
Aku baru saja selesai mandi, dua hari ini aku terus bangun kesiangan. Entah kenapa setelah peristiwa penculikan itu aku merasa sangat lelah. Saat keluar dari ruang ganti, aku mendengar suara dering ponsel yang bukan milikku. Aku berjalan menuju sumber suara, diatas meja samping tempat tidur tergeletak ponsel om Davin. Sepertinya dia buru-buru pergi ke kantor dan lupa membawa ponselnya. Dua hari ini dia terus memaksa untuk menginap dikamarku dengan alasan ingin menjagaku, sifat pemaksanya memang tidak pernah bisa dibantah.
Aku menatap ponsel yang terus bergetar, nomor seseorang tanpa nama meneleponnya. Awalnya ku abaikan saja, tapi ponsel itu terus saja berdering. Aku akhirnya meraih ponsel itu dan menerima panggilan, mungkin saja sangat penting.
"Halo?" Aku menunggu, tak ada jawaban beberapa saat.
"Siapa kau? Dimana Davin?" Suara seorang pria diseberang.
"Aku El, keponakannya. Om Davin lupa membawa ponselnya."
"Oh ya? Kemana Davin?"
"Ke kantor." Aku menjawab.
"El, kebetulan sekali, bisakah kita bertemu?"
"Denganku?" Aku kebingungan, kenapa tiba-tiba dia mengajakku untuk bertemu.
"Ya."
"Om siapa? Teman Om Davin?"
"Ya, ada yang ingin ku bicarakan denganmu tentang Davin, tapi kau jangan bilang padanya."
"Aku tidak bisa pergi dan bertemu seseorang sembarangan tanpa izin dari Om Davin." Om Davin akan memarahiku jika aku pergi tanpa berkata apapun kepadanya, apalagi setelah kejadian kemarin dia semakin protektif kepadaku.
"Percayalah padaku, ini penting, Davin tidak akan melarangnya jika tahu itu aku."
"Benarkah?" Aku mulai bimbang, antara percaya dan tidak percaya.
"Ya, aku mohon, aku akan mengajakmu bertemu di tempat ramai agar kau percaya padaku."
"Mmm, akan aku pikirkan." Aku benar-benar bingung sekarang.
"Jangan dipikirkan El, aku mohon temui aku di mall di dekat tempat tinggalmu besok."
"Mall?"
"Ya, percayalah padaku, seandainya aku berniat jahat aku tak akan mengajakmu bertemu di tempat ramai bukan?"
"Mmm, baiklah aku akan menemuimu besok sepulang dari kampus."
"Baiklah, salin nomor teleponku dan hubungi aku besok."
"Ya."
"Jangan lupa pesanku, jangan katakan pada Davin bahwa aku menelepon dan berbicara denganmu. Jangan katakan juga bahwa kita akan bertemu."
"Mmm, baiklah."
"Sampai bertemu besok." Chris menutup teleponnya.
Aku sebenarnya merasa sedikit bingung dan tidak percaya, kenapa pria ini tiba-tiba mengajakku bertemu, aku bahkan tidak mengenalnya. Namun pria itu meyakinkanku, dia mengajak bertemu di tempat ramai, aku rasa akan aman-aman saja bagiku. Aku penasaran, apa yang akan dikatakannya tentang om Davin.
Ah, sekarang aku selalu tertarik dengan kehidupan Om Davin. Aku masih penasaran dengannya, tak banyak kutahu tentangnya selama ini walaupun dia sudah mulai bercerita tentang kehidupannya kemarin. Maafkan aku om, aku akan bertemu temanmu tanpa memberitahumu, sepertinya temanmu ini akan mengatakan sesuatu tentangmu kepadaku.
......................
Sore menjelang, aku sedang berada di ruang keluarga lantai dua, menatap ke luar jendela memandangi Nevan yang sedang bercanda dengan pengasuhnya di taman samping. Aku tersenyum melihatnya, dua hari ini aku banyak beristirahat dikamar sehingga tak sempat menemui Nevan. Aku merindukannya, tapi aku masih merasa sedikit lelah.
Greb.
Aku tersentak kaget saat seseorang melingkarkan tangannya di pinggangku. "Om Davin!"
"El, aku mencarimu kemana-mana." Om Davin menjatuhkan kepalanya di bahuku.
"Om mengejutkanku."
"Sedang apa kau disini?"
"Lihat itu." Aku menunjuk ke arah jendela.
"Kau sedang memandangi Nevan?"
"Ya, dia lucu sekali."
"Kau tidak ingin menemuinya?"
"Aku masih merasa sedikit lelah. Nevan sangat aktif, jika aku menemuinya pasti dia akan terus mengajakku bermain."
"Kau masih kelelahan tapi kenapa disini?"
"Aku suntuk di kamar."
"Hmm, kau mau jalan-jalan keluar?"
"Tidak juga." Aku menggeleng.
"Lalu apa yang kau mau?"
"Aku mau disini saja."
"Hmm, baiklah."
"Om, kemana tante Jessi?"
"Mmm, om bolehkah aku menanyakan sesuatu."
"Apa?"
"Tentang Nevan."
"Kenapa?"
"Bagaimana bisa kalian mendapatkan Nevan jika kalian tak saling cinta?"
"Wah wah, kau menanyakan hal dewasa ya?" Om Davin menyeringai ke arahku.
"A..apa? Tidak!" Aku menggeleng.
"Kau menanyakannya tadi."
"Hei, aku hanya menanyakan tentang Nevan."
"Kau pasti pernah belajar tentang pelajaran biologi bukan? Tentang keturunan."
"Apanya?"
"Pembuatannya."
"Om, kau mesum."
"Kau yang memancingnya."
"Kau menakutiku." Aku melepaskan pelukan om Davin dan berlari kecil keluar dari ruang keluarga sebelum om Davin berbicara semakin aneh, dia memang sering begitu, huh dasar pria tua.
"El tunggu aku." Om Davin mengejarku dengan gelak tawanya.
Aku kembali ke kamarku dan duduk di sofa, om Davin menyusul duduk disampingku. Dia masih saja tertawa sambil memandangiku. Om Davin memelukku kembali, sifat kekanakannya kadang sering muncul, entah apa yang ada di otaknya.
"El, aku hanya bercanda."
"Aku tahu."
"Kenapa kau bertingkah seakan merajuk seperti itu?"
"Aku juga hanya bercanda." Aku tertawa kecil.
"Sekarang kau sering membalas candaanku."
"Aku kan belajar darimu." Aku terkekeh.
"El, aku mencintaimu."
"Aku juga." Entahlah, aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Aku sangat menyayangi pria di sampingku ini, tapi saat ini bukanlah saat yang tepat untuk kami. Bagaimanapun Om Davin dan tante Jessi masih terikat dalam pernikahan.
"El, aku mohon tunggulah sebentar lagi, aku sungguh ingin benar-benar bersamamu."
"Om, bagaimana jika aku tidak bisa menunggu?" Aku menunduk menatap jemariku yang sedang di genggamnya.
"El jangan berkata seperti itu, kau membuatku sedih." aku merasakan om Davin menggenggam jemariku semakin erat.
Aku terdiam tak menjawab perkataan om Davin. Dikepalaku kembali berputar segala hal rumit yang belakangan ini terjadi. Aku berpikir jika aku tidak masuk ke kehidupan om Davin, mungkinkah hidupku tidak serumit ini? Aku bahkan tidak mengetahui alasan kenapa aku diculik saat itu? Aku tidak merasa memiliki musuh, beberapa kali aku berpikir apakah sebenarnya yang melakukan penculikan adalah orang yang bermasalah dengan om Davin? Aku sedang menimbang-nimbang bagaimana caranya bertanya pada om Davin tentang itu.
Oh ya, kenapa aku tidak menanyakannya saja pada Will, bukankah dia yang menyelamatkanku? Ah tapi kemarin aku bertanya, dia hanya menjawab seadanya tanpa memberi sedikitpun penjelasan.
"El?"
"Ya Om?" Aku tersentak, bisa-bisanya aku melamun tadi.
"Kenapa diam saja?"
"Mmm, aku hanya berpikir tadi."
"Berpikir apa?"
"Mmm, aku rindu rumah hehe." refleks, aku beralasan yang sangat tidak masuk akal.
"Ayo mengunjungi rumahmu, aku akan menemani sekalian ambil mobilmu."
"Sekarang?"
"Ya."
"Baiklah."
"Oh ya, apa ponselku ketinggalan disini?"
"Ya, itu dia." Aku menunjuk ponsel diatas meja samping tempat tidur.
"Ah kukira jatuh entah dimana." Om Davin segera mengambil ponselnya.
"Dasar pelupa."
"Baru kali ini aku lupa." Om Davin terkekeh. " Ayo berangkat."
Aku dan Om Davin pergi kerumahku, walaupun tadi aku hanya beralasan tapi aku benar-benar rindu rumahku. Rindu kamar dan juga suasananya, sudah lama memang aku tidak pulang kerumah. Kemarin saat aku pulang malah aku dibawa lari oleh orang-orang yang tak ku kenal itu. Wahai rumah, aku datang sekarang.
...****************...