
Pesta telah usai, El masuk ke kamarnya setelah menidurkan Nevan. Entah kenapa Nevan terus ingin bersamanya hari ini. El sudah sangat mengantuk, dengan malas dia memaksakan diri untuk masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya sebentar dan mengganti pakaiannya dengan piyama.
El keluar dari kamar mandi sambil terus menguap, tiba-tiba langkah El terhenti, dia melihat sosok yang tidak asing sudah duduk bersandar di tempat tidurnya. Davin sedang duduk sambil bermain ponsel dengan tenang. Dia terlihat sangat santai tanpa memikirkan perasaan yang punya kamar.
"Apa? Kenapa diam disitu?" Davin menatap El.
"Om yang kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa berada di kamarku semalam ini?"
"Kau mau tahu alasannya?"
"Ya." El mengangguk.
"Kesini." Davin melambaikan tangannya.
El berjalan pelan menghampiri Davin. Saat dia sudah berada di tepi tempat tidur, Davin menarik tangannya hingga tubuh El terjatuh menimpa tubuh Davin. Davin hanya tertawa, sedangkan wajah El tampak memerah.
"Om, kau mengejutkanku."
"Kau sudah semakin berat, aku tak yakin bisa menggendongmu lagi." Davin terkekeh.
"Siapa juga yang mau kau gendong?"
"Yakin?"
"Yakinlah." El mengangguk.
"Hmmm, tadi kau ingin tahu alasanku kesini bukan?"
"Ya." El mengangguk.
"Aku merindukanmu." Davin berbisik lirih di telinga El.
"Alasan klise." El memasang wajah cemberut menyembunyikan rona wajahnya.
"Tadi aku sangat sibuk bersama para kolega sehingga aku tak punya waktu bersamamu." Davin tersenyum menggoda El.
"Aku juga tak ingin bersamamu."
"Aku tak yakin."
"Aku yakin."
"Ayo tidur." Davin mengerling ke arah El.
"Om, kau selalu saja."
"Selalu apa?" Davin tergelak.
"Selalu ingin tidur bersamaku."
"Aku menyukainya." Davin terkekeh.
"Apa?"
"Aku suka tidur bersamamu, aku suka memelukmu." Davin sudah memeluk erat tubuh El yang terasa mungil jika dibanding tubuhnya.
"Om, aku masih belum mengerti."
"Apa?"
"Tentang kita." Wajah El berubah sayu.
"Sudah larut malam, jangan berpikir." Davin mencium kening El, yang dicium langsung membenamkan wajahnya ke dada Davin menyembunyikan pipinya yang merona.
"Om apa ini tidak salah?" El berkata lirih di dada Davin.
"Sudah berapa kali kau menanyakan hal itu?" Davin terkekeh dan mengangkat kepala El agar menatapnya.
"Kau tak pernah menjawab." El cemberut.
"Ayo tidur." Davin membawa El agar berbaring.
"Kan, kau tidak menjawab."
"Cerewet." Davin memejamkan matanya dan memeluk El dengan erat.
"Om?"
"Hmmm." Davin hanya berdehem, tak lagi menjawab.
El semakin cemberut, bagaimana bisa pria itu memejamkan mata dengan santainya sambil terus mengungkung tubuhnya erat. El berusaha untuk memejamkan matanya karena malam sudah semakin larut, namun dia sama sekali belum bisa tidur. Berbeda dengan Davin, dia sudah terlelap sangat tenang.
El memandangi wajah Davin, dia memang sangat suka memandangi wajah Davin dalam jarak dekat. Pria itu sangat tampan, El tidak mengerti mengapa dia bisa jatuh cinta pada pria yang berjarak tujuh tahun lebih tua darinya. Pria itu bahkan selalu menyelinap ke kamarnya setiap ada kesempatan. El tidak tahu lagi harus melakukan apa, yang jelas dia tidak bisa menghindar lagi dari pria itu.
El menarik tangannya pelan agar terlepas dari kungkungan tangan Davin. Dia menyentuh pipi Davin dengan ujung jari telunjuknya. Jari itu beralih ke ujung hidung Davin kemudian turun menyentuh bibir Davin pelan seakan tidak jera akan dipergoki Davin. Entah kenapa El benar-benar suka melakukannya.
"Kenapa kau sangat senang membelai wajahku?"
"Om?" El langsung menurunkan tangannya dari wajah Davin.
"Kau terus membangunkanku." Davin tersenyum.
"A..aku."
Belum sempat El meneruskan kalimatnya, namun bibir Davin sudah menempel ke bibir El. Sesaat El terdiam tak bergerak sedikitpun, dia bahkan tidak bisa bernapas sama sekali. Ciuman tanpa aba-aba itu membuatnya tidak bisa menghindar. Wajahnya memerah dan jantungnya langsung berdebar tidak karuan.
"El, bernapaslah." Davin tersenyum melepaskan ciumannya. Dia menahan tawanya melihat ekspresi wajah El yang sangat tidak santai.
"O..Om." El melongo.
"Kenapa?" Davin terkekeh.
"Kau mencuri ciuman pertamaku."
"Ya, berjanjilah itu hanya untukku, aku takkan membiarkan bibirmu disentuh siapapun."
"Kenapa?"
"Mulai saat ini kau benar-benar milikku." Davin tersenyum.
"Ta..tapi."
"Jangan bicara lagi, tidurlah." Davin mencium kening El.
Davin kembali mengeratkan pelukannya, dia memejamkan matanya kembali dan tertidur sangat pulas. Berbeda dengan El dia benar-benar tak bisa tidur sama sekali. Pikirannya benar-benar kacau, dia tidak bisa berpikir normal saat ini. El menyentuh bibirnya yang terasa hangat, wajahnya terus merona setiap mengingat apa yang baru saja terjadi.
Menjelang subuh barulah El terlelap, sulit untuknya tidur saat jantungnya terus berdetak sangat cepat. Hingga pagi menjelang El tidak juga terbangun, dia sudah seperti putri tidur. El bahkan tidak merasakan apapun, dia benar-benar tertidur seperti orang mati.
Davin terbangun, dia melihat El yang masih sangat terlelap di sampingnya. Davin tersenyum dan pelan-pelan melepaskan pelukannya. Dia mencium sekilas bibir El dan turun dari tempat tidur. Davin keluar dari kamar El dan kembali ke kamarnya. Dia segera mandi dan turun untuk sarapan, di ruang makan sudah ada Jessi, Nevan dan pengasuhnya.
"Apa El belum turun?" Jessi menatap Davin.
"Belum, dia masih tidur." Davin duduk di kursi depan Nevan.
"Benarkah?"
"Ya, mungkin kelelahan karena pesta tadi malam." Davin mengambil roti dan mengolesinya dengan selai.
"Baiklah." Jessi mengangguk.
"Apa kau akan pergi hari ini, Jess?"
"Ya, aku akan keluar kota hari ini."
"Berapa hari?"
"Tiga hari."
"Hmm baiklah."
"Kulihat kau sudah lama tidak pergi perjalanan bisnis."
"Ya, aku menundanya hingga El selesai sidang nanti."
"Jess?"
"Ya?"
"Berhati-hatilah di tempat umum."
"Ya, ya, maafkan aku."
"Kau sangat terkenal, akan sangat mudah dikenali."
"Ya Vin, aku tidak akan mengulanginya."
"Baiklah, aku akan segera ke kantor. Apa kau juga akan berangkat sekarang?"
"Ya, apa kau akan mengantarku?"
"Ya, kantorku dan kantormu searah, aku akan mengantarmu terlebih dahulu."
"Baiklah." Jessi mengangguk.
"Dimana Naya?" Davin bertanya pada pengasuh Nevan.
"Di belakang, tuan."
"Panggilkan dia."
"Baik tuan." Dengan segera pengasuh itu pergi ke belakang dan tidak lama muncul kembali bersama Naya.
"Naya?"
"Ya, tuan?"
"Nanti jika El sudah bangun, siapkan sarapan dan semua keperluannya."
"Baik tuan." Naya mengangguk.
Davin dan Jessi akhirnya berangkat bersama ke kantor setelah berpamitan pada Nevan. Mereka bergantian memeluk dan menciumi anak itu. Nevan seakan sudah terbiasa ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya itu sehingga dia tidak rewel sama sekali.
Satu jam setelah kepergian Davin dan Jessi, El keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi. Dia ingin ke kampus hari ini walaupun hanya akan nongkrong diperpustakaan. El menuju ruang makan, tak ada siapapun disana. Naya menghampirinya dengan membawa berbagai menu sarapan yang disukai El.
"Apa nona mau berangkat ke kampus?" Naya tersenyum.
"Ya, aku bangun kesiangan hari ini." El terkekeh.
"Ya, nona, sarapanlah dulu." Naya mempersilahkan.
"Naya, duduklah."
"Saya disini saja, nona." Naya berdiri di dekat El.
"Duduk saja temani aku sarapan." El tersenyum.
"Apakah tidak apa-apa nona?" Naya terlihat tidak enak.
"Tak apa Naya, duduklah."
"Dengan pelan dan canggung Naya duduk di kursi depan El."
"Makanlah juga Naya."
"Saya sudah sarapan tadi, nona."
"Hmmm baiklah." El tersenyum sambil menikmati sarapannya.
"Ya, nona." Naya mengangguk.
"Naya, apakah Om Davin dan Tante Jessi sudah berangkat lama?"
"Ya, tuan dan nyonya berangkat ke kantor bersama-sama sudah sekitar satu jam yang lalu, nona."
"Bersama-sama?"
"Ya, kantor mereka searah nona, tuan dan nyonya memang sering berangkat bersama."
"Benarkah?"
"Ya, nona, tuan Davin memang selalu mengajak nyonya pergi bersama-sama. Kadang walaupun terlihat dingin dan cuek, tuan Davin sering menunjukkan perhatiannya lewat hal-hal kecil seperti itu." Naya tersenyum.
"Oh ya?" Entah kenapa dada El terasa nyeri mendengarnya.
"Ya, nona." Naya tersenyum.
"Mmm, apa kau pernah membersihkan kamar Om Davin dan Tante Jessi, Naya?" El memancing agar Naya bercerita banyak, dia ingin tahu apakah Naya mengetahui bahwa Davin dan Jessi selama ini tidur berbeda kamar dan El juga ingin tahu seberapa banyak Naya mengetahui tentang kehidupan Davin dan Jessi.
"Tidak, nona. Hanya ibu yang diperbolehkan membersihkan kamar mereka?"
"Bi Hana?"
"Ya." Naya mengangguk.
"Kenapa?"
"Tidak tahu, nona. Ibu tidak pernah memberitahu jika saya bertanya."
"Hmm baiklah, dimana Nevan?"
"Nevan sedang di taman belakang nona."
"Baiklah, aku akan menemui Nevan terlebih dahulu." El sudah menghabiskan sarapannya.
"Baik, nona."
El berjalan meninggalkan ruang makan menuju taman belakang. Dia ingin menemui Nevan terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus. Entah kenapa dadanya masih terasa sedikit nyeri mengingat perkataan Naya tadi, mengetahui bahwa Davin dan Jessi selalu berangkat bersama-sama.
Apakah itu berarti hubungan mereka sebenarnya baik-baik saja? El terus berdebat dengan hatinya sendiri.
Setelah kepergian El, Bi Hana datang menghampiri Naya yang sedang membereskan meja makan. Dia menjewer telinga Naya dengan tiba-tiba. Naya hanya mengaduh dan memegangi telinganya yang terasa nyeri.
"Ibu, sakit." Naya cemberut sambil mengusap-usap telinganya.
"Naya, sudah berapa kali ibu katakan, jangan terlalu banyak bicara." Bi Hana berbicara setengah berbisik.
"Aku tidak berbicara banyak, ibu."
"Apa kau kira aku tidak mendengar?"
"Apa?"
"Kau jangan pernah berbicara apapun tentang Tuan Davin dan Nyonya Jessi kepada nona El."
"Aku kan hanya mengatakan apa yang aku tahu karena nona El bertanya."
"Harusnya kau jawab sekedarnya saja, jika nona El bertanya apakah tuan Davin dan nyonya Jessi sudah bernagkat, kau tinggal jawab sudah. Jangan berkata terlalu banyak, perkataanmu bisa membunuh dirimu sendiri." Bi Hana mewanti-wanti Naya.
"Ya, maafkan aku bu."
"Lain kali kau lebih berhati-hati dengan ucapanmu, kau sudah dewasa tapi masih saja kekanakan." Bi Hana terus mengomeli Naya.
"Ya, aku minta maaf ibu." Naya mengulangi kata-katanya sambil memeluk-meluk manja pinggang Bi Hana.
"Sudah sana, kembali bekerja." Bi Hana melepaskan rangkulan tangan Naya dari pinggangnya.
"Apa aku dimaafkan?" Naya tersenyum ceria.
"Ya, kali ini saja. Jika kau begitu lagi akan ku lem mulutmu itu."
"Jahat sekali." Naya cemberut sambil membereskan meja kembali.
Bi Hana kembali ke belakang, Naya meneruskan pekerjaannya. Dia memang sedikit bingung dengan keadaan dirumah ini. Naya memang baru saja bekerja disini, awalnya dia hanya diminta untuk bantu-bantu saja tapi sekarang dia sudah menjadi pelayan tetap dirumah ini.
Dirumah ini mempunyai peraturan yang tidak bisa dilanggar, pelayan tidak boleh menginjak lantai dua. Hanya bi Hana yang mempunyai akses bebas kesana dan pengasuh Nevan. Itupun pengasuh Nevan hanya boleh berada di kamar anak itu, tidak boleh keluyuran kemana-mana selama berada di lantai dua kecuali di minta oleh empunya rumah.
Bi Hana akan membawa pelayan lain untuk membersihkan ruangan-ruangan lantai dua jika di izinkan oleh Davin dan Jessi. Itupun mereka hanya akan membersihkan ruangan lain, mereka tidak boleh menginjakkan kaki di koridor yang menuju kamar Davin dan Jessi. Hanya bi Hana yang bisa masuk kesana, karena jika dilanggar habislah sudah nasib semua pelayan dirumah ini. Keluarga orang kaya memang selalu membingungkan batin Naya.
...****************...