Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
HADIAH UNTUK BELLA DAN MEGAN



Bella berjalan pelan keluar dari kamarnya, dia ingin pergi ke butik untuk mengambil pesanan gaun miliknya. Bella terbelalak saat keluar beberapa langkah dari rumahnya, dia melihat fotonya yang dirobek berhamburan diteras rumah. Tetesan darah berceceran disekitar robekan foto-foto itu. Dia berjalan mundur hingga punggungnya membentur pintu. Mata Bella mengamati sekitar rumahnya, tak ada siapapun disana.


Bella kembali masuk kedalam rumah dengan tergesa-gesa, dia masuk keruangan cctv. Bella mengamati setiap rekaman di layar monitor, tak ada apapun disana yang mencurigakan. Bella merasa ketakutan, dia mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya.


“Ada apa sayang?” Suara diseberang


“Apa kau masih diluar kota?”


“Ya, kenapa?”


“Kapan kau akan pulang?”


“Sekitar satu minggu lagi.”


“Baiklah.”


“Kenapa?”


“Tak apa-apa, kembalilah bekerja.”


“Baiklah.”


Bella menutup sambungan teleponnya, dia kembali ke teras untuk membersihkan serpihan foto tadi. Bella kembali terbelalak, teras tampak bersih dan mengkilap tak terlihat noda sedikitpun. Tidak ada foto-foto yang dirobek dan tak ada tetesan darah sama sekali disana. Bella megusap-usap kedua matanya, masih tak percaya dengan penglihatannya. Dia kembali menatap kesekitar, masih tak ada siapapun disana. Bella kembali masuk kedalam rumah, memanggil-manggil pelayan.


"Bi Nani."


“Ya, nyonya?”


“Apa bibi baru saja bersih-bersih di teras?”


“Tidak nyonya.”


“Bagaimana dengan yang lain.”


“Juga tidak nyonya, kami semua sedang membersihkan ruangan dapur dan pekarangan belakang.”


“Benarkah?”


“Ya, nyonya.”


“Baiklah, aku mau pergi dulu.”


Bella keluar dari rumah, dia melajukan mobilnya menjauh dari rumah. Tujuannya saat ini adalah rumah Megan, dia ingin menceritakan apa yang dialaminya pada hari kni. Bella memarkirkan mobilnya didepan rumah Megan, dia langsung masuk kerumah dengan tergesa-gesa.


Brugghh.


“Arrghhh.” Bella dan Megan sama-sama berteriak.


Bella mengusap-usap hidungnya yang menubruk kepala belakang Megan dengan keras. Bella yang berlari tergesa-gesa tak sengaja menabrak Megan yang sedang berjalan mundur, mereka berdua sama-sama terjatuh kelantai.


“Awww.” Megan mengusap-usap panta*nya yang menimpa lantai dengan keras.


“Hidungku sakit sekali.” Bella mendengus.


“Apa yang kau lakukan disini Bell? Kau mengejutkanku.” Megan berdiri.


“Kau yang kenapa? Kau berjalan mundur dan tak melihat-lihat.”


“Bell aku sedang ketakutan, seseorang sedang mengerjaiku.” Megan memelankan suaranya.


“Mengerjaimu?”


“Ya, ada paket di depan rumahku, disana tertera namaku.”


“Terus?”


“Saat kubuka isinya bangkai tikus.”


“Benarkah?” Bella menutup mulutnya, membayangkan saja membuatnya mual.


“Ya, tadi aku melemparkan kotak itu karena terkejut, aku masuk kerumah mengambil kantong sampah. Namun saat aku kembali, kotak dan bangkai tikus itu sudah tak ada.”


“Ternyata persis degan apa yang ku alami.”


“Kau juga?”


“Ya, seseorang merobek fotoku dan mengucurinya dengan tetesan darah diteras rumahku. Aku masuk kerumah untuk mengecek cctv, saat aku kembali foto dan tetesan darah itu juga sudah raib.”


“Lalu apa kau menemukan sesuatu di cctv?”


“Tak ada apapun disana.” Bella menggeleng.


“Bagaimana bisa?”


“Entahlah, sepertinya ada yang menyabotase cctv dirumahku.”


“Begitukah?”


“Ya, bagaimana degan cctv dirumahmu?”


“Cctv dirumahku rusak dari beberapa hari yang lalu, aku belum sempat memperbaikinya.”


“Hmmm, kira-kira siapa yang melakukannya?”


“Aku tak tahu.” Megan menggeleng.


“Mungkinkah wanita rendahan itu?”


“Bagaimana jika dia masih hidup?”


“Tidak mungkin Bella, dia sudah mati. Bukankah kita menyaksikan sendiri bagaimana dia jatuh kejurang yang dalam itu?”


“Bagaimana jika ada yang menyelamatkannya?”


“Tidak ada siapapun yang berada didalam hutan itu.”


“Bisa saja, bukankah sudah kubilang saat itu aku mendengar suara langkah kaki saat kita kembali kedalam bangunan.”


“Sudahlah, jangan mengada-ada itu hanya perasaanmu saja.” Megan terlihat semakin kesal.


“Sebaiknya kita kerumah Marry, jika dia mengalami hal yang sama kemungkinan ini ada hubungannya dengan wanita rendahan itu.”


“Baiklah, ayo kita pergi.”


Dua wanita itu bergegas keluar dari rumah dan pergi menuju rumah Marry. Pikiran mereka sedikit kacau karena terus menebak-nebak tentang siapa yang sedang mempermainkan mereka saat ini. Wajah keduanya bahkan terus terlihat tegang sepanjang perjalanan kerumah Marry.


Megan dan Bella tergesa-gesa masuk kedalam rumah Marry, mereka sudah tidak sabar untuk menceritakan apa yang mereka alami. Megan memanggil-manggil Marry namun tak ada jawaban, dia bahkan menggedor-gedor pintu kamar. Seorang pelayan datang dan memberitahu bahwa majikannya sedang berada di taman belakang rumah. Dengan segera Dua wanita itu pergi ke tamab belakang.


“Megan, Bella, sedang apa kalian disini?” Marry yang sedang bersantai duduk di kursi taman belakang menoleh kepada kedua wanita yang menghampirinya dengan wajah tegang.


“Marry, apa kau mengalami hal yang sama dengan kami?” Bella langsung bertanya tanpa basa basi.


“Apa maksudmu, Bella?”


“Kami sedang diteror, ibu.” Wajah Megan tampak tegang.


“Hei, jelaskan dengan pelan apa sebenarnya yang terjadi? Aku tidak mengerti.”


“Ibu, tadi Bella kerumahku. Dia mengatakan bahwa ada seseorang yang merobek fotonya dan mengucurinya dengan darah diteras rumahnya.” Megan menjelaskan.


“Terus?”


“Aku masuk kedalam rumah, saat aku kembali robekan foto dengan darah itu sudah tak ada.” Bella melanjutkan.


“Mungkin hanya seseorang yang iseng.” Marry menyeruput minumannya dengan santai.


“Tidak ibu, itu juga terjadi padaku, tidak mungkin hanya kebetulan.” Megan memegang lengan wanita yang sudah dianggapnya ibu itu.


“Apa seseorang juga merobek fotomu dan menumpahkan darah diatasnya?” Marry menatap Megan.


“Tidak, seseorang mengirimiku paket berisi bangkai tikus, dan saat aku masuk kerumah paket itu juga sudah menghilang.”


“Kapan itu terjadi?”


“Hari ini.” Megan menjawab.


“Kau juga?” Marry beralih menatap bella.


“Ya.” Bella mengangguk.


“Apa kalian punya masalah dengan orang lain.”


“Kurasa tak ada selain dengan wanita itu.”


“Siapa?” Marry mengernyitkan dahinya.


“Mantan menantumu.” Bella berucap tak suka.


“Aku juga tak punya masalah selain dengan wanita itu.” Megan cemberut, tak suka mengungkit kembali tentang wanita yang dibencinya.


“Apa mungkin Ann yang melakukannya?” Bella berucap.


“Bella, jangan menyebut nama wanita itu disini, kita sudah sepakat untuk tidak menyebut namanya lagi bukan?” Marry tak suka.


“Ya.” Bella mengangguk.


“Kan sudah kubilang tadi, dia sudah mati jangan kau sebut lagi namanya.” Megan menimpali.


“Aku hanya penasaran, apakah ini berhubungan dengan dia?”


“Semoga saja tidak, bukankah ibu tidak mengalami hal seperti itu?” Megan menatap Marry.


“Ya, aku tak mengalaminya.” Marry mengangguk.


“Jadi siapa yang melakukannya?” Bella mengusap wajahnya kesal.


“Entahlah, mungkin saja hanya orang iseng dan kebetulan kalian mengalaminya di hari yang sama.” Marry berucap santai.


“Ya, bisa saja.” Megan sudah mulai sedikit lega.


“Semoga saja.” Bella mengangguk walaupun pikirannya masih terus tertuju pada Ann.


“Bagaimana kalau kita pergi belanja agar kalian tidak terlalu tegang seperti ini.” Marry tersenyum kepada kedua wanita itu.


“Ayo kita pergi.” Wajah Megan seketika berubah cerah, dia sangat suka belanja.


“Baiklah, ayo.” Bella ikut senang.


Tiga wanita itu akhirnya menuju ke pusat perbelanjaan. Belanja segala hal yang mereka suka, seketika ketegangan dan rasa khawatir yang tadinya menguasai diri Megan dan Bella seketika menguap. Mereka terlihat sangat bersenang-senang dan melupakan peristiwa yang baru saja mereka alami.


...****************...