Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
TEMPAT KENANGAN



"Tempat apa ini?" El bertanya pada Will.


"Ini villa milik keluargaku."


"Sungguh? Ah rasanya aku tak percaya."


"Apa perlu aku membuktikannya?"


"Coba saja." El meremehkan Will.


"Ayo masuk."


Will dan El masuk kedalam bangunan besar yang berlantai dan berdinding kayu. Terkesan sederhana namun sangat besar dan mewah, El tampak terpesona dengan keindahan bangunan tersebut.


"Tuan muda, nona, silahkan masuk." Seorang wanita menyapa Will dan El.


"Ya." Will mengangguk dan tersenyum.


"Tuan muda?" El mengernyit saat mereka sudah menjauh dari wanita tersebut.


"Kenapa?"


"Mereka memanggilmu tuan muda, tapi kenapa tidak memanggilku dengan nona muda?"


"Pertanyaan yang sangat tidak penting." Will terkekeh.


"Will, bangunan ini sangat besar dan indah."


"Ya, memang."


"Tuan muda, kamar tuan sudah di siapkan. Kamar untuk nona juga sudah disiapkan." Seorang pria yang berpakaian mirip dengan wanita sebelumnya menyapa Will dan El.


"Baiklah, terima kasih." Will tersenyum.


"Terima kasih." El tersenyum canggung.


"Ayo, kau mau lihat kamarku disini?"


"Cih, kamarmu?" El tertawa.


"Itu sungguh kamar milikku."


"Bilang saja kau cuma menyewa."


"Ya, ya, lihat saja nanti."


El mengikuti langkah kaki Will yang sepertinya sudah hafal dengan seluk beluk tempat itu. Mereka tiba di depan sebuah pintu kayu yang sangat jelas bertuliskan nama Will. El tercengang, merasa bingung dengan apa yang dilihatnya.


"Apa ini sungguh namamu?" El menunjuk nama di pintu.


"Kau pikir siapa?" Will terkekeh.


"Apa villa ini sungguh milikmu?"


"Ayo masuk." Will membuka pintu tanpa menghiraukan celoteh El.


El semakin terperangah saat masuk ke ruangan yang sangat luas, tak tampak seperti kamar karena memang sangat luas. Mata El langsung menangkap foto-foto di dinding, foto seorang anak kecil dengan pria tua. El bergantian menatap Will dan kemudian menatap foto-foto itu, El terus mengamati antara Will dan foto itu.


"Ini dirimu?"


"Ya." Will mengangguk.


"Oh God, apa kau anak pemilik villa ini?"


"Ya, apa kau sudah percaya sekarang?"


"Ya, ya, aku percaya sekarang."


"Siapa ini? sangat mirip denganmu." El menunjuk foto seorang anak lain yang berfoto dengan Will.


"Namanya Josh, saudaraku."


"Kau punya saudara?"


"Dulu."


"Sekarang?"


"Dia sudah tak ada, dia pergi lebih dulu."


"Kemana?"


"Ke surga."


"Maaf." El menutup mulutnya, menyadari ucapannya, betapa polosnya tadi dia bertanya.


"Tak apa, aku sudah tak apa sekarang."


"Maaf, aku tak tahu jika kau punya saudara."


"Dia saudaraku satu-satunya." Will menyentuh salah satu foto Josh.


"Kalian pasti sangat akur."


"Ya, dia sangat menyayangiku." Will tersenyum.


"Kau pasti juga sangat menyayanginya."


"Mmmm, kami saling menyayangi, tapi entah kenapa Tuhan memanggilnya lebih dahulu. Apa orang baik selalu dipanggil terlebih dahulu?"


"Kita memiliki takdir masing-masing." El tersenyum menatap Will yang terus menatap foto di depannya.


"Mmm." Will mengangguk.


"Siapa dia?" El menunjuk pria tua di foto.


"Kakek."


"Apa dia juga sudah pergi?"


"Ya, sudah lama."


"Pasti dia juga sangat menyayangimu."


"Ya." Will mengangguk.


"Sudah ku duga, di foto itu kalian terlihat sangat gembira."


"El, ayo ikut aku." Will menarik pelan tangan El keluar dari kamar itu.


Will membawa El menaiki tangga dan berjalan menyusuri bangunan itu. Hingga akhirnya Will menghentikan langkahnya, El takjub melihat apa yang ada di depannya. Air terjun yang sangat indah berada beberapa meter di depan mata El, El berjalan pelan hingga pagar pembatas, dia berpegangan pada pagar sambil menikmati pemandangan yang benar-benar menyejukkan matanya.


"Dulu aku, Josh dan Kakek sering berdiri ditempat ini menikmati indahnya air terjun."


"Tempat ini pasti sangat berarti untukmu."


"Mmm, apa kau berasal dari kota ini?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Lahan tempat bangunan ini berdiri telah dibeli oleh kakekku?"


"Benarkah? Hebat sekali kakekmu."


"Ya, semasa muda dia dan teman-temannya sering berpetualang menjelajah alam dan kakek memiliki keinginan untuk menghabiskan masa tuanya di tempat yang tenang dan nyaman."


"Lalu bagaimana kakekmu bisa menemukan tempat ini?"


"Kakek menemukannya saat camping bersama teman-temannya."


"Kemudian dia membelinya?"


"Iya, dia tertarik dan akhirnya membeli lahan disini dengan susah payah."


"Apa kakekmu juga yang membangun tempat ini?"


"Tidak, ayah yang membangunnya, ayah ingin mengabulkan keinginan kakek untuk tinggal dan menikmati hari tuanya di tempat yang di senanginya."


"Apa kakekmu tinggal sendiri disini?"


"Dia bersama dengan orang-orang kepercayaannya, beberapa temannya yang tersisa juga sering berkunjung bahkan tinggal lama disini."


"Sepertinya hidup kakekmu sangat menyenangkan."


"Ya, sebagai seorang pecinta alam dia benar-benar senang tinggal ditempat ini. Baginya alam adalah bagian dari hidupnya.


"Hebat." El mengangguk-angguk dan tersenyum.


"Karena itu jugalah aku senang dengan alam."


"Benarkah?"


"Ya." Will mengangguk.


"Mmm, sepeninggal kakekmu siapa yang mengurus tempat ini."


"Orang-orang kepercayaan kakek dan ayah."


"Apa tempat ini di sewakan?"


"Awalnya tempat ini hanya untuk pribadi, tapi bagi kakek tempat ini sangat besar dan luas, dia merasa sedikit kesepian, maka kakek meminta ayah untuk menyewakan tempat ini, tetapi hanya untuk segelintir orang saja karena kakek juga tak ingin tempat ini terlalu ramai."


"Apa sampai sekarang masih di sewakan?"


"Ya, tapi hanya untuk beberapa orang saja setiap harinya."


"Apa kau sering kesini Will?"


"Dulu waktu awal berkuliah aku sering kesini, namun beberapa tahun belakangan ini aku hampir tak pernah kesini lagi."


"Kenapa?"


"Tak ada siapapun yang ku temui dan tak ada siapapun yang bisa ku ajak."


"Teman-teman kuliahmu selain aku kan banyak, bukankah kau sangat populer dikampus, pasti banyak yang ingin pergi denganmu." El terkekeh.


"Aku tak ingin mengajak mereka."


"Kenapa?"


"Entahlah, hanya tak ingin."


"Lalu kenapa mengajakku?"


"Entahlah, aku hanya ingin."


"Hei jawaban macam apa itu?"


"Sepertinya hanya kau yang ingin ku ajak."


"Kenapa?"


"Hmmm, senang saja mengajakmu."


"Aku juga senang kau ajak, apalagi tempat seindah ini." El tersenyum menatap ke arah air terjun.


"El..."


"Ya?"


"Hmmm, sepertinya aku menyukai..." Will terdiam sejenak.


"Aku juga suka air terjun ini, sangat indah." El menjawab dengan senang.


Bukan air terjun, tapi kau. Will berucap dalam hati.


"Tempat ini benar-benar menenangkan walau sekacau apapun perasaanku saat ini." El kembali berucap.


"Apa pikiranmu sedang kacau?"


"Ya sedikit, entah apa yang kupikirkan aku juga tak paham." El terkekeh.


"Bagaimana bisa kau tak paham dengan pikiranmu sendiri?"


"Karena ketidakpahaman itulah pikiranku jadi kacau."


"Jangan terlalu memikirkan hal rumit, nanti kau cepat tua." Will terkekeh.


"Benar juga, bisa saja aku mengalami keriput dini." El tertawa.


"El, apa kau sedang bersedih? Kau bisa bercerita kepadaku jika memiliki masalah." Raut wajah Will tampak khawatir.


"Hei, aku hanya kelelahan karena memikirkan laporan skripsi." El terkekeh, dia berbohong, pikirannya tiba-tiba teringat akan Davin dengan Jessi, dia teringat betapa besar perhatian Davin pada Jessi hari ini.


"Tenanglah, aku akan membantumu jika kesulitan mengerjakannya." Will tersenyum.


"Mmmm." El mengangguk-angguk.


"El ayo ikut aku."


"Kemana lagi?"


Will tak menjawab, dia menggenggam tangan El dan menariknya perlahan. Entah kenapa Will sangat senang menggenggam tangan gadis yang saat ini mengisi hatinya walaupun Will tahu bahwa di hati El tak ada tempat untuknya sama sekali. Will tahu perasaannya hanya sepihak, tapi dia tak ingin mempermasalahkannya. Bagi Will bisa berada disamping El saja sudah bisa membuatnya tersenyum seharian.


...****************...