Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
CEMBURU



Pagi itu, Davin pulang kerumah bersama Jessi. Jessi tampak pucat, Jas Davin dipakaikan pada Jessi dan dia terlihat merangkul bahu Jessi beriringan menaiki tangga. Mereka berpapasan dengan El yang akan turun untuk sarapan.


"El." Davin menghentikan langkahnya.


"Om, tante." El tersenyum.


"Kau akan sarapan?"


"Ya."


"Baiklah, sarapanlah duluan, aku dan Jessi ke atas dulu."


"Ya." El mengangguk "Apa tante sakit?" El menatap Jessi yang terlihat pucat.


"Hanya sedikit kelelahan." Jessi memaksakan senyumnya.


"Mmm, apa perlu kubawakan sarapan ke atas?"


"Tak perlu El, kau sarapan saja, aku akan menyusul." Davin menjawab.


"Mmm baik." El mengangguk dan beranjak turun menuju ruang makan.


El makan dengan perlahan, dia sengaja menunggu Davin. Namun pria itu tak kunjung turun, El merasa penasaran dengan keadaan Jessi yang terlihat sakit. Selain penasaran dia juga merasa cemburu dengan kejadian tadi, El cemburu melihat Davin merangkul Jessi, Davin terlihat sangat perhatian dengan Jessi.


Tak berselang lama Davin masuk ke ruang makan dan memanggil Bi Hana. El hanya mengamati tingkah laku Davin yang terlihat sibuk dan sedikit panik. Davin bahkan belum mengganti bajunya sama sekali sejak kemarin.


"Om."


"Ya El?"


"Apa tante Jessi sakit?"


"Ya sedikit."


"Mmm."


"Kau habiskan sarapanmu ya, setelah itu temani Nevan. Aku akan mengantarkan sarapan untuk Jessi."


"Om tidak sarapan?"


"Nanti saja."


Percakapan mereka terputus saat Bi Hana datang membawa nampan berisi makanan, minuman serta buah-buahan. Bi Hana menaruh nampan itu di atas meja dan pamit kembali ke belakang.


"El, jangan lupa habiskan sarapanmu." Davin mengusap pucuk kepala El dan segera mengambil nampan di atas meja.


"Mmm." El mengangguk.


Davin keluar dari ruang makan dengan buru-buru, El menatapnya hingga Davin menghilang dibalik pintu. El menaruh sendok garpu dengan pelan, selera makannya tiba-tiba menghilang.


Seperhatian itukah kau dengan tante Jessi? El berucap dalam hati.


El mulai uring-uringan, akhirnya dia memilih keluar dari ruang makan dan pergi ke taman belakang. Dia duduk bersandar di kursi bawah pohon dengan tajuk yang rindang. El membuka ponselnya dan mulai bermain game, dia mencoba mengalihkan pikirannya dari Davin dan Jessi.


El terkejut saat ponselnya tiba-tiba bergetar, panggilan video dengan nama Will tertera di layar. El tersenyum dan segera memencet tombol terima.


"Halo Will." Dia tersenyum pada Will.


"Hai El." Will tersenyum menunjukkan gigi-giginya yang rapi.


"Ada apa?"


"Kau sedang apa? Apa kau sibuk?"


"Aku sedang bersantai ditaman belakang."


"El, kau mau jalan-jalan denganku?"


"Apa kau sudah sehat?"


"Sudah." Will mengangguk.


"Wajahmu masih terlihat lebam."


"Hanya bekasnya, tapi sudah tak sakit."


"Mmm baiklah."


"Apa aku perlu menjemputmu?"


"Tak perlu, aku saja yang menjemputmu."


"Jangan, aku pergi sendiri saja."


"Tidak Will, aku akan menjemputmu kali ini."


El memutuskan sambungan, dia tak ingin mendengar celotehan protes dari Will. El segera pergi ke kamarnya dan bersiap-siap untuk pergi. El mengambil kunci mobil dan turun ke garasi, El melajukan mobilnya dengan senang, dia sudah sedikit lupa dengan rasa cemburunya pada Davin hari ini.


El tiba didepan rumah Will, tanpa permisi dia masuk ke rumah itu. Will sudah siap di ruang tamu, beberapa bagian tubuhnya masih terbalut perban, dia tersenyum melihat El datang menghampirinya.


"Hei mumi." El terbahak menghampiri Will dan duduk disampingnya.


"Apa aku masih terlihat seperti mumi?" Will menatap El.


"Sedikit." El terkekeh.


"Ayo berangkat."


"Ke tempat yang menenangkan." Will tersenyum.


"Ayo, aku juga sedang bosan, aku perlu jalan-jalan."


"Oke."


Mereka akhirnya pergi jalan-jalan mengelilingi kota, El terlihat senang karena beberapa hari belakangan dia lebih banyak berada dirumah. Will juga tampak senang melihat El yang terlihat ceria, beberapa kali Will terlihat mencuri-curi pandang ketika El tertawa.


"Will, kita sudah mengelilingi kota, sekarang mau kemana kita?"


"Ayo gantian, aku yang menyetir, akan ku ajak kau ke tempat bagus."


"Tidak, aku saja, kau tunjukkan jalan saja." El bersikeras untuk terus menyetir.


"Ya ya, baiklah." Will mengalah.


Will menunjukkan jalan kepada El entah kemana, El menurut saja. Mobil telah meninggalkan perbatasan kota, berjam-jam lamanya mereka di perjalanan, jalan yang mereka lalui pun semakin terasa asing oleh El, dia tak pernah pergi ke tempat itu. Semakin lama jalan semakin sepi dan sempit, aspal pun tak semulus sebelumnya. Jalan mulai berkelok-kelok, disekitar jalan hanya terlihat pepohonan yang tumbuh rapat. Jalan terkadang menanjak dan kadang menurun, El semakin berhati-hati karena di tepi-tepi jalan terdapat jurang.


"Will, apa ini benar jalannya? Mau kemana kita? Jalanan ini terasa sepi dan menyeramkan."


"Jalan saja terus, nanti kau akan tahu sendiri." Will tampak tenang duduk bersandar.


"Aku hanya penasaran, tempat apa yang akan ku temui setelah melewati jalan ini."


"Tenanglah, sebentar lagi juga sampai."


"Kita ambil jalan yang mana?" El bertanya saat ada pertigaan.


"Ambil kiri saja."


"Kalau ke kanan kita akan kemana?"


"Ke kanan akan ada perkampungan."


"Apa ada kampung di tempat seperti ini?"


"Tentu saja, nona. Apa kau kira semua orang hanya hidup di kota?"


"Ya, aku kan cuma bertanya, kau tak perlu sewot."


"Aku kan hanya menjawab pertanyaanmu."


"Ya, ya, tapi ini sangat jauh dari kota, apa kau sering kesini?"


"Kadang-kadang kalau aku sedang ingin berlibur." Will menatap lurus jalanan.


"Apa masih jauh?"


"Sekitar dua kilometer lagi."


"Huh, rasanya sudah jauh sekali."


"Hei, kau mau dengar pepatah?"


"Apa itu?"


"Jika kau ingin menemukan sesuatu yang indah, pergilah ke tempat yang jauh dan belum pernah kau datangi."


"Hei, bagiku sesuatu yang indah tak perlu jauh. Aku hanya perlu pergi ke toko kue dan membeli beberapa cupcake. Ah bagiku itu sudah sangat indah."


"Mmm ya, tak perlu jauh, aku juga merasakannya. Sesuatu yang dekat dan indah."


"Apa itu?"


Kau. Will berucap dalam hati.


"Hei, kau tak menjawab?" El melirik pada Will sesaat.


"Apa?"


"Apa kau tak mendengar pertanyaanku tadi?"


"Tidak."


"Apa yang dekat dan indah bagimu?"


"Entahlah, aku hanya asal bicara."


"Dasar Will bodoh."


"Hei, kau mengataiku?"


"Tidak, aku hanya asal bicara." El meniru gaya bicara Will.


"Pelan-pelan El, kita hampir sampai." Will menunjuk sebuah gerbang besar.


"Oke."


"Stop". Will berucap.


El memarkirkan mobil sesuai arahan Will, disana ada beberapa mobil lain yang juga sedang terparkir. Will mengajak El keluar dari mobil dan mengajaknya memasuki pagar bangunan besar yang tampak sangat terawat. Suasana di tempat itu terasa sangat segar dan alami.


...****************...