Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
SALAH PAHAM



Sebelumnya...


Jessi berjalan pelan memasuki kamar Davin, dia memanggil-manggil Davin sejak tadi. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Jessi mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Jessi mendekati pintu kamar mandi dan berdiri didepannya.


“Vin.” Jessi mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


“Ya?” Davin menghentikan aktivitasnya karena mendengar Jessi memanggilnya.


“Ada yang ingin kubicarakan padamu.”


“Tunggu sebentar.”


“Baiklah.” Jessi berjalan menuju sofa. Dia duduk menunggu sambil memainkan ponselnya.


Tidak lama terdengar suara ketukan dipintu kamar Davin. Jessi berjalan untuk membukakan pintu, saat pintu terbuka dia melihat El yang berdiri didepan pintu sambil membawa kotak di tangannya.


“Ada apa El?” Jessi menyapa


“Mmm aku ingin mengantarkan pesanan milik Om Davin.” El menyerahkan kotak yang dibawanya pada Jessi.


“Oh baiklah, aku akan memberikan ini pada Davin. Dia sedang mandi sekarang.”


“Ya, tante. Aku pergi dulu.”


“Ya, terima kasih El.”


Jessi menutup pintu setelah El pergi, dia menaruh kotak itu diatas meja dekat tempat tidur Davin. Dia kembali duduk sambil bermain ponsel. Tidak lama Davin keluar dari kamar mandi memakai jubah mandinya. Dia segera masuk kekamar ganti dan keluar kembali dengan memakai pakaian santai masih dengan handuk dikepalanya.


“Ada apa? Kenapa kau masuk sembarangan ke kamarku? Sudah kubilang jangan masuk kamarku seenaknya, kau tunggu di sofa depan saja.” Davin memasang wajah kesal, dia kemudian duduk diseberang Jessi.


“Aku sudah memanggilmu sejak tadi, tapi tak ada jawaban jadi aku memutuskan untuk masuk.” Jessi terlihat cemberut.


“Memangnya ada apa?”


“Vin, Ray mengajakku menikah.”


“Hmmm, baiklah, tunggu sebentar lagi. Aku akan menyelesaikan semuanya.”


“Ya, aku akan menunggunya.”


“Maafkan aku membuatmu terlibat dalam semuanya Jess.”


“Tak apa.” Jessi mengangguk.


“Sampaikan permintaan maafku pada Ray juga.”


“Baiklah.”


“Kau dan dia pasti sudah menunggu lama.”


“Tak apa, ini juga salahku yang membuatmu terjebak dalam hubungan ini.” Jessi menatap Davin.


“Ya, kita hanya terjebak dalam keadaan yang belum memihak pada kita.” Davin mengangguk-angguk.


“Kuharap kita berdua akan berbahagia nantinya.”


“Ya, aku selalu mengharapkan kebahagiaanmu, Jess.”


“Ya, aku akan bahagia hidup bersama Ray nanti.” Jessi terkekeh.


“Pria itu terlihat sangat menyayangimu.”


“Tentu saja, tapi tetap kau orang yang paling menyayangiku.” Jessi tekekeh.


“Aku akan berhenti menyayangimu setelah kau menikah dengan Ray.” Davin ikut terkekeh.


“Jangan, kau harus terus menyayangiku.” Jessi cemberut.


“Ya, ya, baiklah.”


“Terima kasih sudah menjagaku selama ini Vin.”


“Kau tak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi tugasku.”


"Sejak kepergian ayah, selama ini hanya kau yang ku miliki selain Ray." Wajah Jessi berubah sedih.


"Jangan bersedih, aku tidak akan meninggalkanmu sebelum kau benar-benar bersama dengan orang yang tepat."


"Kau memang yang terbaik, terima kasih." Jessi tersenyum.


"Ya." Davin mengangguk.


“Hei, bagaimana dengan El?” Jessi mengedipkan sebelah matanya.


“Kenapa?”


“Bagaimana bisa kau membuat gadis polos itu jatuh cinta kepadamu?” Jessi tertawa meggoda Davin.


“Darimana kau tahu?”


“Kau pikir aku tidak tahu selama ini?” Jessi cemberut.


“Apa?” Davin tertawa.


“Kau sering menyelinap kekamarnya.” Jessi tertawa.


“Hei, kau memata-mataiku?”


“Kau bahkan dengan sukarela membawanya masuk ke kamarmu. Aku saja selalu kau maki-maki jika masuk kekamarmu.”


“Kau tahu semuanya ternyata.” Davin tertawa.


“Tentu saja, kau sangat menyukai gadis itu rupanya.” Jessi terkekeh.


“Ya, dia sangat berarti bagiku.”


“Aku tahu, sekarang kau bahkan lebih menyayanginya daripada aku.”


“Kalian sama-sama berarti bagiku, hanya saja dia jauh lebih berarti darimu.” Davin tertawa.


“Jahat sekali.” Jessi melempar bantal sofa pada Davin.


“Jangan cemburu, Ray juga pasti menganggapmu lebih berarti dari apapun sama seperti aku mengganggap El.” Davin tersenyum.


“Ya, tentu saja.” Jessi mengangguk. “Hmmm, El sepertinya juga sangat meyukaimu.”


“Semoga saja.” Davin mengangguk.


“Dia bahkan terlihat sangat cemburu kepadaku tadi.” Jessi terkekeh.


“Tadi?”


“Apa dia kesini?” Davin tampak terkejut.


“Ya, dia mengantarnya kesini.”


“Jess, kenapa kau tidak bilang dari tadi?”


“Memangnya kenapa?”


“Dia tidak tahu tentang hubungan kita sebenarnya, melihatmu berada disini pasti akan membuatnya salah paham."


“Benarkah?”


“Ya, aku akan menemuinya sekarang, kau kembalilah kekamarmu.”


“Baiklah.” Jessi mengangguk, dia beranjak keluar dari kamar Davin.


Davin berjalan cepat menuju kamar El, dia masuk kekamar itu namun tidak ada siapapun disana. Davin keluar kembali, dia masuk kekamar Nevan tapi disana juga tidak ada El. Davin turun kelantai bawah menghampiri Bi Hana yang sedang menata makanan dimeja untuk makan malam.


“Apa Bi Hana melihat El?”


“Tadi, nona El tergesa-gesa keluar dari rumah dan sepertinya sudah pergi memakai mobilnya tuan.” Bi Hana mejawab.


“Baiklah, Bi.” Davin keluar dari ruang makan, dia pergi menuju pekarangan, tak ada siapapun disana karena El memang sudah pergi.


Davin mengeluarkan ponselnya ingin menghubungi El, namun sebelum dia memencet tombol panggil, seserang meneleponnya terlebih dahulu. Nomor tanpa nama tertera disana, Davin segera menekan tombol terima.


“Davin Axel?” Suara diseberang.


“Siapa kau?”


“Bukalah sesuatu yang kukirimkan padamu.”


Davin dengan segera membuka sebuah foto yang dikirimkan oleh orang itu. Dia melihat foto El tampak dari belakang, difoto itu memperlihatkan El yang sedang berada didepan rumahnya sendiri.


“Siapa kau? Apa yang kau inginkan?” Davin merasa geram.


“Aku hanya ingin bertemu denganmu.” Pria diseberang tampak tertawa kecil.


“Untuk apa?”


“Akan kukatakan saat kita bertemu nanti.”


“Bagaimana jika aku menolak?”


“Apa kau tidak ingin bertemu dengan gadismu lagi?” Pria itu terkekeh.


“Kurang ajar.” Davin mengepalkan tangannya.


“Datanglah ke alamat yang kukirim, kita bertemu disana dan mungkin kau juga akan bertemu dengan gadis cilikmu disana.” Seketika sambungan telepon terputus.


“Sialan.” Davin mengumpat beberapa kali.


Davin dengan cepat masuk ke mobil dan segera melajukan mobilnya membelah jalanan. Davin teringat akan Jessi dan Nevan, dia merasa khawatir pada dua orang itu. Davin dengan segera mengeluarkan ponselnya menghubungi nomor Jessi.


“Halo Vin?” Suara Jessi diseberang.


“Jess, jangan keluar rumah malam ini dan katakan pada semua penghuni rumah agar tidak membukakan pintu rumah untuk siapapun.”


“Kenapa?” Jessi merasa heran.


“Nanti kuceritakan.”


“Baiklah.” Jessi menurut saja, dia paham jika Davin sudah berucap seperti itu pastilah ada sesuatu yang sedang tidak beres.


“Jaga Nevan, tidurlah bersamanya.”


“Baik.”


Davin mematikan sambungan telepon, dia kembali fokus pada jalanan. Pikiran Davin saat ini terasa kacau, dia khawatir dengan keselamatan El dan semua orang yang ingin dilindunginya. Davin kembali meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


“Vin? Ada apa?” Suara di seberang.


“Kau dimana?”


“Aku baru saja pulang.”


“Bantu aku.”


“Kenapa?”


“El dalam bahaya.”


“Apa?”


“Seseorang mengincarnya.”


“Aku pergi sekarang.”


“Kau akan kemana?” Davin bertanya.


“Oh ya, harus kemana aku?”


“Kau masih saja bodoh rupanya.”


“Jangan mengataiku.” Suara diseberang terdengar sewot.


“Diam, aku tidak ingin berdebat disaat seperti ini.” Davin ikut sewot.


“Kau yang mulai.”


“Seseorang mengirimkan foto El saat berada didepan rumahnya.”


“Aku akan kerumahnya saja.”


“Kemungkinan dia sudah tidak berada disana, aku takut mereka telah membawa El. Seseorang mengirimkan alamat dan menyuruhku datang kesana jika ingin bertemu dengan El, dia mengancamku.”


“Benarkah?”


“Ya.”


“Apa kau akan kesana? Bagaimana jika itu hanya jebakan?”


“Aku akan berhati-hati.”


“Baiklah, aku akan memastikannya, aku akan kerumah El.”


“Berhati-hatilah Will.”


...****************...