
Hari ini adalah hari yang sibuk bagi El. Dia sedang berada di kampus untuk mengumpulkan berkas-berkas pengajuan sidang pertama yang akan dilaksanakan minggu depan. Hari ini semua berkas sudah El lengkapi, dia hanya perlu menyiapkan bahan presentasi untuk sidangnya nanti.
Hari sudah sangat sore dan semakin gelap, sudah lewat satu jam dari jam pulang kampus. El dan beberapa teman perempuannya yang juga akan melakukan sidang masih berada di aula terbuka kampus. Mereka baru saja akan pulang karena tadi mereka sedang asik bertukar pikiran tentang penelitian hingga tak terasa hari sudah gelap. Mereka akhirnya beranjak dari duduk dan berjalan pelan beriringan keluar dari kampus.
"Oh, sepertinya ponselku ketinggalan di kursi." El mencari-cari ponselnya di dalam tas.
"Aku akan menemanimu mengambilnya." Valleria menawarkan diri.
"Tak apa Val, aku akan mengambilnya sendiri, kalian duluan saja ke tempat parkir."
"Kau yakin? Apa kau tidak takut? Hari sudah gelap." Eren menunjuk langit yang sudah meredup.
"Hei, aku bukan penakut." El terkekeh.
"Baiklah, kami akan menunggu di parkiran." Dinda menimpali.
El berlari kecil menuju aula terbuka tempat mereka bersantai tadi. El melewati koridor yang biasanya ramai, tapi saat ini terlihat sepi dan sedikit menakutkan. El sampai di aula dan dengan cepat mencari ponselnya, benar saja ponsel itu tergeletak di kursi samping tempat duduknya tadi. El mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tas. El kembali berlari kecil meninggalkan aula. Saat hampir sampai di ujung koridor, El merasakan seperti ada yang mengawasinya. El dengan cepat menoleh kembali ke belakang, namun tak ada siapapun.
Mungkin hanya perasaanku saja. Pikir El.
El kembali berlari kecil meninggalkan koridor dan menuju ke parkiran, teman-temannya masih menunggunya disana. El dan teman-temannya akhirnya pulang menggunakan mobil mereka masing-masing. El melajukan mobilnya menuju toko kue yang biasa didatanginya. Setelah tiba di tempat itu El segera mengambil beberapa kue di etalase kaca dan membawanya ke kasir. El membayar semua kue yang di belinya, dia ingin segera cepat pulang. Dia takut mendapat tatapan dingin dari Davin lagi jika pulang terlambat.
"El."
"Kak Jeff? Sedang apa disini?"
"Hanya mampir."
"Tidak membeli apapun?"
"Tidak." Jeff menggeleng.
"Apa kakak baru pulang dari kantor?" El melihat Jeff masih memakai kemeja dan jas kerjanya.
"Sudah sekitar satu jam yang lalu."
"Oh ya?"
"Ya, banyak sekali belanjaanmu El."
"Hanya dua kotak." El tersenyum.
"Untukmu sendiri?"
"Satu untukku dan satu untuk Om ku." El terkekeh.
"Tuan, ini laporan bulanan pendapatan dan pengeluaran toko ini yang tuan minta." Seorang pelayan menyela pembicaraan mereka dan menyerahkan beberapa dokumen pada Jeff.
"Ya, pergilah." Pelayan itu dengan patuh mengangguk dan segera pergi.
"Itu laporan keuangan toko ini?" El terlihat heran.
"Ya."
"Kenapa pelayan itu memberikannya padamu?"
"Hmmm, sebenarnya aku pemilik toko ini."
"Benarkah? Kenapa aku baru tahu?" El tampak terkejut.
"Karena kau tidak bertanya." Jeff terkekeh.
"Kau yang tidak memberitahuku."
"Sudahlah, sekarang kau sudah tahu." Jeff tertawa kecil.
"Ya." El mengangguk.
"Ayo ikut aku ke atas, El. Aku sedang membuat resep baru, kuharap kau mau mencobanya."
"Maafkan aku kak, aku harus pulang sekarang, lain kali saja ya." El merasa tidak enak.
"Sebentar saja El, ku mohon."
"Tapi..."
"Ayolah." Jeff menarik tangan El tanpa mennghiraukan protes dari El.
Jeff membawa El ke dapur pribadi miliknya yang berada di lantai dua. Sesaat kemudian Jeff mengeluarkan kue dari dalam oven, dia menyuguhkannya di depan El. Kue itu terlihat sangat menggoda, wanginya sudah membelai pencium El seakan merayu agar El segera mencicipinya.
"Ini masih sangat panas." El menatap kue di depannya.
"Ya, tunggulah hingga dingin."
El sebenarnya ingin segera pulang karena hari sudah malam, dia takut terlambat lagi. Tapi Jeff seakan terus menahannya dengan berbagai cara. Jeff bahkan mengajaknya untuk membuat kue bersama, El benar-benar tidak enak untuk menolaknya. El menatap jam di pergelangan tangannya, sudah lewat jam makan malam.
Saat acara membuat kue selesai, El mengambil ponselnya. El tersentak kaget saat membuka ponselnya, dia melihat banyak panggilan tak terjawab dari Davin. Tidak biasanya Davin meneleponnya sebanyak itu. El akhirnya menghubungi Davin kembali, dia takut pria itu marah padanya.
"El?" Suara Davin terdengar dingin.
"Ya, Om?"
"Dimana kau?"
"Di toko kue." El bicara pelan.
"Siapa yang meneleponmu El?" Jeff tiba-tiba berdiri di belakang El.
"Sssstt." El menaruh telunjuknya di bibir mengisyaratkan agar Jeff tidak bicara.
"El, suara siapa itu?" Suara Davin terlihat meninggi.
"Mmm, teman Om." El sedikit takut.
"Pulang sekarang!"
"Iya Om."
El menutup sambungan teleponnya dan segera pamit pergi pada Jeff. El tampak sangat tergesa-gesa menuruni tangga, tanpa memikirkan apapun lagi dan tanpa menghiraukan Jeff, El melajukan mobilnya dengan cepat. Dia hanya ingin cepat sampai dirumah, dia benar-benar takut saat mendengar nada bicara Davin yang dingin padanya, dia tahu pastilah Davin merasa kesal padanya.
"Om?" El terkejut saat masuk rumah, Davin sudah berada di sofa ruang tamu.
Matilah aku. Batin El
"Ya, Om." Napas El sudah tidak beraturan, dia seakan merasa kejadian kemarin malam akan terulang kembali.
"Darimana saja kau, El?"
"Aku baru dari toko kue." El menunduk tak berani menatap Davin.
"Bukankah sudah kukatakan, pulanglah sebelum jam makan malam."
"Maafkan aku Om."
"Bersama siapa kau El? Siapa pria itu?"
"Seniorku di kampus dulu kak."
"Siapa namanya?"
"Kak Jeff."
"Kenapa kau bisa bersamanya?"
"Aku bertemu dia di toko kue."
"Apa dia yang membuatmu pulang terlambat?"
"Tidak Om." El menggeleng.
"Jangan bohong!" Davin tak sengaja meninggikan suaranya.
"Maaf."
"El berhati-hatilah dengan pria lain di luar sana." Davin merendahkan suaranya karena melihat El yang terus menunduk, raut wajahnya terlihat takut. Davin merasa menyesal telah membentak El.
"Ya, Om." El mengangguk lemah.
"Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa."
"Ya." El hanya mengangguk.
Kenapa kau semarah ini padaku? padahal biasanya kau tidak mempermasalahkan apapun saat aku pergi dengan Will, dia kan juga seorang pria. batin El
"Masuklah ke kamarmu."
"Om, apa kau marah padaku?" El memberanikan diri menatap Davin.
"Tidak." Davin mendekatkan dirinya pada El.
"Lalu?"
"Aku hanya khawatir padamu." Davin merangkul bahu El dan mengusapnya dengan lembut.
"Sungguh?"
"Ya." Davin mengangguk.
"Mmm, maafkan aku membuatmu khawatir."
"Ya, ku harap kau tidak mengulanginya lagi."
"Mmm, aku akan pergi ke kamarku, aku ingin mandi." El beranjak dari duduknya menuju kamarnya.
"El, tunggu."
"Ya?"
"Datanglah ke kamarku setelah kau selesai mandi?"
"Kenapa?"
"Nevan ada di kamarku, dia belum tidur karena mencari-carimu sejak tadi."
"Baiklah, aku akan kesana." El bergegas pergi ke kamarnya, dia ingin segera menemui Nevan dan memeluk anak itu.
El mandi dengan cepat, dia memakai pakaian tidurnya dan keluar dari kamar. El berjalan menuju kamar Davin, dia mengetuk pintu kamar itu dan menunggu pintu dibuka. El tidak berani membuka langsung kamar itu.
"Masuklah." Davin membukakan pintu.
"Ya." El mengangguk dan melangkah masuk ke kamar Davin.
"Lain kali kau tak perlu mengetuk pintu, anggap saja kamarmu sendiri." Davin duduk ke sofa.
"Mmm, aku tidak terbiasa masuk sembarangan ke kamar orang lain." El berjalan menuju kasur menghampiri Nevan yang sedang bermain, anak itu tampak mengantuk.
"Apa aku masih orang lain bagimu?"
"Tidak, kau salah satu orang terdekatku Om." El tidak ingin salah menjawab, bisa saja dia kena getahnya.
"Salah satu? Siapa lagi orang terdekatmu?"
"Keluargaku." El menjawab dengan jawaban paling aman.
"Baiklah." Davin sepertinya merasa puas mendengar jawaban El, dia tidak lagi mendebat.
"Halo sayang." El menyapa Nevan.
"Unty El." Nevan langsung memeluk El.
"Nevan sedang apa?"
"Main, unty kenapa seling pelgi sekalang?" Nevan duduk di pangkuan El
"Unty sedang sibuk sayang."
"Unty, usapkan punggungku."
"Baiklah." El paham jika Nevan sudah minta usapkan punggungnya berarti dia sudah mengantuk.
Nevan berbaring menyamping, El juga ikut berbaring disampingnya sambil mengusap-usap lembut punggung Nevan. Tidak lama Nevan sudah terlelap dalam tidurnya, El memeluk tubuh mungil anak itu hingga dia juga ikut terlelap.
Davin melihat El dan Nevan terlelap bersama. Davin tersenyum dan naik ke tempat tidur, dia berbaring disamping El dan memeluk kedua orang yang sangat disayanginya itu. Hatinya terasa sangat tenang setiap bersama dengan mereka, Davin terus memeluk mereka berdua hingga akhirnya dia juga ikut terlelap.
...****************...