Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
PENGAKUAN CINTA



El terbangun di pagi hari, dia merasa segalanya berbeda pagi ini. Dia tidak berada di kamarnya, dia terbangun di kamar Davin. El menyingkirkan tangan Davin yang melingkar di tubuhnya dengan pelan. Pria itu terlihat masih tertidur pulas di sampingnya.


Oh God, kenapa aku harus tertidur disini? Perasaan tadi malam aku tidur bersama Nevan, kenapa sekarang berubah menjadi ayahnya? Kemana perginya anak itu? batin El.


El mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tidak ada Nevan dimanapun. El bergerak pelan, dia ingin kembali ke kamarnya. Namun tangan Davin kembali meraih tubuhnya dan membawanya kembali kepelukannya.


"Om."


"Hmmm."


"Sudah pagi."


"Kenapa?" Davin berbisik lirih.


"Bangun." El menatap wajah Davin yang sangat dekat dengannya.


"Nanti."


"Om?"


"Hmmm."


"Dimana Nevan?"


"Di kamarnya."


"Aku mau kesana, kemungkinan dia sudah bangun."


"Sudah ada Naya."


"Tapi..."


"Ssssttt.." Davin semakin mengeratkan pelukannya.


El tidak bisa melakukan apapun, dia tahu Davin sangat sulit untuk di bantah. El berpikir bagaimana cara agar dia bisa kembali kekamarnya. El khawatir ada yang mengetahui bahwa dia tidur di kamar Davin.


"Om."


"Hmmm."


"Kapan om kembali tadi malam?"


"Dini hari." Davin menjawab tanpa membuka matanya.


"Om."


"Hmmm."


"Aku mau kembali ke kamar."


"Disini saja."


"Aku mau mandi."


"Nanti saja."


"Aku lapar mau sarapan."


"Sebentar lagi."


El kehabisan kata-katanya, dia akhirnya diam tak lagi bersuara. Davin terus mengeratkan pelukannya pada gadis itu. El hanya bisa menenggelamkan kepalanya di dada Davin sambil menikmati hembusan nafas pria itu di rambutnya. El berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin tak beraturan. Dia tidak tahu harus melakukan apalagi, satu sisi dia merasa senang namun disisi lain dia merasa bersalah.


"El."


"Ya?" El mendongak, Davin terlihat sudah membuka matanya.


"Aku ingin seperti ini saja bersamamu."


"Kenapa?"


"Sepertinya aku jatuh cinta padamu."


Apa ini? Apakah ini mimpi? Aku mendengar pengakuan cinta saat ini? Tapi pengakuan cinta dari orang yang salah.


"Om..."


"Aku sungguh-sungguh." Davin menatap dua manik mata El yang berwarna coklat.


"Ini tidak benar kan?" El menggeleng merasa tak percaya.


"Ini benar." Davin menjawab.


"Tidak, ini tidak nyata."


"Ini nyata, El."


"Om, tidak..."


"El, tatap aku, aku disini di depanmu, aku nyata disini, apa yang kau dengar ini nyata."


"Ini salah kan, om?" El terus menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ini jelas kesalahan, ini benar-benar kesalahan. El.


"Tidak, El, ini bukan kesalahan." Davin menatap lembut wajah El.


"Om, kita tidak bisa." wajah El berubah sayu.


"Kita bisa, El."


"Om..."


"Aku tahu kau juga memiliki perasaan yang sama denganku."


"Aku memang merasakannya, Om. Tapi ini salah, ini tidak boleh terjadi."


"Kenapa? Kau dan aku memiliki perasaan yang sama, apa yang salah? Apa yang tidak boleh terjadi?" Davin menyentuh lembut pipi El.


"Om, aku tidak ingin merusak kebahagiaan orang lain."


"Jessi?" Davin mengerti arah pembicaraan El.


"Mmm." El mengangguk.


"Tentang Jessi aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, El. Aku akan memberitahumu di saat yang tepat nanti." Davin mengelus lembut rambut El.


"Om, aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi aku tidak ingin terlibat dan aku tidak ingin menjadi orang ketiga atau apapun itu di antara kalian."


"El, kau bukan orang ketiga, kau satu-satunya."


"Om, jangan pernah mengatakan hal itu, jangan memberikan aku harapan yang sebenarnya tidak bisa kau berikan." Mata El mulai berkaca-kaca, dia tidak bisa menahan perasaannya sekarang.


"El, aku tidak memberikan harapan, aku sungguh-sungguh."


"Aku tidak tahu harus apa." El mulai meneteskan air matanya.


"El, ku mohon jangan menangis, aku tidak ingin kau bersedih." Davin mengusap air mata El.


"Aku tahu." Davin memeluk erat El.


"Tapi aku bukan gadis jahat dan aku tidak ingin menjadi jahat." El terisak di dada Davin.


"Jangan terlalu memikirkannya."


"Aku tidak akan merusak kebahagiaan orang lain hanya untuk membuat diriku sendiri bahagia."


"Aku tahu."


"Kau tahu, tapi kenapa kau mengatakan bahwa kau mencintaiku?"


"Aku tidak bisa lagi memendamnya, El."


"Kau membuatku juga mengatakan apa yang kurasakan."


"El, kita tidak bisa selamanya menyimpan perasaan kita."


"Tapi ini salah."


"Ini tidak salah."'


"Om..."


"Sudahlah, jangan dipikirkan." Davin menenangkan El yang masih menangis dipelukannya.


El tidak lagi berkata, hatinya terasa sakit sekarang. Dia mencintai Davin, pria itu juga sama. Cintanya berbalas, namun itu tak membuatnya bahagia. Tembok besar seakan berada di antara dia dan Davin. El tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak punya jalan keluar saat ini. Davin juga tidak memberikannya jalan apapun. Saat ini El hanya tahu bahwa Davin mencintainya.


El terlihat sudah tenang, tak terdengar lagi suara tangisannya. Davin melonggarkan pelukannya, dia menatap wajah gadis itu dan mengusap sisa air mata di sudut matanya. Davin menatapnya dengan penuh cinta, dia tidak ingin melepaskan gadis ini sampai kapanpun.


"El, tatap aku." Davin menyentuh pipi El.


"Mmm." El mengangguk dan menatap wajah Davin.


"Percayalah, perasaan kita tidak akan menyakiti siapapun dirumah ini."


"Bagaimana bisa?"


"El, kau lihat bukan?"


"Apa?"


"Kamarku."


"Kenapa?"


"Apa kau melihat sesuatu yang berhubungan dengan Jessi disini?


"Tidak." El menggeleng.


"Apa kau mengerti?"


"Tidak." El menggeleng, dia tidak mengerti tapi dia berusaha mempercayai apa yang dikatakan Davin.


"Kau akan mengerti nanti."


"Mmm, apakah terjadi sesuatu pada kalian berdua?" El penasaran.


"Ya."


"Apa itu?"


"Akan ku ceritakan nanti." Davin tersenyum.


"Aku ingin tahu sekarang."


"Belum saatnya."


"Aku penasaran."


"Tenanglah."


"Apa?"


"Kau akan memahaminya nanti."


"Tentang apa?"


"Kehidupanku."


"Apa yang terjadi?"


"Aku akan memberitahukannya nanti."


"Kapan?"


"Nanti."


"Mmm." El mengangguk.


"Berjanjilah untuk selalu di sampingku jika kau mengetahuinya nanti."


"Kenapa?"


"Mungkin akan ada hal yang sulit untuk kau terima nanti."


"Apa itu?"


"Kau terlalu cerewet." Davin memencet hidung El.


"Om..." El mendengus sambil melepaskan hidungnya dari tangan Davin.


"Aku mau mandi dulu, kau jangan keluar dari sini sebelum aku selesai mandi." Davin tertawa kecil dan turun dari tempat tidur.


Davin masuk ke kamar mandi meninggalkan El yang merenung sendirian. Dia menepuk-nepuk pipinya, memastikan bahwa ini benar-benar nyata. El bertanya-tanya dalam hatinya kenapa ini terjadi? El mengacak-acak rambutnya, dia merasa sangat malu dan juga takut. El meraih selimut dan masuk kedalamnya, dia meringkuk di bawah selimut sambil merutuki dirinya sendiri.


"El." Davin menyibak selimut yang menutupi El.


"Om?" El menatap Davin yang sudah terlihat rapi, hanya rambutnya yang masih terlihat basah.


"Apa kau mau berada di dalam selimut seharian?" Davin tertawa.


"Tidak." El menggeleng.


"Ayo turun, kita sarapan."


"Apa? Aku bahkan belum mandi." El langsung melompat dari tempat tidur.


"Aku akan mengantarmu ke kamar." Davin tertawa melihat tingkah El.


Mereka keluar dari kamar Davin, El celingak-celinguk takut ada pelayan yang melihatnya keluar dari kamar suami orang. Davin di belakangnya hanya tertawa melihat apa yang dilakukan El. El terlihat seperti maling yang takut dipergoki.


El mengelus dadanya saat sampai di kamarnya, merasa lega karena tidak ada yang melihatnya. El langsung menutup pintu dan menguncinya, dia tidak menghiraukan Davin lagi. El tidak ingin Davin masuk ke kamarnya, dia benar-benar takut kali ini. El segera mandi dan berpakaian, dia berencana untuk kekampus hari ini walaupun tidak ada jadwal apapun. El ingin menenangkan perasaannya lebih dulu. Walaupun Davin menyuruhnya untuk tidak memikirkan apapun, tetap saja bagi El hal itu akan terus membuatnya berpikir.


...****************...