
Ceklek.
Aku masuk tanpa mengetuk pintu, aku melihat gadis cilikku sedang duduk dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia menoleh ke arahku dengan sedikit terkejut dan langsung berdiri dari duduknya. Aku menghampiri El dan menaruh nampan berisi makan malam di atas meja. Aku jelas tahu bahwa gadis ini sedang memikirkan hal-hal yang kurasa tidak penting. El memang selalu overthinking dengan segala masalah yang menyangkut dirinya.
"Om, kenapa kesini?" Aku tersenyum, sudah menebak apa yang akan dikatakannya.
"Aku membawakanmu makan malam, kenapa kau tidak turun?"
"Aku merasa sedikit lelah dan rasanya aku tak lapar."
"Makanlah, aku yakin kau lapar."
"Mmm baiklah."
Tanpa banyak bicara akhirnya El makan dengan lahap, sudah kuduga gadis ini memang kelaparan hanya saja dia tak ingin keluar kamar kemungkinan karena kejadian tadi sore. Dia pasti berpikir bagaimana caranya menjelaskan pada Lia tentang hal itu. Gadis ini memang selalu seperti itu, dia akan berpikir lama untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
"El." Aku berkata setelah El selesai dengan makannya.
"Ya?"
"Istirahatlah."
"Mmmm, dia mengangguk."
"Aku akan menemanimu malam ini?"
"Apa?" El langsung menoleh kearahku, aku hanya tersenyum menatapnya.
"Kau pasti sedang memikirkan hal-hal yang tidak penting, kau pasti perlu teman tidur."
"Tidak, siapa bilang? Jangan menyimpulkan sesuatu sendirian." El mengerucutkan bibirnya.
"Ayo tidur."
"Om, selalu saja."
Aku menuntun El ke tempat tidur, seperti biasa aku sangat suka memeluk tubuh mungil gadis ini walaupun terus mendapat penolakan darinya. Memeluknya seperti obat bagiku, segala rasa lelah rasanya menghilang dariku dan berganti dengan perasaan damai. Ada dia disisiku walau dalam keadaan apapun, aku selalu merasa tenang.
"El, jangan memikirkan sesuatu yang membuatmu lelah." Aku mengusap rambut El.
"Mmm." Hanya deheman dan anggukan kecil darinya, kulihat matanya terpejam.
"Kau tahu? Sejak kau masih anak-anak, aku hanya melihat keceriaan padamu. Hanya ada kata-kata ajakan untuk bermain denganku. Aku tak ingin melihatmu bersedih sedikitpun."
"Mmm."
"Kau tahu? Aku bahkan bermain boneka barbie hanya karenamu."
"Apa? Sungguh?"
"Ya, apa kau tak ingat?"
"Tidak." El menggeleng.
"El, kau selalu mengajakku bermain boneka barbie, memaksaku untuk menyisir rambut, mengganti baju dan sepatunya."
"Aku tak ingat."
"Dasar pikun, bagaimana bisa kau melupakan sesuatu yang tak bisa ku lupakan?"
"Aku benar-benar tak ingat."
"Benarkah? Lucu sekali." El terkekeh, dia membuka mata dan menatapku.
"Ya, kau sangat usil padaku."
"Om, aku tak pernah menyangka jika kita akan kembali bersama seperti ini lagi. Kau tahu bahwa aku sudah melupakanmu setelah kau menikah dengan tante Jessi."
"Benarkah?"
"Ya, menurutku semua orang akhirnya akan menemukan cintanya dan akan memulai hidup baru tanpa harus mengingat masalalu. Saat itu aku berpikir bahwa kau tak harus mengingatku lagi dan aku juga tak perlu mengingatmu kembali."
"El, mungkin benar apa yang kau katakan, semua orang akan menemukan cinta dan hidupnya yang baru. Namun tak semua orang melupakan masalalunya, kau adalah salah satu masalalu yang sangat berarti bagiku, hmmm aku bahkan tidak menganggapmu masalalu. Aku menganggapmu teman hidupku, dan aku sangat berharap kau selalu ada."
"Sekarang aku selalu ada, tapi kita berada disituasi sulit."
"Situasi sulit?"
"Ya, hubungan kita sangat sulit."
"Tenanglah."
"Om, apa salah satu alasanmu masih bersama dengan tante Jessi karena Nevan."
"Ya, salah satunya." Aku hanya mengangguk, tak semua hal kuceritakan pada El, kurasa belum perlu untuknya mengetahui semua.
"Mmm baiklah." El kembali memejamkan matanya.
"El, jika kau punya masalah ceritalah padaku."
"Aku tak punya masalah apapun."
"Masalah tadi sore, kau tak perlu memikirkannya, apa perlu aku menjelaskannya pada Lia agar kau tak memikirkannya?"
"Tak perlu Om." El menggeleng pelan.
"Hmmm baiklah."
Lia pengasuh Nevan yang baru memang tak tahu menahu tentang hubunganku dengan El. Berbeda dengan pelayan-pelayan lain yang sudah paham bagaimana sayangnya aku pada gadis ini, terutama bi Hana. Aku akan mengatakan pada Bi Hana nanti agar menjelaskan pada Lia. Aku sebenarnya tidak peduli, tapi berbeda dengan gadisku ini, dia selalu memikirkan masalah sekecil apapun.
Aku menatap wajah El, hal yang selalu kulakukan setiap tidur dengannya. Rasa ingin memilikinya selalu memenuhi hatiku, aku selalu merindukannya meski dia berada didekatku sekalipun. El, ku mohon jangan pernah pergi dariku.
Aku mengusap rambut El, gadis ini tak bergerak, hanya suara pelan nafasnya yang terdengar. Kurasa dia sudah tertidur pulas sekarang. Aku beranjak dan melepaskan pelan pelukanku padanya agar El tidak terbangun. Aku turun dari kasur, keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Aku pergi ke dapur mencari Bi Hana, benar saja dia ada disana sedang menata sayur mayur kedalam kulkas.
"Tuan." Bi Hana menghentikan aktivitasnya saat melihatku.
"Bi, tolong jelaskan pada Lia tentang semua aturan dirumah ini."
"Baik Tuan." Bi Hana jelas mengerti walaupun aku tak bicara panjang lebar.
Aku berbalik dan pergi kembali ke kamar El, duduk di sofa dan memandanginya yang sedang terlelap. Kadang aku berpikir untuk memilikinya lebih cepat, dia juga sangat jelas mencintaiku bukan? Aku memang pria yang mempesona wajar saja jika El tergila-gila padaku. Ah tanpa sadar aku tersenyum sendirian.
Aku harus menyelesaikan masalah Ann dengan Ben, juga dengan Chris sialan itu terlebih dahulu. Setelah itu aku harus menyelesaikan semuanya dengan Jessi, memastikan bahwa dia akan bahagia dan baik-baik saja dengan Ray. Barulah aku bisa membawa El kedalam pelukanku sepenuhnya.
Bukan maksudku tidak memprioritaskan El, gadis itu tentu berada di daftar utama setiap tujuan dalam hidupku. Tapi jika semuanya belum selesai juga akan membuat El terseret dalam masalah. Karena itulah aku akan menyelesaikan masalah-masalah ini terlebih dahulu.
Banyak yang harus ku lakukan dalam waktu dekat ini, enam tahun berlalu, perselisihan ini memakan waktu yang lama. Aku menyadari terlalu banyak orang yang direpotkan dalam masalah ini. Aku masih berpikir apa ini terjadi karena keegoisanku? Ah rasanya pusing setiap terpikir tentang hal ini.
Aku terpikir bagaimana perselisihan ini akan berakhir, di lubuk hatiku yang terdalam aku berharap semua baik-baik saja, terutama antara aku, Ann dan Ben. Sepertinya aku harus berbicara dengan Ben tentang hal ini, aku terlalu mengabaikannya sejak awal hilangnya Ann. Aku benar-benar kehilangan akal sehat waktu itu, tak bisa berpikir apapun sehingga aku menyimpulkan bahwa Ben akar dari masalah ini. Aku bahkan menghindari pria itu dan tak memperdulikannya lagi walau dia sering meminta untuk bertemu denganku.
...****************...