Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
RENCANA CHRIS



"Kenapa kalian sangat tidak bisa diandalkan hah?" Suara Chris menggema diruangan membuat beberapa orang didepannya semakin menundukkan kepala.


Hening.


"Kenapa kalian diam?" Chris menggebrak meja.


"Maaf, tuan."


"Jodi, kau pemimpin mereka, tapi kenapa kau sangat lemah?" Chris menatap pria yang penuh luka lebam diwajahnya.


"Bocah itu entah kenapa tidak ingin menyerah tuan." Jodi berbicara dengan suara rendah.


"Hanya seorang bocah, dan kalian semua jungkir balik dibuatnya."


"Dia hebat, tuan." Jodi akhirnya mengakui.


"Kalian saja yang tidak bisa berpikir."


"Saya berencana ingin mengancamnya dengan memanfaatkan gadis itu tuan, tapi saya tak berani karena tuan memerintahkan agar gadis itu tak terluka sedikitpun."


"Ya, karena jika gadis itu yang terluka maka aku yang akan habis oleh Ben. Ben tidak akan membiarkan siapapun melukai keluarga istrinya itu."


"Maafkan kami, tuan."


"Seharusnya kalian bisa menahannya setidaknya sampai Davin membuka mulutnya tentang keberadaan Ann." Chris terlihat sangat kesal.


"Maaf, tuan."


"Sudahlah, aku akan memikirkan cara kembali agar Davin mau memberitahukannya, kalian semua pergilah."


"Baik tuan." Jodi dan orang-orangnya bergegas keluar dari ruangan Chris yang sudah mengeluarkan aura tidak mengenakkan. Mereka takut nasib sial akan menimpa mereka kembali jika tak segera menghilang dari sana.


Chris menyandarkan tubuhnya di kursi, matanya menatap langit-langit ruangan. Chris berpikir keras, haruskah dia memberitahukan keadaan Ann sekarang kepada Ben? Atau dia harus menahannya sampai dia benar-benar mengetahui keberadaan Ann. Chris menimbang-nimbang hal yang akan dilakukannya, hal itu walaupun terlihat sepele namun akan sangat menyulut bara api antara Ben dan Davin.


"Huh, kenapa aku jadi ikut terlibat dengan masalah dua pria keras kepala itu?" Chris memijit pelipisnya.


Chris membuka tabletnya dan mulai mencari informasi kembali tentang Davin, dia ingin bertemu dan berbicara kembali dengan pria itu. Chris mencari cara bagaimana agar bisa bertemu dengan Davin tanpa terjadi keributan. Mengingat masalah tempo hari yang dilakukannya, tidak mungkin Davin mau menemuinya dengan sukarela.


Chris kehabisan akal, tidak biasanya otaknya buntu seperti itu. Dia meletakkan tabletnya dan berjalan menuju sofa, duduk dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran agar terasa lebih nyaman. Chris kembali memutar otak, tak ada cara apapun yang terpikir dikepalanya.


"Argh, menyelesaikan masalah orang lain memang lebih sulit daripada menyelesaikan masalahku sendiri. Ben, pantas saja kau sangat frustasi, aku yang baru memikirkan masalahmu sebentar saja sudah sakit kepala."


Chris tersentak saat mendengar dering ponselnya, dia mengambil ponsel di saku jasnya dengan malas. Menatap layar dan membaca nama yang tertera disana, dia mendesah malas saat tahu siapa yang menelepon.


"Baru saja aku memikirkannya, dia sudah meneleponku." Chris memencet tombol terima.


"Chris?"


"Ya?"


"Bagaimana?"


"Apanya?"


"Jangan pura-pura tidak mengerti."


"Huh, aku belum menemukannya." Chris akhirnya menjawab.


"Tidak biasanya kau seperti ini." Suara Ben diseberang terdengar kesal.


"Hei, aku juga manusia, wajar jika aku belum bisa menemukan istrimu."


"Dimana predikat Chris hebat itu, yang bisa menemukan informasi penting apapun dalam hitungan menit bahkan detik."


"Apa kau sedang mencibirku sekarang?"


"Hei, aku hanya mengingatkan predikat hebatmu yang sekarang sudah sedikit menurun." Ben terkekeh.


"Huh, bukannya aku tidak lagi hebat, hanya saja istrimu terlalu pintar bersembunyi."


"Istriku pintar bersembunyi? Maksudmu kau tahu bahwa istriku bersembunyi? Kau tahu dia masih hidup?" Suara Ben tampak tak sabar mendengar jawaban Chris.


Mampus, aku keceplosan. Chris menepuk dahinya.


"Maksudku kemungkinan, aku hanya mengatakan perumpamaan."


"Begitukah?" Suara bersemangat Ben langsung berubah menjadi putus asa.


"Bersabarlah, aku akan terus membantumu." Chris berusaha menghibur Ben.


"Chris, apakah menurutmu Ann masih hidup?" Suara menyedihkan Ben terdengar di telinga Chris membuat pria itu sedikit iba.


"Ben, yakinilah apa yang membuatmu yakin. Jangan jadi lemah, jika kau lemah kau akan semakin sulit untuk menemukannya."


"Beberapa tahun berlalu, aku sangat yakin bisa menemukannya dengan caraku sendiri, namun beberapa waktu terakhir ini hatiku semakin terasa bimbang."


"Aku baru tahu jika pria tangguh sepertimu bisa merasa bimbang."


"Hanya Ann yang membuatku seperti ini."


"Ah ya, lama sekali kau tidak pernah menemuiku."


"Nanti aku akan mengunjungimu jika aku tidak sibuk."


"Ya." Ben memutuskan sambungan telepon.


Chris mengumpat beberapa kali karena kebiasaan Ben yang selalu memutuskan sambungan telepon seenaknya. Chris memasukkan kembali ponselnya kedalam saku, dia merenung kembali. Menatap langit-langit ruangan memang menjadi kesenangan tersendiri saat merenung.


"Maafkan aku Ben, aku belum bisa mengatakan padamu bahwa Ann masih hidup. Tunggu sampai aku menemukan keberadaannya. Bersabarlah, aku yakin bahwa Ann baik-baik saja dan sepertinya wanita itu memiliki alasan sendiri kenapa tidak menemuimu hingga sekarang." Chris berbicara lirih dengan dirinya sendiri.


Chris mengambil ponselnya kembali dan menghubungi Davin, hanya itu cara yang bisa dilakukannya saat ini. Chris menunggu panggilan tersambung, tapi sepertinya tak dihiraukan sama sekali. Chris mencoba kembali beberapa kali hingga dia kesal ingin membanting ponselnya.


"Davin, kau membuatku kesal. Sepenting itukah dirimu hingga mengabaikan telepon dariku." Chris menghempaskan ponselnya ke sofa.


Chris meraih kembali ponselnya dan kembali memanggil Davin. Sepertinya dia belum putus asa, berharap sedikit saja bisa berbicara dengan pria itu. Chris menunggu beberapa saat, panggilan masih berdering.


"Sekali lagi kau tidak mengangkat teleponku, aku akan benar-benar membanting ponselku." Chris menggertakkan giginya geram.


Chris terdiam saat panggilan diterima, bukan suara pria melainkan suara lembut seorang gadis.


"Halo?"


"Siapa kau? Dimana Davin?"


"Aku El, keponakannya. Om Davin lupa membawa ponselnya."


"Oh ya? Kemana Davin?"


"Ke kantor." Suara kecil itu membuat Chris tersenyum.


"El, kebetulan sekali, bisakah kita bertemu?"


"Denganku?"


"Ya."


"Om siapa? Teman Om Davin?"


"Ya, ada yang ingin ku bicarakan denganmu tentang Davin, tapi kau jangan bilang padanya."


"Aku tidak bisa pergi dan bertemu seseorang sembarangan tanpa izin dari Om Davin."


"Percayalah padaku, ini penting, Davin tidak akan melarangnya jika tahu itu aku."


"Benarkah?"


"Ya, aku mohon, aku akan mengajakmu bertemu di tempat ramai agar kau percaya padaku."


"Mmm, akan aku pikirkan."


"Jangan dipikirkan El, aku mohon temui aku di mall di dekat tempat tinggalmu besok."


"Mall?"


"Ya, percayalah padaku, seandainya aku berniat jahat aku tak akan mengajakmu bertemu di tempat ramai bukan?"


"Mmm, baiklah aku akan menemuimu besok sepulang dari kampus."


"Baiklah, salin nomor teleponku dan hubungi aku besok."


"Ya."


"Jangan lupa pesanku, jangan katakan pada Davin bahwa aku menelepon dan berbicara denganmu. Jangan katakan juga bahwa kita akan bertemu."


"Mmm, baiklah."


"Sampai bertemu besok." Chris menutup teleponnya.


Chris tersenyum, dia memiliki cara kembali untuk bertemu dengan Davin. Kali ini dia harus berhasil membujuk Davin untuk memberikannya informasi tentang Ann. Chris sangat berharap kali ini, dia segera bersiap untuk pulang kerumahnya. Chris akan menuju kota tempat tinggal El dan Davin seorang diri.


"Halo, Jodi." Chris kembali menelepon.


"Ya tuan?"


"Besok kau gantikan aku sementara di kantor."


"Tuan mau kemana?"


"Aku mau pergi sekitar dua hari."


"Baik tuan." Jodi tidak lagi bertanya, dia takut menyulut emosi tuannya yang sejak tadi terlihat kesal.


Chris memutuskan sambungan telepon dan segera pergi meninggalkan kantor. Dia melajukan mobilnya menuju rumah, dia ingin istirahat sebentar sebelum pergi ke luar kota.


"Rumit sekali, demi kau aku bahkan harus berkendara jauh keluar kota, Ben."


...****************...