
El menaiki tangga dengan pelan, dia tidak ingin menimbulkan suara yang akan menarik perhatian orang rumah, terutama Davin. Beberapa hari ini El memang lebih sering menghabiskan waktu diluar, dia sedikit menjaga jarak dengan Davin setelah kejadian waktu itu. Bukan karena apa-apa, dia hanya ingin mengendalikan sedikit perasaannya.
Pengasuh baru Nevan juga sudah mulai bekerja dari beberapa hari yang lalu sehingga El tidak terlalu khawatir dengan keadaan anak itu untuk sementara waktu walaupun Nevan selalu mencari-cari dirinya. El juga berencana untuk pulang kerumahnya terlebih dahulu. Dia benar-benar ingin menenangkan sementara kehidupannya yang terasa sedikit kacau akhir-akhir ini.
El masuk ke kamarnya dan segera menutup pintu dengan pelan. El terkesiap saat berbalik, dia melihat Davin sedang duduk di sofa kamarnya. Davin menatap El dengan tatapan tajam, El berusaha bersikap setenang mungkin.
"Om Davin?" El berjalan pelan mendekati Davin.
"Duduklah."
"Ya." El mengangguk, dia duduk di samping Davin.
Kemana saja kau hari ini, El?" Ekspresi Davin terlihat dingin.
"Mmm, membeli barang-barang keperluan." El menunjukkan kantong belanja yang di bawanya.
"Bersama siapa?"
"Sendiri." El menjawab.
"Kau sungguh sendiri?"
"Aku bertemu temanku saat berbelanja."
"Siapa?"
"Will." El menjawab jujur.
"Kenapa beberapa hari ini kau selalu pulang terlambat?" Davin masih berbicara tanpa ekspresi.
"Mmm, maaf."
"Untuk apa?"
"Karena pulang terlambat."
"Kau terlihat menghindariku beberapa hari ini, kenapa?"
"Mmm, tidak om, aku tidak menghindarimu."
"El, jangan bohong."
"Sungguh." El mengangguk.
"El, aku tidak suka kebohongan."
"Om, aku hanya ingin mengendalikan perasaanku padamu." Akhirnya El menjawab jujur, dia mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Kau tidak perlu mengendalikannya, bukankah kita sudah membicarakannya kemarin? Bukankah aku sudah menjelaskan kepadamu?" Davin menatap El.
"Om, kau tidak menjelaskannya, kau hanya memberikan teka-teki yang sama sekali tidak aku pahami." El menundukkan pandangannya.
"El bersabarlah, kau akan mengetahuinya nanti." Davin berbalik menghadap kepada El, dia menggenggam jemari El.
"Semuanya terlihat abu-abu bagiku." El menatap jemarinya yang di genggam oleh Davin.
"Kemarilah." Davin membawa tubuh El kedalam pelukannya.
Oh Tuhan kenapa kisah percintaanku serumit ini? batin El.
El hanya diam dalam pelukan Davin, dia tidak menampik bahwa pikirannya yang sedari tadi terasa rumit perlahan mulai tenang hanya karena di peluk pria itu. Mereka hanya diam, tidak berbicara sedikitpun selama beberapa saat.
"Om?" El akhirnya membuka mulutnya.
"Ya?" Davin masih tidak melepaskan pelukannya.
"Apa kau ada masalah dengan tante Jessi?" El teringat akan Jessi dan pria yang tidak dikenalnya tadi.
"Hmmm."
"Jelaskan sedikit saja, kenapa kalian tidak seperti pasangan suami istri lainnya. Kalian sudah menikah dan memiliki Nevan, tapi kenapa sekarang kalian tidak tidur satu kamar?"
"Kami memiliki sedikit masalah."
"Apa boleh ku tahu?"
"Kau tidak perlu tahu El."
"El, terkadang ada hal yang tidak bisa dipaksakan dalam suatu hubungan." Davin berbicara tanpa melepaskan pelukannya.
"Apa yang tidak bisa dipaksakan dalam hubungan kalian?"
"Ada beberapa hal."
"Boleh aku tahu?"
"Kau sangat cerewet seperti biasa." Davin melepaskan pelukannya dan mencubit kedua pipi El.
"Kau selalu menyembunyikan semuanya dariku." El mengerucutkan bibirnya.
"Kau terlalu kepo." Davin tertawa.
"Kau membuatku seperti seorang selingkuhan." El mendengus kesal.
"Jangan berpikir seperti itu." Davin kembali memeluk El.
"Bagaimana bisa aku tidak berpikir seperti itu? Aku adalah orang ketiga di antara hubungan kalian."
"El, kau satu-satunya."
"Kau selalu mengatakan hal konyol itu." El mengerucutkan bibirnya.
"El percayalah, apapun yang terjadi diantara kita tidak akan mengusik Jessi sedikitpun."
"Benarkah, bagaimana bisa?" El menatap Davin.
Apa karena tante Jessi juga mencintai orang lain? El hanya bisa menanyakannya dalam hati, dia tidak punya nyali untuk memberitahukan apa yang dilihatnya di mall tadi kepada Davin.
"Nanti kau akan tahu, sekarang tidurlah, sudah larut malam." Davin mengusap pucuk kepala El.
"Aku mau mandi sebentar." El melepaskan diri dari pelukan Davin.
"Kau akan mandi semalam ini?"
"Ya, badanku sangat gerah."
El beranjak menuju ruang ganti, dia mengambil baju tidur dan membawanya kedalam kamar mandi. El mandi dengan cepat dan memakai pakaiannya di dalam kamar mandi. Setelah selesai El keluar dari kamar mandi, dia melihat Davin masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Om, kau tidak kembali ke kamarmu?"
"Aku ingin menginap disini." Davin menaruh ponselnya ke atas meja.
"Menginap lagi?" El terbelalak.
"Ya, ayo tidur, aku sudah mengantuk." Davin beranjak dari sofa dan menarik tangan El menuju kasur.
"Tapi om."
Davin tidak memperdulikan protes dari El, Davin membawanya ke tempat tidur dan memeluknya erat. Walaupun sudah beberapa kali Davin memperlakukannya seperti itu tetap saja jantung El tidak pernah terbiasa. Jantungnya selalu berdebar tidak karuan tanpa bisa dikendalikan sama sekali.
Davin memejamkan matanya dan terlelap sambil terus memeluk El. Berbeda dengan El, dia belum bisa tidur sama sekali. El memandang wajah Davin yang sedang terlelap di depannya, El melonggarkan pelukan tangan Davin agar ada sedikit jarak diantara mereka. El menyentuh wajah Davin dengan jemarinya, dia mengusap lembut setiap inci wajah yang terlukis sangat indah itu.
Om, apa kau tahu bahwa tante Jessi bersama pria lain?Apa kalian saling berselingkuh satu sama lain? Kenapa hubungan kalian bisa seperti ini? El terus bertanya dalam hati.
"Apa kau sudah puas membelai wajahku?" Davin terkekeh kecil.
"Om, kau belum tidur?"
"Kau membangunkanku."
"Tidurlah lagi." El merasa malu karena aktivitasnya di pergoki oleh Davin.
"El, aku merindukanmu." Davin menatap lembut wajah cantik di depannya, El hanya terdiam tanpa menjawabnya.
Davin mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka bertemu, El terperangah tanpa melakukan apa-apa. Dia seperti terhipnotis dengan apa yang dilakukan Davin. Davin mendekatkan bibir mereka hingga hampir bertaut, namun sebelum benar-benar terjadi El tersadar dan segera membenamkan wajahnya ke dada Davin.
Bagaimanapun segalanya masih terasa serba salah bagi El. Dia tidak ingin terlalu jauh terjebak dalam hubungan itu yang nantinya bisa saja menjadi boomerang baginya. El masih ingin menyelamatkan hatinya dari kemungkinan terburuk, yaitu patah hati terdalam. El bahkan berusaha menghindar beberapa waktu terakhir ini, namun akhirnya dia tetap kembali berada dipelukan pria ini.
Davin seolah mengerti apa yang di rasakan oleh El, pria itu langsung mengeratkan pelukannya pada El. Davin mengusap lembut kepala gadis itu, dia tidak ingin membuat El merasa tidak nyaman di dekatnya. Davin memejamkan mata sambil terus memeluk El. Dia tidak ingin melepaskan gadis itu, baginya El adalah segalanya.
El mencoba menghilangkan segala pikiran buruk di kepalanya. Ego dalam dirinya ingin selalu bersama pria ini namun logika selalu berkebalikan, dia terus memupuk rasa bimbang dalam hati El. El seakan berperang dengan pikirannya sendiri hingga akhirnya dia terlelap dalam pelukan Davin.
...****************...