Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
BERCERITA TENTANG WILL



"El, sejak kapan kau berteman dengan Will?" Liana menatap El, mereka sedang duduk di sebuah ruangan berdinding kaca tebal, dibalik kaca tersebut terlihat bermacam-macam jenis tanaman anggrek.


"Sejak masuk kuliah, Nek." El tersenyum menatap sekilas pada Liana.


"Tahun demi tahun berlalu, anak itu tidak pernah berubah." Liana tiba-tiba berucap hal gang kurang El mengerti.


"Maksud nenek?"


"Will tetap menjadi anak yang kaku." Liana terkekeh.


"Tidak kok, Nek. Semakin mengenal Will, aku tahu bahwa anak itu menyenangkan."


"Benarkah?" Liana membulatkan matanya tak percaya.


"Tentu saja." El tersenyum.


"Gadis cantik sepertimu mengatakan Will anak yang menyenangkan?"


"Benar Nek, Will adalah teman yang menyenangkan." El mengangguk-angguk.


"Ini seperti mimpi." Liana terkekeh.


"Memangnya kenapa Nek? Apa Willl memiliki sikap yang kaku terhadap kalian?"


"Anak itu, bukan hanya pada kami, namun pada semua orang." Liana kembali terkekeh.


"Oh ya?"


"Ya, dia mengalami banyak hal berat yang menempa kehidupannya hingga menjadi bocah yang memiliki sifat seperti saat ini."


"Hal berat?"


"Will tidak seperti kebanyakan anak lainnya, dia hidup mandiri sejak kecil."


"Mmm, apakah ada hubungannya dengan Josh?"


"Kau juga tahu tentang Josh?"


"Ya." El mengangguk.


"Anak itu sudah mulai bercerita rupanya." Liana tersenyum.


"Dia pernah bercerita sedikit, Nek."


"Hmmm, semenjak kepergian Josh, dunia Will seakan ikut berubah. Kedua orang tuanya sangat terpukul saat itu hingga sempat melupakan keberadaan Will yang juga merasa sangat kehilangan kakaknya."


"Apa Will benar-benar terlupakan?"


"Kedua orang tua Will sebenarnya merasa sangat bersalah dengan apa yang mereka lakukan. Namun entah kenapa mereka saat itu belum bisa mengendalikan rasa kehilangan akan Josh. Mereka berdua bahkan terluka saat melihat Will, Will mirip dengan Josh dan semua kenangan tentang Josh selalu teringat oleh mereka ketika melihat Will."


"Begitukah?"


"Ya, sejak saat itu mereka berdua berusaha untuk mengurangi interaksi dengan Will sampai mereka mulai merasa membaik."


"Kehilangan seorang anak bukanlah hal yang mudah, tapi bukankah seharusnya mereka tetap memperhatikan Will, bukan begitu Nek?"


"Ya, seharusnya begitu, namun entah kenapa mereka benar-benar tak bisa berfikir seperti itu."


"Apa karena itu Will menjadi seseorang yang selalu merasa sendirian?"


"Will dimasa kecilnya merupakan anak yang sangat ceria, Josh bahkan sangat menyayanginya. Kejadian itu benar-benar merubah cerita hidup Will." Wajah Liana terlihat sedih.


"Mmmm, aku telah mendengar sedikit cerita tentang itu darinya Nek, aku merasa Will menjadi korban atas kejadian itu."


"Ya, Will benar-benar korban, diusia nya yang baru saja mengenal dunia dia sudah merasakan kepahitan. Dia bukan hanya kehilangan Josh, namun dia juga merasa kehilangan kedua orang tuanya, dan itu mungkin lebih menyakitkan baginya."


"Tapi dia begitu kuat, Nek." El tersenyum kecil.


"Itulah caranya bertahan hidup, dia selalu menguatkan diri walaupun nyatanya aku tahu kerapuhannya. Anak itu tak pernah mengeluh kepada siapapun, walaupun bersifat kaku namun dia tersenyum sepanjang waktu jika bersama kami, ataupun bersama orang lain. Tapi dibalik semuanya aku selalu melihat semburat luka dan sepi di matanya."


"Anak itu memang hebat menyembunyikan semuanya." El terkekeh.


"Ya, walaupun sebenarnya dia tidak bisa terus menerus menyembunyikannya. Anak itu bahkan sama sekali tak ingin dikasihani, kadang aku berpikir jika dia adalah anak yang luar biasa."


"Ya, dia memang luar biasa." El tersenyum, sekarang dia mengetahui lebih banyak sisi kehidupan Will yang lain.


"Apa itu Nek?"


"Ku mohon agar kau menjaga Will, aku terkadang khawatir dengan keadaannya, banyak hal sulit yang dilaluinya dan nanti entah hal apa lagi yang harus dijalaninya."


"Nek, aku tak yakin jika aku bisa menjaganya karena selama ini Will lah yang menjagaku."


"El, kau hanya perlu menjaga perasaannya."


"Mmm baiklah Nek." El sejenak termenung, karena selama ini Will lah yang menjaga dia dan perasaannya, El bahkan sampai lupa dengan perasaan Will.


"El, kau adalah gadis yang spesial dalam hidup Will."


"Maksud Nenek?"


"Will tidak pernah mempunyai teman sedekat seperti denganmu."


"Mungkin karena kami memiliki frekuensi hidup yang sama Nek." El terkekeh namun merasa sedikit pilu, dia teringat kehidupannya yang juga terasa sepi bahkan terkesan memilukan apalagi dengan keadaan sekarang dimana dia mencintai seseorang yang berstatus sebagai suami orang lain, mungkin kehidupannya hampir sama dengan versi kehidupan Will hanya saja El lebih beruntung. Hal itulah yang membuat dia dan Will sering bersama untuk saling menguatkan.


"Bagaimanapun keadaannya, tetaplah berada disamping Will."


"Mmm iya Nek." El mengangguk, sebenarnya dia lah yang ingin Will selalu disampingnya.


"Sekarang pergilah ke kamarmu dan segera tidur, malam semakin larut dan udara semakin dingin, aku takut kau tidak terbiasa dengan hawa dingin alam." Liana mengusap pundak El


"Baiklah Nek, aku juga sudah merasa sedikit mengantuk."


"Pergilah." Liana tersenyum.


El beranjak dari duduknya, berjalan perlahan meninggalkan Liana dan pergi menuju kamarnya. Dia berjalan sambil mengusap usap lengannya sendiri karena dia baru menyadari bahwa tempat itu terasa sangat dingin. Bahkan pakaiannya sama sekali tidak melindunginya dari dingin yang semakin menyergap tubuhnya. El mempercepat langkah agar segera sampai kedalam kamarnya.


"Uh dingin sekali." El menghempaskan dirinya di atas kasur dan langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sangat tebal yang sudah disediakan diatas tempat tidurnya. El hanya menyisakan mata dan hidungnya dari balutan selimut.


"Hangatnya." El kembali bergumam pada dirinya sendiri.


Baru beberapa saat berlalu, terdengar suara ketukan pintu. Dengan rasa malas El berjalan tanpa melepas selimutnya dan segera membukakan pintu. Dia tersenyum melihat Will di depan pintu, anak itu juga tersenyum kepadanya sambil membawa nampan ditangannya.


"Ada apa Will? Masuklah." El berjalan pelan menuju sofa di kamarnya, dia takut terinjak selimut dan terjatuh.


"Apa kau sudah mau tidur?" Will mengikuti El dan duduk di sofa.


"Belum, tapi sudah sedikit mengantuk."


Will menaruh satu gelas minuman yang tadi dibawanya ke atas meja, minuman yang aromanya terasa sangat enak di penciuman El. El menatap dan penasaran dengan minuman yang ada di gelas itu.


"Apa ini untukku?" El menyentuh gelas.


"Ya, untuk siapa lagi jika bukan untukmu."


"Wahh terima kasih." El mengambil gelas dan menghirup aromanya.


"Apa kau tahu apa itu?" Will bertanya.


"Jahe." El tersenyum girang.


"Ternyata kau tahu." Will terkekeh.


"Aku merasa familiar dengan baunya, dan baru ingat jika ini adalah wangi jahe." El mulai menyeruput minumannya.


"Nenek menyuruhku mengantarnya untukmu agar tubuhmu hangat dan bisa tidur dengan nyenyak."


"Ini sangat enak." El dengan cepat meminum minumannya.


"Kau suka?"


"Sangat." El mengangguk.


Will tersenyum melihat El yang terus bergumam tentang minuman itu. Hanya melihat El yang ceria dan asik sendiri dengan minumannya sudah bisa membuat Will tersenyum, sesederhana itu kah bahagianya sekarang? Will segera menggelengkan kepalanya menyadarkan lamunannya tentang El.


"Tidurlah, aku akan segera kembali ke kamarku." Will beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan El."


"Terima kasih Will, selamat malam semoga mimpimu malam ini indah." El terkekeh sambil melambaikan tangannya saat Will menutup pintu kamar El.


...****************...