
Plakkk.
Benar saja, hal tidak menyenangkan akhirnya benar-benar terjadi. Ann menyentuh pipinya yang terasa panas, istri pimpinannya kini berada di depan Ann dengan mata berapi-api. Mulutnya tidak berhenti memaki-maki Ann yang sedari tadi hanya diam dan tak melakukan apapun. Ann tidak tahu harus melakukan apa, dia mengakui bahwa sedikit banyak ini juga kesalahannya.
"Wartawan rendahan, apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mengurusi hidup orang lain?"
Aku harus bagaimana? Pekerjaanku memang mengurusi hidup orang lain. Dan aku bukan wartawan rendahan tahu? Batin Ann
"Maaf nyonya." Hanya itu yang bisa di katakan Ann.
"Apa yang kalian lakukan? Keluar dari sini!" Istri pimpinan berteriak kepada teman-teman satu ruangan Ann yang kini berhamburan keluar setelah mendengar titah sang ratu.
"Nyonya, pimpinan menuju kesini." Pria plontos pengawal istri pimpinan berkata pelan di sampingnya.
"Apa yang terjadi disini?" Pimpinan menatap dingin pada kedua wanita yang sedang berhadapan itu.
"Suamiku, bukankah dia yang telah memberikan foto itu kepadamu?"
"Bella, kita sudah membicarakan hal ini kemarin. Kau tidak perlu lagi mencari tahu siapa yang melakukannya."
"Apa kau pikir aku bisa mengabaikannya?" Bella bersuara keras.
"Ayo keluar dari sini." Pimpinan merangkul bahu istrinya.
"Aku masih ingin memberi pelajaran padanya." Istri pimpinan tidak beranjak sama sekali dari tempat dia berdiri.
"Bella cukup, kita sudah berdamai masalah ini."
"Aku tidak peduli, mulai hari ini aku tidak ingin melihat wartawan rendahan ini berada di kantor ini! Istri pimpinan menunjuk wajah Ann.
"Bella, kau tidak bisa seenaknya."
"Kau membelanya?" Istri pimpinan tersenyum sinis.
"Kau yang membuat kesalahan, kenapa kau yang keras kepala?" Akhirnya pimpinan meninggikan suaranya.
"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya berkunjung ketempat pria itu. Kau lihat foto itu bukan? Aku hanya duduk berbincang dengan pria itu." Istri pimpinan juga meninggikan suaranya.
Cih, jelas di foto itu kau sedang saling merayu dengan pria itu. Ann
"Bella." Pimpinan kewalahan menanggapi istrinya.
"Lebih baik kita bercerai saja." Istri pimpinan berkata dengan suara rendah.
"Bella kita sudah sepakat untuk tidak bercerai."
"Jika itu yang kau inginkan, usir wanita ini dari sini."
Oh Tuhan, drama apa yang sedang ku saksikan ini? Ann
"Baiklah, aku akan memikirkannya." Pimpinan akhirnya mengalah.
Pimpinan macam apa kau? Jika kau takut pada istrimu untuk apa kau menyuruhku melakukan hal bodoh yang sia-sia itu. Ann
"Baiklah, aku akan pergi sekarang." Istri pimpinan melangkah keluar ruangan di ikuti pengawalnya, dia terlihat tersenyum penuh kemenangan.
Saat ini tinggallah Ann dengan pimpinan yang berada di dalam ruangan. Pimpinan menatap Ann sekilas, dia terlihat kebingungan. Beberapa saat mereka hanya terdiam tanpa berkata apa-apa.
"Ann."
"Ya, tuan."
"Aku tidak tahu entah darimana istriku mengetahui bahwa kau yang memberikan foto itu."
Hei, aku tidak memberikannya, kau yang mencurinya. Ann merasa sedikit kesal
"Ya, tuan." Ann hanya mengangguk.
"Ternyata aku tidak bisa berpisah dengannya, hatiku masih terlalu mencintainya."
Ya Tuhan, jika begitu kenapa kau melibatkan aku dengan masalah rumah tanggamu itu?
"Ann maafkan aku, aku tidak akan memecatmu, aku hanya akan memindahkanmu ke kantor cabang."
Hari itu juga Ann berkemas menuju kantor cabang yang lumayan jauh dari kantor utama. Dia menempuh perjalanan lebih dari 30 menit, Ann menghentikan mobilnya di depan kantor baru yang akan ditempatinya. Dia hanya membawa sedikit barang penunjang pekerjaannya, Ann memasuki ruangan barunya dan mulai kembali bekerja.
Hari sudah sangat sore, Ann bergegas untuk pulang. Diperjalanan pulang Ann kembali mengalami kesialan, mobilnya mogok tanpa tahu sebabnya. Ann menatap kesekitar, tampak sepi dan tidak terlihat bengkel di sekitar situ. Ann merasa kesal dan putus asa, hari sudah semakin gelap dia berjalan cepat meninggalkan mobil berusaha mencari-cari bantuan.
Ann merasa seperti di ikuti oleh seseorang, dia memang sangat peka dengan segala gerakan ataupun suara. Ann mempercepat langkahnya, jalanan terlihat sepi hanya ada beberapa orang yang melintas tanpa peduli dengan Ann. Suara langkah kaki semakin terdengar mendekat, Ann merasa cemas namun dia berusaha tetap tenang.
Ann akhirnya memutuskan untuk berlari saat seseorang sudah terasa sangat dekat di belakangnya. Ann bukanlah wanita yang lemah, dia menguasai seni bela diri dan bisa berlari dengan cepat. Karena itulah dia bisa menjadi wartawan yang hebat. Ann memberanikan diri menatap ke belakang, dia melihat dua orang pria sedang mengejarnya. Dengan cepat Ann berlari memasuki gang sempit, entah kemana jalan itu akan membawanya dia juga tidak tahu.
Ann merasa kakinya sudah terasa sangat pegal, dia menoleh kembali ke belakang, orang yang mengejarnya masih berlari tanpa lelah. Ann kembali berlari secepat mungkin, dia ingin menjauh sejauh-jauhnya dari dua pria yang sedang mengejarnya itu. Apapun alasan kedua pria itu mengejarnya dia tidak peduli, dia hanya akan terus berlari menjauh.
Napas Ann sudah sangat tersengal-sengal, dia mulai kebingungan memilih jalan yang terlihat bercabang-cabang. Salah memilih jalan bisa saja membuatnya tertangkap, Ann akhirnya memilih jalan sebelah kanan berharap jalan itu membawanya ke jalan besar. Dengan segala tenaga yang tersisa Ann kembali berlari kencang, dia tidak ingin menengok ke belakang lagi.
"Oh, Tuhan, ini jalan buntu." Ann bergumam panik.
Ann berusaha berpikir, dia melihat tumpukan barang bekas di sekitar tembok tinggi. Ann dengan cepat memanjat tumpukan barang tersebut dan berhasil naik keatas tembok. Ann melompat ke balik tembok, kakinya terasa sedikit sakit karena dia tidak mendarat dengan mulus, kakinya sedikit tertekuk saat mendarat. Ann kembali berdiri dan berjalan sambil menahan sakit kakinya.
Ann melihat mobil yang sama seperti mobil yang ditumpanginya kemarin terparkir diseberang jalan. Ann menghampirinya dan mulai mengetuk-ngetuk kaca mobil. Kaca itu terlihat gelap sehingga dia tidak bisa melihat apapun di dalam.
Seketika pintu mobil terbuka menampakkan pria dengan bola mata berbeda warna tersenyum lebar ke arahnya. Ann yang terkejut langsung masuk kedalam mobil dan menutup pintunya dengan cepat. Ann merasa sedikit lega, dia mengatur pernapasannya yang terasa sesak.
"Oh pak sopir kau menyelamatkan nyawaku."
"Apakah aku mendapatkan penumpang yang sama seperti kemarin?"
"Ya, aku sangat bersyukur kau mangkal di tempat ini." Ann tersenyum lebar.
"Jadi kau mau kemana?"
"Lihat itu? Dua pria itu mengejarku sejak tadi." Ann menengok ke belakang, tampak dua orang pria terlihat celingukan.
"Benarkah?" Ben melirik sekilas ke kaca spion.
"Ya, sepertinya ucapanmu benar, hidupku mulai terancam."
"Sudah ku katakan kau sedang berada di antara hidup dan mati." Ben terkekeh.
"Jangan mengatakan itu lagi, aku benci mendengarnya." Ann mendengus kesal.
"Baiklah, apa aku harus mengantarmu kerumah?"
"Ya, tapi aku harus menghubungi bengkel terlebih dahulu, mobilku mogok dijalan sebelah sana." Ann menunjuk rute jalan dia berlari tadi.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu, aku yang akan menghubungi bengkel, aku punya beberapa kenalan montir di sekitar sini."
"Baiklah, terima kasih." Ann mengangguk.
Sepanjang perjalanan Ann terus saja memuji-muji Ben yang dianggapnya telah menyelamatkan nyawanya. Ann hampir lupa dengan kejadian yang baru saja dialaminya hanya karena Ben membantunya. Dia terlihat ceria kembali seakan tidak terjadi apa-apa.
"Pak Sopir."
"Panggil aku Ben, jika kau memanggilku pak sopir lagi akan kuturunkan kau sekarang juga."
"Ya, ya, Ben."
"Ada apa?"
"Apa mulai hari ini aku harus berhati-hati?"
"Tentu saja, banyak mata yang mengawasimu sekarang ini."
"Hei, aku hanya melakukan kesalahan kecil, kenapa harus sekacau ini hidupku sekarang?"
"Bagi para mafia, kecil atau pun besar suatu masalah sama saja, taruhannya nyawa." Ben menyeringai.
"Kau menakutiku." Ann mengerucutkan bibirnya.
Ann mulai berpikir bagaimana cara memperbaiki hidupnya sekarang. Hidupnya yang sempurna berubah menjadi mengerikan hanya karena masalah rumah tangga orang lain. Ann merutuki dirinya sendiri sekarang, dia sudah terlanjur terlibat masalah serius.
...****************...