku.
"Aku akan tidur diluar."
"Kau tidur di sofa itu saja." El menunjuk sofa besar di dekat jendela.
"Baiklah jika kau mengizinkan aku tidur disana." Aku beranjak menuju sofa itu dan mulai merebahkan tubuhku yang sekarang terasa sangat remuk.
Aku menatap sebentar ke arah El, dia juga merebahkan tubuhnya di kasur, menaruh selimut hingga ke leher dan mulai memejamkan matanya. Walaupun El hanya tertidur saja sejak tadi, namun dia terlihat kelelahan. Sepertinya efek perjalanan jauh yang membuatnya kelelahan walaupun dia dalam keadaan tak sadarkan diri waktu itu.
Aku memiringkan tubuhku menghadap El, sepertinya dia sudah mulai terlelap. Aku tersenyum menatapnya, dia benar-benar baik-baik saja saat ini. Aku penasaran tentang siapa dalang dibalik penculikan El, aku juga penasaran siapa yang mengancam Davin. Sepertinya yang melakukannya adalah orang yang sama. Dalam kepalaku hanya muncul tentang Ben, bisa saja pria itu yang melakukannya. Melihat keadaan El yang tidak terluka sedikitpun aku jadi berpendapat bahwa dalang dibalik semua ini adalah Ben.
Pikiranku terus bekerja menebak-nebak apa yang sedang terjadi saat ini dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku berharap semua ini segera berakhir sehingga semua orang yang terlibat bisa kembali hidup dengan tenang. Permasalahan ini benar-benar membuatku sakit kepala, aku berusaha memejamkan kedua mataku sambil terus menahan rasa nyeri disekujur tubuhku. Akhirnya dengan segala perjuangan aku bisa tertidur dengan lelap.
...****************...