
"Aku sudah menemukan alamat baru adik Ann." Chris berbicara di telepon.
"Percuma Chris, dia tidak akan buka mulut tentang Ann. Aku sudah mencoba dengan segala cara." Ben mengusap wajahnya.
"Aku tahu kelemahannya." Chris terdengar terkekeh.
"Apa itu?"
"Kau lihat saja nanti."
"Apa yang akan kau lakukan Chris?"
"Aku akan membuatnya membuka mulut tentang keberadaan Ann."
"Sebenarnya aku juga tidak yakin dia mengetahui keberadaan Ann, Chris." Ben merendahkan suaranya.
"Kenapa?"
"Aku tidak melihat pergerakan sedikitpun dari dia yang mengarah pada Ann."
"Hanya dia anggota keluarga satu-satunya Ann, aku yakin dia pasti mengetahuinya."
"Entahlah, aku sudah berulang kali bertanya padanya tapi dia selalu mengelak dan mengatakan tidak tahu." Ben terdengar putus asa.
"Serahkan saja padaku, aku akan membuatnya buka mulut kali ini."
"Lakukanlah, tapi jangan sampai kau menyakitinya. Bagaimanapun dia adalah adik iparku."
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati."
"Ya, jangan sampai kau menyakiti orang-orang yang di cintai oleh Ann dan adiknya."
"Baiklah."
Ben memutuskan sambungan teleponnya, dia menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. Dia kembali teringat dengan adik iparnya, Ben beberapa kali bertemu dengannya. Ann sangat menyayangi adiknya itu, begitu juga sebaliknya.
Ben dan adik iparnya pernah begitu dekat, namun setelah kepergian Ann mereka juga seperti kehilangan ikatan. Ben beberapa kali menemui adik iparnya untuk menanyakan tentang Ann, namun dia selalu mengatakan tidak tahu. Ben tidak pernah memaksa, dia akhirnya memutuskan untuk mencari Ann dengan caranya sendiri.
Ben tidak pernah lagi bertemu atau sekedar saling menyapa lewat telepon dengan adik Ann. Mereka tidak pernah berhubungan lagi setelah adik Ann beberapa kali berpindah rumah, Ben merasa bahwa adik Ann seakan menghindarinya. Ben tidak lagi berusaha mencari adik iparnya itu karena menurutnya tidak akan merubah apapun, adik Ann tidak pernah mengatakan apapun, dia tidak memberitahukan apapun tentang Ann kepadanya. Entah dia sungguh-sungguh tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu.
Ben beranjak dari tempat duduk dan keluar dari ruangannya. Ben pergi meninggalkan kantornya, dia ingin mengunjungi tempat Richard. Seperti biasa Ben di sambut oleh anak buah Richard, dia memang memiliki akses bebas untuk keluar masuk ke tempat itu.
"Rich."
"Hei, kau datang?" Rich terkekeh.
"Ya." Ben duduk di sofa.
"Ada apa?" Richard sepertinya paham dengan situasi yang terjadi, raut wajah Ben terlihat suram. Itu berarti dia sedang bermasalah dengan hatinya.
"Tolong kau cek kembali rekaman cctv di hari terakhir Ann menghilang."
"Baiklah." Richard segera membuka lemarinya, dia jelas masih menyimpan semuanya karena jika rekaman cctv itu menghilang dia akan mendapat masalah besar. Selama beberapa tahun ini entah sudah berapa ratus kali Ben menyuruhnya memutar rekaman cctv yang tidak memberikan petunjuk apapun.
Richard mulai memutar satu persatu rekaman itu, dia dan Ben mengamatinya kembali. Rekaman itu tentu saja selalu sama seperti yang dulu mereka lihat. Tidak ada yang berubah sama sekali pada rekaman itu.
"Rich, tunjukan rekaman tiga wanita itu."
"Baiklah."
Rekaman pertama menampilkan sosok Marry, Megan dan Bella yang terlihat akrab. Mereka sering bertemu, entah dari mana mereka bisa saling mengenal. Tidak ada yang mencurigakan dari gerak gerik mereka di hari menghilangnya Ann. Rekaman lainnya juga tidak ada yang mencurigakan sama sekali.
"Rich, ulang rekaman itu."
Richard mengulang salah satu rekaman, rekaman itu menunjukkan Megan dan Bella yang baru pulang entah dari mana, mereka keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah Megan beriringan. Tidak ada yang mencurigakan, mereka berjalan santai dengan raut wajah biasa. Namun Mata Ben menangkap sesuatu yang aneh dari pakaian yang di kenakan oleh Megan dan Bella.
"Ulang sekali lagi." Ben terlihat sangat serius.
"Baik." Richard menurut saja, dia takut Ben akan meledak.
"Rich, ulang rekaman saat mereka berangkat."
"Baik." Richard mengulang rekaman saat Megan dan Bella meninggalkan rumah Megan.
"Ada sesuatu yang aneh."
"Apa itu?" Richard terlihat bingung.
"Lihatlah itu, perbedaan pakaian yang dipakai oleh Megan dan Bella saat berangkat dan pulang." Ben menujuk pada rekaman yang terus terulang itu.
"Benar, kenapa aku baru menyadarinya?" Richard mengamati dengan serius.
"Aku juga baru menyadarinya." Ben mengangguk.
"Baju Megan terlihat sedikit robek dan baju mereka berdua terdapat noda, sepertinya itu adalah noda tanah. Padahal saat berangkat, pakaian mereka baik-baik saja." Richard menyipitkan matanya.
"Ini adalah rekaman dua hari setelah Ann menghilang, kira-kira darimana mereka?" Ben menatap Richard.
"Aku akan mencari rekaman cctv dari jalan yang mereka lewati pada hari itu." Richard segera menelepon seseorang, dia terdengar berbicara banyak dengan orang di seberang.
"Bagaimana?" Ben sangat penasaran.
"Mereka akan mengirimkannya dalam waktu satu jam."
"Bersabarlah."
"Rich, apa kau merasa mereka berdua terlibat dengan hilangnya Ann?"
"Entahlah, ini masih belum jelas." Richard mengangkat kedua bahunya.
"Apa kau masih berhubungan dengan Bella?"
"Jelas saja tidak, setelah hari pernikahanmu aku tidak pernah menemuinya lagi."
"Kenapa?"
"Bukankah kau tahu bahwa aku hanya bermain-main dengannya?"
"Ya." Ben mengangguk.
"Saat itu dia terus mencariku, namun aku tak menghiraukannya sama sekali. Apalagi setelah aku tahu bahwa Bella pernah hampir membahayakan nyawa istrimu."
"Ya, dia wanita yang licik." Mata Ben memancarkan rasa benci saat menyebut nama itu.
"Ya, bagaimana dengan Megan?" Richard bertanya.
"Wanita itu sama saja dengan Bella."
Satu jam berlalu, rekaman itu benar-benar dikirim sesuai waktu yang telah dijanjikan. Ben dan Richard segera membuka file rekaman itu, mereka terlihat tidak sabar dan penasaran. Ben mengamati dengan jeli setiap rekaman yang diputar oleh Richard.
"Mereka menuju kemana?" Ben mengernyitkan kedua alisnya.
"Rekamannya hanya sampai disana, tidak ada lagi cctv dijalan itu."
"Mereka sangat mencurigakan, apa kau tahu tempat itu Rich?"
"Sepertinya aku tahu tempat itu, jalan itu menuju bukit, hanya hutan lebat yang akan kau temui disana."
"Sekarang aku yakin mereka terlibat dalam hal itu." Ben menggertakkan giginya geram.
"Kau jangan gegabah dulu, kita harus memastikan terlebih dahulu."
"Ayo kita ketempat itu."
"Sekarang?"
"Ya."
Dengan sedikit terpaksa Richard mengikuti kemauan Ben. Richard melajukan mobilnya menuju tempat yang di datangi oleh Megan dan Bella. Beberapa tahun berlalu jalan yang mereka lalui tampak berbeda dengan apa yang ada dalam rekaman.
"Disini tempat cctv terakhir." Richard menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Jalanan memang sedikit berbeda, tapi tempat ini tetap sama."
"Ya, hanya hutan lebat, tempat ini tetap terlihat menyeramkan."
"Terus jalan, Rich." Ben memerintah.
Richard menjalankan mobilnya, sepanjang jalan hanya rimbun pepohonan yang membuat tempat itu terlihat gelap dan suram. Ben mengamati setiap celah pepohonan dan semak belukar yang terlihat sangat lebat. Ben menyipitkan matanya saat dia melihat sesuatu yang aneh jauh dari jalan. Sesuatu yang tertutup semak belukar dan sulit tertangkap pandangan karena terhalang batang-batang pohon besar. Hanya sedikit bagian yang terlihat oleh mata Ben, dia merasa penasaran dan memutuskan untuk memeriksanya.
"Rich, berhenti." Ben turun dari mobil dan berlari menerobos semak belukar didepannya.
"Hei, tunggu aku."Richard mengejar Ben.
Ben akhirnya sampai pada tujuannya, dia menatap bangunan besar yang sudah setengah runtuh dan tertutup oleh semak belukar yang tumbuh merambat. Richard yang sudah berhasil mengejarnya berdiri di samping Ben. Richard ikut menatap apa yang ada di depan matanya. Sebuah bangunan tua di dalam hutan yang hampir tak tertangkap mata. Entah milik siapa bangunan itu mereka sama-sama bertanya dalam hati.
Ben yang merasa sangat penasaran mulai menarik semak belukar dengan kedua tangannya. Dia berusaha mencari jalan masuk ke bangunan itu. Richard juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Ben. Cukup lama mereka membersihkan tanaman merambat yang sangat tebal menutupi bangunan itu. Richard bahkan bergumam kecil dan terus mengeluh karena tangannya dipenuhi luka goresan dari tanaman berduri.
Ben dan Richard akhirnya bisa masuk ke bangunan itu, sangat menyeramkan dengan keadaan setengah runtuh. Puing-puing dan sisa perabotan berserakan di dalam bangunan yang menandakan bahwa bangunan itu sudah sangat lama di tinggalkan. Entah apa yang membuat Ben merasa sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam bangunan itu, Ben terus menyusuri tempat itu dengan hati-hati.
Mereka memasuki beberapa ruangan yang sangat kotor dan berantakan. Bangunan mati itu semakin terlihat mengerikan sehingga membuat bulu kuduk Richard meremang. Richard akhirnya memutuskan untuk mengekori Ben, pria itu memang terlihat tidak takut dengan manusia manapun kecuali dengan Ben, namun Richard sangat penakut dengan makhluk yang dianggapnya tidak kasat mata.
Ben memasuki sebuah ruangan yang tidak berbeda jauh dengan ruangan lainnya. Namun diruangan itu tidak ada perabot apapun, hanya ruangan kosong yang terlihat sangat kotor. Mata Ben menyapu seluruh ruangan itu, dia tertarik dengan sebuah tali tambang yang sudah mulai rusak teronggok disudut ruangan. Ben mendekatinya di ikuti oleh Richard di belakangnya.
"Ben, ayo kita pergi saja, tempat ini sangat mengerikan."
"Diamlah, Rich." Ben memegang tali tambang itu.
"Lepaskan itu, siapa tahu itu tali yang digunakan seseorang untuk mengakhiri hidupnya hingga mayatnya membusuk disini dan arwahnya gentayangan menghantui tempat ini." Richard tergidik ngeri.
"Kau sangat penakut." Ben berucap pelan.
"Hei, apa ini?" Rich menunjuk sesuatu yang berkilauan berwarna keemasan menyembul dari tanah tebal yang menutupi keramik.
Ben dengan cepat mengambil benda itu dengan tangannya, benda itu sudah hampir tenggelam sempurna didalam tanah dan sampah-sampah alam yang memenuhi ruangan tersebut. Ben terbelalak menatap apa yang kini berada dalam genggamannya.
"Ann." Ben bergumam, dia menggenggam erat benda itu.
"Apa itu?" Richard merasa penasaran.
"Cincin pernikahanku dengan Ann!"
...****************...