
"Ann, kau memang sangat hebat." Pimpinan terkekeh
Ann hanya terdiam dan menunduk lemah, dia bingung harus melakukan apa. Dia berhasil melakukan tugasnya, namun perkataan sopir itu masih terngiang-ngiang ditelinganya. Dirinya kini berada diantara hidup dan mati, kata yang di ucapkan Ben terus mengganggu pikirannya.
"Maafkan aku Ann, aku harus menyadap ponselmu."
"Kenapa tuan melakukannya?"
"Aku yakin kau bisa di andalkan, tapi aku takut setelah kau berhasil kau akan ragu untuk memberikan foto-foto itu kepadaku."
"Begitukah?"
"Ya, ini imbalanmu, aku juga mengganti ponselmu yang telah rusak." Pimpinan memberikan cek dengan nominal besar dan kotak berisi ponsel yang sama persis dengan milik Ann sebelumnya.
Ann hanya mengangguk dan menerima imbalan itu, dia memasukkannya kedalam tasnya dan keluar dari ruangan pimpinan. Ann sama sekali tidak senang, dia juga tidak menginginkan imbalan itu. Saat ini pikirannya hanyalah tertuju pada ucapan Ben.
Ann berjalan keluar dari kantor, dia berjalan pelan dan sama sekali tidak memperhatikan sekitar. Ann terkejut ketika dia sudah berada di luar kantor, dia melihat mobil Ben masih terparkir rapi disana. Sang sopir melambai dan tersenyum tipis ke arahnya, Ann segera menghampiri mobil Ben dan langsung masuk kedalam mobil.
"Apa kau mau menyewaku lagi?" Ben menyeringai.
"Aku hanya ingin membayarmu." Ann berbicara pelan, wajahnya terlihat sayu.
"Baiklah, mana bayaran itu?"
"Ini, ambillah." Ann memberikan cek yang tadi diberikan oleh pimpinan.
"Wow, lumayan besar." Ben menatap nominal cek tersebut.
"Ya, lumayan." Ann mengangguk.
"Apa kau akan memberikan semuanya padaku?"
"Ya, aku tidak membutuhkannya." Ann menyandarkan dirinya di sandaran kursi mobil.
"Hei, kau dapat ponsel baru?" Ben melongok ke dalam tas Ann.
"Jangan sembarangan mengintip isi tas seseorang." Ann mendengus.
"Kau yang membiarkannya terbuka." Ben terkekeh.
Ann mengeluarkan ponsel itu dan mulai menghidupkannya. Dia juga memasukkan sim card baru yang juga ada didalam kotak ponsel tersebut. Ann mulai mengutak-atik ponsel tersebut, dia merasa khawatir jika ponsel itu juga telah di sadap.
"Apakah ponsel ini aman?" Ann bergumam sambil memutar-mutar ponsel itu ditangannya.
"Sini kulihat." Ben langsung mengambil ponsel ditangan Ann tanpa seizin pemiliknya.
"Hei." Ann ingin memprotes.
"Diamlah, aku akan memeriksanya." Ann akhirnya diam, Ben mulai mengutak-atik ponsel itu, Ann hanya memperhatikannya.
"Bagaimana?" Ann menatap ponselnya.
"Sepertinya aman."
"Selain hebat memata-matai, apa kau juga hebat mendeteksi penyadap?" Ann terkekeh dan mengambil kembali ponselnya.
"Mungkin." Ben hanya tersenyum tipis.
"Ben?"
"Apa?"
"Bisakah kau mengantarkan aku pulang?"
"Apa kau tidak bekerja hari ini?"
"Tidak, pimpinan menyuruhku untuk beristirahat."
"Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang."
Ann menunjukkan jalan menuju rumahnya, selama di perjalanan Ann lebih banyak melamun. Pikirannya melayang-layang, dia merasa telah melakukan kesalahan besar hari ini. Ann berharap tidak ada sesuatu yang terjadi pada hidupnya setelah hari ini.
"Ben?"
"Ya?"
"Apa hari ini aku melakukan kesalahan besar?"
"Entahlah." Ben mengedikkan bahunya.
"Apa kau serius dengan perkataanmu tadi?"
"Perkataan apa?"
"Tentang mafia."
"Ya." Ben mengangguk santai.
"Apa kau tidak takut?" Ann menatap Ben.
"Untuk apa aku takut?"
"Bagaimanapun kau juga terlibat, kau yang memberikan foto itu kepadaku." Mata Ann berbinar, sepertinya dia mempunyai teman senasib.
"Aku tidak memberikannya, dia yang mencurinya dari ponselku."
"Sama saja."
"Tentu saja berbeda, memberikan dengan dicuri itu jelas berbeda tahu." Ann merasa kesal.
"Sama saja, dia mendapatkannya darimu, itu berarti dia tidak akan mencari tahu lagi darimana kau mendapatkannya."
"Hei, bukankah itu tak adil? Aku juga mendapatkannya dari orang lain, itu darimu."
"Ya, bukankah kau yang memintanya?" Ben berucap santai.
"Baiklah, berdebat denganmu membuatku semakin pusing." Ann menyentuh pelipisnya.
"Apa kau putus asa sekarang?" Ben terkekeh.
"Aku tidak akan putus asa secepat itu." Ann tersenyum masam.
"Baiklah, yang mana rumahmu?" Ben telah sampai di alamat yang ditunjukkan oleh Ann.
"Itu, pagar warna hitam, rumah warna coklat." Ann menunjukkan rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter lagi.
Ben menepikan mobilnya di depan pagar rumah itu, Ann segera turun dari mobil Ben. Ben menatap sekilas rumah besar tersebut yang terlihat sepi. Ann masih berdiri memperhatikan tingkah Ben.
"Hei, jangan menatap seperti itu kepadaku." Ben berucap saat melihat Ann menatapnya.
"Kau mencurigakan, terlihat seperti pencuri yang sedang memperhatikan rumah target, tahu."
"Aku hanya memperhatikannya sekilas."
"Baiklah, pergilah." Ann mengusir Ben.
"Tunggu sebentar." Ben mengambil ponselnya dan mengutak atiknya sebentar, kemudian dia menempelkan ponselnya ke telinga.
Ann mendengar ponselnya berdering, dia melihat nomor tanpa nama disana. Dengan ragu dia memencet tombol terima. Ann menempelkan ponselnya ketelinganya.
"Halo?"
"Hubungi aku jika kau perlu bantuan kembali." Suara di telpon sama dengan suara yang di dengar Ann dari dalam mobil di depannya.
"Hei, darimana kau mendapatkan nomorku?"
Ben mengerling pada Ann, dia mematikan telponnya tanpa menjawab pertanyaan Ann. Ben mengendarai mobilnya melaju meninggalkan Ann yang sedang tertegun menatapnya. Ann menatap kepergian mobil itu hingga menghilang dari jangkauan pandangan matanya.
Ben melirik sekilas ke kaca spion mobilnya, dia tersenyum tipis menatap wanita yang sedang berdiri menatap kepergiannya dengan bingung. Ben merasa sedikit tertarik dengan wanita itu, sebodoh apa wanita itu hingga menganggapnya seorang sopir. Ben menggelengkan kepalanya mengingat tingkah aneh wanita itu.
Ben menghentikan mobilnya di sebuah rumah besar yang baru saja di mata-matainya bersama wanita itu tadi. Para penjaga membukakan pintu untuknya, Ben masuk ke rumah itu dengan santai. Ben masuk ke sebuah ruangan besar dan duduk begitu saja di sofa ruangan itu. Pemilik ruangan yang sadar akan kehadirannya menghentikan aktivitasnya.
"Apa kau mencuri istri orang lagi, Rich?" Ben berkata tanpa menoleh pada pria itu, Richard adalah salah satu tangan kanan Ben.
"Hei, kau datang hanya untuk menanyakan hal tidak penting itu?"
"Kau hanya akan mencari masalah dengan itu, Rich."
"Kau tahu? Wanita ini adalah adik sepupu dari Fabio."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin mengorek sedikit tentang rahasia Fabio darinya."
"Hanya itu?"
"Ya, pria itu selalu meremehkanku dalam segala hal. Dia akan lihat bagaimana aku bisa mendapatkan adik sepupunya dengan mudah." Richard tersenyum puas.
"Apa yang kau dapatkan darinya?"
"Aku mendapatkan satu rahasianya, ternyata Fabio sangat takut pada serangga." Richard tertawa keras.
"Hal konyol apa itu?" Ben heran dengan tingkah Richard.
"Aku akan menakut-nakutinya dengan itu." Richard kembali tertawa
"Fabio akan mematahkan lenganmu jika kau melakukannya, dan dia juga akan mematahkan kakimu jika tahu kau mengencani wanita itu."
"Huh, wanita itu yang tergila-gila padaku dari awal."
"Mungkin suaminya akan memburumu setelah ini."
"Tidak masalah bagiku." Richard berucap santai.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang."
"Hei, kau berkunjung hanya untuk itu?"
"Ya."
Ben berlalu dan keluar dari ruangan Richard, dia kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya. Ben masih saja teringat akan wartawan wanita yang bersamanya beberapa saat lalu. Sekali lagi, Ben tersenyum ketika wajah wanita itu melintas dikepalanya.
...****************...