
Dengan ragu Raka mulai menarik tanaman yang dijadikan tali untuk mengikat tubuh Will. Tangannya masih terus bergetar apalagi saat Will dan sosok itu semakin mendekat ke arahnya. Will dengan susah payah memegangi tubuh wanita itu dan membawanya agar bisa naik ke atas dibantu tarikan oleh Raka.
Dengan perlahan akhirnya mereka sampai di tempat Raka, tiba-tiba wanita itu memegang pergelangan kaki Raka dengan tangan yang berdarah-darah. Tentu saja Raka terkejut dan hampir menendang Will dan wanita itu, untungnya Will sempat menahan kaki Raka agar tidak menendangnya.
"Will, dia menakutiku." Raka menunjuk wajah wanita yang menyeringai padanya.
Will menggelengkan kepalanya melihat drama horor di depannya. Dia membantu wanita itu untuk duduk dan berpegangan pada salah satu pohon yang dijadikan sebagai penyangga tubuhnya. Wanita itu berpegangan erat pada pohon itu dan mulai mengatur napasnya yang terasa berat, dia sedikit merapikan rambutnya sehingga lebih terlihat seperti manusia.
"Siapa kau?" Will bertanya karena wanita itu sepertinya baik-baik saja walau terlihat sangat kelelahan dengan badan dipenuhi bercak darah dan noda tanah yang hampir mengotori seluruh pakaiannya.
"Ya, kenapa kau menakutiku?" Raka menimpali.
"Namaku Ann, siapa namamu bocah penyelamat?" Ann menatap Will, dia terkekeh seakan tak terjadi apa-apa saat itu.
"Will." Will menjawab.
"Dan kau bocah penakut? siapa namamu?" Ann beralih menatap Raka.
"Namaku Raka, dan aku bukan bocah penakut." Raka membantah.
"Kau terlihat sangat penakut."
"Kau yang sengaja menakutiku." Raka terlihat cemberut.
"Sudah, jangan berdebat." Will menengahi.
"Kau tahu Will? Dia menyeringai kepadaku tadi, dia terlihat mirip sadako."
"Aku hanya menakutimu karena sejak awal kau menyebutku setan." Ann tertawa kecil.
"Huh." Raka terlihat kesal.
"Kenapa kau ada disini?" Will terlihat heran.
"Ada beberapa orang yang ingin mencelakakanku."
"Benarkah?"
"Ya, aku terjatuh hampir ke dasar jurang, aku bersusah payah naik keatas sini hingga melihat kalian."
"Kau benar-benar terlihat seperti setan tadi." Raka kembali berucap.
"Ya, ya, dan kau ketakutan luar biasa." Ann menatap Raka dan menyeringai seperti tadi untuk menggoda Raka.
"Hei, berhenti menyeringai seram seperti itu kepadaku, kau bahkan masih bisa bercanda disaat seperti ini." Raka terlihat semakin kesal.
"Memang kenapa kalian bisa berada disini?"
"Kami dikejar para mafia." Will menjawab.
"Konyol, kenapa kalian bisa mencari masalah dengan mereka." Ann tersenyum masam mengingat dia berada disana juga karena mencari masalah dengan mafia.
"Ya, ini karena pikiran konyol kami." Will terkekeh.
"Apa yang kalian lakukan?" Ann mengerutkan alisnya.
"Kami menyusup ke markas mereka." Raka terkekeh, dia sudah tidak ketakutan lagi.
"Pantas saja, kalian sama saja cari mati." Ann tertawa kecil.
"Hei, kalian." Jay turun dengan mengikatkan tali panjang dari tanaman merambat yang disambung dan ditumpuk-tumpuk agar semakin kuat di tubuhnya. Jay tiba-tiba terhenti ketika melihat seorang asing bersama kedua temannya. Sejenak dia mengusap kedua matanya, memastikan penglihatannya.
"Apa aku tidak salah lihat?" Jay bertanya sambil terus menatap sosok wanita itu.
"Kenapa?" Raka pura-pura tidak tahu.
"Kalian bersama siapa?" Jay kembali bertanya.
"Aku bersama Will." Raka menunjuk Will disampingnya.
"Siapa lagi?"
"Tidak ada." Raka menggeleng.
"Sungguh?" Wajah Jay mulai memucat, dia jelas melihat sosok mengerikan yang sekarang menyeringai ke arahnya.
"Kau juga ketakutan bukan?" Raka terbahak melihat raut wajah Jay, dia merasa punya teman sesama penakut.
"Sudah, jangan bercanda lagi." Will berucap.
"Bercanda? Jadi siapa dia?" Jay akhirnya menunjuk ke arah sosok wanita yang juga tertawa kecil melihat ekspresi wajah Jay tadi.
"Ya, sekarang siapa yang lebih dulu naik?" Ann akhirnya berucap.
"Aku." Tentu saja Raka mengacungkan tangannya terlebih dahulu.
"Raka, kau bersamaku saja." Ann terkekeh.
"Tidak mau." Raka dengan segera mengambil tali buatan dari tanaman merambat yang di sodorkan oleh Jay.
"Apa ada orang lagi diatas sana?" Ann bertanya.
"Ya, teman kami, dua orang. Radit dan Edo." Will menjawab.
"Kami naik dulu, nanti aku akan melempar tali ini pada kalian." Jay berucap, mereka mulai merayap naik dengan berpegangan pada tali itu.
"Ya, hati-hati." Will melambai.
Tidak lama, dua tali menjuntai di dekat Will dan Ann. Mereka mulai mengikatkan tali itu pada tubuh mereka dan mulai bergerak pelan naik keatas. Mereka sangat berhati-hati, jika terjatuh kembali mereka tidak yakin akan mendapatkan kesempatan hidup untuk kedua kalinya. Dengan penuh perjuangan akhirnya mereka sampai di atas, mereka langsung merebahkan diri diatas rerumputan, merasa lega karena telah selamat dari jurang maut itu.
Setelah beristirahat cukup lama, Ann menunjukkan jalan pada bocah-bocah itu agar bisa keluar dari hutan. Ann memang cerdas, dia bisa mengingat dengan jelas jalan yang dilaluinya di dalam hutan tersebut. Ann tentu saja mengambil jalan sedikit memutar agar tidak melewati bangunan mengerikan tempat dia di sekap. Ann dan lima bocah tersebut berjalan dengan hati-hati hingga akhirnya mereka bisa keluar dari dalam hutan.
Waktu berlalu, mereka mulai menjalani hidup normal kembali walaupun kehidupan Ann tidak lagi seperti semula. Dia memilih menghilang dari orang-orang di masalalunya dan hidup sebagai orang yang berbeda. Will dan keempat temannya masih sering bertemu dengan Ann meskipun secara sembunyi, mereka sangat akrab walaupun berbeda usia jauh.
Suatu hari Will dan Jay kembali bermasalah dengan anak seorang mafia. Mereka terlibat perkelahian hanya karena masalah sepele, Jay tidak sengaja menyenggol anak itu saat berlari. Anak itu tidak terima walaupun Jay sudah meminta maaf, anak itu akhirnya memukul Jay. Jay yang melawan membuat suasana semakin keruh. Will yang datang dan berusaha melerai mereka juga terkena getahnya.
Tak disangka keesokan harinya Will dan Jay dikeroyok oleh beberapa pria menyeramkan. Mereka di sekap di pabrik terbengkalai dan ditinggalkan begitu saja dalam keadaan hampir sekarat. Mereka hanya bisa menunggu malaikat maut menjemput mereka.
Suara langkah kaki membuat Will mencoba untuk mendongakkan kepalanya yang terasa sangat berat. Tangan, kaki, badan keduanya terikat dan mereka dibiarkan dalam keadaan tertelungkup sehingga sangat sulit untuk bergerak. Will menajamkan pendengarannya saat mendengar suara langkah kaki, semakin lama suara langkah kaki itu semakin bergema ditelinganya. Dia tidak tahu siapa yang datang, dia pasrah jika yang datang adalah malaikat maut.
Will menatap sosok disampingnya yang juga benasib mengenaskan sama dengannya. Jay tampak tak bergerak sama sekali, namun Will masih mendengar suara deru napas bocah itu. Will mendengar suara pintu terbuka, dia tidak bisa melihat dengan jelas dalam gelap. Hanya suara langkah kaki yang semakin mendekat hingga berhenti tepat di depan wajahnya.
Sosok pria tinggi itu memperhatikannya, namun Will tidak bisa mendongak lagi. Lehernya seakan kaku, dia mencoba membuka mulutnya yang juga terasa kaku. Lidahnya bahkan kelu, hampir tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
"Siapa?" Hanya kata itu yang bisa terucap dalam mulutnya, kata yang hampir tak terdengar oleh seseorang didepannya.
"Apa kau perlu bantuan?" Sosok pria itu menyeringai dalam kegelapan.
"Ya." Tanpa basa basi Will mengangguk dengan segala sisa tenaganya.
"Memohonlah." Sosok itu kembali menyeringai.
Will sebenarnya sangat benci untuk memohon, dia tidak pernah memohon untuk mendapatkan sesuatu dalam hidupnya. Apa yang diinginkannya bisa didapatkan dengan mudah. Tapi saat ini dia tidak bisa mengikuti egonya, dia harus bertahan hidup walau harus memohon untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Dia tidak ingin bertemu malaikat maut yang seakan semakin mendekat.
"Aku mohon." Will berkata lirih.
"Dan berjanjilah untuk menuruti kemauanku nantinya." Pria itu berucap dingin.
"Ya." Will mengangguk, dia tak berpikir apapun lagi. Dia hanya ingin lepas dari ikatan dan keluar dari tempat itu.
Pria itu melepaskan ikatan pada tubuh Will hingga terbebas dari jeratan tali yang menyesakkan dadanya. Will dengan segera melepaskan ikatan Jay walaupun tubuhnya terasa sangat lemah. Jay tak bergerak, Will sangat khawatir. Dia harus segera membawa Jay kerumah sakit.
"Apa kau perlu bantuan lagi?" Pria itu tersenyum dingin.
"Ya." Will yang panik hanya bisa mengangguk.
"Memohonlah sekali lagi."
"Aku mohon." Will tidak peduli lagi dengan rasa gengsi, dia bahkan memohon dengan tulus demi Jay.
Pria itu segera memapah Jay keluar dari tempat itu, diikuti oleh Will yang berjalan terseok-seok di belakang. Pria itu membawa mereka masuk ke mobilnya dan melaju menuju rumah sakit. Will dan Jay mendapatkan perawatan selama beberapa minggu hingga kondisi mereka benar-benar membaik.
Will tersentak dari pikirannya saat melihat mobil Davin berhenti di dekat mobilnya. El keluar dengan riang dari dalam mobil, wajahnya terlihat sangat bahagia. Gadis itu berjalan menuju mobilnya. Sesaat El menoleh ke arah mobilnya dan menghampiri Will, Will segera keluar dari mobilnya.
"Kau sudah kembali Will?"
"Ya, baru saja." Will berbohong, padahal sudah berjam-jam dia menunggu Wll.
"Kenapa tidak pulang?"
"Ada yang harus ku urus dikampus setelah ini."
"Baiklah, aku mau pulang dulu." El melambai dan berlalu dari hadapan Will.
"Ya." Will membalas lambaian El.
Will berpaling menatap mobil Davin, disana pria itu sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Will memalingkan wajahnya dan langsung masuk kedalam mobil. Dia takut menjadi batu jika terlalu lama menatap mata Davin yang lebih mengerikan daripada medusa.
...****************...