
El tiba di tempat parkir, dia memasuki mobil dan duduk diam bersandar di kursi kemudi. El merasa sedikit penasaran dengan masalah yang terjadi antara Davin dengan Chris. Entah kenapa El melihat sorot mata Davin sangat berbeda saat menyuruhnya pergi tadi. Sorot mata marah yang tertahan, apa sebenarnya yang terjadi antara mereka? Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul dikepala El membuat kepalanya terasa sedikit pening.
El menghembuskan nafasnya pelan, menutup matanya sebentar karena mulai bosan menunggu. Tiba-tiba El mendengar suara ketukan di kaca jendela mobil yang membuatnya tersentak dan membuka mata. El menoleh, dia melihat seseorang tersenyum manis dengan wajah hampir menempel di kaca. El tersenyum lebar melihatnya karena sudah beberapa hari tidak bertemu dengan orang itu.
"Will!" El berseru senang.
"Hai." Will melambaikan tangannya pelan, berjalan menggeser sedikit badannya menjauhi pintu mobil agar El dapat membukanya.
"Bagaimana keadaanmu Will? Aku belum sempat menjengukmu."
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Will terkekeh.
"Bagaimana bisa kau tahu aku ada disini?"
"Aku tak sengaja melihat mobilmu terparkir disini." Will menjawab santai.
"Kau memang selalu menemukanku dimanapun aku berada." El tertawa kecil.
"Ya, entah kenapa aku selalu melihatmu dimanapun kau berada." Will terkekeh membuatnya seakan bercanda, namun sebenarnya dia tulus mengatakannya.
"Bisa saja kau memata-mataiku." El tertawa.
"Ya, sepertinya." Will tersenyum.
"Will, aku sangat bosan menunggu om Davin didalam mobil. Apa kau lapar? Bagaimana kalau kita makan?"
"Ya, kau memang selalu mengajakku makan, terakhir kali kau mengajakku makan cake saat itu berat badanku naik beberapa kilo."
"Hei, kau berlebihan." El menepuk bahu Will.
"Aww." Will merintih.
"Apa? Kau masih kesakitan?" El panik.
"Sedikit, luka lebam memang sembuh agak lama." Will terkekeh sambil memegangi bahunya.
"Ayo kita makan." El menarik tangan Will tanpa memperdulikan protes dari pemiliknya.
El membawa Will kesebuah tempat makan mewah yang ada di mall tersebut. El memesan banyak makanan untuknya dan Will. Perutnya terasa lapar karena tadi dia belum sempat menghabiskan camilannya namun sudah diusir oleh Davin. El tersenyum saat melihat pelayan menata banyak makanan di atas meja.
"Sebanyak ini kau memesan makanan?" Will ternganga melihat begitu banyak makanan di meja.
"Makanlah, kau harus sehat kembali." El menyodorkan makanan-makanan itu kepada Will.
"Baiklah, aku akan makan." Will tersenyum.
Mereka akhirnya menghabiskan makanan bersama-bersama. El yang memang sangat suka makan terlihat bersemangat menghabiskan makanannya. Berbeda dengan Will, pria itu terlihat sangat tenang menghabiskan makanannya dengan pelan.
"Will, bagaimana bisa kau mengalahkan begitu banyak orang dan menyelamatkanku kemarin?" El berbicara setelah menghabiskan makanannya.
"Hmmm." Will yang masih menikmati makanannya hanya berdehem.
"Ya, ya, jawablah setelah kau menghabiskan makananmu."
El menunggu Will menghabiskan makanannya, dia terus mengamati gerak-gerik Will yang sangat tenang dan santai. Berbeda dengan El yang kadang selalu tergesa-gesa dalam melakukan banyak hal. El bahkan sering ceroboh dalam mengerjakan sesuatu.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Will berkata setelah menyelesaikan makannya.
"Kau lambat sekali." El terkekeh.
"Aku tidak lambat, hanya tidak ingin tergesa-gesa sepertimu. Kau makan sangat cepat seolah takut akan ada yang mencuri makananmu."
"Ya, aku takut kau mengambil makananku."
"Cih, aku tidak akan mengambil makananmu yang banyak itu."
"Bisa saja kau tiba-tiba ingin makananku." El tak mau kalah.
"Ya ya terserahmu saja, sampai kapanpun tidak akan selesai jika berdebat hal itu denganmu sekalipun tidak penting." Will mengalah.
"Itu kau tahu." El tertawa kecil merasa kemenangan perdebatan menjadi miliknya.
"Huh." Will mengelap mulutnya dengan tissu.
"Will, jawab pertanyaanku tadi."
"Yang mana?"
"Bagaimana bisa kau mengalahkan banyak orang kemarin?"
"Entahlah, aku juga merasa sedikit tidak sadar."
"Apa kau mabuk? Apa sebelum menyelamatkanku kau minum-minum?"
"Sembarangan, aku tidak pernah minum."
"Haha, kau bilang sedikit tidak sadar."
"Maksudku tidak sadar dengan tindakanku karena aku hanya ingin menyelamatkanmu saat itu sehingga tidak terlalu memikirkan apapun lagi."
"Bagaimana bisa kau tahu aku dibawa oleh orang-orang itu?"
"Aku tidak sengaja lewat di depan rumahmu saat itu dan melihat mobilmu terparkir disana. Aku penasaran kenapa kau ada disana padahal aku baru saja mengantarmu pulang kerumah om mu." Will berbohong.
"Apa setelah mengantarku kau tidak langsung pulang?"
"Tidak, malam itu aku sedang berbelanja beberapa keperluan."
"Benarkah?"
"Ya."
"Lalu, bagaimana kau tahu aku diculik hanya karena melihat mobilku terparkir didepan rumah?"
"Aku bertanya pada pelayan apa kau ada, namun pelayan mengatakan kau tidak ada. Dari sanalah aku tahu karena saat aku tiba dirumahmu aku melihat beberapa mobil pergi dari sana."
"Ya, entah kenapa kebetulan-kebetulan itu selalu membawaku padamu." Will terkekeh.
"Terima kasih Will, kau benar-benar selalu ada untukku."
"Tak apa, aku hanya melakukan kewajiban untuk menolong orang dalam kesusahan sepertimu."
"Hei, aku tidak kesusahan tahu? Aku hanya dalam bahaya."
"Sama saja."
"Will, menurutmu siapa yang menculikku kemarin?"
"Aku juga tidak tahu, apa kau mau tahu? apa kita harus lapor polisi dengan kejadian kemarin?" Will menatap El.
"Tidak, tidak, aku tidak terluka sedikitpun, aku tidak ingin memperpanjang masalah."
"Apa kau tidak takut atau trauma dengan kejadian kemarin El?"
"Tidak sama sekali."
"Ternyata kau memang gadis yang lumayan hebat, biasanya seseorang akan ketakutan selepas kejadian seperti itu."
"Hmmm, mungkin karena aku tidak terluka sehingga aku tidak merasa trauma sedikitpun."
"Benarkah?"
"Ya, mungkin juga karena ada orang-orang baik yang selalu berada didekatku seperti kau sehingga aku selalu baik-baik saja."
"Baguslah, aku senang mendengar kau baik-baik saja, itu juga yang selalu kuharapkan." Will tersenyum.
"Mmm menurutmu apa tujuan orang-orang itu membawaku pergi?"
"Entahlah El, hal itu masih abu-abu bagiku." Will berbohong kembali.
Maafkan aku terus berbohong padamu El, kau tak harus tahu semuanya dan seharusnya kau tidak terlibat dalam masalah yang tak berhubungan denganmu. Will.
"Apa mungkin mereka salah orang? Bisa saja bukan?"
"Ya bisa saja, yang terpenting sekarang jika kau bertemu dengan orang asing kau harus berhati-hati. Jangan cepat percaya pada seseorang yang tidak kau kenal."
"Ya, gaya bicaramu persis sekali dengan om Davin." El mengerucutkan bibirnya ke arah Will.
"Aku mengatakannya agar kau tak lagi sembarangan mempercayai orang asing dan tidak mengalami hal seperti kemarin lagi."
"Iya Will, aku mengerti dan kau tidak perlu mengulang-ulang nasehatmu." El menyela sebelum Will berceramah panjang lebar.
"Ingat jangan lupakan apa yang kukatakan."
"Ya, dasar cerewet."
"Memang."
"Will, apa kau sudah kerumah sakit?" El kembali memperhatikan luka lebam yang masih terlihat di wajah dan lengan Will.
"Aku tidak kerumah sakit, tapi aku memanggil dokter untuk datang kerumah."
"Mmm jika kau perlu sesuatu kau bisa panggil aku saja nanti."
"Kau tidak perlu merepotkan diri, sebentar lagi aku akan sembuh."
"Sombong sekali, kuperkirakan lukamu itu masih lama sembuhnya."
"Sebentar saja jika aku mengikuti saran dokter."
"Ya, ya, lihat itu wajah tampanmu sudah tertutup dengan luka-luka lebam, kau seperti habis melakukan operasi plastik." El tertawa mengejek Will.
"Sembarangan sekali."
"Aku membayangkan saat sembuh wajahmu berubah tidak seperti wajahmu yang dulu." El semakin terbahak.
"El hentikan." Will memasang wajah kesal.
"Kau lucu sekali, Will."
"Apa kau kira aku badut sampai kau tertawa begitu?"
"Sekarang hampir mirip." El mengusap air mata di sudut matanya.
"Receh sekali bahan tertawaanmu El."
"Ya, hal receh pun bisa membuatku tertawa." Tawa El mulai mereda.
"Om mu sudah datang El."
"Kau bercanda? Dia tidak tahu aku disini."
"Itu." Will menatap ke arah pintu masuk.
"Bagaimana bisa dia dengan santainya menuju kesini padahal aku tidak memberitahukan dimana aku berada." El menatap ke arah pandangan Will.
"Pulanglah, kau lihat wajahnya tampak tak bersahabat." Will berbicara setengah berbisik.
"Ya, aku harus pulang sekarang Will." El segera berdiri. saat Davin sudah berada didekat meja mereka.
"Ya." Will mengangguk.
"Ayo pulang, El." Davin menatap El tanpa ekspresi apapun.
"Ya om."
Davin berbalik kembali berjalan menuju pintu keluar diikuti El dibelakangnya. El beberapa kali berbalik melambaikan tangannya pada Will. Will hanya membalas lambaiannya dengan tersenyum. Dia menatap El hingga menghilang dari pandangannya.
...****************...