
"Heloo bocah tampan." Aku masuk ke kamar Nevan dan duduk di tepi tempat tidur.
"Nona El." Lia, pengasuh Nevan menyambutku dengan tersenyum.
"Apa kau sudah makan?" Aku menyentuh pipi Nevan.
"Sudah unty."
"Ah hebat sekali, apa makanmu banyak? Kau tumbuh sangat cepat " Aku tersenyum menatap anak itu.
"Banyak." Nevan mengangguk.
"Bagus."
"Kenapa unty sibuk sekali dan tidak menemaniku main?"
"Maafkan unty sayang, beberapa hari ini banyak yang unty kerjakan. Karena hari ini unty tidak sibuk, unty akan menemani kamu main seharian."
"Yeeeee." Nevan tertawa dan memberikan aku mobilan yang ada disampingnya.
"Apa kau mau jalan-jalan ke taman belakang?"
"Mau." Nevan mengangguk senang.
"Lia, tolong bereskan kamar Nevan dulu ya, jika sudah selesai susul kami di taman belakang."
"Ya, Nona." Lia mengangguk.
Aku menggendong Nevan menuju taman belakang, bocah ini sudah sangat berat. Aku tertatih-tatih menggendongnya sekarang. Saat sudah menuruni tangga aku menurunkan Nevan.
"Sayang, jalan kaki sendiri ya." Aku tersenyum padanya, rasanya tak kuat lagi aku menggendong anak ini.
Aku menuntun tangan Nevan dan berjalan pelan mengikuti irama langkah kecil kaki bocah cilik ini. Hingga akhirnya tiba ditaman belakang aku membiarkan Nevan berlarian sesuka hatinya. Aku duduk dikursi taman sambil mengamati anak itu yang semakin hari terlihat tumbuh semakin besar.
Setelah lelah Nevan berjalan menghampiriku, dia duduk dipangkuanku dan memeluk erat tubuhku. Tak terasa anak itu terlelap, mungkin dia mengantuk karena belaian angin sore yang berembus pelan. Aku membenarkan gaya tidur Nevan agar tidak tertekuk.
Aku mengusap rambutnya dan mengamati wajah anak ini. Wajah Nevan tak mirip tante Jessi, lebih mirip dengan Om Davin tapi juga tak terlalu mirip. Aku merasa Nevan sangat mirip dengan seseorang, tapi siapa? Aku mencoba mengingat-ingat orang yang ku kenal. Tapi tak satupun yang ku ingat mirip dengan Nevan kecuali Om Davin. Ah mungkin perasaanku saja ku pikir, aku tersadar saat Lia datang menghampiriku.
"Nona, biar saya yang gendong."
Aku memberikan Nevan pada Lia dengan pelan, takut anak itu terbangun. Lia membawa Nevan masuk kedalam rumah. Aku tak ikut, aku masih ingin menikmati angin sore hari disini. Sejuknya angin sepoi-sepoi membelai wajahku.
Dirumah sangat sepi, Om Davin masih dikantor dan tante Jessi masih di luar kota, sudah hampir seminggu aku tidak bertemu dengan tante Jessi. Hanya ada Nevan dan para pelayan dirumah. Beberapa hari ini aku juga tak ada kegiatan, aku merasa sedikit malas mengerjakan skripsi.
Aku tersentak saat sebuah tangan menyentuh bahuku, aku segera menoleh dan mendapati Om Davin tersenyum kearahku. Dia berjalan memutari kursi dan duduk disampingku.
"Om kau mengagetkanku."
"Kenapa melamun sendirian sore-sore begini? Bisa-bisa kau kesurupan." Dia terkekeh.
"Aku tak melamun, hanya menikmati angin sore."
"Hmmm, ambil ini."
"Coklat?" Mataku berbinar menerima coklat yang diberikan Om Davin.
"El, apa yang kau kerjakan hari ini?"
"Tak ada." Aku menggeleng sambil membuka bungkus coklat.
"Kau tak mengerjakan skripsimu?"
"Tidak." Aku kembali menggeleng.
"Kenapa?"
"Akhir-akhir ini rasanya aku sangat malas." Aku mulai memasukkan potongan coklat kemulutku dan mengunyahnya.
"Dasar pemalas." Om Davin menjitak pelan dahiku.
"Awww, sakit tahuuu." Aku mengusap dahiku.
"Tidak."
"Kau sangat menggemaskan tahu." Dia kembali tersenyum menatapku.
"Huhh." Aku tak menanggapi ucapan om Davin, aku fokus pada coklatku.
"Kau berlepotan." Om Davin mengusap bibirku dengan jari-jarinya.
"Mmmm." Aku tak menghiraukannya.
"El."
"Apa?" Aku akhirnya menatap Om Davin.
Om Davin menatapku dengan tatapan sedikit sayu, jarinya masih berada di bibirku. Entah kenapa om Davin semakin mendekatkan wajahnya dan aku tak bisa bergerak seakan terhipnotis dengan pesonanya. Hei, kenapa aku tak bisa bergerak sama sekali?
Sepersekian detik kemudian bibirnya menempel di bibirku, aku tak bisa bergerak hanya termangu dengan perlakuan Om Davin. Aku hampir tak bisa bernapas, jantungku bergemuruh, selalu tak terbiasa dengan hal ini walaupun sudah beberapa kali dia juga melakukan hal seperti ini padaku.
"Non..." Aku terperanjat dan refleks mendorong tubuh Om Davin saat melihat Lia berlari kecil ke arah kami, aku melihat dia tiba-tiba terjatuh entah kenapa.
Oh Tuhan, apa Lia melihatnya? Apa dia melihat aku berciuman dengan Om Davin. Oh no! bagaimana ini? Aku bangkit dari duduk meninggalkan Om Davin dan menghampiri Lia.
"Lia kenapa? Kau tidak apa-apa?"
"Ti..tidak nona, saya hanya tersandung kaki saya sendiri." Lia terbata sambil bangkit dengan perlahan.
Dari gaya bicaranya yang terbata aku sudah menebak bahwa dia melihat semuanya. Apa yang harus ku katakan padanya? Apa aku harus memintanya agar dia tidak menceritakan pada siapa-siapa tentang hal ini? Ah apa yang harus ku lakukan?
"Saya hanya ingin mengatakan jika tuan kecil masih tertidur pulas."
"Mmm baiklah." Aku tak tahu harus mengatakan apa.
"Ya nona, saya akan kembali kedalam."
"Ya."
Lia berbalik dan kambali kedalam rumah, setelah Lia menghilang aku menghampiri Om Davin yang masih duduk ditempatnya tanpa rasa berdosa sedikitpun. Dia malah terlihat tersenyum-senyum sendiri seperti orang yang kurang waras.
"Kenapa kau terlihat gugup begitu?"
"Tidak." Aku menyangkal.
"Kau takut hubungan kita ketahuan olehnya?"
"Apa? Hubungan apa? Kita tak punya hubungan apa-apa."
"Hubungan gelap kau dan aku." Om Davin tertawa kecil, entah kenapa dia masih bisa bercanda di situasi seperti ini.
"Tidak."
"Jangan terlalu dipikirkan, tak akan ada masalah apapun." Dia merangkul bahuku, seakan benar-benar menyadari kegundahanku.
"Om."
"Ya?"
"Sudah hampir petang, ayo masuk."
"Ayo." Om Davin mengangguk.
Aku beranjak dari duduk diikuti Om Davin, kami berjalan beriringan meninggalkan taman belakang. Saat memasuki rumah aku pamit pada om Davin untuk pergi ke kamarku sendiri. Aku melewati kamar Nevan, berhenti sejenak namun tak masuk. Aku sedikit ragu ingin masuk atau tidak, namun akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kamarku saja.
Aku segera pergi ke kamar mandi, rasanya tubuhku sedikit gerah. Aku merendam tubuhku di bathtub, kupenjamkan mata menikmati wewangian aromaterapi di dalam sini. Aku kembali teringat pada hubunganku dengan Om Davin, hubungan yang tidak jelas dan rumit. Ah, gara-gara Lia yang menyaksikan kejadian tadi membuatku terpikir kembali hubungan kami.
Hmmm, apakah Lia akan penasaran pada hubungan kami? Dia tak melihat hal biasa, namun melihatku berciuman dengan suami majikannya. Aku yakin dia sedang berpikir macam-macam sekarang. Bagaimana caranya aku menjelaskan padanya hal yang juga tak semuanya ku mengerti.
Aku mengakhiri kegiatan berendam dan segera menyelesaikan mandiku. Keluar dari kamar mandi dan memakai piyama tidur yang nyaman. Rasanya aku ingin tidur saja, aku malas turun untuk makan malam. Aku duduk di sofa dan menyandarkan tubuhku, aku menepuk-nepuk kepalaku yang entah kenapa terus terpikir kejadian tadi.
...****************...