
Aku pergi ke kampus pagi-pagi, hari ini aku kembali membuat janji dengan Bu Rika untuk konsultasi laporan usulan penelitianku. Sesampainya dikampus aku segera menemui Bu Rika di ruangannya, seperti biasa tanpa senyuman dia menyambutku dan mempersilahkan aku duduk. Bu Rika mulai memeriksa lembar demi lembar laporan skripsi milikku.
Mulutnya terlihat komat kamit membaca setiap kata demi kata tanpa mengeluarkan suara apapun. Aku mengamatinya dengan seksama, rasa gugup selalu datang setiap kali aku berhadapan dengan Bu Rika. Lebih dari satu jam aku duduk diam menunggu Bu Rika selesai, tak ada kata apapun yang kami ucapkan. Bu Rika sangat fokus pada laporanku, seakan tak ingin terlewati satu kata pun untuk mengoreksinya.
Bu Rika menulis beberapa kalimat di halaman terakhir seperti biasanya dan menutup laporan skripsi itu. Akhirnya dia mengakhiri sesi eksekusi terhadap laporanku dengan menyerahkan kembali benda tebal itu kepadaku. Aku menerimanya dengan senyuman walaupun Bu Rika tidak pernah membalas senyumanku. Dia lebih memilih untuk membetulkan kacamatanya daripada membalas senyum manisku yang sangat tulus ini.
"El." Dia menatap tajam ke arahku, tengkukku serasa meremang di buatnya.
"Ya, Bu?"
"Laporan skripsimu sudah lumayan bagus, semua yang saya koreksi kemarin sudah kamu perbaiki dengan baik. Saya sudah menuliskan sedikit saran untukmu dihalaman terakhir, silahkan kamu baca nanti. Kamu tidak perlu membawa laporan itu kepada saya lagi, silahkan langsung temui pak Tris dan serahkan laporannya. Jika dia setuju dalam minggu ini, maka kamu bisa menggelar sidang seminar pertama sekitar minggu depan." Bu Rika terlihat sangat serius.
"Baiklah ibu." Aku mengangguk-angguk sangat senang.
"Jika Pak Tris sudah setuju, silahkan temui saya kembali untuk mengatur waktu sidangmu."
"Baik ibu, terimakasih." Aku kembali mengangguk.
"Ya."
Aku izin pamit keluar dari ruangan Bu Rika, aku berjalan cepat meninggalkan ruangan itu. Setelah kurasa sudah jauh dari ruangan Bu Rika aku langsung melompat-lompat kegirangan. Tak ada siapapun disekitar sini karena koridor ini sudah berada di paling ujung lantai dua. Ruangan-ruangan di lantai dua memang lebih banyak diisi oleh dosen-dosen killer sehingga sangat jarang mahasiswa berkumpul disini jika tidak ada keperluan sama sekali. Mereka menganggap hawa di lantai dua sedikit mengerikan.
Aku tak berhenti tersenyum sambil memeluk dan menciumi laporan skripsi tebal ini. Tidak sia-sia kerja kerasku selama ini untuk menyusun laporan penelitian ini hingga akhirnya di setujui oleh dosen terkiller di kampus. Ini adalah suatu penghargaan besar untukku, aku harus merayakannya tapi dengan siapa?
Teman-teman akrabku sedang tidak ada dikampus, mereka masih harus menyelesaikan magang sehingga sudah beberapa minggu aku tidak bertemu mereka. Mereka memang lebih terlambat daripada aku karena beberapa alasan tertentu sehingga saat aku sudah selesai magang, mereka baru saja memulai.
Aku menuruni tangga dengan semangat, sesampainya di lantai satu aku berjalan dikoridor samping yang lumayan sepi, hanya beberapa mahasiswa yang sedang antre untuk konsultasi skripsi di depan ruangan para dosen. Aku melewati mereka semua dengan senyuman yang mengembang, ingin rasanya aku menunjukkan pada mereka bahwa laporanku sudah disetujui. Tapi tentunya tidak ku lakukan, bagaimanapun aku harus menghargai usaha mereka yang juga berjuang untuk usulan penelitian.
Aku kembali berlari kecil di ujung koridor lantai satu, namun nasib sial menimpaku. Aku menginjak lantai basah sehingga aku terpeleset dan jatuh. Aku menjerit tertahan, takut ada yang melihat bisa malu sendiri aku. Saat aku ingin bangkit tiba-tiba sebuah tangan menjulur ke arahku.
"Lain kali hati-hati." dia menggerakkan jari-jarinya agar aku segera menerima uluran tangannya.
"Will." Aku mendongak dan tersenyum melihat anak itu yang tiba-tiba sudah berada didepanku. Aku menggenggam tangannya dan dia membantuku untuk berdiri.
"Kenapa kau terlihat seperti kekanakan sekali hari ini, El?" Dia terkekeh.
"Apa maksudmu?"
"Kau berlari kesana kemari dengan wajah yang terlihat bodoh." Will tertawa.
"Hei, sejak kapan kau memata-mataiku?"
"Siapa yang memata-mataimu?"
"Terus, kenapa kau tahu apa yang ku lakukan, hah?"
"Hei, aku melihatmu sejak kau keluar dari ruangan Bu Rika, kau saja yang tidak menyadari keberadaanku."
"Benarkah? Aku tidak melihatmu sama sekali."
"Sepertinya kau rabun." Will tertawa meledekku.
"Sembarangan." Aku mengerucutkan bibirku.
"Kenapa kau terlihat sangat senang hari ini?"
"Kau tahu Will, laporanku sudah di setujui, aku akan melakukan sidang pertama beberapa minggu lagi, dan aku akan segera melakukan penelitian." Aku merasa sangat bangga.
"Ternyata kau hebat juga." Will tersenyum masam.
"Apa kau iri padaku wahai mahasiswa terpopuler di kampus." Aku meledek Will.
"Tidak."
"Kau terlalu percaya diri, El." Dia terkekeh.
"Huh, Will ikutlah denganku sebentar."
"Kemana?"
"Ikut saja." Aku menarik tangan Will.
Aku mendorong Will dengan paksa agar masuk ke dalam mobilku. Aku segera melajukan mobilku meninggalkan kampus. Will terus menerus menanyakan kemana aku akan membawanya.
"Hei, El, apa kau baru saja menculikku?"
"Ya." Aku mengangguk dan tertawa.
"Mau kau bawa kemana aku?"
"Diamlah Will, kau akan tahu nanti." Aku tersenyum cerah.
Will akhirnya diam, dia hanya mengamati jalan yang kami lalui. Aku memarkirkan mobil di depan toko kue yang pernah kukunjungi beberapa hari yang lalu. Aku mengajak Will untuk turun dan memasuki toko kue tersebut. Aku melihat-lihat kue yang ada dalam etalase kaca, aku mengambil satu kue ulang tahun berukuran sedang dan membawanya ke kasir.
Setelah membayar, aku mengajak Will naik ke atas. Di lantai dua terdapat kafe yang hanya menyediakan minuman. Aku baru pertama naik kelantai dua toko ini, aku terpesona melihat pemandangan kota dari atas sini. Dari sini kami bisa melihat aktivitas manusia yang tiada henti. Aku mengajak Will untuk duduk di sebuah meja yang sangat pas untuk melihat pemandangan di bawah sana.
"Untuk apa kita kesini?" Will bertanya karena merasa heran melihat apa yang kulakukan.
"Aku akan merayakan pencapaianku hari ini denganmu." Aku mengeluarkan kue yang ku beli.
"Kenapa harus denganku?"
"Hanya kau yang ku temui hari ini, Will. Kau kan tahu teman-temanku yang lain masih magang."
"Benar juga."
"Sekarang, berdoalah untukku." Aku menyuruh Will berdoa untukku.
"Hmmm, baiklah." Will menundukkan wajahnya. sepersekian menit kemudian dia kembali menatapku.
"Will, apa yang kau ucap dalam doamu?" Aku terkekeh.
"Itu rahasia." Dia tersenyum misterius.
"Huh."
"Kapan kita akan menyantap kue itu?"
"Hei, apa kau sudah tidak sabar?" Aku terkekeh.
"Ya, kue itu sangat menggodaku." Dia menatap kue diatas meja.
"Baiklah, aku akan memotongnya untukmu sekarang." Aku memotong kue dan memberikannya pada Will.
"Kelihatannya sangat enak." Will menerima kue yan berikan.
"Makanlah, ini kue spesial, potongan pertama untukmu." Aku terkekeh.
"Terima kasih." Will mulai menyendokkan kue itu ke mulutnya.
Kami menikmati kue perayaan sederhana itu berdua. Aku becerita banyak hal pada Will, seperti biasa dia menjadi pendengar dadakan yang setia mendengarkan segala keluh kesahku. Will adalah teman pria terdekatku, anak ini yang paling mengerti keadaanku kapanpun dan dimanapun, ku akui dia memang yang terbaik.
...****************...