Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
MENGINAP DIRUMAH EL



El dan Davin tiba dirumah El, para pelayan menyambut mereka dengan senang hati. Bi Susi, kepala pelayan terlihat sumringah melihat kedatangan majikannya bersama seorang pria tampan. Selama ini Bi Susi tidak pernah melihat El membawa seorang pria pun kerumahnya.


“Bi Susi, ini Om Davin, sahabat ayahku yang kuceritakan dulu.”


“Ya Nona, salam kenal tuan.”


“Ya, salam kenal Bi.” Davin mengangguk.


“Kami naik ke atas dulu, Bi.”


“Ya Nona, jika perlu sesuatu silahkan panggil saya.”


“Ya Bi.” El dan Davin berlalu dari hadapan Bi Susi, mereka berjalan beriringan menaiki tangga.


“Kau sungguh tinggal sendirian dirumah sebesar ini El?”


“Tidak sendirian, aku bersama pelayan Om.”


“Berapa orang pelayan disini?”


“Sebelas orang.”


“Hmm, apa kau akan menginap disini malam ini?”


“Apa boleh?” El menatap Davin


“Boleh, tapi aku juga akan menginap disini malam ini.”


“Mmm, baiklah. Kamar dilantai ini semua kosong kecuali kamarku, Om boleh memilih kamar yang mana saja untuk menginap malam ini.”


“Aku ingin tidur dikamarmu.”


“Tidak boleh.”


“Kalau begitu kamar yang paling dekat dengan kamarmu.”


“Mmm baiklah.”


“Dimana kamarmu?”


“Itu.” EL menunjuk sebuah pintu kamar diantara banyaknya pintu disana.


Tanpa permisi Davin langsung berjalan menuju pintu kamar itu dan mulai membukanya. Dia masuk kedalam dengan santainya, El mengekorinya dibelakang dengan wajah cemberut.


“Om, kebiasaan sekali masuk kamar orang sembarangan.


“Aku ingin melihat kamar gadis yang kucintai.”


“Huh.”


“Wah, cantik sekali kamarmu.” Davin mengamati kamar bernuansa girly tersebut, kamar itu didominasi warna peach dan putih.


“Tentu saja, cantik seperti orangnya.” El terkekeh.


“Apa kau baru saja memuji dirimu sendiri?” Davin merangkul bahu El.


“Ya, tak ada yang memujiku, lebih baik memuji diri sendiri.”


“Kau cantik sekali.” Davin menatap kedua bola mata El.


“Om jangan menggodaku.” El berusaha menyembunyikan rona wajahnya karena mendengar kata-kata dari Davin.


“Aku tidak menggodamu, kau sungguh cantik.”


“Ya ya sudahlah, Om cepat keluar dari kamarku, aku mau mandi.” El mendorong pelan Davin keluar dari kamar.


“Jahatnya.” Davin berseru kecil.


“Pilih saja kamar tidur sendiri buat Om.”


“Aku bingung memilihnya, terlalu banyak kamar dirumahmu, seperti penginapan saja.” Davin terkekeh meledek El.


“Jangan meledek, dirumahmu juga terlalu banyak kamar tahu." El bersungut-sungut membalas ledekam Davin.


"Setidaknya rumahku tidak semua ruangan adalah kamar."


"Rumahku juga, Itu semua bukan pintu kamar, ada ruang keluarga juga.” El menujnjuk beberapa pintu kamar.


“Oh ya?”


“Ya, sekarang pilihlah.”


“Itu saja, yang paling dekat dengan kamarmu.” Davin menunjuk sebuah kamar yang tak jauh dari kamar El.”


Davin mengalah dan pergi menuju kamar yang dipilihnya. Kamar didominasi warna abu-abu itu terasa sangat nyaman. Rumah itu terlihat sangat terurus, terbukti dengan kamar yang sangat bersih dan rapi. Davin menghempaskan diri di sofa, dia merasa sedikit lelah karena begitu banyak pekerjaan dikantor hari ini. Tidak terasa Davin terlelap, dia tidak bisa menahan kantuknya lagi.


Davin terbangun dari tidurnya saat merasakan sentuhan lembut dikepalanya. Davin merasakan jemari mungil mengusap-usap rambutnya. Dia membuka mata dan melihat El tersenyum kearahnya.


“El, jam berapa ini? Aku tak sengaja ketiduran.” Davin meraih jemari El dan menaruh dipipinya.


“Jam delapan. Om, sepertinya kau kelelahan.”


“Sudah tidak lagi, melihatmu saat bangun tidur sudah membuat rasa lelahku menghilang.”


“Om tidak lapar?”


“Lapar.” Davin mengangguk-angguk.


“Ayo makan malam.”


“Aku mandi dulu.” Davin bangkit dari tidurnya.


“Ya.” El mengangguk.


......................


Setelah selesai makan malam, Davin dan El kembali ke lantai dua. Davin tak ingin kekamarnya, dia memaksa untuk berada dikamar El. Dia menyalakan televisi dan menonton acara-acara yang terasa semakin membosankan baginya. Akhirnya dia mematikan televisi dan mendekati El yang sedang membaca buku di sofa dekat tempat tidur.


"El, aku bosan." Davin duduk disamping El dan menyandarkan kepalanya ke bahu El.


"Kalau bosan sebaiknya om pulang saja." El terkekeh tanpa mengalihkan pandangan pada buku yang dibacanya.


"Tidak mau, ingin bersamamu saja."


"Om, kau sangat kekanakan sekali."


"El berhentilah membaca, temani aku." Davin meraih tangan El dan memeluknya.


El meletakkan bukunya dengan malas, dia berpikir sebenarnya siapa yang berumur 20 tahun, dia atau Davin? Davin bahkan bersikap lebih kekanakan daripada dirinya.


"El, aku menyayangimu." Davin memeluk lengan El semakin erat.


"Om, sebaiknya kau istirahat."


"Aku mau tidur denganmu saja, aku tidak mau sendirian."


"Baiklah, tidurlah aku akan menemanimu." El akhirnya mengalah.


"Dikasur."


"Ya, ya."


Davin menuntun tangan El menuju kasur, dia memeluk El hingga tertidur lelap. El sama sekali belum mengantuk, perlahan El melepaskan pelukan Davin dan turun dari tempat tidur. El mengambil air mineral dan meminumnya, dia berjalan menuju jendela kaca. Menatap kerlip lampu jalan di luar sana.


El teringat masa kecilnya bersama Davin, dia tersenyum mengingat perlakuan Davin yang tidak pernah berubah sejak dulu. Menyayanginya, menjaganya, selalu membuatnya tertawa walaupun akhir-akhir ini El sering merasa sedih karena hatinya terluka, cemburu menjadi alasan.


El berbalik menatap pria yang dipikirkannya itu sedang terlelap sangat pulas. Tidak pernah menyangka jika pria itu akan tidur kembali dikamarnya seperti masa kecilnya dulu. El merasa senang karena selama ini Davin tidak pernah melakukan hal aneh padanya seperti apa yang dikatakan teman-temannya tentang hubungan antara orang dewasa. Davin hanya memeluknya walaupun beberapa kali pria itu mencuri ciuman darinya, namun tidak pernah lebih dari itu.


El berjalan pelan menghampiri Davin, dia naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Davin yang sudah terlelap melanglang buana entah kemana. El menyentuh rambut Davin dan mengelus-elus kepalanya, entah kenapa dia selalu berdebar setiap menyentuh pria itu. Dan entah kenapa dia sangat suka mengelus rambut kepala Davin. Aroma shampo pria itu tercium setiap El menggerakan tangannya.


"Om, aku belum terlalu mengerti kenapa aku ingin menunggumu. Hal yang sebenarnya belum tentu akan aku dapatkan. Kau terlihat abu-abu bagiku, sedikit tak jelas namun terasa indah." El berbicara lirih, hanya terdengar telinganya sendiri.


El merebahkan dirinya, memeluk lengan Davin disampingnya. Menempelkan kepalanya di bahu pria itu, El merasa sangat nyaman berada di dekat Davin. Rasa rindu selalu menghampirinya walaupun mereka selalu bertemu setiap hari. El bahkan tidak bisa membayangkan jika akhirnya dia akan kembali berpisah dengan Davin. El semakin erat memeluk lengan Davin, rasanya dia tak ingin melepaskannya lagi.


"Om, kau benar-benar membuatku terjebak cintamu." El terus berbicara sendiri.


"El, tidurlah." Davin berbicara lirih tanpa membuka matanya. Dia tidur menyamping menghadap El dan memeluk tubuh mungil gadis itu.


"Apa aku membangunkanmu?" El berbicara pelan.


"Ya, sejak tadi kau terus bergerak." Davin masih tidak membuka matanya.


"Maaf."


"Tak apa." Davin membuka matanya dan menatap El.


Cup.


Davin mencium bibir El tiba-tiba, El membeku dan segera menenggelamkan kepalanya di dada Davin menyembunyikan rona wajahnya yang memerah. Davin selalu melakukannya tanpa aba-aba membuat jantung El bekerja lebih keras untuk berdetak.


"Tidurlah, besok kau kuliah bukan?" Davin memeluk erat El dan memejamkan matanya kembali.


"Mmm." El meringkuk dalam pelukan Davin tak berani menatap wajah Davin lagi hingga akhirnya dia tertidur pulas.


...****************...