Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
SAUDARA



Davin duduk di sofa sebuah ruangan besar, dia sedang duduk berhadapan dengan seorang pria yang tidak dikenalnya sama sekali. Davin menatap diam pada pria tersebut, dia tidak menampakkan ekspresi apapun. Tampak berbeda dengan pria itu yang menatap Davin sambil terus tersenyum tipis. Selama beberapa saat tak ada pembicaraan apapun di antara mereka.


"Davin." Pria itu akhirnya membuka mulutnya.


"Hmmm." Hanya suara deheman yang terdengar.


"Kau mengenalku?" Pria itu terus tersenyum tipis.


"Tidak."


"Kau tidak ingin tahu?"


"Tidak."


"Jika tentang gadis itu, apa kau ingin tahu?" Pria itu tertawa kecil.


"Dimana dia?" Davin menjawab dengan tenang, dia sebenarnya merasa sangat geram namun dia berusaha menyembunyikannya.


"Kau ingin tahu?"


"Ya."


"Baiklah, kita hanya perlu bertukar informasi."


"Informasi apa yang kau inginkan dariku?"


"Keberadaan saudarimu." Pria itu tersenyum.


"Apa kau diperintah oleh Ben? Apa Ben dalang dibalik semua ini?" Suara Davin sedikit meninggi.


"Hoho, bersantai lah dulu, jangan terlalu berpikir keras." Pria itu kembali tertawa kecil.


"Aku tak suka berbasa-basi."


"Hmmm baiklah jika begitu." Pria itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Benarkah Ben dibalik semua ini?"


"Tidak." Pria itu mengangguk.


"Jangan bohong."


"Hmmm, ini memang untuk kepentingannya tapi aku melakukannya sendiri, Ben tidak tahu menahu apa yang terjadi saat ini."


"Untuk apa?"


"Hanya untuk membantunya, dia sahabatku." Pria itu terkekeh.


"Lalu kenapa kau menculik El?"


"Tenanglah, aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku tidak akan melakukan apapun terhadapnya jika kau bisa diajak bekerjasama." Pria itu berucap tenang.


"Apa kau menculik El hanya untuk bertemu denganku?"


"Ya, hanya dengan cara ini aku bisa bertemu dan berbicara denganmu."


"Lalu kau mau apa?"


"Sudah ku katakan, aku hanya ingin mengetahui keberadaan saudarimu."


"Aku tidak tahu."


"Kau yakin?" Pria itu menyeringai, dia mengambil amplop coklat diatas meja dan menyodorkannya pada Davin.


"Apa ini?" Davin menyentuh amplop itu.


"Bukalah."


"Bagaimana bisa kau mendapatkannya?" Mata Davin sedikit melebar melihat sebuah foto wanita berpakaian hitam terlihat berada disebuah pesta.


"Bukankah itu pesta ulang tahun putra kesayanganmu?" Pria itu terkekeh.


"Hmmm." Davin menatap datar foto itu.


"Bagaimana? Apa kau masih ingin mengelak?"


"Aku tidak tahu jika dia datang." Davin meletakkan kembali foto itu diatas meja.


"Jangan berbohong, Davin Axel!" Pria itu menyeringai.


"Aku tidak berbohong."


"Kau kira aku tidak tahu?"


"Apa?"


"Bukankah kau yang memberikan undangan pesta ulang tahun itu kepadanya?"


"Siapa kau sebenarnya?"


"Akhirnya kau penasaran denganku." Pria itu terkekeh.


"Hmmm."


"Kau bisa memanggilku Chris."


"Apa sebenarnya yang kau inginkan?"


"Sudah kubilang berkali-kali bukan? Dimana keberadaan saudarimu? Hanya itu yang ku inginkan."


"Aku tidak tahu."


"Davin, aku belum memberikan foto ini pada Ben, jika dia tahu kemungkinan akan terjadi kembali keributan. Bisa saja dia tidak bisa menahan diri lagi jika mengetahui bahwa kau menyembunyikan Ann."


"Aku tidak berurusan apapun lagi dengan Ben."


"Tapi dia masih berurusan dengan kakakmu."


"Kurasa tidak, dia tidak pernah mencari Ann lagi selama ini."


"Siapa bilang? Dia bahkan hampir gila karena mencari kakakmu itu."


"Kau hanya tidak tahu."


"Dia tidak pernah menemuiku lagi, dulu dia selalu menanyakan tentang Ann kepadaku, namun sekarang dia tak pernah muncul didepanku lagi. Jadi kupikir dia tidak lagi mencarinya."


"Dia hanya mempercayai kebohonganmu, dia mengira bahwa kau benar-benar tidak tahu."


"Apa?"


"Dia memilih untuk mempercayaimu."


"Tidak mungkin." Davin menggeleng.


"Percayalah padaku, jika kau terus menyembunyikan keberadaan Ann maka hanya akan membuat masalah semakin rumit. Tidak akan ada penyelesaian pada hubungan kalian. Ben dan Ann, bahkan kau juga tidak akan pernah mendapat ketenangan jika kalian terus begini." Chris menatap serius pada Davin.


"Aku tidak menyembunyikan Ann."


"Kau mengetahui keberadaan Ann dan kau tidak mengatakannya, bukankah itu namanya menyembunyikan?"


"Katakanlah pada Ben untuk tidak lagi mencari Ann, anggaplah Ann yang dulu sudah mati."


"Kau tahu seandainya dia mendengar apa yang kau katakan itu?"


"Apa?"


"Dia tidak akan bisa menahan diri lagi."


"Aku tidak ingin terlibat dengannya lagi."


"Jangan egois Davin, jangan menambah rumit keadaan."


"Sudah cukup Ben menghancurkan hidup Ann. Aku tidak ingin dia terus menyakitinya."


"Davin, Ben tidak pernah menyakiti Ann."


"Tidak pernah?" Davin menyeringai. "Dia yang membuat Ann terjebak dengan kehidupannya sendiri."


"Davin, kau tidak bisa menyimpulkannya sendiri tentang hubungan mereka."


"Kau pun juga tidak bisa menyimpulkannya sendiri." Davin menatap Chris.


"Kau benar-benar tidak bisa diajak bicara."


"Ya, memang."


"Haruskah aku menyinggung tentang gadis kecilmu itu lagi agar kau bisa mempercayai apa yang ku ucapkan?"


"Chris, El tidak tahu menahu sama sekali, dia tidak terlibat sedikitpun dengan masalah ini. Jangan kau apa-apakan dia." Davin mengepalkan kedua tangannya.


"Sudah kubilang aku takkan menyakitinya jika kau bisa berbicara dengan baik dan bisa percaya padaku."


"Aku masih tidak bisa mempercayaimu."


"Vin dengarkan aku, Ben adalah seseorang yang ambisius, dia tidak akan melepaskan apa yang ada dalam genggamannya dan tidak akan berhenti mengejar apa yang jadi tujuannya."


"Lalu?"


"Dia tidak akan pernah berhenti mencari Ann, dia adalah pria yang bertanggung jawab."


"Apa? Bertanggung jawab? Apa aku tidak salah dengar?" Davin menyeringai.


"Kau hanya belum mengerti keadaannya."


"Kau yang tidak mengerti." Davin menatap tajam pada Chris.


"Kenapa sulit sekali meyakinkanmu?" Chris mengusap wajahnya hampir putus asa.


"Chris, Ben bukan pria yang pantas untuk Ann. Aku menyesal pernah mempercayakan Ann pada pria itu."


"Kenapa? Apa yang membuatmu berpikir begitu?"


"Ben bahkan tidak bisa melindungi Ann sama sekali."


"Hmmm, sepertinya kau tahu banyak ya?" Chris tersenyum tipis.


"Bagaimanapun aku tidak akan membiarkan Ann kembali pada pria itu."


Ponsel Davin tiba-tiba berdering, nama Will tertera dilayar. Davin memencet tombol terima dan mulai berbicara. Davin tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya, dia berbicara tepat berada didepan Chris.


"Ya?” Davin berucap.


“El sudah berada ditempat yang aman.” Suara Will diseberang.


“Baiklah, pastikan dia baik-baik saja.”


“Ya.” Will memutuskan sambungan telepon.


Davin memasukkan kembali ponselnya, dia menatap tajam pada Chris. Seketika wajahnya berubah, dia tersenyum tipis tanpa mengalihkan tatapannya pada Chris. Chris hanya membalas tatapannya dengan raut wajah datar.


"Sepertinya pembicaraan kita berakhir sampai disini." Davin tersenyum tipis.


"Apa maksudmu?"


"Apa kau tidak tahu? Apa anak buahmu tidak menberitahumu?"


"Apa?"


"Gadisku sudah tidak berada digenggamanmu lagi." Davin menyeringai.


Chris menatap datar pada Davin, dia tahu jika apa yang dikatakan oleh Davin pastilah benar. Chris mengambil ponselnya, mengutak atik sebentar dan meletakkannya kembali. Raut wajahnya tak berubah sama sekali, datar dan tak bisa diartikan sama sekali.


"Baiklah, kali ini kau unggul dariku." Chris menatap Davin.


"Ya, lain kali jika ingin bertindak pikirkanlah baik-baik." Davin tersenyum dan beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Chris sendirian.


"Kau terlihat biasa saja, tapi kau memiliki orang-orang yang hebat dan dapat dipercaya." Chris berbicara sendiri setelah Davin keluar dari ruangannya.


Chris tersenyum, walaupun dia tidak mendapatkan informasi apapun dari Davin namun setidaknya dia sudah sedikit mengetahui tentang keadaan Ann. Wanita itu masih hidup dan sepertinya baik-baik saja, dia hanya perlu waktu sedikit lagi untuk mengetahui keberadaan wanita itu. Bagaimanapun Chris sangat ingin mempertemukan Ann dengan Ben, dia tidak ingin melihat Ben terus terpuruk karena kehilangan wanita itu.


...****************...