Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
EL-ADA SESUATU YANG SALAH



Kamar Om Nevan terasa sangat nyaman, aroma wangi maskulin sangat terasa di penciumanku. Kamar besar ini terlihat sangat rapi, perabotan-perabotan berdiri anggun ditempatnya masing-masing. Jika dibanding dengan kamarku, kamar ini terasa sedikit lebih besar.


Mata Nevan berbinar melihat mobil-mobilan yang dia cari berada di sofa besar dekat kasur. Dia naik ke atas sofa dan langsung bermain dengan mainannya. Nevan terlihat sangat girang, dia berbicara sendiri dengan mobilan dan dinosaurus. Davin hanya memperhatikan Nevan sambil tersenyum.


Aku menatap sekeliling kamar ini, kamar ini di penuhi dengan barang-barang milik pria. Aku tidak melihat sedikitpun barang milik wanita disini. Aku merasa penasaran, tapi aku diam saja kemungkinan barang-barang milik tante Jessi berada dibalik salah satu pintu yang tertutup itu. Aku memandangi beberapa pintu di dalam kamar itu. Ada tiga pintu yang tertutup, entahlah pintu apa saja yang pasti salah satunya pastilah kamar mandi.


Tak ada foto-foto pernikahan terpajang di dinding ataupun di letakkan di atas meja. Tak ada benda atau sesuatu apapun yang berhubungan dengan wanita disini. Kamar ini seperti milik seorang pria yang belum beristri. Huh, kenapa aku sangat penasaran? Kenapa aku sangat memikirkannya.


Aku berjalan menuju jendela kaca besar dan menatap ke arah luar. Walaupun malam hari, namun pemandangan terlihat sangat menyenangkan mata dari sini. Sepertinya itu adalah taman belakang yang sangat hijau. Beberapa pohon peneduh tumbuh disana dengan kursi-kursi santai di bawahnya. Aku melihat beberapa bunga dan tamanan bonsai tumbuh dengan sangat terawat. Lampu-lampu penerangan menambah indah tempat itu.


"Apa kau suka pemandangan di bawah sana?"


"Ya." Aku mengangguk, sedikit terkesiap karena baru menyadari bahwa Om Davin sudah berada disampingku.


"Aku juga." Om Davin tersenyum lebar.


"Aku belum pernah kesana selama berada disini." Aku tersenyum.


"Nanti aku akan membawamu ke taman belakang." Davin terkekeh.


"Ya, sepertinya disana sangat hijau, pasti akan terasa sejuk di siang hari."


"Ya, disana memang sangat nyaman. Terkadang aku menghabiskan waktu disana jika sedang senggang."


"Benarkah?"


"Ya."


Tiba-tiba ponsel om Davin terdengar berdering. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Om Davin terlihat mengernyitkan alisnya menatap layar ponsel itu. Aku tidak tahu siapa yang meneleponnya dan aku juga tak ingin tahu.


"El, aku permisi sebentar."


"Ya." Aku mengangguk.


Om Davin berjalan pelan meninggalkanku dan keluar dari kamar. Entah siapa yang meneleponnya, kelihatannya sangat penting. Aku berpaling dari jendela menatap Nevan yang masih asik bermain di atas sofa. Dia terlihat sangat senang dengan dunianya sendiri.


Aku menghampiri anak itu dan duduk di sampingnya. Kupeluk dan kuciumi dia, rasanya aku sangat menyayanginya sekarang. Nevan anak yang sangat cerdas dan penurut, entah siapa yang mendidiknya sedari kecil hingga dia menjadi anak sepintar ini. Jika kulihat beberapa waktu ini Om Davin dan tante Jessi memang selalu sibuk, hanya ada sedikit waktu untuk anak ini. Kemungkinan Nevan dididik oleh pengasuh sejak kecil.


Walaupun kedua orang tuanya sangat sibuk, tapi anak ini tumbuh dengan baik. Sepertinya pengasuh Nevan sejak kecil memang sangat menyayangi anak ini sehingga Nevan tidak merasa kekurangan kasih sayang. Nevan tidak nakal seperti anak kebanyakan yang kekurangan kasih sayang orang tuanya. Nevan sangat berbeda, anak ini seperti sudah mandiri sedari dini. Ingin rasanya aku selalu berada disamping Nevan, sangat menyenangkan bisa bersama anak ini setiap hari.


Tidak lama, Om Davin kembali masuk kedalam kamar. Aku melihat raut wajahnya terlihat berbeda namun dia tetap tersenyum di depanku dan Nevan. Dia berjalan pelan menghampiriku dan Nevan, Om Davin mengelus kepala anak itu dan menciumnya.


"Sayang, papa mau pergi sebentar ya."


"Papa mau kemana?"


"Ke kantor."


"Baiklah." Nevan tidak banyak bertanya.


"El, aku akan ke kantor sebentar."


"Malam-malam begini?"


"Ya, ada sesuatu yang harus ku urus."


"Mmm, baiklah, aku akan membawa Nevan kembali ke kamarnya" Aku mengangguk dan tak bertanya lagi.


"Tidak apa, kalian disini saja."


Om Davin beranjak dan membuka salah satu pintu yang tadi membuatku penasaran, ternyata dibalik salah satu pintu itu adalah ruang ganti pakaian. Dia keluar dengan membawa jas ditangannya. Om Davin keluar kamar dengan tergesa-gesa, sepertinya urusan kantornya sangat mendesak.


"Unty El." Nevan menatap wajahku.


"Ya, sayang?"


"Papa dan mama selalu sibuk sepelti itu."


"Ya sayang, papa sama mama Nevan harus bekerja, untuk Nevan juga."


"Mmm, Unty, temani Nevan ke kamal mama."


"Bukan, ini kamal papa."


"Apa bedanya kamar papa dengan kamar mama Nevan?"


"Beda."


"Oh ya? Mau apa Nevan ke kamar mama?"


"Mainan Nevan juga ada di kamal mama, Nevan mau ambil."


"Benarkah?"


"Temani Nevan kesana unty." Nevan menggoyang-goyangkan lenganku.


"Baiklah." Aku mengangguk.


"Holeee."


Nevan menuntun tanganku dengan girang keluar dari kamar Om Davin. Aku hanya mengikuti langkah kecil anak itu. Aku dan Nevan berjalan lurus di koridor, setelah beberapa meter dari kamar Om Davin aku melihat pintu yang sama seperti kamar Om Davin. Diseberangnya juga terdapat pintu yang sama seperti di seberang kamar Om Davin.


"Unty, ini kamal mama." Nevan berdiri di depan pintu itu.


"Benarkah ini kamar mama Nevan?"


"Ya." Nevan mengangguk dan tersenyum.


Aku benar-benar bingung sekarang, apa yang sebenarnya terjadi dirumah ini? Apa yang terjadi di antara Om Davin dan tante Jessi? Bukankah mereka adalah suami istri? Tapi mengapa kamar mereka berbeda? Sepertinya terjadi sesuatu dirumah ini yang sama sekali tidak ku tahu. Tapi apa? Aku tak punya bayangan apapun tentang hal ini.


Selama berada disini aku tidak melihat ada masalah sedikitpun antara Om Davin dengan tante Jessi. Hubungan mereka terlihat sangat baik bahkan menurutku sangat harmonis. Seperti saat itu, walaupun mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka namun mereka sering menyempatkan waktu untuk bersama seperti saat berlibur ke kebun binatang kemarin.


"Unty." Nevan menggoyang lenganku, aku tersadar dari segala pikiranku.


"Ya sayang?"


"Buka pintunya." Nevan menunjuk gagang pintu yang tidak bisa di gapainya.


"Apakah tidak apa-apa kita masuk tanpa izin ke kamar mamamu?"


"Tidak apa-apa." Anak itu berucap polos.


"Kau yakin?" Aku menatap Nevan, aku tentu saja tidak yakin, mungkin tidak apa-apa jika anak ini yang masuk ke kamar ibunya, tapi berbeda denganku. Aku takut mengganggu privasi orang lain.


"Ya." Nevan mengangguk.


Aku menyentuh dan menggerakkan gagang pintu. Aku lega karena pintunya terkunci, dengan ini aku punya alasan untuk tidak masuk ke kamar tante Jessi. Aku menatap Nevan yang sedang menunggu pintunya terbuka.


"Sayang, pintunya ternyata terkunci." Aku berbicara lembut kepada Nevan.


"Yah, aku tidak bisa mengambil mainanku." Nevan terlihat kecewa.


"Kita akan mengambilnya nanti jika mama Nevan sudah pulang." Aku mengusap lembut bahu anak itu.


"Baiklah." Nevan mengangguk.


Akhirnya Nevan menuntun tanganku untuk kembali ke kamar Om Davin. Nevan terlihat naik ke atas tempat tidur milik Om Davin dan mulai melompat-lompat disana. Anak itu terlihat sangat riang, dia melompat sambil tertawa kecil.


"Unty, temani aku disini."


"Unty disini saja." Aku tak ingin seenaknya naik ke kasur Om Davin.


"Ayo, unty." Nevan memelas.


"Baiklah." Aku akhirnya naik kekasur itu, aku tidak tega jika Nevan sudah memasang wajah memelas kepadaku.


Aku duduk memperhatikan anak itu yang terus asik melompat. Beberapa saat kemudian Nevan akhirnya berhenti dan duduk dipangkuanku, sepertinya dia sudah lelah. Nevan mengajakku bermain dengan dinosaurus dan mobil-mobilannya. Lama kami bermain hingga akhirnya anak itu mulai menguap dan berbaring dikasur, sepertinya sudah mulai mengantuk.


Aku ikut berbaring di samping Nevan yang berbaring menyamping ke arahku. Aku memeluk dan menciumi anak itu, aku mengusap-usap lembut punggung anak itu hingga dia terlelap. Aku terus memeluk Nevan hingga tak sadar aku juga ikut terlelap bersamanya.


...****************...