
Aku baru saja pulang dari mengikuti El sedari dia pulang dari kampus. Beberapa hari ini aku khawatir dengan keadaannya setelah Ann menunjukkan beberapa foto yang menunjukkan bahwa El sedang diikuti oleh seseorang. Hari ini aku mengikuti El secara diam-diam, aku tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman. Setelah kupastikan El benar-benar masuk kedalam rumah barulah aku bisa pulang dengan tenang.
Tak disangka ternyata El pergi lagi, aku menerima telepon dari Davin yang mengatakan bahwa El dalam bahaya. Dia telihat sangat khawatir, begitu juga denganku saat ini. Aku dengan segera pergi menuju rumah El, aku tidak ingin gadis itu kenapa-kenapa.
Mungkin semua orang selama ini bertanya-tanya kenapa aku selalu berada disamping El. Sudah kukatakan bahwa itu tugasku, ya awalnya itu memang hanya tugas dari Davin. Pria yang memperbudakku selama ini dengan perintah-perintah konyolnya hanya karena aku berhutang budi padanya. Aku bahkan harus pindah dari kota tempat tinggalku hanya untuk meguntit gadis ini setiap hari. Tapi ini memang tidak sebanding dengan apa yang pernah dilakukan Davin untukku, dia pernah menyelamatkan nyawaku dan juga sahabatku, Jay.
Tugasku menjaga El memang tidak terlalu berat, aku hanya perlu mengawasinya dan memastikan hidupnya baik-baik saja. El bukan tipe gadis liar, sehingga tidak sulit untuk mengawasi aktivitasnya. Sejak awal El berkuliah aku sudah ditugaskan oleh Davin untuk terus berada disamping El walaupun dia sering memaki-maki diriku karena terlalu dekat dengan El. Bukankah dia sangat konyol? Dia sendiri yang menugaskan aku, dia juga yang cemburu.
Davin memang sangat protektif pada gadis itu, namun saat itu dia tidak bisa menemui El karena dia sedang memiliki banyak masalah yang bisa saja melibatkan dan membahayakan El. Hingga saat masalahnya sudah mulai mereda barulah dia menemui kembali gadis itu, aku tahu bahwa dia sebenarnya sangat merindukan El.
Hari berlalu, aku tidak lagi merasa diperintahkan. Namun aku merasa bahwa itu adalah hal yang harus kulakukan karena dorongan dari diriku sendiri. Aku tidak tahu darimana perasaan itu bermula, hanya saja aku merasa sudah tak bisa jauh dari gadis itu. Terasa berat namun aku hanya bisa memendamnya, jika Davin mengetahuinya, bisa saja pria itu akan membunuhku.
Cukuplah dulu aku mengenang masalalu, saat ini aku sedang mengejar mobil yang membawa El. Entah siapa yang melakukannya aku tidak tahu. Aku tidak terlalu peduli, yang pasti aku hanya ingin membawa El kembali dalam keadaan baik-baik saja.
Mereka membawa jauh hingga keluar kota, sudah lebih satu jam aku mengikuti mereka namun belum juga mereka berhenti. Aku terus mengikuti mereka hingga akhirnya mereka mulai memelankan laju mobil dan berhenti disebuah rumah besar. Pintu gerbang mulai terbuka, dua mobil itu segera masuk dan menghilang dibalik pintu gerbang.
Aku memarkirkan mobil tak jauh dari rumah itu, aku mengambil topi dan memasangnya. Aku keluar dari mobil dan berjalan santai melewati rumah itu, sembari berjalan aku melirik kedalam lewat sedikit celah pintu gerbang. Banyak orang berjaga ditempat itu, aku tidak mungkin bisa melewati mereka.
Aku perlahan medekati rumah itu lewat samping, mengamati setiap letak cctv. Dengan perlahan aku berjalan sambil menghindari area yang tersorot cctv. Aku menemukan area bebas cctv, bukan karena tidak ada, tapi cctv ditempat itu terlihat diselimuti sarang laba-laba yang tebal sehingga tentunya akan membuat kamera tersebut menjadi buram.
Hal itu tentu saja membuatku memanfaatkan situasi dengan baik, aku memanjat pagar tinggi dengan gesit. Menyelinap mencari kembali celah untuk bisa masuk kedalam bangunan itu. Aku kembali menatap sekitar, beberapa jendela terlihat dari sini, namun aku tak tahu apakah bisa dibuka atau tidak.
Aku mencoba membuka satu persatu jendela yang ada, namun tidak satupun yang bisa dibuka. Aku kembali mencari cara lain, bagaimanapun aku harus bisa masuk kedalam. Aku menyusuri jalan sempit antara bangunan dengan pagar hingga tiba dibelakang bangunan. Aku melihat sebuah pintu kecil disana, dengan cepat dan hati-hati aku segera membuka pintu itu.
Aku berhasil memecahkan kaca walaupun tanganku tergores beberapa kali namun aku tidak peduli. Aku memecahkan kaca seadanya, hanya secukup agar tubuhku bisa masuk kedalam. Aku mengelus dada karena memang tidak ada seorangpun didekat situ.
Aku berjalan pelan keluar dari dapur, rumah ini sangat luas. Berbeda dengan keadaan dipintu gerbang yang ramai dengan penjaga, rumah ini telihat sangat sepi namun aku terus berhati-hati. Aku mencari-cari ruangan tempat El disekap, aku yakin pasti El berada di dalam salah satu ruangan dirumah ini.
Benar saja setelah aku mencari-cari, aku menemukan sebuah ruangan yang didepannya dijaga oleh tiga pria berbadan kekar. Pastilah El berada didalam sana, aku memikirkan cara agar bisa masuk kedalam sana, tidak mungkin aku bisa masuk tanpa menimbulkan keributan.
Aku memutuskan untuk menyerang mereka saja, tak ada jalan lain lagi. Aku menghampiri mereka, menghadapi tiga orang sekaligus aku masih mampu. Aku tidak memikirkan apapun lagi, aku hanya ingin masuk kedalam sana dan membawa El keluar dari tempat ini. Aku benar-benar mengerahkan tenagaku menghadapi ketiga orang itu yang rata-rata memiliki postur tubuh lebih besar dariku.
Aku berhasil melumpuhkan mereka, aku meraba-raba tubuh mereka mencari kunci untuk membuka pintu ruangan. Aku mendapatkannya dan langsung membuka pintu ruangan itu yang ternyata adalah sebuah kamar besar yang terlihat sangat nyaman.
Aku menemukan El yang tak sadarkan diri ditempat tidur, aku mendekatinya dan mencoba membangunkannya dengan lembut namun dia tak merespon sama sekali. Aku bersiap untuk menggendongnya namun tiba-tiba puluhan pria masuk kekamar dan kembali menyerangku. Aku berbalik dan menahan serangan mereka, aku menjauh dari tempat tidur takut sesuatu mengenai gadis itu.
Aku benar-benar kesetanan, mencoba melawan mereka semua dengan segala kekuatanku. Sepertinya semua orang ini adalah penjaga yang tadi berada dipintu gerbang. Entah sudah berapa banyak pukulan dan tendangan menimpa seluruh bagian tubuhku, namun aku tak merasakannya sama sekali.
“Will?” Suara teriakan El membuat aku menoleh kearahnya membuatku seketika kehilangan fokus.
Bugghh buggh.
Badanku limbung kehilangan keseimbangan setelah menerima beberapa pukulan telak diwajah dan perut. Mataku masih tertuju pada El, seseorang mendekatinya dan membekap mulutnya hingga dia kembali tak sadarkan diri. Aku bertambah geram melihatnya, dengan segala sisa kekuatan aku bangkit dan melawan mereka kembali.
...****************...