
"Kalian belum menemukan wanita itu?"
"Belum, tuan."
"Kalian harus menemukannya dengan cepat, bagaimanapun caranya!" Pria itu mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
"Kami akan terus berusaha, tuan."
"Baiklah, pergilah Gil."
Gil dengan segera meninggalkan ruangan tuannya dengan perasaan takut yang menyelimutinya. Dia tahu emosi tuannya saat ini sedang tidak stabil, dalam hitungan detik bisa saja emosinya meledak. Dia harus segera memerintahkan orang-orangnya agar segera menemukan wanita yang di cari oleh tuannya.
Setelah Gil keluar dari ruangannya, pria yang dipanggil tuan itu memukul meja dengan keras, dia terlihat sangat kesal dan marah. Dia terus mengumpat dengan kata-kata kasar, dia belum menemukan wanita itu sehingga membuatnya sangat marah saat ini. Pria itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Chris, sepertinya aku butuh bantuanmu." Pria itu berbicara pelan.
"Apa itu? Sepertinya sangat mendesak hingga kau menghubungiku." Chris terdengar tertawa.
"Ya, ini sangat mendesak."
"Apa yang harus ku lakukan, Ben?"
"Kau hanya perlu mencari keberadaan seorang wanita, aku akan mengirimkan fotonya sekarang juga." Ben segera mengutak-atik laptop di depannya dan mengirimkan foto seorang wanita.
"Hmmm, sangat cantik. Apakah ini wanita yang kau nikahi secara paksa waktu itu?" Chris terdengar bergumam.
"Ya, aku sudah mencarinya selama lebih dari lima tahun."
"Apa? Kau tidak menemukannya selama itu? Sepertinya wanita itu sangat pandai bersembunyi." Chris terkekeh.
"Dia benar-benar menghilang dariku."
"Apa kau sungguh mencintainya, Ben?"
"Kau pikir aku akan menikahi seseorang tanpa cinta?"
"Tapi kau memaksanya untuk menikah, apa dia juga mencintaimu?"
"Entahlah." Ben tersenyum masam.
"Hmmm, ku harap wanita itu juga memiliki perasaan yang sama denganmu." Chris terdengar bersimpati.
"Hei, jangan mengasihaniku." Ben terlihat kesal.
"Aku tidak mengasihanimu." Chris terbahak.
"Sudahlah, segera lakukan tugasmu Chris."
"Hei, apa kau baru saja memerintahku?"
"Ya, jika kau tidak menemukannya akan kupatahkan satu lenganmu."
"Cih, kau sangat kejam, tapi kau takkan bisa mematahkan lenganku."
"Kenapa?"
"Tulangku dari besi." Chris tertawa dengan candaannya sendiri.
"Terserahlah."
Ben mematikan sambungan telepon tanpa menghiraukan makian dari Chris. Dia masih terlihat kesal, bagaimana bisa dia belum menemukan wanita yang di carinya selama bertahun-tahun. Ben memegang pelipisnya yang terasa nyeri, dia harus menemukan lebih banyak cara untuk segera bertemu dengan wanita itu. Ben menyandarkan diri ke sandaran kursi kerjanya, dia mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan wanita itu.
Ben saat itu sedang berhenti di pinggir jalan, dia sedang menghubungi seseorang lewan teleepon. Tiba-tiba seorang wanita masuk ke mobilnya dan menyuruhnya untuk segera membawanya mengejar sebuah mobil.
"Pak sopir, tolong kejar mobil berwarna putih itu." Wanita itu menunjuk mobil yang sedang melaju melewati mobil Ben.
"Kau siapa?"
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, kau cukup mengejar mobil itu, aku akan membayarmu lebih."
"Aku bukan sopir."
"Tolonglah pak, ini sangat penting bagiku, jika aku kehilangan jejak mobil itu tamatlah riwayatku."
"Memangnya kenapa?"
"Pak, tolong kejar saja dulu mobil itu, aku mohon."
"Baiklah, tapi bayaranku sangat mahal, apa kau mampu?"
"Ya, aku akan membayarmu dengan sangat mahal." Wanita itu mengangguk, dia tidak sadar dengan apa yang diucapkannya, saat ini dikepalanya hanyalah bagaimana cara agar bisa mengejar mobil itu."
"Baiklah, deal?" Pria itu menatap wanita di sampingnya.
"Deal." Wanita itu mengangguk.
Ben segera melajukan mobilnya membelah jalanan, dalam hitungan menit dia sudah berada dibelakang mobil berwarna putih yang di tunjuk wanita tadi. Dia mengatur jarak aman agar tidak terlihat seperti membuntuti mobil itu. Wanita disampingnya bertepuk tangan kecil, dia terlihat sangat girang melihat mobil berwarna putih didepannya.
"Wahh, kau sangat hebat pak sopir."
"Sudah kubilang aku bukan sopir." Ben terlihat kesal, dia melirik sekilas wanita itu dari balik kacamata hitamnya.
Wanita bodoh! apa dia buta sehingga tidak melihat penampilanku? Sejak kapan seorang sopir terlihat keren sepertiku? Sejak kapan seorang sopir setampan aku? Batin Ben.
"Lalu apa? Kau mangkal di pinggir jalan, bukankah kau menunggu penumpang? Dan lihat kemampuan mengemudimu sungguh luar biasa, kau pasti mempunyai pengalaman kerja sebagai sopir sangat lama."
"Sangat sulit menjelaskan kepada wanita bodoh."
"Apa kau mengataiku bodoh?"
"Apa kau merasa?"
"Tidak, jika aku bodoh aku tidak akan berada disini."
"Memang apa yang sedang kau lakukan?" Ben menatap sekilas name tag yang tegantung di leher wanita itu.
"Apa namamu Annika? Kau seorang wartawan?"
"Darimana kau tahu?"
"Name tag mu."
"Oh, aku lupa menyembunyikannya." Wanita itu segera menyimpan name tag kedalam tasnya.
"Lihat, kau bahkan sangat ceroboh, kau memata-matai seseorang namun kau memperlihatkan jati dirimu."
"Aku tidak sengaja, wanita itu berucap santai."
"Siapa tadi namamu? Annika? Oh ya Annika." Ben mengingat-ingat.
"Panggil saja aku Ann." Wanita itu terus mengawasi mobil di depannya.
"Jadi, tugas sepenting apa yang kau kerjakan saat ini?"
"Ini tugas rahasia, aku takkan memberitahukan kepada orang asing."
"Aku akan berhenti sekarang jika kau tidak memberitahukannya."
"Hei, apa kau baru saja mengancamku?"
"Aku tidak mengancam, aku hanya memberi pilihan."
"Baiklah, aku akan memberitahukanmu sedikit, tapi kau jangan membocorkannya kepada siapapun."
"Aku tidak janji."
"Ini sangat rahasia, berjanjilah."
"Baiklah, aku berjanji." Ben mengangguk.
"Di dalam mobil itu adalah istri dari pimpinanku, kemungkinan dia akan berkencan dengan selingkuhannya. Aku ditugaskan untuk benar-benar membuktikan jika istri pimpinan benar-benar berselingkuh."
"Itukah tugas pentingmu?" Ben terbahak, dia tidak bisa menahan tawanya.
"Itu benar-benar penting."
"Apa pentingnya? Kau hanya mengurusi kisah cinta orang lain."
"Ini penting, menyangkut kesetiaan yang dipertaruhkan."
"Apa hubungannya denganmu? Sehingga kau mau direpotkan seperti ini?"
"Aku wartawan hebat, pimpinan tahu itu sehingga aku ditugaskan untuk ini, aku tidak bisa menolak dia mengancam aku akan kehilangan pekerjaan jika menolaknya, dan dia akan membayar mahal untukku jika bisa melakukan ini. Aku tak punya pilihan lain." Ann terlihat muram.
"Benarkah, karirmu benar-benar dipertaruhkan hanya karena hal ini?" Ben terkekeh.
"Ya, karena itu aku tidak boleh gagal dalam hal ini."
"Aku akan membantumu sekali ini, aku tidak tega jika kau kehilangan pekerjaanmu hanya karena hal konyol." Ben terkekeh.
"Hei, lihat mobil itu berbelok."
"Sepertinya mobil itu akan memasuki sebuah rumah."
"Oh Tuhan, rumah siapa itu? Kau lihat banyak sekali penjaganya, bagaimana bisa aku mengikutinya masuk kedalam sana?" Ann mengusap wajahnya kasar.
"Bukankah katamu kau adalah wartawan yang hebat, kau pasti punya cara bukan?"
"Saat ini pikiranku sedang kacau, aku bahkan sangat sulit untuk berpikir." Ann menatap sekilas pria yang dipanggilnya sopir sejak tadi.
"Apa kau perlu bantuanku lagi?" Ben mengerling matanya kepada Ann dari balik kacamata hitamnya.
"Apa kau akan minta bayaran lebih lagi?"
"Tentu saja."
"Bagaimana jika aku tak mampu?"
"Kau bisa membayarnya dengan yang lain." Ben menggoda wanita itu.
"Tidak, aku hanya akan membayarmu dengan uang, tidak ada bayaran dengan bentuk lain."
"Apa kau yakin kau mampu membayar dengan uang?"
"Ya, aku yakin mampu." Ann mengangguk, dia berpikir bahwa bayaran tinggi yang di tawarkan pimpinannya akan dia berikan semua pada pria ini jika berhasil membantunya. Ann tidak membutuhkan uang itu, dia hanya ingin karirnya tetap berlanjut.
"Baiklah, jika kau tidak mampu aku akan meminta bayaran lain."
"Huh, aku yakin mampu."
"Mmm, baik, jadi apa yang kau mau dari dalam rumah itu?"
"Aku hanya ingin mendapatkan foto istri pimpinan dengan selingkuhannya."
"Baiklah, kau tunggu sebentar." Ben membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu.
"Hei, kenapa kau diam saja?" Ann menatap kesal kepada Ben.
"Tenanglah, kau tunggu sebentar." Ben tersenyum.
"Mmm baiklah, siapa namamu?" Ann bertanya.
"Ben."
"Ben, jadi apa yang kau lakukan sekarang? Apa hanya menunggu dan kau akan mendapatkan foto dari dalam rumah itu? Konyol sekali." Ann tersenyum mengejek.
"Sudah kubilang tenanglah." Ben tersenyum misterius.
...****************...