
Aku sedang duduk didepan jendela lantai dua minimarket milikku. Lantai satu adalah tempat umum yang bisa dimasuki siapa saja, namun lantai dua adalah tempat tinggal pribadiku yang tentunya sangat aman dan nyaman. Minimarket ini terlihat umum sehingga tidak akan ada yang menyangka bahwa ada seseorang yang penuh rahasia tinggal di atas sini.
Aku mengambil teropongku, menatap punggung pria yang berjalan keluar dari mobilnya memasuki sebuah kantor besar agak jauh diseberang sana dari tempatku. Aku memang sangat kurang kerjaan karena memata-matai suamiku sendiri. Aku bahkan memata-matainya sudah hampir enam tahun. Aku tahu ini menyiksaku namun tak ada pilihan untuk sementara ini, ada hal yang harus ku selesaikan dan ada seseorang yang harus kulindungi.
Setelah kejadian mengerikan waktu itu, aku tidak muncul lagi di kehidupan Ben. Bukan karena aku membencinya atau apapun itu, aku hanya perlu waktu untuk memulihkan segala keadaan rumit. Aku bahkan sangat merindukan berada dalam pelukan pria itu. Dia terlihat berbeda setiap hari setelah aku pergi, dia terus mencariku kemana-mana. Sebenarnya aku benar-benar tak tega melihatnya, tapi apa boleh buat aku harus melakukannya.
Inilah aku sekarang, aku berhasil lolos dari maut waktu itu namun aku juga kesulitan untuk hidup. Orang-orang Ben terus mencariku setiap hari, setiap jam, menit bahkan detik, bahkan setiap saat aku berpapasan dengan mereka. Aku merubah segala penampilanku hingga mungkin akan sulit dikenali oleh orang-orang yang tidak benar-benar dekat denganku.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya darimana aku bisa mendapatkan tempat tinggal yang bahkan dekat dengan kantor milik Ben? Tentu saja dari sobat bocahku yang sangat bisa diandalkan itu. Minimarket ini dibeli oleh Edo, bocah kaya raya yang selalu kesepian, pemilik banyak aset warisan kedua orang tuanya. Dia benar-benar memberikan tempat yang nyaman untukku.
Mungkin juga banyak yang bertanya-tanya kenapa aku lari dan bersembunyi? Kenapa aku tidak muncul dan mengatakan kepada Ben bahwa aku disekap dan juga di celakai oleh Ibunya, Megan dan juga Bella? Kenapa aku tidak melakukannya padahal aku tahu bahwa Ben pasti akan membelaku?
Jadi sebenarnya dari awal aku tidak berniat sama sekali untuk bersembunyi dari Ben. Aku hanya ingin memulihkan mentalku pasca penyekapan dan sekaligus menyembuhkan luka-luka akibat jatuh ke jurang. Aku ingin kembali pada Ben saat sembuh, tapi saat itu aku melihat Megan yang setiap hari merayu Ben. Wanita ular itu selalu datang hampir setiap saat, sepertinya wanita itu benar-benar berambisi untuk mendapatkan Ben. Aku mengamatinya setiap hari, aku merasa senang karena Ben tak merespon sama sekali.
Aku mengamati seberapa berani Megan terus menggoda Ben setelah hampir menghabisi istri pria itu. Aku akhirnya mengurungkan niat untuk kembali pada Ben selama beberapa waktu. Namun pada akhirnya aku benar-benar sulit untuk kembali pada Ben karena ternyata Davin melarangku, adikku yang sudah dewasa namun kadang sifatnya kekanakan. Anak itu tidak mau mendengarkan penjelasanku, dia yang keras kepala meminta agar aku tidak kembali pada Ben. Davin mengancamku bahwa dia tidak akan membantuku jika aku tak menurut apa katanya.
Dengan segala pertimbangan akhirnya aku menuruti kata Davin, saat itu aku berpikir mungkin hal itu adalah yang terbaik untukku. Aku bisa bertahan selama aku masih bisa melihat Ben dalam keadaan baik-baik saja. Aku mengharapkan kebaikan selalu menyertainya walaupun terkadang aku melihatnya tak seperti biasa. Raut wajah lelah selalu terlihat diwajahnya hampir setiap hari.
Selama ini aku juga merasa kesal saat melihat kehidupan Bella, Megan dan Ibu angkat Ben sangat baik-baik saja. Mereka bahkan selalu bersenang-senang tanpa mengingat sedikitpun hal yang terjadi kepadaku. Aku tak ingin balas dendam ataupun melakukan hal seperti yang mereka lakukan terhadapku. Aku hanya ingin memberi mereka sedikit pelajaran, setidaknya untuk membuat mereka jera dan mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.
Sampai saat ini Bella masih sering mencari informasi tentangku lewat orang-orang sewaannya, entah apa tujuannya aku tak terlalu mengerti. Aku tidak terlalu punya waktu untuk meladeni wanita itu, mungkin nanti akan ku beri dia pelajaran kembali. Berbeda dengan Megan yang hidupnya seakan sangat tenang setelah kepergianku, wanita itu seakan sangat yakin akan bisa mendapatkan Ben setelah aku menghilang. Awas saja kau Megan, ku pastikan kau tak akan bisa mendapatkan suamiku.
Sudah cukup menceritakan orang-orang itu, sebenarnya aku benci mengingat perlakuan mereka padaku. Kembali pada aktivitasku saat ini, memandangi Ben dari sini mengurangi sedikit rasa rinduku. Aku beralih pada tabletku, menatap pria tampan itu yang sekarang sudah duduk bersandar diruang kerjanya. Jika dulu aku hanya bisa melihatnya lewat teropong, saat ini aku sudah bisa melihatnya di layar karena seseorang telah meletakkan kamera tersembunyi disana.
Ben sangat jarang pulang kerumah setelah aku menghilang, dia lebih banyak berada di kantor dan terkadang pergi ketempat Richard. Ben bahkan lebih sering tidur dikantor daripada pulang kerumah. Beberapa waktu ini aku sering berpikir apakah Ben membenciku? Apalagi sejak awal beredar kabar bahwa aku lari darinya dan pergi dengan laki-laki lain. Tidak perlu diragukan tentang siapa yang membuat kabar bohong itu.
Aku tahu bahwa Ben pria yang berpikiran luas, dia tidak akan mempercayai sesuatu tanpa bukti. Tapi aku terkadang khawatir pikirannya mulai berubah karena aku tak kunjung kembali. Aku tidak bisa mencari semua informasi tentang apa saja yang dilakukan Ben dengan anak buahnya sehingga aku tidak tahu tujuan Ben mencariku sekarang, apakah karena merindukanku atau dia ingin membuktikan apakah aku benar-benar lari dengan pria lain. Selama ini aku hanya bisa melihat kesehariannya tapi tak tahu rencananya, yang kutahu hanya dia terus mencariku setiap saat. Aku tak bisa bergerak terlalu banyak untuk mencari tahu, jika gegabah mungkin akan mudah bagi mereka menemukanku.
Aku tidak bisa mendengar percakapan Ben dan anak buahnya. Aku juga tidak bisa membuntuti kepergian Ben ke tempat-tempat lain selain kerumah, kantor dan tempat Richard. Pergerakanku terbatas dan aku tak memiliki anak buah sebanyak anak buah Ben yang bisa kusuruh untuk membuntuti pria itu sepanjang hari. Aku hanya memiliki orang-orang kepercayaan yang hanya akan kuminta bantuan pada hal-hal penting ataupun mendesak.
Bagiku melihatnya seperti ini saja sudah membuatku merasa senang. Aku berharap bisa kembali padanya dalam waktu dekat ini, tentunya setelah membuat para nenek sihir itu mempertanggung jawabkan perbuatannya. Aku berharap keadaan rumit ini segera berakhir dan aku bisa kembali bersama Ben membangun kembali keluarga kecil kami.
...****************...
...****************...