
El mengendarai mobilnya meninggalkan kampus, dia pergi menuju mall yang tidak begitu jauh dari kampusnya. El ingin menemui teman Davin yang kemarin menelepon. Awalnya El ragu namun karena pria itu mengajaknya bertemu dikeramaian, El akhirnya menyetujuinya dan bersedia untuk menemui pria itu.
El memarkirkan mobilnya dan masuk kepusat perbelanjaan besar itu. Dia mengambil ponsel dan menghubungi nomor yang disalinnya dari ponsel Davin. Beberapa saat El menunggu telepon tersambung hingga akhirnya terdengar suara diseberang.
"Halo, El."
"Halo."
"Dimana kau?"
"Aku sudah berada di mall."
"Aku menunggumu di resto XX."
"Mmm ya aku akan kesana."
El berjalan pelan menuju tempat yang dikatakan oleh Chris tanpa mematikan sambungan telepon. Sesampainya di depan resto yang berdinding kaca El mulai celingukan mencari-cari seseorang yang benar-benar tidak di kenalinya. El bahkan tidak punya bayangan sedikitpun tentang sosok pria itu.
"El, kau kah itu? Sweater berwarna putih?" Suara di telepon.
"Mmm ya."
"Aku dimeja nomor 13."
El celingukan mencari-cari karena saat itu suasana resto lumayan ramai, meja-meja banyak diisi oleh orang berpasang-pasangan. El menemukan seorang pria di meja nomor 13, pria yang terlihat sedikit lebih matang daripada Davin. Pria itu memakai setelan jas berwarna coklat tua sedang menatap El dengan tersenyum, dia masih menggenggam ponsel yang ditempelkannya di telinga. El melangkah sedikit ragu masuk kedalam resto dan menghampiri Chris.
"Silahkan duduk." Chris berdiri dan menarik kursi untuk El yang berdiri canggung di depannya.
"Mmm ya." El duduk sambil tersenyum kaku, baru kali ini dia membuat janji dan bertemu dengan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.
"El, kau mau pesan apa?" Chris terlihat biasa saja, tidak canggung sama sekali seperti El.
"Mmm, nanti saja Om."
"Baiklah, El perkenalkan namaku Chris, teman Davin."
"Mmm ya, jadi apa yang mau om bicarakan padaku?"
"Oh ya, jadi begini aku sedang ada sedikit masalah dengan Davin."
"Masalah apa?"
"Aku dan dia sedang tidak saling bicara sekarang, pria itu sangat keras kepala." Chris berbicara seakan dia sangat mengenal dekat Davin.
"Memang, dia sangat keras kepala." El terkekeh teringat sifat Davin yang begitu sulit untuk dibantah.
"Aku ingin bertemu dan berbicara padanya bisakah kau membantuku?"
"Aku? membantu om?"
"Ya, hanya kau yang bisa mempertemukanku dengan Davin."
"Bagaimana caranya?" El mengernyitkan dahinya.
"Bolehkah aku meminjam ponselmu untuk meneleponnya? Aku sudah beberapa kali meneleponnya namun dia tidak mau mengangkat teleponku sama sekali."
"Mmm, baiklah." El mengambil ponselnya dari dalam tas dan memberikannya pada Chris dengan sedikit rasa ragu.
"Aku takkan melakukan apapun pada ponselmu, aku hanya akan menelpon Davin, percayalah." Chris tersenyum seakan mengerti perasaan ragu El.
"Mmm maaf." El kembali tersenyum kaku.
"Boleh aku meneleponnya sekarang?" Chris menatap El.
"Ya, silahkan om." El mengangguk.
Chris memencet tombol panggil pada nomor Davin dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. Tidak menunggu lama, panggilang lamgsung tersambung dan suara Davin terdengar dari seberang. Sepertinya Davin selalu siap menerima telepon El dalam keadaan apapun.
"El, ada apa?" Suara Davin diseberang.
"Halo Vin." Chris tersenyum tipis karena mendengar suara Davin yang terdengar sangat lembut di telinganya tadi.
"Siapa kau?" Davin mengenali suara Chris, namun dia ingin memastikan kembali. Nada bicara Davin terdengar khawatir.
"Ayo bertemu." Chris terkekeh, dia tak menjawab pertanyaan Davin karena yakin bahwa Davin masih mengenali suaranya.
"Chris, dimana El?" Davin mulai sedikit panik, dia takut kejadian waktu itu terulang kembali.
"Dia ada disini bersamaku." Chris menatap El yang juga sedang memperhatikannya, El hanya diam karena dia tidak mendengar suara Davin sama sekali.
"Jangan macam-macam dengannya, atau kau akan aku lenyapkan!" Davin menggertakkan giginya geram.
"Aku tidak bercanda." Suara Davin semakin meninggi.
"El, sapalah Om mu ini." Chris memberikan ponsel itu pada El yang segera menerimanya.
"Halo om."
"El, dimana kau?" Davin panik namun masih berusaha menguasai nada bicaranya.
"Aku di mall."
"Kenapa kau bertemu dengan orang asing tanpa memberitahuku?"
"Dia bukan orang asing, bukankah dia teman om?" El beralasan.
"El, temanku atau bukan, orang itu tetaplah asing bagimu." Davin terus berusaha merendahkan suaranya walaupun dia merasa kesal. Dia tidak ingin membuat perasaan El terluka jika dia membentaknya. Davin tahu bahwa El sangat polos dan tidak tahu apapun tentang masalah nya dengan Chris.
"Ya." El berkata pelan tidak ingin membuat alasan apapun lagi agar Davin tidak semakin cerewet dan menceramahinya.
"El berikan kembali ponselmu padanya, aku ingin berbicara dengannya."
"Baik." El memberikan ponsel itu kembali pada Chris, pria itu tersenyum menerimanya.
"Bagaimana Vin?"
"Aku akan kesana?"
"Baiklah, resto XX." Chris mengatakan nama tempat itu pada Davin.
Davin tidak lagi menjawab, dia mematikan sambungan telepon. Chris memberikan kembali ponsel pada El, gadis itu tersenyum menerimanya dan memasukkannya kembali kedalam tas.
"Bagaimana? Apa Om Davin akan datang kesini?" El menatap Chris.
"Ya tentu saja." Chris tersenyum.
"Baguslah, memang om ada masalah apa dengan om Davin?" El mulai merasa penasaran.
"Ada beberapa hal yang membuat kesalah pahaman diantara kami, aku hanya ingin meluruskannya namun Davin tak mau berbicara denganku."
"Apa masalah besar?"
"Tidak terlalu besar, hanya masalah sesama pria." Chris terkekeh.
"Masalah sesama pria?"
"Ya, gadis kecil sepertimu belum bisa memahaminya." Chris tertawa kecil menatap wajah menggemaskan El.
"Apa aku terlihat masih seperti gadis kecil?" El menunjuk wajahnya sendiri.
"Bagiku, ya."
"Huh, padahal aku sudah beranjak dewasa." El mengerucutkan bibirnya tanpa sadar.
"Hahaha, El ternyata kau sangat menggemaskan."
Sambil menunggu kedatangan Davin, Chris memesankan beberapa camilan dan minuman untuk El. Mereka berdua terus berbincang dengan akrab, pembawaan Chris yang tenang dan ramah membuat El merasa nyaman berbicara dengannya. Mereka terus berbincang hingga tidak terasa Davin sudah berada disana.
"El, kau tidak kenapa-kenapa?" Davin langsung menyentuh lengan El.
"Om, aku baik-baik saja, kenapa bertanya seperti itu?" El menoleh pada Davin.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit mengkhawatirkanmu."
"Mmm." El mengangguk.
"El, maukah kau kembali ke mobil? Tunggu disana, aku ingin berbicara dulu dengannya." Davin melirik sekilas pada Chris.
"Bolehkah aku menunggu disini saja bersama kalian?"
"Tidak, kembalilah ke mobil."
"Tapi..."
"El, kembalilah ke mobil, aku akan menyusul sebentar lagi." Davin sedikit menekankan kata-katanya sambil menatap kedua bola mata El.
"Baik." El mengangguk, dia menurut saja karena melihat sorot mata Davin tidak seperti biasa. El segera beranjak meninggalkan tempat itu menuju parkiran mobilnya.
...****************...