Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
EL-AKU TIDAK AKAN PERGI KEMANA-MANA.



Tidak terasa sudah empat hari aku berada disini, rasanya berbeda sekarang. Aku merasa senang berada dirumah ini karena ada Nevan yang menemaniku. Nevan sangat aktif, hampir tak ada semenit pun dia diam kecuali sedang tidur atau saat makan. Dia berbicara dengan sangat lancar, hanya huruf R yang belum bisa dia sebut dengan benar. Anak itu sangat menggemaskan, rasanya aku tidak bisa lagi berpisah dengannya.


Malam ini aku memberikan sebuah buku bergambar untuk di warnai oleh Nevan, aku juga membelikannya sekotak pensil warna. Nevan terlihat sangat senang menerimanya, dia langsung membuka buku itu dan mulai mewarnainya. Nevan anak yang cerdas, aku hanya mencontohkannya sedikit dan dia sudah pandai melakukannya.


Aku mendengar suara ketukan di pintu, sepertinya pelayan. Aku berjalan ke arah pintu dan membukanya. Sosok tinggi tegap berdiri di depan pintu dengan senyuman hangat yang begitu lama tak kulihat. Seakan tak ada yang berubah dengannya, mungkin hanya terlihat semakin tampan dan lebih dewasa dibanding dulu. Aku terdiam sebentar, tak ada kata yang kusiapkan sebelumnya untuk kuucapkan saat bertemu dengannya.


"El." Dia menatap wajahku dengan senyumnya yang sangat menawan.


"Om Davin?" Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku.


Om Davin tiba-tiba memeluk tubuhku, aku merasakan jantungku langsung berdetak tidak karuan. Aku bisa mencium aroma parfumnya yang terasa lembut di penciumanku. Aku melepaskan pelukannya, takut aku terkena serangan jantung.


"Om, aku bukan anak kecil lagi." Aku mengerucutkan bibirku.


"Hei, kau tetap El si pipi gembul bagiku." Om mencubit kedua pipiku.


"Om, kau lihat pipiku tidak lagi gembul." Dia hanya tertawa menatapku.


"Kenapa lama sekali kau tidak menemuiku hah?"


"Om yang tidak pernah menemuiku." Aku mencari alasan.


"Sudah berapa tahun ini? Sekarang kau mengunjungiku saat sudah sedewasa ini." Dia menunjuk wajahku.


"Huh, aku kan sibuk."


"Alasanmu saja." Dia menjitak dahiku.


"Aww, sakit om." aku mengusap-usap dahiku.


"Dimana Nevan?" Dia melongok kedalam. Nevan masih sibuk dengan buku gambarnya, dia tidak menyadari bahwa ayahnya telah datang.


"Nevan sayang." Om Davin masuk kedalam kamar.


"Papa." Anak itu seketika menoleh mendengar suara ayahnya.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Mewalnai."


"Siapa yang memberikan buku ini padamu?" Om Davin menunjuk buku itu.


"Unty El."


"Apakah kau sudah berterima kasih pada unty?"


"Sudah." Nevan duduk dipangkuan ayahnya.


Mereka terlihat bercanda, aku memperhatikan mereka berdua. Om Davin terlihat sangat menyayangi Nevan. Sepertinya keluarga Om Davin sangat harmonis, aku melihat kehangatan saat Om Davin menatap Nevan. Aku juga ingin memiliki keluarga yang seperti ini nantinya. Sekelebat masadepan indah terlintas di kepalaku, aku tersenyum sendiri membayangkannya.


"Hei, kenapa kau senyum-senyum sendiri?"


"Eh?" Aku tersentak mendengar suara Om Davin.


"Nevan, papa sama unty El mau bicara sebentar di luar, teruskan mewarnai bukumu ya sayang." Om Davinn mengusap kepala Nevan.


"Ya, papa." Nevan melanjutkan aktivitasnya.


Kami keluar dari kamar Nevan, Om Davin mengajakku kesebuah ruangan keluarga. Dia duduk di sofa dan mempersilahkanku duduk di seberangnya. Aku menurutinya, duduk di depan Om Devan yang terlihat terus tersenyum.


"El."


"Ya?"


"Bagaimana kabarmu?"


"Seperti yang om lihat, aku sangat baik."


"Hmm, baguslah. Bagaimana kuliahmu?"


"Lancar, saat ini aku sedang menyusun laporan penelitianku." Aku tersenyum bangga.


"Ku kira kau akan menjadi mahasiswi tua yang tidak akan lulus." Dia menertawakanku


"Mana mungkin, aku kan cerdas." Aku terkekeh.


Ternyata aku sangat merindukan sosok pria ini, setelah bertemu dengannya kembali rasanya aku merasa sangat senang. Tidak ada rasa canggung yang kupikir akan kurasakan saat bertemu dengannya. Aku menyesal kenapa tidak dari dulu aku menemuinya. Tidak ada yang berubah dari sikapnya kepadaku, dia masih Om Davin yang dulu, yang selalu hangat dan memperhatikanku.


Om Davin tiba-tiba beranjak dari duduknya dan duduk disampingku. Dia menatapku dengan lembut, dua bola mata berwarna hitam pekat itu seperti menghipnotis diriku untuk membalas tatapannya. Wajahnya yang hampir terlukis dengan sempurna itu berada tepat di depan wajahku. Dia kembali memeluk tubuhku dengan erat, rasanya sama seperti dulu saat dia sering memelukku sewaktu masih anak-anak.


"Aku merindukanmu." Dia tidak melepas pelukannya.


"Om, aku sekarang sudah beranjak dewasa, jika ada yang melihatnya pasti akan menyangka aku adalah selingkuhan pria tua."


"Apa kau menyebutku pria tua?" Dia melepas pelukannya dan menatapku.


"Iya, kau tua sekarang."


"Hei, jika kau terus menyebutku tua aku tak akan melepaskan pelukanku selamanya." Dia kembali memelukku.


"Om." Aku mendorong tubuhnya pelan.


"Kau semakin imut dan menggemaskan." Dia melepas pelukannya dan mencubit kedua belah pipiku.


Om Davin benar-benar memperlakukanku seperti anak kecil, tapi entah kenapa aku merasa senang dengan perlakuannya. Dia masih sama seperti dulu, tak berubah meskipun sudah sangat lama tak bertemu. Aku sebenarnya ingin membalas pelukannya tapi aku sadar bahwa sedikit banyak ada hal yang harus berubah. Sedekat apapun hubunganku dengan Om Davin di masalalu tidak semuanya bisa di bawa ke masa sekarang. Om Davin sudah mempunyai keluarga, kemungkinan hal kecil pun bisa menimbulkan kesalahpahaman dimata orang yang melihat kedekatan kami jika aku tidak bisa menjaga sikapku.


"El."


"Ya?"


"Aku benar-benar merindukanmu." Dia terlihat sangat konyol, seperti baru bertemu kembali dengan sosok diriku yang masih anak-anak.


"Aku sama sekali tidak merindukan om." Aku tertawa.


"Jahat sekali, dulu kau bahkan tidak ingin berpisah denganku." Dia cemberut.


"Itu dulu, aku sekarang sudah sedewasa ini, tidak mungkin merindukan pria tua seperti om."


"El." Dia memegang bahuku dan menatap mataku.


"Kenapa?"


"Jangan lagi jauh-jauh dariku."


Bisa-bisanya Om Davin mengatakan agar aku tidak jauh-jauh darinya. Apa dia ingin mengulang lagi masa anak-anakku yang sama sekali tidak bisa berpisah dengannya---. Ketempelan diriku baru tahu rasa dia, dia akan kesurupan setiap hari. Hei, apa aku baru saja mengatakan bahwa diriku sendiri sejenis hantu?.


"Memang kenapa?"


"Aku tak mau."


"Kita tidak jauh om, kita berada di kota yang sama, cuma tidak pernah bertemu." Aku terkekeh.


"Sama saja."


"Om ayo kembali ke kamar Nevan, dia pasti merindukanmu. Om sudah lama tidak pulang dan menemuinya."


"Baiklah."


Aku dan Om Davin kembali ke kamar Nevan, anak itu masih sibuk mewarnai rupanya. Melihat kami datang, Nevan langsung memeluk ayahnya. Dia kembali duduk ke pangkuan Om Davin dan berbicara banyak dengannya.


"Papa, apa papa sudah kenal dengan unty El?"


"Tentu saja."


"Unty El sangat baik padaku."


"Benarkah?"


"Ya."


"Unty El mengatakan sangat menyayangiku."


"Ya, unty El juga bilang sangat menyayangi papa."


"Nevan, papamu berbohong. Unty tidak pernah bilang begitu."


"Apa papa juga menyayangi unty El?" Nevan menatap wajah ayahnya


"Tentu saja, papa sangat menyayangi unty El."


"Kami sayang sama unty El, unty jangan pergi kemana-mana." Nevan menatapku.


"Ya, sayang, unty tidak akan pergi kemana-mana." Aku menatap wajah yang sangat menggemaskan itu.


Aku mengatakan pada Nevan bahwa aku takkan pergi kemana-mana. Rasa sayangku pada Nevan tumbuh begitu cepat, anak itu sudah meramaikan segala rasa kesepian yang ku alami. Hal itu membuatku tanpa sadar telah mengatakan hal yang akan menyeretku pada situasi yang tidak kusangka-sangka.


...****************...