Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
EL-KUTUKAN UNTUK WILL



Aku bergegas pergi ke kampus setelah selesai sarapan. Selama sarapan aku hampir tidak berbicara sama sekali, aku hanya beberapa kali mengangguk dan menggeleng jika ditanya oleh Om Davin. Entah kenapa lidah ku terasa kelu setiap mengingat kejadian tadi. Aku bahkan ingin cepat-cepat untuk menghilang dari pandangan Om Davin hari ini. Ada rasa malu ketika dia menatapku, aku malu karena dia sudah tahu bahwa aku menyukainya. Walaupun perasaanku berbalas, tetap saja ini tidak membuatku bahagia.


Aku masih belum mengerti dengan apa yang di ucapkan Om Davin tentang tante Jessi, aku tidak mengerti apa yang terjadi pada mereka. Aku sangat penasaran namun om Davin terus mengatakan jika dia akan menceritakannya nanti. Aku tidak bisa membantah, dia memang orang yang tidak bisa di bantah. Dia mengatakan perasaan kami takkan menyakiti siapapun, hei bagaimana mungkin? Kami jelas berada dalam lingkaran yang sama, mana mungkin tidak saling menyakiti.


Aku tidak mungkin bertanya pada tante Jessi, itu namanya bunuh diri. Aku hanya perlu tahu tentang hubungan om Davin dan tante Jessi saat ini, mereka terlihat baik-baik saja tapi kenyataannya tidak. Mereka tinggal dirumah yang sama namun kamar mereka berbeda. Aku terus menebak-nebak apa yang salah? Apakah mereka sedang bertengkar? Ataukah mereka sebenarnya telah berpisah namun tetap tinggal bersama demi Nevan? Huh pikiran konyol ini membuat kepalaku sedikit pusing.


Aku telah sampai di kampus dan segera memarkirkan mobilku. Sejenak aku terdiam, tak ada janji dengan siapapun hari ini, tak ada sesuatu yang ingin ku kerjakan juga di kampus, jadi apa yang akan ku lakukan disini? Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, pura-pura mengambil buku di rak dan membacanya. Aku sengaja mengambil tempat duduk pojok dan terhalang rak-rak buku dari pandangan penjaga perpus. Aku mengambil earphone dan memutar musik kesukaanku.


Aku larut dalam pikiranku sendiri, rasanya sudah terkantuk-kantuk sekarang. Aku menatap sekeliling, ruangan perpustakaan tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang disini. Mereka terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, berperang dengan segala macam tugas kuliah yang seakan bergelayutan dinbahu mereka. Aku tersentak kaget ketika seseorang mengambil satu earphone dari telingaku dan memasangkan di telinganya.


"Hei, pria kurang ajar!" Aku berkata pelan karena takut di dengar penjaga perpus.


"Kenapa kau menghayal disini sendirian? terlihat sangat menyedihkan." Dia tersenyum mengejekku.


"Huh, kembalikan earphoneku." Aku mencengkram lengannya.


"Biarkan aku mendengarkannya sebentar."


"Untuk apa?"


"Aku suka lagunya."


"Kau juga suka?"


"Ya." Dia mengangguk dan duduk seenaknya dikursi sampingku.


"Will, sedang apa kau disini?" Aku menatap wajah anak itu.


"Sedikit bersantai."


"Kau dari mana?"


"Aku baru saja dari ruangan bu Rika."


"Benarkah? Apa kau konsultasi laporan usulan penelitian?"


"Tentu saja, apa lagi?"


"Bagaimana?"


"Apanya?"


"Apa sudah diterima?"


"Jalanku dengan bu Rika tak semulus jalanmu, El." Will tersenyum masam.


"Kenapa?"


"Aku sudah lebih tiga kali menemuinya, tapi laporanku terus di tolak dan aku disuruh memperbaikinya."


"Hei, benarkah? Anak secerdas ini terus di tolak oleh Bu Rika?" Aku menahan tawaku.


"Jangan meledekku, El." Will mendengus.


"Tetaplah berusaha Will, kau harus bisa meluluhkan hatinya." Aku tertawa kecil.


"Ya, itulah yang kulakukan sekarang." Dia mengangguk-angguk.


"Will, ayo pergi dari sini."


"Mau kemana?"


"Kita ke toko kue."


"Kau terus membawaku kesana, bisa-bisa aku diabetes."


"Tak apa, jika kau penyakitan aku akan membantu menjagamu dirumah sakit." Aku tertawa.


Aku dan Will keluar dari perpustakaan dan segera meluncur ke toko kue. Kami sampai di depan toko besar yang bertuliskan J'Cake yang biasa ku datangi. Kami membeli beberapa kue dan segera naik ke atas. Aku tentu saja memilih tempat duduk yang kemarin ku tempati bersama Will, itu adalah tempat duduk yang sangat nyaman menurutku.


"Will."


"Apa?"


"Apa kau pernah jatuh cinta?"


"Entahlah."


"Apa kau tidak tahu?"


"Sepertinya."


"Hei, apa kau tidak pernah jatuh cinta?"


"Tidak."


"Benarkah?"


"Entahlah."


"Hei, jawabanmu tidak meyakinkan."


"Ya, memang aku tidak yakin."


"Kemungkinan begitu." Will mengangguk.


"Coba katakan padaku apa kau sekarang sedang merasakan sesuatu terhadap seorang gadis."


"Merasakan apa?"


"Perasaan seperti kau memikirkan dia di otakmu."


"Hmmm, sepertinya iya."


"Itu dia! berarti kau sedang jatuh cinta." Aku tertawa lebar, ternyata anak ini juga sedang jatuh cinta.


"Kenapa kau tertawa."


"Aku tak menyangka ternyata kau juga bisa jatuh cinta."


"Aku tak yakin itu cinta." Will menggeleng.


"Kenapa?"


"Aku tak yakin apakah itu cinta atau hanya rasa peduli."


"Apa maksudmu?" Aku menatap heran kepada Will, tak mengerti apa yang dikatakannya.


"Aku peduli pada seseorang, aku tak bisa mengabaikannya, aku tidak tahu apakah itu termasuk cinta atau hanya rasa peduli?"


"Mmm, aku juga tak tahu, mungkin kau bisa bertanya pada dirimu sendiri." Aku mengangkat kedua bahuku.


"Apa kau bisa membedakan rasa cinta dengan rasa peduli?" Will menatapku.


"Aku hanya tahu jika seseorang mencintai, dia pasti merasa peduli, tapi jika dia hanya peduli mungkin tidak pasti adanya cinta." Aku bingung sendiri dengan apa yang kuucapkan.


"Sangat tipis perbedaannya bukan? Jika kau melihat seseorang peduli padamu maka kemungkinan kau bisa salah paham dan menganggap hal itu adalah cinta."


"Cih, kau bicara seperti orang yang berpengalaman dalam cinta." Aku mengejeknya, aku bahkan tidak pernah melihatnya menggandeng seorang wanita manapun selama ini walaupun aku tahu banyak yang mengejarnya.


"Tapi bukankah itu benar?" Dia terkekeh.


"Memang ada benarnya." Aku akhirnya mengangguk setuju.


"Jadi mengapa kau menanyakan tentang jatuh cinta, apa kau sedang jatuh cinta saat ini?" Will menatapku penuh selidik.


"Tidak." Aku menggeleng-menggeleng, aku tidak mungkin memberitahukannya bahwa aku sedang jatuh cinta pada suami orang.


"Hei, kau mencurigakan." Dia menunjuk wajahku.


"Apa?"


"Wajahmu merah, apa kau benar-benar sedang jatuh cinta El?" Will tertawa.


"Benarkah wajahku merah?" Aku mengusap-usap pipiku dengan panik.


"Aku hanya bercanda, kenapa kau sepanik itu?" Will terbahak.


"Kau benar-benar kurang ajar Will." Aku memukul bahunya.


"Kau sangat lucu." Will masih saja tertawa.


"Will?"


"Ya?"


"Bagaimana jika aku sungguh jatuh cinta?"


"Hmmm, biasa saja, memangnya kenapa? Kau jatuh cinta dengan siapa?" Will menatapku.


"Yang pasti bukan denganmu." Aku tertawa.


"Aku juga tidak ingin kau jatuh cinta padaku." Will terkekeh.


"Kenapa? bukankah aku cantik?" Aku menatapnya.


"Kau cantik, tapi otakmu sedikit gesrek." Dia tertawa jahat.


"Hei, kau menghinaku karena kau seorang mahasiswa cerdas, hah? Ayo kita buktikan, apa kau masih cerdas jika vas ini mendarat di kepalamu? Aku mendengus dan mengangkat vas bunga kecil di meja bersiap untuk memukul kepalanya.


"Lihat, bagaimana seorang pria bisa jatuh cinta padamu? Kau bahkan sangat kejam."


"Huh, apa kau takut sekarang?" Aku tersenyum mengejeknya.


"Ya, aku sangat takut sekarang." Will terkekeh.


"Asal kau tahu saja Will, banyak yang jatuh cinta padaku." Aku berpura-pura, padahal aku tak tahu apakah ada yang menyukaiku selain Om Davin yang baru menyatakannya tadi pagi.


"Aku tak peduli." Dia mengangkat kedua bahunya.


"Awas kau ya, ku kutuk kau suatu saat nanti akan jatuh cinta padaku." Aku tertawa.


"Konyol." Will tersenyum masam.


...****************...