Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
MALAIKAT PENYELAMAT



Setelah kejadian hari itu Ann kembali bekerja seperti biasa, dia berusaha untuk selalu tenang walaupun dia merasakan bahwa kegiatannya saat ini selalu di awasi. Ann selalu berusaha berada di keramaian, hanya itulah yang bisa dilakukannya saat ini. Dia menghindari tempat-tempat sepi, dia juga selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar pulang tidak terlalu sore. Ann hanya bisa menghindari karena dia belum bisa menghentikan orang-orang yang sedang mengawasinya.


Ann bahkan tidak tahu apa yang diinginkan oleh orang-orang itu. Ann selalu merutuki dirinya sendiri, hanya karena foto istri pimpinan dengan selingkuhannya dia harus menanggung segala kekacauan ini. Hidupnya benar-benar tak lagi terasa tenang, dia bahkan tidak tahu harus mencari perlindungan kemana.


Hari ini dia mengerjakan banyak pekerjaan, malam ini mau tidak mau dia harus lembur. Ann merasa sedikit lega karena dia lembur bersama tiga orang temannya, setidaknya dia tidak sendirian. Seandainya tidak ada yang mengawasinya saat ini, Ann tidak masalah harus lembur sendirian. Dia memang terbiasa lembur hingga larut malam di kantor lamanya, bahkan dia sering tertidur di kantor hingga pagi menjelang, tapi itu jauh sebelum kekacauan terjadi di hidupnya.


"Aku akan membeli makanan untuk kalian sebentar." Arvin berucap sambil beranjak dari duduknya


"Ya." Ann dan yang lainnya mengangguk.


Tidak lama Arvin sudah kembali membawa kantong belanja besar berisi bungkusan-bungkusan makanan. Arvin mengeluarkan semua makanan itu dan membagikannya pada teman-temannya. Mereka segera memakan makanan tersebut hingga habis tak bersisa, mereka memang sedang kelaparan saat itu.


"Aku sangat mengantuk." Arvin terus saja menguap.


"Ya, aku juga, sepertinya aku kekenyangan." Hendry menimpali.


"Aku tak sanggup membuka mata lagi." Luna sudah menenggelamkan kepalanya diantara kedua lengannya diatas meja.


Ann juga merasa sangat mengantuk, Ann merasakan sesuatu yang aneh tapi dia tidak mampu berpikir lagi. Ann melihat teman-temannya sudah tertidur pulas, dalam sekejap Ann juga ikut tumbang menyusul teman-temannya, dia tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi.


Ann terbangun di sebuah ruangan asing yang tampak seperti gudang. Tubuhnya terikat di sebuah kursi, Ann berusaha menggerakkan tubuhnya namun sia-sia, ikatan itu sangat kuat. Suara langkah kaki mendengung ditelinga Ann, dia menoleh ke arah pintu. Ann melihat istri pimpinan di ikuti oleh dua orang pria berperawakan tinggi dan besar yang sama sekali tak dikenali oleh Ann.


"Nyonya?" Ann menatap Bella.


"Bagaimana rasanya terus di awasi dan dibuntuti?" Bella tersenyum di depan wajah Ann.


"Apakah nyonya yang melakukan semuanya?"


"Tentu saja." Bella tertawa.


"Kenapa?"


"Kau masih bertanya kenapa?" Bella menyentuh dagu Ann dengan tangannya.


"Maafkan saya nyonya."


"Semudah itu? Kau tahu? Kau hampir merusak kehidupanku."


"Ampuni saya nyonya." Sebenarnya Ann tidak sudi mengatakan hal itu, namun dia harus bertahan hidup setidaknya untuk saat ini.


"Kau harus di beri pelajaran." Bella kembali tertawa.


"Saya sudah menerimanya nyonya, saya bahkan tidak bekerja di kantor utama lagi."


"Apa kau kira itu cukup? Kau perlu pelajaran lebih agar kau berhenti untuk mencampuri urusan orang lain."


"Nyonya, tapi itu perintah suami nyonya sendiri." Ann tidak bisa lagi menahan kata-katanya.


"Kau berani mengatakan hal itu sekarang?" Bella menyeringai.


"Kau menerima tugas itu karena kau menginginkan imbalan besar bukan?"


"Tidak nyonya."


"Jangan bohong, dasar ja.lang rendahan."


"Bukankah seharusnya saya yang mengatakan hal itu pada nyonya?" Ann menyeringai, dia tidak peduli lagi dengan keadaannya, sekarang baginya percuma berbicara baik-baik pada Bella, wanita itu takkan mendengarkan.


"Apa katamu?"


"Dasar ja.lang rendahan." Ann tersenyum puas setelah mengatakannya.


Plakkkk


"Kurang ajar, jaga mulutmu." Bella menggeram, dia mengibaskan tangannya yang terasa panas setelah menampar pipi Ann dengan keras.


"Apa kau tersinggung? Bukankah itu benar?" Ann menyeringai, dia merasakan sesuatu yang hangat mengalir disudut bibirnya.


"Kalian berdua bereskan wanita ini, aku tidak ingin melihatnya masih berada di dunia." Bella keluar dari ruangan itu dengan geram.


Ann tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tangan dan kakinya terikat. Dia tidak bisa bergerak sama sekali, dia hanya bisa pasrah menunggu nyawanya dilempar ke alam yang berbeda. Ann tidak berharap banyak, dua orang pria bertampang menakutkan sudah berada di depannya terlihat seperti malaikat maut yang bersiap untuk mencabut nyawanya.


Diluar dugaan Ann, kedua pria itu tidak langsung mencabut nyawanya. Mereka keluar dari ruangan dan menguncinya, sepertinya mereka berencana membiarkan Ann di dalam sana hingga mati dalam kesendirian. Ann menghembuskan napasnya lega, setidaknya mati sendirian lebih baik baginya daripada mati di tangan kedua pria mengerikan tadi. Setidaknya Ann bisa menikmati hari-hari terakhirnya di dalam ruangan ini.


Ann ternyata tidak berputus asa, dia masih memiliki sedikit harapan, ya walaupun sangat sedikit tapi dia masih bisa berharap. Ann menatap sekitar ruangan yang dipenuhi barang loakan, Ann menemukan sebuah besi berkarat yang terlihat sedikit tajam di sudut ruangan. Ann mulai menggerakkan kakinya yang terikat dengan pelan, sedikit demi sedikit dia bisa menyeret kursi ke sudut ruangan.


Ann sudah hampir sampai ke tempat tujuannya, malang baginya dia terjatuh, tertimpa kursi pula. Ann mengutuki kursi yang terikat dengan tubuhnya, dia bersumpah akan menendangi kursi itu jika berhasil melepaskan diri. Bersusah payah Ann beringsut untuk mencapai tujuannya, tidak sia-sia dia berhasil meraih besi panjang berkarat tersebut. Ann berusaha berdiri dengan segala macam cara dan akhirnya dia berhasil.


Ann memulai misinya, dia menggesekkan tali yang mengikat tangannya terlebih dahulu pada besi karatan tersebut. Berjam-jam Ann melakukannya hingga akhirnya dia terlepas dari beban yang menjeratnya. Ann menepati janjinya, dia menendangi kursi yang sejak tadi menempel di tubuhnya.


Setelah selesai dengan aktivitasnya, Ann mencari-cari jalan keluar. Dia berusaha membuka pintu tapi sepertinya di kunci dan di beri beban untuk menahannya. Tidak ada jalan lain bagi Ann selain memecahkan kaca walaupun beresiko menimbulkan keributan. Ann segera memecahkan kaca dan keluar dari ruangan itu, tubuhnya terlihat terkena banyak goresan kaca, namun dia sama sekali tidak peduli.


Benar saja setelah Ann melompat keluar, kedua pria mengerikan itu segera mengejarnya dengan cepat. Seorang dari mereka berhasil mencekal tangan Ann, namun dengan segenap sisa tenaganya Ann mencoba melawan dengan memanfaatkan seni bela dirinya yang selama ini tidak pernah di gunakannya.


Pria itu sempat terjatuh namun dia bangkit lagi seakan pukulan dan tendangan Ann tidak berpengaruh sama sekali pada tubuhnya. Melihat hal itu Ann mengambil langkah seribu, dia memilih cara paling aman yaitu lari. Kedua pria itu kembali mengejar Ann, salah satu pria kembali mencekal tangan Ann. Ann kembali memukul dan menendang pria itu hingga terjatuh, Ann menendang sela-sela kaki pria itu dengan keras sehingga dia kesulitan untuk berdiri.


Pria kedua mengambil pisau tajam dari sakunya dan mulai menyerang Ann. Ann berusaha bertahan, beberapa goresan dari pisau mendarat di lengan Ann. Pria itu dengan sekuat tenaga mengarahkan pisau ditangannya kepada Ann, Ann berusaha menahan tangan pria itu. Tangannya mulai mengeluarkan darah karena pria itu terus menekan pisau mengenai telapak tangan Ann.


Duagggh..


Buk..


Bukk..


Ann melongo, dia seakan melihat seorang malaikat datang menyelamatkan hidupnya, yang tentunya bukan malaikat maut. Ann melihat Ben memukul dan menendang pria mengerikan itu hingga tersungkur tak berdaya. Tanpa sadar air mata Ann mengalir deras, segala rasa berkecamuk di dalam dadanya. Ann merasa sangat letih hingga akhirnya dia terjatuh dan pandangannya mulai terasa berkabut. Sebelum benar-benar tak sadarkan diri, Ann samar-samar melihat dua bola mata berbeda warna sedang menatap ke arahnya dengan rasa khawatir.


...****************...