
Hari pernikahan telah tiba, Ann akhirnya mengikat janji suci dengan Ben. Raut wajah Ann biasa saja, tak ada kesan bahagia seperti pengantin kebanyakan, berbeda dengan raut wajah Ben yang terlihat lebih cerah dibanding biasanya. Ann tidak menyangka dia akan menikah secepat ini dengan orang yang baru saja dikenalnya hanya karena alasan yang hampir tidak masuk di akalnya. Pernikahan itu jauh dari perkiraan Ann, terlihat sangat mewah dan elegan. Entah bagaimana Ben menyiapkan semua itu tanpa melibatkan dirinya sama sekali.
Di sebuah meja terlihat dua orang wanita yang menatap tidak suka pada Ann. Marry dan Megan tidak menyangka bahwa Ben akan menikahi wanita itu. Marry adalah ibu angkat Ben, dia selalu menginginkan agar Ben menikah dengan Megan. Namun harapannya seakan sirna setelah Ben mengatakan padanya bahwa dia akan menikah dengan wanita pilihannya sendiri. Marry tidak secepat itu menerima, dia bahkan sudah menyusun banyak rencana dikepalanya untuk menyingkirkan Ann dari kehidupan Ben. Begitu juga dengan Megan, dia memiliki pemikiran yang sama dengan Marry yang juga sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.
Ann merasa sedikit bosan duduk lama dipanggung dan menjadi tontonan para tamu undangan. Ann menatap ke sekeliling ruangan itu, tak ada seorangpun yng dikenalnya selain Ben. Ann bahkan belum dikenalkan dengan keluarga Ben. Ben hanya memintanya untuk menikah tanpa syarat apapun.
"Ben." Ann menyentuh lengan Ben.
"Apa?"
"Apa mereka semua kenalanmu?"
"Ya." Ben mengangguk
"Mana keluargamu?"
"Itu." Ben menunjuk meja yang ditempati Marry dan Megan.
"Apa mereka ibumu dan adikmu?"
"Dia ibuku."
"Yang satunya?"
"Dia wanita yang suka denganku." Ben terkekeh.
"Hei, ada yang menyukaimu tapi kenapa kau menikahiku."
"Aku tidak menyukainya." Ben berbisik di telinga Ann.
"Kenapa?"
"Entahlah, aku hanya tidak suka." Ben mengangkat kedua bahunya.
"Huh, bukankah kau keterlaluan? Kau akan menyakiti hatinya."
"Jika kau tahu sifatnya mungkin kau akan membelaku." Ben terkekeh.
"Kenapa dengan sifatnya?"
"Dia memiliki sifat sedikit buruk." Ben tertawa.
"Oh ya?"
"Ya." Ben tersenyum.
"Ben?"
"Apa?"
"Jadi apakah benar kau juga seorang mafia?"
"Ya." Ben mengangguk. "Apa kau belum percaya padaku?"
"Sedikit."
"Baiklah, aku akan menunjukkannya sekarang."
"Apa?"
"Sesuatu yang akan kau ketahui." Ben mengerling.
"Apa itu?" Ann terlihat penasaran.
"Lihatlah kesana Ann?" Ben menunjuk seseorang dengan isyarat matanya.
"Pria berkemeja coklat itu?" Ann mengikuti arah pandangan Ben.
"Tepat."
"Siapa dia?"
"Namanya Fabio, dia adalah kakak sepupu dari istri pimpinanmu."
"Benarkah? Kenapa dia hadir di pernikahan kita?"
"Fabio adalah temanku, pria yang menyekapmu kemarin sepertinya anak buahnya."
"Hei, berarti temanmu lah yang membuat hidupku berantakan."
"Sepertinya istri pimpinanmu minta bantuan kepadanya."
"Huh, kenapa kau tidak menghentikannya dari awal." Ann terlihat kesal.
"Aku baru saja mengetahuinya." Ben terkekeh.
"Jangan berbohong."
"Aku tidak tahu jika istri pimpinanmu senekat itu." Ben mengangkat kedua bahunya.
"Huh."
"Kau lihat pria berjas hitam itu? Apa kau mengenalinya?"
"Pria yang sedang memegang gelas itu?" Ann kembali mengikuti arah pandangan Ben.
"Ya." Ben mengangguk.
"Aku seperti mengenalnya, tapi siapa?"
"Coba kau ingat lagi."
"Oh, dia pria dalam foto yang bersama istri pimpinan."
"Kau masih mengingat wajahnya rupanya." Ben terkekeh.
"Ya, jadi siapa dia?"
"Oh Tuhan, pantas saja kau bisa mendapatkan foto itu dengan mudah. Ben ternyata kau yang menyeretku dalam masalah ini." Ann merasa kesal namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Hei, aku hanya membantumu saat itu." Ben terkekeh.
"Tapi kau tidak mengatakannya sejak awal."
"Bukankah aku sudah memperingatkanmu tentang foto itu."
"Ya, tapi foto itu sudah dicuri terlebih dulu."
"Jadi salah siapa?" Ben terus terkekeh.
"Ya, itu salahku." Ann mengerucutkan bibirnya karena tidak bisa membela diri.
"Kau memang salah." Ben tersenyum lebar.
"Aku akan memukulimu nanti, Ben." Ann menunjukkan kepalan tangannya di depan wajah Ben.
"Terserah kau saja." Ben tergelak.
"Awas kau." Ann mendengus.
"Ann, lihat ke arah sana." Ben kembali menunjukkan dengan isyarat matanya.
"Bella!" Ann terbelalak, dia melihat istri pimpinan yang menatapnya dengan raut wajah ketakutan juga menghadiri acara pernikahannya.
"Setelah melihatmu disampingku, dia tidak akan berani menyentuhmu walau hanya seujung jari." Ben menyeringai.
"Benarkah? Apa kau yakin?" Ann menatap Ben.
"Kau lihat saja nanti." Ben tersenyum sekilas.
"Jika perkataanmu benar, aku akan memaafkanmu."
"Aku salah apa padamu?" Ben mengerutkan alisnya.
"Sedikit banyak kau juga yang menyeretku kesituasi sekarang."
"Sudah kubilang itu kesalahanmu sendiri." Ben menyentil dahi Ann.
"Awww, beraninya kau menyentil dahiku." Ann mencubit lengan Ben.
"Lihat, jidatmu semakin lebar." Ben tergelak.
Megan yang melihat Ben dan Ann bercanda merasakan panas luar biasa dalam hatinya. Dia tidak pernah melihat Ben seceria itu sebelumnya, Ben bahkan sangat dingin kepadanya. Sekarang dia melihat Ben bercanda mesra dengan wanita itu dihadapan semua orang. Megan mengepalkan kedua tangannya, dia berjanji akan melakukan apapun untuk merebut Ben dari Ann. Megan memutuskan untuk keluar dari ruangan itu sambil menghentak-hentakkan kakinya, dia merasa sangat kesal.
Bella yang sedari tadi memperhatikan kedua mempelai itu merasakan keringat dingin mengalir di tengkuknya. Bella tidak menyangka jika seseorang yang di sekapnya kemarin telah menjadi istri dari Ben. Bella tentu saja mengetahui siapa Ben, pria itu adalah seseorang yang sangat berkuasa. Ben adalah orang yang mengendalikan Fabio dan teman-temannya yang lain. Bisa dikatakan Ben adalah ketua dari mereka semua. Bella tidak bisa tenang sedikitpun sejak melihat Ann, seandainya dia tahu bahwa mempelai wanita itu adalah Ann dia jelas tidak akan menampakkan dirinya disana.
Berbeda dengan Richard dan Fabio, mereka tidak memikirkan apapun. Mereka juga tidak tahu bahwa istri dari Ben adalah wanita yang hampir dilenyapkan oleh Bella, wanita yang memiliki hubungan dengan mereka. Richard dan Fabio terlihat sangat senang dan ikut larut dalam kebahagiaan yang dirasakan oleh Ben. Mereka sepertinya sangat senang karena akhirnya Ben mendapatkan pendamping hidupnya.
Pesta akhirnya berakhir, semua tamu sudah meninggalkan ruangan. Kedua pengantin baru itu menyeret diri mereka menuju mobil, mereka sudah tidak sabar untuk pulang kerumah dan mengistirahatkan diri yang sudah sangat lelah. Akhirnya mobil meluncur membawa mereka kembali ke kediaman Ben.
"Oh, God." Ann terbelalak ketika masuk ke kamar, dia melihat bunga-bunga bertebaran di atas kasur, kamar itu di hias sedemikian rupa menjadi kamar pengantin yang sangat indah.
"Ada apa?" Ben ikut terkejut melihatnya.
"Apa kau juga yang melakukan ini Ben?" Ann melotot ke arah Ben.
"Hei, ini bukan aku, aku tidak melakukannya sungguh." Ben menatap Ann.
"Lalu siapa?"
"Aku tidak tahu." Ben menggeleng.
Saat mereka berdebat, beberapa pelayan datang menghampiri mereka sambil membawa kotak kado besar. Ann dan Ben menatap kotak itu, mereka penasaran dari siapa kado tersebut. Mereka menyambut ramah kedatangan tuan dan nona baru mereka.
"Tuan, nona, ini adalah kado pernikahan dari tuan Chris, dia mengirimkannya karena tidak bisa hadir di pernikahan tuan dan nona." Pelayan itu berucap ramah
"Baiklah, dan ini siapa yang melakukannya?" Ben menunjuk ke dalam kamarnya.
"Tuan Chris memerintahkan kami untuk melakukannya." Pelayan itu tersenyum.
"Oh Tuhan, ini ulah pria sialan itu." Ben bergumam lirih.
"Tuan, nona, kami akan meletakkan ini didalam kamar."
"Baiklah, silahkan." Ann mempersilahkan para pelayan itu masuk dan meletakkan kotak kado itu di kamar. Setelah itu mereka kembali keluar dan meninggalkan Ann dan Ben yang terlihat kebingungan.
"Kamar ini luar biasa, kita seperti suami istri sungguhan." Ann terkekeh dan duduk di atas kasur.
"Chris memang selalu konyol." Ben ikut terkekeh.
"Ben, cobalah buka kotak itu, aku penasaran apa yang ada di dalamnya."
"Kau saja yang buka." Ben menghempaskan dirinya ke sofa.
"Baiklah, aku akan membukanya." Ann mulai membuka kotak besar itu, matanya kembali terbebelak setelah mengetahui apa yang ada di dalam kotak.
"Ada apa? Apa isinya?" Ben menghampiri Ann yang terlihat terkejut.
"Lihatlah." Ann berucap.
"Oh Tuhan, Chris benar-benar gila." Ben menepuk-nepuk dahinya.
"Sepertinya temanmu benar-benar konyol." Ann tergelak, dia menatap puluhan lembar baju tidur dengan model yang sangat terbuka.
"Apa kau akan memakainya?" Ben menatap Ann.
"Kau saja yang pakai." Ann kembali tergelak.
"Aku takut kau tergoda jika aku memakai ini." Ben ikut tergelak.
Ben dan Ann terus saja tertawa, mereka terlihat senang tanpa sadar apa sebabnya. Mereka berdua terus saja bercanda hingga akhirnya mereka kelelahan dan tertidur tanpa melepas pakaian pengantin mereka. Ben dan Ann sepertinya mulai melupakan tujuan awal tentang pernikahan itu, Ann dan Ben belum menyadari bahwa perasaan mereka perlahan mulai saling bertaut.
...****************...