Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
SELESAI SIDANG



El tersenyum ceria saat keluar dari ruang sidang, menandakan bahwa sidang yang dilaksanakan berjalan dengan lancar. Teman-teman El memberikan selamat kepadanya, El terlihat sangat senang. Rasanya dia ingin melompat-lompat dan berlarian di koridor kampus saking lega hatinya setelah menyelesaikan sidang pertama. El berjalan sambil tersenyum-senyum sendiri, dia benar-benar sangat senang.


"Ehem." Will di belakangnya berdehem, kesal karena dilupakan ditambah dia sedang membawa barang-barang El. Tas, buku-buku hingga sampah sisa acara sidang.


"Will?" El berbalik.


"Kau lupa padaku?"


"Hais, aku benar-benar lupa ada kau di belakang." El menepuk dahinya.


"Sudah kuduga."


"Sini biar aku yang bawa, sampah-sampah itu kau saja yang bawa." El terkekeh sambil mengambil tas dan buku-bukunya dari tangan Will.


"Huh, urusan sampah saja baru untukku." Will cemberut, dia mencari-cari tempat sampah di dekat situ, namun tidak menemukan.


"Ya, ya maaf merepotkanmu, ayo kita makan Will. Aku akan mentraktirmu makan siang."


"Baiklah." Will mengikuti langkah kecil El.


Mereka berjalan menuju parkir, El menghentikan langkahnya saat melihat seorang pria sedang bersandar di mobilnya. Sejenak El terpaku kemudian tersenyum, dia berlari kecil menghampiri pria itu. Will hanya mengikutinya dari belakang tanpa ekspresi apapun.


"Om Davin." El tersenyum ceria.


"Bagaimana sidangmu hari ini?" Davin menyentuh kepala El dan mengusap-usapnya.


"Lancar." El mengangguk senang.


"Ayo kita merayakannya." Davin tersenyum.


"Baiklah, ayo makan siang bersama, tapi ajak temanku juga. Dia sudah membantuku mengurus persiapan sidang hari ini, aku sudah berjanji untuk mentraktirnya." El menunjuk ke arah Will yang terlihat masih menenteng kresek sampah.


"Hmm, baiklah, ayo berangkat." Davin menatap sekilas pada Will.


"Naik mobil siapa?" El bertanya.


"Mobilku saja, mobil kalian biar disini saja dulu." Davin berucap.


"Baiklah, dimana Om memarkirkan mobil?" El mencari-cari.


"Disana." Davin menunjuk mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Baiklah, ayo Will." El mengajak Will untuk menuju mobil Davin.


"Ya." Will mengangguk.


"Hei, buang dulu kantong sampah itu." El terkekeh, dia menunjuk tempat sampah yang tak jauh dari sana.


"Oh ya, aku lupa." Will menghampiri tempat sampah dan membuangnya.


"Apa kau mau membawa sampah itu pulang?" El terus terkekeh.


"Tentu saja tidak."


Tiba-tiba ponsel Will terdengar berdering, dia memencet tombol terima dan menaruh ponselnya di telinga. Dia terlihat berbicara banyak dengan orang disebelah sana. El hanya memperhatikannya dengan tenang, tidak berapa lama Will memutuskan sambungan dan menyimpan kembali ponselnya.


"Ada apa?" El bertanya.


"Sepertinya aku tidak bisa pergi sekarang, El." Will berucap.


"Kenapa?"


"Ada yang harus ku kerjakan."


"Apa?"


"Nanti ku ceritakan, kau pergilah dulu, Om mu sudah menunggu." Will menatap sekilas Davin yang sudah berada di kursi kemudi mobilnya sambil menatap mereka.


"Mmm, baiklah." El mengangguk.


El berjalan menuju mobil dan masuk kedalam, dia melambai pada Will saat mobil mulai melaju. Will membalas lambaian tangan El dan menatap mobil mereka hingga menghilang di tikungan. Will masuk kemobilnya dan pergi begitu saja entah kemana.


Davin mengendarai mobilnya dengan pelan, kadang dia melirik El yang sedang senyum-senyum sendiri. Gadis itu sepertinya masih merasa senang karena sidangnya berjalan lancar. Davin ikut tersenyum menatapnya, ikut senang dengan apa yang dirasakan oleh El.


"Kau mau makan apa El?"


"Seafood." El terkekeh.


"Baiklah, kita akan pergi ke resto seafood."


"Mmm, kenapa Om tidak mengajak Tante Jessi dan Nevan."


"Tante Jessi masih diluar kota."


"Nevan?"


"Dia tidur siang, aku tak ingin membangunkannya."


"Tadi dari kantor, balik sebentar kerumah."


"Ngapain?"


"Ambil sesuatu."


"Apa?"


"Lihat dibelakang."


El seketika menengok ke kursi belakang, matanya melotot melihat boneka singa yang besarnya hampir dua kali lipat tubuhnya. El tersenyum riang, boneka kesukaannya ada disana. Dia ingin segera memeluk boneka itu tapi tidak bisa.


"Kenapa? Kau ingin memeluknya?" Davin melihat El yang menarik-narik kaki boneka besar itu.


"Ya." El tertawa.


"Nanti saja dirumah, sekarang kau peluk aku saja." Davin terkekeh.


"Huh, cari kesempatan."


"Anggaplah ucapan terima kasih." Davin tertawa.


"Tidak mau."


"Ya sudah, aku akan mengembalikannya ke toko."


"Jangannnnnn." El langsung melotot ke arah Davin.


"Sekarang peluk aku."


"Om, kau sedang menyetir, aku tidak mau kau menabrak sesuatu jika kupeluk nanti." El mencari alasan.


"Baiklah, kuberi waktu, kau peluk aku dirumah nanti."


"Ya." El menjawab sekenanya karena tidak ingin berdebat lagi dengan Davin.


Davin memarkirkan mobilnya di depan sebuah resto seafood. El terlihat girang, dia memang sangat menyukai menu makanan yang satu itu. Davin mengajaknya masuk kedalam dan memesan beberapa menu.


"Aku mau ini, mau itu, itu juga." El menunjuk semua menu yang sudah terhidang di meja.


"Hei, kau terlihat seperti bocah ingusan." Davin terkekeh.


"Kau terlihat seperti pria tua." El membalas Davin, dia senang menyebutnya pria tua walaupun Davin jelas bukan pria tua, dia adalah pria dewasa yang sangat tampan.


"Terserahmu saja." Davin malas berdebat dengan El tentang sebutan pria tua.


Sejenak mereka tidak lagi berbicara, El sibuk menghabiskan makanan di meja. Dia terlihat seperti anak kecil yang kelaparan. Davin hanya tersenyum memperhatikan tingkahnya.


"El, umur dan tingkahmu benar-benar tidak sinkron." Davin tertawa.


"Kenapa?"


"Kau bilang kau sudah dewasa, lihat tingkah kekanakanmu itu?"


"Aku tidak kekanakan." El menggeleng.


"Kau berlepotan." Davin mengusap bibir El dengan tangannya.


El terdiam sejenak, saat jemari Davin menyentuh bibirnya, El teringat akan ciuman Davin beberapa waktu lalu. Wajahnya langsung merona, dia merasa sedikit malu. El berusaha mengendalikan rona wajahnya, dia tidak ingin terlihat memalukan di depan Davin.


"Apa yang kau pikirkan? Jangan bilang kau mengingat kejadian waktu itu." Davin tersenyum menggoda.


"Apa?" El pura-pura tidak tahu.


"Waktu aku menciummu." Davin terkekeh.


"Om, pelankan suaramu." El panik dan menaruh jarinya di bibir Davin. El celingak-celinguk takut ada orang yang mendengar percakapan mereka.


"Kenapa kau panik?" Davin kembali terkekeh.


"Tentu saja aku panik." El mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa?"


"Aku malu."


"Malu pada siapa?"


"Diamlah Om, habiskan makananmu." El cemberu, tidak ingin membahas lagi masalah itu yang hanya akan membuat wajahnya semakin merona.


Davin hanya tertawa dan berhenti berbicara, dia hanya memperhatikan El sambil menghabiskan makanannya. Gadis itu benar-benar memenuhi hatinya saat ini. Davin tak menyangka bahwa dia merasa terus jatuh cinta pada gadis cilik yang dulu sering di gendongnya itu. Terkadang Davin berpikir, entah bagaimana nantinya dia akan menjelaskan semuanya pada Abram. Apakah pria itu akan menerimanya atau justru akan menentangnya?


...****************...