
Enam pria berbadan besar mengelilingi dua pria yang sedang terikat dikursi. Seluruh tubuh dua pria yang terikat itu tampak babak belur, mereka terlihat tidak berdaya. Seorang pria masuk keruangan yang tampak kotor itu, enam pria memberikan jalan kepadanya. Dua bola mata berbeda warna itu menatap tajam kepada dua pria yang terikat, mereka hanya bisa menunduk pasrah dengan nasib yang akan menimpa mereka.
"Bagaimana? Kalian senang dengan hadiah dariku?" Ben menyeringai.
Kedua pria itu tidak bersuara sedikitpun, mereka bahkan tidak berani menggerakkan badannya sedikitpun. Mereka hanya menunduk menatap kaki mereka yang tak berhenti bergetar. Kedua pria itu bahkan hampir tidak berani untuk bernapas.
"Jawab!" Ben berteriak sangat keras membuat semua orang yang berada di ruangan itu tersentak.
"Ampun tuan." Salah seorang pria yang terikat berkata dengan lirih.
"Apa kalian ingat dengan tempat ini?" Ben bertanya dengan mata berapi-api membayangkan perasaan Ann yang pernah disekap ditempat itu.
"Ampun tuan." Hanya itu kata yang terucap dari mulut kedua pria itu.
"Ampun? Apa istriku juga berkata seperti itu saat kalian menyekapnya dulu?" Ben menggertakkan giginya sangat geram.
"Ampun tuan." Mereka terus meminta ampun.
"Rich." Ben berteriak keras memanggil Rich yang sekali lagi membuat semua orang dalam ruangan tersentak.
"Ya." Rich tergopoh-gopoh masuk membawa berbagai peralatan, tripot, kamera dan lain-lain.
Rich meletakkan peralatan itu didepan kedua pria itu. Dia mulai merangkainya dan menghidupkan kamera. Kamera itu langsung menyorot dan merekam kedua pria itu.
"Sekarang katakan semua yang kalian lakukan terhadap wanitaku!" Ben berteriak keras, dia tidak bisa menahan amarahnya sama sekali.
"Ampun tuan."
"Kalian tahu? Dua nyawa kalian saja tidak akan mampu membayar apa yang kalian lakukan terhadap Ann, apalagi hanya dengan kata ampun." Ben menyeringai.
"Kalian ceritakan saja semuanya." Rich berucap datar.
Dengan rasa takut yang luar biasa kedua pria itu mulai bercerita semua yang terjadi waktu itu. Dengan bibir bergetar mereka mengucap kata demi kata sambil terbata-bata. Jika mereka terdiam maka beberapa pria akan menendang kursi mereka.
"Siapa dalang utamanya?" Rich bertanya.
"Nyonya Marry, nyonya Bella dan nona Megan." Kedua pria itu berucap dengan ketakutan.
"Apa kalian lebih takut dengan mereka daripada aku hah?" Ben berteriak keras sambil menendang kursi.
"Tidak tuan."
"Kenapa kalian berani menyentuh sesuatu yang sangat berharga milikku hanya karena mereka?" Ben tidak bisa berhenti berteriak, urat lehernya bahkan tercetak sangat jelas.
"Kami terdesak tuan, kami perlu uang."
"Uang? Hahaha. Berapa yang kalian dapat? Satu milyar? Dua, tiga, atau seratus milyar? Aku bahkan bisa memberi kalian seribu kali lipat dari itu." Ben menyeringai.
"Ampun tuan."
"Lanjutkan cerita kalian!" Ben berteriak, kedua pria itu kembali bercerita.
Ben benar-benar menggertakkan giginya geram mendengar semua cerita itu. Dia tidak menyangka bahwa ketiga wanita itu benar-benar berhati busuk. Bahkan Ben tidak menyangka apa yang dilakukan oleh seseorang yang sudah dianggapnya ibu, dia salah menyangka akan sifat ibunya yang sebenarnya.
"Katakan dimana Ann sekarang?" Ben berteriak, benar-benar murka.
"Kami tidak tahu, tuan. Kami hanya ditugaskan untuk membawa dan menyekap nyonya di tempat ini."
"Lalu siapa saja yang mengurusnya setelah kalian?"
"Nyonya Bella dan nona Megan, mereka yang berada disini. Saat itu kami disuruh untuk pulang tuan." Pria itu berucap dengan penuh rasa takut.
"Sialan kedua wanita itu!" Ben mengepalkan tangannya.
"Lepaskan ikatan kedua orang ini!" Ben berteriak kepada semua orang yang ada disana.
Mereka dengan segera melepaskan ikatan yang menjerat kedua orang itu. Setelah ikatan itu lepas, keduanya langsung melorot jatuh kelantai tak berdaya. Mata Ben terlihat berkilat-berkilat, ingin rasanya dia menghabisi nyawa kedua orang itu dengan tangannya sendiri. Namun dia berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikannya. Ben tahu bahwa Ann tidak ingin dia mengotori tangannya kembali seperti dulu sebelum mengenal Ann.
"Kau akan melepaskan mereka?" Richard bertanya dengan heran karena Ben bukanlah sosok pengampun.
Ben mendekati kedua orang yang terlihat sangat mengenaskan itu. Dia menyentuh dagu salah seorang pria sehingga membuatnya mendongak. Wajah pria itu penuh luka lebam dan hampir tak dikenali lagi wajah aslinya.
"Larilah kalian sebisa mungkin, jika kalian bisa keluar dari hutan ini maka kalian akan selamat." Ben menyeringai.
"Tu..tuan sungguh?" Kedua pria tersebut terperangah karena mendengar ucapan Ben, seakan mendapatkan keajaiban mereka diperbolehkan untuk lari.
"Ya, dengan satu syarat. Jangan pernah kalian menampakkan wajah kalian di depanku lagi. Jika kalian bertemu denganku kembali, habis kalian!" Ben menekankan setiap kata-katanya.
"Te..terima kasih tuan." Kedua pria itu bersujud di kaki Ben.
"Lari sekarang!" Ben berteriak.
Tanpa berpikir apapun lagi kedua pria itu lari tunggang langgang dengan sisa tenaga yang ada. Mereka memaksakan diri untuk berlari walaupun terus terjatuh karena badan mereka yang sangat lemah. Bahkan jika mereka harus merangkak pun mereka akan tetap berusaha karena hanya dengan itu kesempatan hidup kedua kalinya akan mereka dapatkan. Mereka benar-benar menyesal telah melakukan hal yang akhirnya hampir membuat mereka kehilangan nyawa. Kali ini sepertinya malaikat maut sedang berbaik hati pada mereka.
"Wow, apa sekarang kau benar-benar berubah menjadi manusia sungguhan?" Richard menatap Ben.
"Ini hanya karena Ann."
"Cinta memang membutakan, bahkan bisa membuat seorang monster kembali menjadi manusia." Richard terkekeh.
"Diamlah, Rich."
"Ya, ya." Richard akhirnya diam.
"Sekarang aku harus benar-benar memastikan keberadaan Ann, kuharap dia baik-baik saja." Wajah Ben berubah muram.
"Ku yakin dia baik-baik saja." Rich berucap walau dia juga tak terlalu yakin.
"Semoga saja."
"Maafkan aku, Ben." Richard mengingat awal peristiwa yang membuat petaka itu sedikit banyak juga karena dirinya.
"Sudahlah, bukan salahmu." Ben menatap kosong pada ruangan kotor itu.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Aku akan mengurus kedua wanita itu secara perlahan." Ben menggertakkan giginya menandakan dia merasa sangat geram.
"Bagaimana dengan ibumu?" Richard berucap pelan, takut menyinggung perasaan Ben.
"Aku akan mengurusnya sendiri." Ben mengepalkan kedua tangannya.
"Baiklah." Richard mengangguk, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada ketiga wanita itu. Namun Richard yakin bahwa Ben akan bersikap bijak.
"Pergilah kalian semua." Ben memerintahkan kepada enam pria yang masih berada disana.
Semua pria menyeramkan itu keluar dari ruangan itu dengan segera hingga tersisa Ben dan Richard. Ben menatap sekeliling ruangan itu, dia menyesali dirinya yang tak berada disana saat Ann membutuhkannya. Dia kembali mengepalkan kedua tangannya, ada sesuatu yang rasanya akan meledak didalam dadanya.
"Aargggghh." Ben berteriak sambil meninju dinding ruangan itu dengan keras hingga darah terlihat menetes di buku-buku jemarinya.
Richard hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Ben. Dia tidak bisa melakukan apapun saat ini, dia hanya perlu membiarkan Ben melampiaskan amarahnya. Richard terus menatap Ben, pria yang selalu sempurna itu terlihat sangat menyedihkan saat ini. Dia benar-benar terlihat sangat terluka dengan apa yang terjadi pada Ann.
...****************...