Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
RENCANA PEMBALASAN



"Rich, datanglah ke kantorku sekarang bersama Fabio." Ben berbicara dengan tenang di telepon.


"Baiklah." Suara Rich dari seberang sana.


Ben menutup sambungan teleponnya, beberapa hari ini dia merasa sangat cemas tentang keadaan Ann. Sejak menemukan cincin pernikahannya dengan Ann beberapa hari yang lalu dia takut jika Ann takkan pernah kembali lagi. Ben takut jika Ann telah di celakai oleh orang-orang itu. Ben selalu membuang pikiran buruk yang terus muncul di kepalanya tentang Ann.


Ben memikirkan bagaimana cara membalas perlakuan kedua wanita jahat yang telah menyakiti istrinya itu. Ben merasa sangat marah namun dia terus berusaha meredamnya beberapa hari ini. Ben tidak ingin bertindak gegabah terlebih dahulu, dia ingin membuat kedua wanita itu mengakui dan membayar segala perbuatannya.


Tidak lama, Richard dan Fabio masuk keruangan Ben. Wajah keduanya tampak suram, mereka menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh Ben kali ini kepada mereka. Semenjak kepergian Ann, mereka berdua sering direpotkan oleh ledakan emosi Ben yang kadang datang tanpa aba-aba. Ben memang terlihat seperti orang yang kehilangan penopang kehidupannya setelah Ann pergi. Cinta memang berpengaruh sangat besar dalam jiwa dan kehidupan manusia.


"Duduklah." Ben mempersilahkan Richard dan Fabio duduk.


"Ada apa Ben?" Rich bertanya.


"Ada yang ingin ku sampaikan kepada kalian berdua."


"Apa itu?" Fabio membuka mulut.


"Hmmm, apa Rich sudah mengatakannya padamu Fab?"


"Tentang apa?"


"Ann."


"Belum."


"Rich, ceritakan pada Fabio."


"Begini, kemarin aku dan Ben menemukan sesuatu dirumah tua dalam hutan."


"Menemukan apa?"


"Cincin pernikahan milik Ann."


"Bagaimana bisa?"


"Kemungkinan Bella dan Megan terlibat masalah ini." Rich terlihat serius.


"A..apa? Bella?"


"Ya." Ben menjawab.


"Bagaimana mungkin? Bukankah Bella tidak punya masalah dengan Ann?"


"Jadi begini Febi." Rich ingin menjelaskan.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu Rich." Fabio tampak kesal.


"Baiklah." Rich terkekeh. "Jadi Bella pernah bermasalah dengan Ann sewaktu dulu."


"Kapan?"


"Sebelum Ben dan Ann menikah."


"Lalu apa hubungannya dengan peristiwa hilangnya Ann?"


"Tunjukan rekaman itu pada Fabio, Rich."


Rich menunjukan semua rekaman kejadian itu kepada Fabio, dia juga menunjukkan foto-foto tentang bangunan tua yang ada di hutan. Tidak lupa Rich menunjukkan rekaman cctv dua anak buah Fabio yang juga menuju ke bukit di hari yang sama saat Bella dan Megan pergi.


"Mungkin kau bisa menyimpulkannya sendiri, Febi." Rich menatap Fabio.


"Ya." Fabio merasa kesal karena Rich terus memanggilnya dengan panggilan itu tapi dia berusaha untuk tidak menanggapinya di situasi saat ini.


"Aku harap kau bisa bertindak bijak." Rich kembali berucap.


"Tentu saja." Fabio mengangguk, dia memegang keningnya yang seketika terasa nyeri.


Fabio memang sangat menyayangi Bella namun Fabio bukanlah orang yang picik, dia berpikiran luas dan memiliki kesetiaan luar biasa pada Ben. Karena sifatnya itulah dia bisa menjadi seseorang yang sangat dipercaya oleh Ben. Dia tentu saja akan membela kebenaran dan tidak akan membela yang salah walaupun Bella adalah adik sepupunya sendiri yang selama ini selalu di jaganya.


"Karena kau sudah tahu, aku akan mengurusnya nanti." Ben berucap dingin.


Richard dan Fabio hanya diam, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi pada kedua wanita itu jika Ben sudah bertindak. Selama ini Ben memang tidak pernah segan untuk memberikan pelajaran kepada siapa saja yang bertindak salah. Apalagi jika menyangkut nyawa seseorang, bagi Ben jika tak bisa di ampuni maka nyawa akan dibayar nyawa.


"Apa yang akan kau lakukan, Ben?" Richard berucap.


"Aku ingin memastikan keadaan Ann terlebih dahulu, jika Ann masih hidup mungkin ada sedikit kemungkinan kedua wanita itu akan selamat." Ben menyeringai.


Habislah kalian berdua. Richard bergidik ngeri melihat seringai di wajah Ben.


"Aku sangat menyesal, mungkin aku terlalu memanjakannya." Wajah Fabio tampak lemah.


"Ya, Febi." Richard menepuk-nepuk bahu Fabio memberikannya semangat namun hanya disambut dengan pelototan oleh Fabio.


"Siapa nama anak buahmu yang terlibat dalam rekaman tadi?" Ben menatap Fabio.


"Rick dan Bob. Mereka berdua memang aku tugaskan untuk menjaga Bella, tapi aku tak menyangka mereka telah melakukan hal kotor."


"Aku akan mengurus mereka berdua, apa kau keberatan Fab?"


"Ya, silahkan Ben." Fabio sudah menebak-nebak apa yang akan terjadi pada kedua pria itu, tapi dia tidak bisa melakukan apapun.


"Baiklah, kalian bisa pergi sekarang."


"Baik." Richard dan Fabio menjawab serentak.


Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari ruangan Ben. Mereka berjalan cepat memasuki mobil dan menjauhi kantor Ben yang sudah mengeluarkan aura kegelapan. Richard mengelus-elus dadanya setelah mereka sudah melaju jauh dari kantor Ben.


"Febi, apa kau memikirkan hal yang sama denganku?"


"Akan terjadi pertumpahan darah?" Fabio menjawab datar


"Benar."


"Aku benar-benar merasa pusing, bagaimana ini bisa terjadi pada Bella."


"Hmmm, entahlah."


Richard tidak memberitahu Fabio bahwa kejadian itu sedikit banyak berawal dari perselingkuhannya dengan Bella. Richard sudah di ceritakan tentang semuanya oleh Ben, jika Fabio tahu bisa saja dia ditendang dari dalam mobil saat ini juga dan mungkin setelah terjatuh dia juga akan di lindas oleh Fabio.


Richard memang tidak terlibat secara langsung dengan apa yang terjadi pada Ann. Dia hanya pemeran pria piguran yang berperan sebagai selingkuhan tokoh antagonis dalam drama yang terjadi antara mereka. Richard hanya sangat menyayangkan apa yang dilakukan Bella kepada Ann saat itu yang sebenarnya bukan kesalahan Ann tapi ulah suami Bella sendiri.


"Aku memang salah telah memanjakan Bella dengan menuruti segala apa yang di inginkannya." Raut wajah Fabio terlihat suram.


"Ya." Richard hanya mengangguk.


"Kudengar dia juga pernah berselingkuh dari suaminya, entah apa yang di inginkan oleh Bella aku sangat tidak mengerti."


"Benarkah?" Richard memasang wajah pura-pura terkejut.


"Jika aku tahu siapa pria selingkuhannya itu, aku akan menendangnya ke alam baka."


"Apa kau ingin mengambil alih pekerjaan malaikat maut?" Richard berusaha mencairkan suasana karena tahu pria yang dimaksud adalah dirinya sendiri.


"Ya, apa kau mau jadi bahan percobaanku terlebih dahulu Rich?" Fabio menyeringai.


"Terima kasih, aku tak ingin." Richard menjawab cepat.


"Rich, ayo kita ke tempat bermain bowling."


"Kau mau main bowling?"


"Ya, saat ini rasanya aku ingin melempari orang-orang dengan bola berat itu."


"Hei, kau mau membunuh orang?"


"Tidak, itu hanya perumpamaan."


"Kau yakin?"


"Ya, aku hanya akan membayangkan bahwa pin bowling itu adalah orang-orang yang membuatku kesal."


"Siapa yang membuatmu kesal?"


"Kau salah satunya."


"Kenapa aku?" Rich tentu saja protes.


"Entahlah, melihat wajahmu saja aku sudah merasa kesal." Fabio berucap tanpa merasa berdosa.


"Keluar dari mobilku sekarang, bodoh." Rich terlihat kesal.


Mereka berdua terus berdebat hal yang bahkan tidak penting. Fabio dan Richard memang sejak awal selalu begitu, terkadang mereka akur namun tak jarang mereka akan bertengkar dan saling pukul. Namun tak di pungkiri perasaan mereka sudah seperti saudara, mereka sudah sangat lama bersama-sama walaupun sering tak sama dalam hal pemikiran. Mereka terus berdebat hingga akhirnya sampai di tempat bermain bowling. Mereka akhirnya melampiaskan perasaan mereka dengan bermain bowling hingga lelah.


...****************...